Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Geli! Aku Enggak Tahan!


__ADS_3

Walau dini hari tadi, Gana sempat merajuk kepada suaminya. Sekarang wanita itu tampak lega dari sesak. Hatinya berangsur tenang. Ia menerima pemberian berharga yang Allah berikan sekali lagi untuknya. Berkat nasihat yang berkali-kali Ammar ucapkan padanya. Gana mendekapnya dengan suka cita.


Saat ini, Gana tengah terbaring terlentang di ranjang, di kamar perawatan VVIP. Meletakan telapak tangan nya di atas perut bagian bawah, lantas mengusap-usap nya halus dengan senyuman terulas dari bibir.


"Anak Mama ... yang sehat, ya, Nak," tuturnya.


Mau bagaimanapun awalnya menolak, jika anak itu sudah kepalang hadir. Rasanya, rasa tidak suka, terhempas. Gana jatuh cinta dengan si cabang bayi.


Satu jam lalu, Gana di bawa ke poli kandungan untuk di USG. Walau hasil pemeriksaan kehamilan pada urine masih negatif, tetap saja Ammar dan Gana ingin mengecek nya langsung apakah betul Gana tidak hamil, atau memang hamil tapi belum terlihat. Jika memang tidak, Gana ingin berkonsultasi perihal steril.


Dan Allah setuju dengan doa Ammar. Gana kembali mengandung, anak ke enam. Bagaimana senangnya hati Ammar saat Dokter mengatakan ada janin yang baru berusia empat minggu di dalam rahim istri nya? Sungguh, tidak dapat terlukiskan. Lelaki itu bersorak gembira. Ia sampai memeluk Dokter Faris, karena bahagia. Dokter yang selalu membantu Gana melahirkan mulai dari Attaya sampai Alda.


"Bismillah, Ya Allah. Semoga aku bisa menjaga semua titipan mu, Aamiin." Gana senyam-senyum sendiri.


Wanita itu melirik ke sisi sebelahnya. Ada Ammar yang sedang tidur memunggunginya. Walaupun sempit karena tidur berdua di satu ranjang, tetap Ammar lakukan. Ia tidak ingin jauh-jauh dari istrinya.


Lelaki itu tidur mendengkur. Kelihatannya memang lelah sekali, karena semalaman dirinya begadang. Gana memutar tubuhnya miring. Ia memeluk suaminya dari belakang. Menciumi tengkuk leher Ammar.


"Walau belum mandi, kok aroma tubuhnya Abang, enak, ya. Enggak bau. Aku malah jadi enggak mual." Gana senang. Ia merasa perutnya yang sejak tadi masih bergejolak ingin muntah bisa hilang sejenak.


Muach.


Muach.


Muach.


Gana terus menciumi. Mendengus aroma kulit asli sang suami.


"Ya Allah, kok enak banget 'sih. Segar lagi." desah Gana dengan raut cerah. Seakan sanur pucat di wajahnya lenyap sudah. Sampai di mana Ammar mengerjapkan mata karena Gana mengganggu aktivitas tidurnya.


Dan.


"Euh!" Ammar mengerang. Ia tutup tengkuk lehernya dengan telapak tangan.


"Geli, Dek!" Ammar menjauh, mengikis jarak dari tengkuk dan bibir Ganaya yang masih saja ingin mencium.


"Adek suka, Bang. Enggak bikin enek."


Alis Ammar menaut, ia menoleh sedikit ke belakang dengan mata masih berat. "Kok bisa?"


Gana tidak menjawab. Ia memilih kembali menciumi tengkuk belakang Ammar, dan lelaki itu menjauh lagi. "Jangan, Dek. Abang geli banget!"


Gana menepis tangan Ammar yang menutupi tengkuknya, berusaha sendiri untuk tetap menyergap Ammar dari belakang.


"Euhhhh ...." Ammar mendesah. Bukan karena nikmat, tapi karena bulu-bulu halus di permukaan kulitnya mendadak berdiri. "Merinding, Dek! Abang enggak kuat." keluh Ammar. Lelaki itu beranjak bangkit untuk duduk. Ia mengusap-usap tengkuknya yang sedikit basah karena kecupan Gana.


"Abang, sini! Tiduran lagi!" seru Gana dengan rengekan manja. Ia menarik-narik lengan suaminya untuk berbaring lagi di sebelahnya.

