Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Langit Saja Setuju Dengan Ucapanku!


__ADS_3

"HARUSNYA AKU YANG BERTANYA, GANA! SEJAK KAPAN DAN DIMANA, KAMU BISA MENGENAL MEREKA??"


Pangkal bahu Gana membuncang. Suara Ammar yang nyaring membuat dirinya seperti tertampar akan kilat yang panas.


Mulan melihat Gana yang dihardik lalu beranjak berdiri dengan tatapan garang. Luka hatinya, sudah melihat suami di pukul, kini, Gana yang tidak tahu apa-apa begitu saja di maki.


Mulan menghentak lengan Ammar. Membuat lelaki itu menoleh dan sedikit terhuyung ke belakang namun masih bisa menegapkan tubuh.


"Kurang ajar kamu, Kak. Berani-beraninya memukul suamiku! Sekarang kamu bentak istrimu! Kamu keterlaluan, Kak!!" Mulan memukul-mukul Ammar, hingga lelaki itu terus memundurkan langkah.


Gana membelalakkan mata. Tidak percaya Mulan bisa seperti itu. Mahendra bergegas berdiri untuk menarik tubuh Mulan. Ia takut istrinya akan kena pukul.


"Lepasin, Mas!" Mulan membentak Mahendra, ketika dirinya di seret paksa untuk menjauh.


"Mbak, ada apa ini?" tanya Gana dengan nada memelas dan raut bingung.


"Kamu mau tau, Gana? Siapa lelaki ini?" tunjuk Mulan.


Wajah Ammar makin memerah. Napasnya berhembus kasar, ia takut Mulan menceritakan aib dirinya di masa lalu, dan kejahatannya di masa sekarang. Ia takut jatidirinya terbongkar.


"Dia adalah lelaki yang pernah ku ceritakan kepadamu, lelaki yang ada di masa laluku."


"Hah?" Gana membekap mulutnya. "Ammar? Suamiku? Kakak Dava mu?"


Mulan mengangguk. "Dan dia juga----"


"STOP!! MULAN!" suara bariton Ammar membuat Mulan mendadak diam. Mahendra dan Gana kembali terperanjat.


"Selama ini aku berikan kebebasan untuk suamimu bernapas, karena aku masih menghormatimu, mengingatmu telah menjadi istrinya! Tidak pernah berniat membalas, walau aku bisa membunuh suamimu tanpa ampun! Aku hanya minta untuk kalian enyah dari kehidupanku!"


DEG.


Bola mata Mulan memerah. Menahan air mata yang sudah bergerumun di pelupuk. Perkataan lelaki yang dulu begitu polos dan saat ini berubah menjadi mafia jahat, begitu sangat memukul hati dan jiwanya.


"Allah saja maha pemberi ampun, sedangkan kamu seorang manusia biasa dan sekarang banyak berlumur dosa. Begitu angkuh untuk memberikan maaf!"


"Apa kesalahan kami di masa lalu belum bisa di maafkan? Apa kamu belum bisa merentangkan tangan untuk kembali bersahabat dengan kami? Kami tulus padamu, Kak! Suamiku saja sudah kembali ke jalan yang benar, kami ingin membawamu ke jalan yang normal seperti du----"


"STOP!!" Ammar kembali berteriak. "Pergi kalian! Aku haramkan, rumahku di injak oleh kalian berdua! PERGI!!"


"Ammar!" seru Gana.


Ammar menoleh, menatap istrinya yang memasang wajah kesal kepadanya.


"Aku enggak suka kamu bicara seperti itu! Mbak Mulan adalah temanku, Pak Mahendra juga relasi perusahaan ku. Kamu harus tetap menghormati mereka demi aku, walau kenyataannya kamu tidak ingin!" dengan napas yang mulai sesak, Gana memberanikan diri untuk berteriak kepada suaminya.


Gana menoleh dan mendekat ke arah Mulan. Memegang tangannya. "Suamiku melakukan apa, Mba? Membawa Ammar kembali ke jalan normal, maksudnya bagaimana?" Gana memaksa Mulan untuk menjawab.


