Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Belum Siap.


__ADS_3

"Apa jadinya Mama dan Papa jika tahu, menantunya adalah seorang mafia?" gumam nya lirih.


Walau, Mahendra belum mengatakan secara nyata. Tapi Gana sudah bisa menebak dan mengendus aroma tidak sedap dengan apa yang dilakukan Ammar selama ini.


"Kamu berjanji kan akan membantu, jika aku sudah mendapatkan bukti?"


"Insya Allah, aku akan membukakan jalan untukmu. Berdoa saja, semoga Allah mendukung langkah baik kita."


"Aamiin."


Tok tok tok.


"Bu ..." suara Yuni terdengar setelah mengetuk daun pintu.


"Bapak tadi menelpon, Bu." sambungnya lagi.


Di dalam Mahendra dan Gana terkesiap. Dan wanita itu baru sadar kalau ponselnya sedari tadi bergetar di dalam tas.


Raut panik membentang. Gana langsung beranjak berdiri bermaksud untuk menyelesaikan pertemuan ini.


"Maaf, Ndra. Aku harus buru-buru. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku berikan untuk Dava. Tapi tertinggal dirumah, mungkin nanti akan aku kirim ke sini."


"Datang saja langsung kerumah. Bertemu dengan Dava."


"Sepertinya tidak bisa. Aku takut Ammar tau."


"Dia melarang kamu?"


Gana mengangguk.


"Ya sudah tidak apa-apa." Mahendra hanya bisa memberikan senyuman tipis walau dengan balutan kecewa.


"Aku pamit, Ndra. Terima kasih banyak. Titip salam untuk Mbak Mulan dan Dava. Aku rindu mereka."


Mahendra mengangguk dengan tatapan sendu melepas kepulangan Gana dengan suara pamit yang begitu memelas. Ia tidak mempunyai daya lebih untuk membantu Gana.


"Aku yakin kamu mampu, Gana. Tolonglah Ammar." gumam Mahendra.


Dan pulanglah Gana dengan hati yang masih terganjal. Dan sedih karena harus mencari bukti-bukti itu sendiri. Walau tepi hatinya sudah mulai lega karena keyakinannya tentang Farhan memang benar, bahwa lelaki itu memang mempunyai maksud dan tujuan untuk berniat jahat kepada suaminya.


"Aku akan membongkar semuanya!"


Air bening sudah mengembun di sudut mata Gana, jika kelopak mata di gerakan sekali saja, sudah pasti air bening tersebut akan luruh lantah.


Hatinya begitu perih, seperti sedang di robek-robek oleh samurai. Cintanya yang baru saja merekah, kini seperti tertutup lagi dengan kabut.


***

__ADS_1


Gana melangkah gontai semenjak turun dari dalam mobil menuju ruangan suaminya. Ia menitah Yuni untuk kembali saja ke rumah. Kini, Gana sudah terbebas di pengekoran para Bodyguard.


Baru saja ingin membuka pintu ruangan Ammar, ia tersentak kaget, karena Bima dan Denis lebih dulu keluar dari dalam.


Gana setengah berseru untuk melampiaskan keterjutan nya. Begitu pun Bima dan Denis.


"Ma--af, Bu." ucap Bima yang hampir saja menubruk tubuh Gana. Lelaki itu mengelus dada, karena hal itu tidak terjadi. Begitupun Denis yang ikut bernapas lega. Bisa mati mereka, jika menyentuh tubuh istri kesayangan presdir mereka.


"Ibu sudah ditunggu didalam." ucap mereka.


Gana hanya mengangguk pelan tanpa kata, lantas menerobos mereka masuk ke dalam. Baru berjalan dua langkah, Gana mematung. Ia termenung menatap Ammar yang sedang menunduk menatap berkas di meja.


"Kenapa Ammar? Kenapa di saat aku mulai mencintai kamu?" lirihnya dalam lamunan.


Pertemuan dengan Mahendra tadi sangat membekas di kepala Gana. Bukan hanya tahu jika Farhan jahat, tetapi ia jadi tahu kalau selama ini Ammar melalukan perihal menyimpang.


"Sayang ..."


DEG.


Gana terlonjak. Entah sejak kapan Ammar sudah berdiri di hadapannya. Refleks Gana mundur menjauh, sehingga cekalan tangan Ammar di bahunya langsung terjerembab turun kebawah.


Ammar menatap bingung. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Ammar lembut. Lelaki itu bisa menatap jelas kalau raut Gana seperti sedang takut dan menyembunyikan sesuatu.


Berusaha menekan akar kegugupan didalam tubuhnya, Gana tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepala.


"Habis dari salon, tadi kamu kemana?"


Gana mengedikkan pangkal bahunya karena kembali kaget. Ia lupa jika suaminya akan menanyakan hal ini.


"Ke kantor Gemma?" tanya Ammar lagi. Untung saja Ammar menelpon Yuni bukan ketua bodyguardnya. Yuni mengatakan secara polos, kalau Gana sedang berada dikantor sang adik, seperti alibinya Gana kepada Yuni.


Gana mengangguk. Dengan dada yang berkedut-kedut karena hampir diketahui, ia melongo kan kepalanya kedalam kulkas dan meraih minuman dingin dari sana.


"Kamu mau?" tawarnya.


"Enggak. Kamu aja." jawab Ammar. Ia memilih duduk di sofa.