__ADS_1


Ammar pun menurut walau sebenarnya ia tidak mau. Gana menitah Ammar untuk tidur dengan posisi seperti tadi. Kaki kiri ia letakan di atas paha Ammar, tangannya memeluk perut. Dan bibirnya kembali mengecup tengkuk Ammar.


"Ya Allah, GELI!" teriak Ammar. Lelaki itu meringkuk. Dan Gana tetap melakukan aksinya. "Kan Abang yang pengin anak terus? Nah sekarang rasain 'nih!" dengkus Gana. Ia yakin, perubahan yang ia alami sekarang karena pengaruh dari sang bayi.


"Dia 'kan masih kecil. Mana mungkin 'sih minta ini-itu. Ada-ada aja kamu, Dek." karena selama ini, Gana tidak berperilaku aneh ketika mengandung. Ngidam saja tidak, maka Ammar melongo hebat. Mengapa istrinya sekarang bar-bar sekali.


"Mending kamu cium si Harley, nih. Ketahuan enak! Nah, begini mah geli, dong!" Ammar meringis. Pangkal bahunya bergeliat. Kecupan yang Gana berikan tidak memberikan rangsangan nikmat padanya. Malah geli yang sangat menusuk.


"Diam, Bang!" Gana menekan dada Ammar untuk tidak banyak bergerak dan kembali berbaring sesaat lelaki itu ingin bangkit lagi.


"Minta apa aja, Dek. Jangan kayak begini." mendengar hal itu. Gana hening. Ia tatap tengkuk Ammar yang sudah semakin basah karena capitan dari kedua bibir nya, seraya sedang berpikir. Dan Ammar pun menautkan alis, ada apa dengan si penunggu hati. Mengapa tiba-tiba diam?


Ammar menoleh ke belakang. Takut-takut istrinya kembali merajuk. Namanya juga orang hamil, hormonnya suka tidak menentu.


"Adek mau Duren, Bang."


Bola mata Ammar melotot. "Duren?" ia memastikan.


Gana mengangguk-angguk senang dan memberikan decapan lidah. Ia berbaring terlentang dan mengelus-elus perutnya.


"Duren montong, ya, Bang. Ayo sana, beli, Bang!" titah Gana tak tahan. Pasalnya, Ammar dan Gana sangat anti dengan durian. Mereka tidak menyukai bau dari buah tersebut.


"Beneran, Dek? Duren?" Ammar memastikan.


Gana mengangguk. "Ya Allah ...." Ammar mengusap dada. Lelaki itu 'kan tidak sanggup jika harus menghirup aroma durian.


"Ayo dong, Bang. Beliin." Gana merengek. Ammar menghela napas berat. Buyar sudah rasa kantuknya. Ia mengangguk, lantas turun dari ranjang. Meraih ponselnya di atas nakas. Dan memilih kontak asistennya.


"Tiga, Bang." selak Gana. Dan Ammar menggeleng.


"Setengah buah aja!" titah Ammar kepada Denis di sambungan telepon.


"Ha?" di seberang sana Denis melongo. Pun Gana di sini.


Baru ingin melempar bantal ke arah Ammar. Lelaki itu memperbaiki ucapan nya dengan wajah malas.


"Satu buah aja, Den. Kalau bisa yang pahit. Biar Gana enggak mau lagi." Ammar terkekeh.


"ABANG!"


Mungkin setelah ini, Ammar akan bersembunyi di jambann untuk menghindar dari rasa ngidam istrinya yang sangat berbeda.


Rasain. Haha.


...🌾🌾🌾...


"Nah ... Nah!" Alda menggeleng-gelengkan kepala saat Neneknya ingin memberikan susu formula ke mulutnya. Gelfa sampai bergegas ke minimarket, membeli susu untuk Alda. Alda adalah anak Asi. Ia tidak pernah di berikan susu selain Asi milik Gana. Maka dari itu ia menolak keras susu formula.

__ADS_1


Anak itu sudah kepalang haus. Ia merengek-rengek dan melolongkan tangan masuk ke dalam gamis Mama Difa. Memegang-megang puncak dada Neneknya yang pasti tidak sekencang milik Mamanya.


"Tanan, dek! Inih atah!" Adela dan Mama Difa mencoba menenangkan Alda yang masih meronta kesal. Adela kembali ingin memasukan dot susu, tapi Alda tidak mau.