"KAMU!" tunjuk Ammar kepada Mulan. Mengisyaratkan wanita untuk membungkam bibirnya.

__ADS_1


Mahendra mengeratkan rangkulannya dibahu Mulan diringi dengan gelengan kepala.


"Kita jangan ikut campur, biarkan dia sendiri yang akan terima akibatnya. Istrinya pasti akan menyesal jika tahu dirinya siapa." ucap Mahendra kepada Mulan tapi bola matanya melirik Ammar.


Ammar berdecih jijik. "Sok suci, dasar pembunuh!" Ammar beringsut dan menerjang Mahendra kembali.


BUG.


Lelaki itu habis di berikan bongkahan pukulan bertubi-tubi oleh Ammar.


"Sahabat macam apa kamu, tega membunuh teman sendiri!"


Mahendra menjauh. "Apa maksud kamu, Ammar? Siapa yang aku bunuh?"


"ALEX! Kamu membunuhnya hanya karena uang, menjijikan sekali kamu, Mahendra!" maki Ammar.


DEG.


"Hah?" desah berat keluar dari mulut Mahendra dan Mulan.


Mulan tertawa nyaring. Dia mendorong tubuh Ammar dan kembali memukul-mukul dada lelaki itu.


"Dasar bodohh! Tollol! Goblokk!" Mulan memaki Ammar habis-habisan. "Kamu memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu tololl dalam memilih teman! Begitu saja percaya tanpa bukti yang jelas, dibodohi seperti kerbau! Dasar bodohh! Kamu tidak secerdas yang aku kira! Kamu harus tau kalau, Kak Al---"


"Ibu, cukup!" selak Mahendra.


Dia menarik Mulan untuk menjauh. Menghentikan ucapan yang tidak seharusnya Mulan ucapakan di sini.


Ammar menaikan satu alisnya. Tatapan garangnya berubah menjadi ratapan bingung dan aneh.


"Apa maksud kamu?" tanya Ammar dengan nada masih dingin.


"Kamu harus tau kalau, Kak Al---" lagi-lagi Mulan bernafsu ingin mengatakan hal yang dilarang.


"MULAN!!" lagi-lagi ucapan Mulan terselak. dengan suara bariton Mahendra mengaung di udara.


Kini, Mulan, Ammar dan Gana yang tersentak.


"Ayo kita pulang! Kita tidak akan diterima baik sampai kapanpun olehnya!" seru Mahendra. Lelaki itu menoleh ke arah Dava.


"Ayo, Nak, sini. Kita pulang." Dava yang masih menangis di pelukan Gana, lalu melepaskan dekapan mereka.


"Dava ..." tangan Gana mengatung setelah mengusap lembaran rambut Dava yang begitu saja pergi menjauh darinya. Mahendra meraih tubuh Dava untuk digendong dan menggandeng istrinya yang menangis.


Baru saja berlalu beberapa langkah. Mahendra kembali menoleh, lelaki itu menatap Ammar dari jarak tiga meter dengan tatapan serius.


"Terserah kamu mau memaafkan ku atau tidak. Yang jelas aku sudah meminta maaf, Tuhan mendengar niat baikku. Satu pesanku untukmu ..."


Mahendra menjeda ucapannya, ia menghela napas panjang.

__ADS_1


"Jangan pernah percaya dengan Farhan! Lelaki itu adalah musuh mu yang sebenarnya dibandingkan aku dan Alex!"


DEG.


Jantung, paru, hati Ammar seolah mendadak berhenti. Rongga di paru-paru nya seperti menyempit. Angin berhembus semakin kencang, awan tiba-tiba berjejer menutup matahari. Langit yang cerah meredup, bergantikan mega yang mendung.


DARR.


Suara guntur tiba-tiba datang menyelak. Bersatu padu dengan kilat yang mulai mengeluarkan garis-garis di udara. Gana memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, ia sedikit menunduk dan menjauh karena takut dengan suara dan sambaran petir.


"Bahkan langit saja setuju dengan ucapanku!"


Mahendra memandang langit lalu beralih menatap Ammar. Ammar masih terpaku, namun kelopak matanya memicing keji ke arah Mahendra.