Gana berbalik melangkah menuju Ammar. Ia tatap wajah letih lelaki itu yang sehabis mengikuti banyak rapat hari ini. Gana masih tidak percaya, kalau raut lembut yang begitu manis menatapnya saat ini, adalah seorang penjahat.


"Apa yang kamu lakukan selama ini? Kejahatan apa, Ammar?" ingin sekali Gana berucap lantang, tapi hanya bisa ia simpan dalam hati.


"Tuh 'kan melamun lagi? Kamu lagi mikirin apa, Gana?"


Gana menggeleng cepat, lantas mengembangkan senyum selebar mungkin. Sakit sekali dadanya. Seperti diperas dan ditusuk-tusuk dengan ribuan jerami.


"Sini sayang." Ammar melambaikan tangannya, lalu menepuk sisi kosong disebelahnya.

__ADS_1


"Tenang Gana ... tenang." batinnya. Sekuat-kuatnya Gana merileksasikan napas nya. Ia tidak mau terlihat canggung.


"Aku kangen kamu." Ammar langsung merebahkan kepalanya dipangkuan Gana. Kepalanya menghadap ke perut. Tangannya menekan tengkuk Gana untuk turun mendekat ke arah wajahnya. Bibir ranum Gana dibenamkan di atas bibirnya.


Mereka saling memejam mata dengan perpagutan bibir yang terus berbalas satu sama lain. Sampai Gana melenguh ketika persatuan mulut itu terlepas.


Ammar mengusap permukaan pipi Gana dengan wajah penuh gairahh. Bola mata mereka saling bersitatap dalam cinta. Sayangnya Ammar belum peka dengan perubahan mimik sang istri, yang sudah memendam cinta untuknya.


Ammar beranjak bangkit, lalu menggandeng tangan Gana untuk mengikuti langkahnya. Wanita itu hanya melongo ketika dibawa pergi ke sebuah kamar yang ada diruangan ini.


Ammar melepas gandengan itu. Ia beringsut untuk memeluk Gana dari belakang. Menempelkan tubuh istrinya tepat didepan jendela berhordeng tipis berwarna putih.


Hembusan napas Ammar begitu menggelitik permukaan leher Ganaya. Wanita itu memejamkan mata ketika Ammar meremas bongkahan saljunya. Ammar mengecup-ngecup dari bagian telinga sampai ke pundak, kain dress nya sudah merosot dari pangkal bahu.


"Kamu wangi banget sayang." seruan Ammar tentu semakin menaikan tingkat libido Gana.


"Hhh ..." Gana hanya diam. Menikmati sentuhan suaminya. Jantungnya kembali berdetak cepat lalu terlonjak ketika tangan Ammar menelusup masuk kedalam dress dari bawah. Jari tengahnya kini sudah hinggap, di balik kain berenda milik sang istri.


Kedua kaki Gana melebar, tubuh Gana sedikit bergetar dengan pejaman mata. Kepalanya bersandar di bahu kiri Ammar. Wajahnya mendongak ke atas.


"Sebut nama aku sayang" bisik Ammar. Ia tau Gana ingin melenguhh, tapi wanita itu jaim dan menahan nya. Apalagi Ammar terus membisik-bisikan kata-kata dalam nada sensualis. Membuat libido Gana carut-marut.


Tapi Gana tetap tidak menyebut namanya, ia hanya bisa mensengalkan napas, dan Ammar cukup senang akan hal itu.


Biarlah kamu yang mencari bukti, lalu memutuskan harus bersikap seperti apa setelahnya. Satu pesanku, jika kamu sudah mengetahuinya, jangan tinggalkan dia.


Mengingat ucapan Mahendra, membuat konsentrasi Gana pecah. Buru-buru, menepis tangan Ammar untuk enyah dari pusat tubuhnya.


Ammar terkesiap. Ia kaget sekali dengan Gana yang tiba-tiba bersikap seperti ini. Wanita itu menunduk sambil membuang napasnya yang terlihat berantakan.


Ammar membalikkan tubuh istrinya. "Kamu kenapa sayang? Sakit 'kah?" rautnya khawatir.


Gana menggeleng. Sebisa mungkin ia harus tetap bersikap manis kepada Ammar. Ia tidak mau Ammar menaruh rasa curiga, karena dirinya terlihat sedang gelisah.


"Apakah aku masih belum boleh menyentuhmu? Kamu belum sayang sama aku, Gana?" tanya Ammar dengan tatapan sendu.


Kamu salah Ammar. Bahkan angin yang berhembus di udara saja tahu, kalau Gana sudah mulai mencintaimu. Namun kini hatinya sedang luka seperti tengah terbakar.


Jika saja tadi Gana tidak bertemu dengan Mahendra. Gana pasti sudah mengangguk, dan membuka seluruh pakaiannya untuk bisa di nikmati oleh Ammar. Namun moodnya berantakan, rasa kesal, sedih, murka, geram, tidak percaya terus bersatu padu bercokol dihati.


"Nanti ya, aku belum siap sekarang. Sekarang kamu aja ya, kayak biasa." ucap Gana mengalihkan cahaya yang mulai redup di wajah suaminya. Gana harus bisa membuat Ammar seolah-olah tidak tahu jika gerak-geriknya sebentar lagi akan terus dalam pantauannya.


Ammar hanya bisa mengangguk pasrah dan membawa Gana ke ranjang. Karena hasratnya sudah meninggi ke ubun-ubun.


***


Jangan lupa like dan komennya yah. Kaya aku yang gak pernah lupa up cerita ini, untuk terus menghibur kalian.🌺🌺

__ADS_1



__ADS_2