"Mahhhhhhhhhhh!" seru Alda. Ia menghentak-hentakan kakinya dalam pangkuan Mama. Merosot ke bawah lalu ditarik lagi untuk duduk tegap.


"Maaaaaaahhhhhhhh ... mimi." cicit Alda dari bibir mungilnya. Rasa susu formula yang ia cicipi tidak seenak dengan Asi yang setiap hari ia nikmati. Alda membuang botol susu itu dari tangannya.


Adela turun dari sofa dan meraih botol susu itu. Bukan di berikan kepada Adiknya, si keriting malah meminumnya. Haha.


"Ya Allah, nih, Anak!" dan Adela tertawa-tawa sambil menikmati susu formula dari botol.


"Pah ayo cepat! Mandi kok lama banget! Ngapain aja sih di dalam. Ngomong sama air, kamu?" decak Mama kesal. Sudah tiga puluh menit menunggu Papa mandi, tapi belum selesai juga.


Di ruang tamu, Mama sudah siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Ingin membawakan makanan dan menjenguk Gana. Sedangkan Gelfa setelah membeli susu ke minimarket, ia mengantar triple A sekolah bersama Ratu dan menunggui mereka sampai ujian selesai, karena hanya akan memakan waktu dua jam saja. Gelfa juga akan membawa mereka ke RS untuk melihat keadaan Mamanya.


Saat mau berangkat sekolah, raut triple A begitu kusut dan sedih. Sakit apa Mamanya? Mengapa bisa pingsan dan harus di rawat? Entah apa reaksi mereka, jika tahu Ganaya kembali hamil.


"Mahhhhhhhhhhhhhhh!" suara Alda kembali melengking. Mama Difa bangkit berdiri dan menimang-nimang anak tersebut.


"Adek, tanann teliak-teliak." Adela mengusap-usap kaki Alda dari bawah. Ia kembali mengedot botol susu.


"Mama cama Papa kemana cih, Nek? Kok dali tadi ndak ada?" Adela bangun siang. Ia memang belum melihat sosok Gana dan Ammar sedari tadi. Dirinya menurut saja ketika di bangunkan Mama dan di titah untuk mandi.


"Mama lagi sakit, Nak. Makanya kita mau ke Rumah Sakit sekarang."


"Ha?" manik mata Adela melebar. Ia kaget. "Mama agih di lumah cakit, Nek?"


"Iya, Nak." jawab Mama. Dan wanita tua itu semakin kewalahan, karena Alda terus menangis dan meminta turun. Sepertinya anak itu ingin merangkak masuk ke dalam kamar mencari Gana.


"Huwaaaaaaaaa ... Mama!!" Adela menangis. Ia lempar botol susu dan memeluk kaki Neneknya. Ia mendongak ke atas.


"Ayo, Nek. Titah pelgi ke canah! Akuh mau lihat, Mama!" Mama semakin pusing, karena kedua cucunya menangis. Si botak lucu mendadak hening dari tangisnya karena ada suara tangis yang begitu melengking darinya. Alda melongokkan kepala ke bawah dari gendongan Mama, menatap Adela. Ia mengulurkan tangan seraya ingin di gendong oleh Kakaknya yang masih merajuk sedih.


"Akuh ndak tuat tendong amuh, Dek. Amuh endut!" ucap Adela terseguk-seguk. Alda mencebik, ia menangis lagi. Dan suara keduanya saling bersaut-saut.


"Papaaaaaaaa!" seru Mama kepada suaminya yang ia terka masih di kamar mandi, di dalam kamar. Akhirnya Mama menyusul ke sana, sambil menggendong Alda dan menggandeng Adela.


Dan.


Bola mata Mama seakan ingin rontok, saat melihat lelaki beruban yang sejak tadi ia tunggui tengah tertidur di ranjang dengan lilitan handuk di pinggang. Sepertinya Papa ketiduran setelah mandi. Kantuk masih mendera matanya.


"Astagfirullahalladzim ... GALIHHHHHHHH!"


Suara teriakan Mama bagai air bah yang langsung menerjang tubuh Papa tanpa ampun.


"BANGUNNNNNN!!"

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Like dan Komennya yaw. Sehat selalu guys❤️


__ADS_2