"Mbak ... Dava ..." seru Gana. Mulan dan Dava menatap nanar ke arah Gana. Tanpa kata, mereka pun berlalu meninggalkan Ammar yang masih mematung lemas. Mencerna ucapan Mahendra dengan dada yang mulai sesak.


Benar 'kah?


Mulan melepaskan gandengan tangan suami dari tangannya, ketika langkah kaki mereka baru tiba di badan mobil.


"Kenapa Ayah tidak mau berkata jujur kalau sebenarnya, Kak Alex masih hidup!"


Mahendra menghela napas. "Aku sudah berjanji kepada Alex. Dia tidak mau tau menahu lagi tentang Ammar, Bu. Hidupnya akan terancam lagi kalau Farhan tau dirinya masih hidup!"


"Tapi Kak Dava harus tau, kalau Farhan yang mencoba untuk membunuh, Kak Alex, Yah." Mulan gemas.


Mahendra menggusarkan wajahnya. "Kamu lihat kan lelaki yang dulu kamu puja-puja? Ammar terlalu bodoh, Bu!"


"Menyimpan dendam seolah paling benar. Aku tau, aku memang sudah kejam padanya dulu, dan tanpa sadar sudah merubahnya menjadi orang yang jahat seperti ini, Tapi semua ini di rusak oleh Farhan, dan Ammar lebih percaya dia dibandingkan Alex!"


"Sedangkan Alex pernah meninggalkan aku demi Ammar. Tapi sekarang kamu lihat, kini, Alex bergantung hidup padaku! Aku, yang merawat tubuhnya, yang hampir cacat karena luka bakar yang sekarang ia tanggung!"


Karena sejatinya dulu, Mahendra begitu iri kepada Ammar karena dua hal. Pertama karena Ammar bisa mencuri hati Mulan dan kedua, Alex memilih meninggalkan Mahendra untuk bersahabat dengan Ammar. Tapi, rasa cemburu Farhan lebih besar. Ia tidak sudi berbagi sahabat dengan Alex.


Alex sengaja memutuskan kerja sama antara Ammar dengan ketua mafianya. Agar Ammar sadar dan mundur. Karena ia tahu, Farhan adalah penghianat. Lelaki itu curang, mengambil keuntungan dua kali lipat dibelakang Ammar. Farhan mengajak Alex untuk bekerja sama membohongi Ammar. Namun lelaki itu tidak mau.


"Alex memutuskan kerja sama dengan kita, Mar." fitnah Farhan kala itu.


"Ancam Alex! Jika dia nekat tetap ingin membatalkan kerja sama dengan kita dan beralih kepada yang lain. Habisi dia!" Ammar memutuskan. Kedua matanya menyalak tajam penuh kebencian.


Alex kecewa dengan rekaman suara Ammar yang menitah Farhan untuk membunuhnya. Padahal rekaman itu adalah kamuflase yang Farhan buat sendiri dengan memotong-motong percakapan asli yang sebenarnya. Membuat Alex marah, geram durjanahh.


"Ammar hanya mengingingkan keuntungan dari mu, Lex. Bekerja sama saja denganku, keuntungan yang akan kamu dapat, akan berkali-kali lipat."


Farhan makin menjadi-jadi memfitnah Ammar. Tapi karena Alex sudah niat untuk bertobat mengikuti jejak Mahendra, ia tidak mau lagi menjalani bisnis haram tersebut. Alex ingin menikah dengan Tari, kekasihnya. Menjalani hidup normal tanpa dikejar-kejar musuh.


Karena Alex bersikeras untuk hengkang dan tetap ingin membawa Ammar ke jalan yang benar dan ingin membongkar kejahatan Farhan. Maka Farhan menembaknya dan membakar markas huniannya kala itu. Dan di saat Alex meregang nyawa, Mahendra datang untuk menolong.


****

__ADS_1


Like dan Komennya ya guyss. Sepertinya besok kemungkinan besar aku tidak bisa up. Tapi aku usahakan, walau tidak janji. Boleh deh rayu sama komennya yang banyak hehe😘😘.


Selamat tahun baru ya para kesayanganku❤️🌺


__ADS_2