Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Bagaimana Dengan Janjimu?


__ADS_3

"APA?"


Di tengah-tengah gelak tawa yang menggema di udara lepas, antara Ammar, Mahendra dan Alex di lokasi industri yang saat ini sedang mereka pijak, begitu saja terganti dengan udara yang tiba-tiba memanas, serta langit yang mulai menggelap saat Ammar berteriak di gawainya.


Lelaki itu baru saja mendapatkan kabar dari pihak kepolisian, mengenai keterkaitan dirinya dengan mobil yang merosok masuk ke dalam jurang.


Sepuluh menit lalu, polisi berhasil mengabari Ammar.


"Selamat siang dengan Bapak Maldava Ammar? Kami dari lakalantas polri, Ingin menanyakan mengenai plat nomor mobil B 94N4 AM, apakah betul mobil itu milik, Bapak?"


Polisi dapat melacak plat nomor mobil yang alhamdulillah-nya masih bisa dilihat dengan jelas. Lempengan plat terlepas dari badan mobil dan ditemukan di hamparan ilalang sebelum masuk ke dalam jurang.


Dengan dahi mengerut-ngerut sambil fokus mendengarkan, kemudian mengangguk seakan polisi ada dihadapannya sekarang.


"Iya, benar. Ada apa ya, Pak?" di akhir kalimat terdengar begitu gusar. Pasalnya nomor plat tersebut memang benar terdapat pada mobil sedan mewah nya yang ia tahu sedang terpakir dirumah.


Mahendra dan Alex ikut memasang raut aneh. Mereka menilik serius wajah Ammar yang mulai panik.


"Mobil Bapak ditemukan terbakar di turunan jurang. Kami menemukan bagian tas wanita yang ikut terbakar. Tapi tidak ditemukan pengemudinya ----"


Saat mendengar kabar buruk yang tidak pernah ia harapkan sama sekali untuk datang menerpa. Ammar langsung berlari menuju mobilnya tanpa menjelaskan dulu perihal kepergiannya yang mendadak begitu saja kepada Mahendra dan Alex. Namun kedua lelaki itu berinsiatif mengikutinya.


Selama diperjalanan, dengan hati gugup, gelisah dan takut ia terus menghubungi Gana dengan ponselnya. Ammar sempat kaget ketika melihat ada sepuluh missedcall dari satu jam lalu yang tidak ia angkat.


"Ahhh!!" Ammar berteriak. Ketika gawai gana tidak bisa dihubungi.


"Ada apa, Ammar?" tanya Alex di kursi belakang. Ia membusung maju ke sandaran jok Ammar.


"Tentang Gana?" sambung Mahendra, ia jadi kikuk ketika mengemudi.


Ammar resah, tidak bisa berfikir. Napasnya bergemuruh dan jantungnya bertalu-talu, seakan nadinya akan terputus. Tubuhnya bergetar. Tidak mampu berkata lebih, hatinya sakit dirundung lara.


"Istriku." hanya itu yang bisa ia rintih kan. Meremat kain di dada sambil memejam mata.


"Kenapa Gana, Mar?" cecar Alex.


Ammar membuka matanya.


"Polisi tadi menghubungiku, katanya mobilku masuk ke dalam jurang. Ditemukan tas wanita, tapi tidak ditemukan pengemudinya. Aku takut, kalau Gana .... Ahhhhhhhhhh!!" Ammar memekik. Memukul-mukul kepalanya.


"Tenang, Mar. Tenang dulu. Kamu harus---"


"Bagaimana aku bisa tenang, ponsel Gana tidak aktif! Aku takut, Lex! Aku takut Gana ... Astagfirullah, Ya Allah." Ammar mengerang histeris. Ia tidak sanggup membayangkan jika tas yang ditemukan memang milik istrinya.


"Lex, ambil hape Ammar. Hubungi rumahnya, tanyakan apakah Gana ada dirumah atau tidak." titah Mahendra. Ammar sangat histeris dan susah untuk di ajak bicara. Lelaki itu masih mengerang dalam tangisan.


Ia berharap mobilnya di curi dari rumah, dan orang lain yang mengemudikannya. Bukan istri tercintanya.


Alex mengikuti titahan Mahendra untuk menghubungi telepon rumah dari ponsel Ammar.


Dan tak lama raut Alex menggelap, sinar dari wajahnya seketika menghilang ketika mendapati jawaban dari Yuni, kalau nyonya-nya sedang tidak ada dirumah.


"Coba cek cctv halaman depan, Mbak!" perintah Alex.


Mahendra menilik Alex dari kaca spion sambil menyetir, sedangkan Ammar terus menoleh ke belakang menatap sorotan mata Alex yang sedang menatapnya balik. Raut Alex menegang, ia takut apa yang ditakutkan Ammar memang benar terjadi.


"Ibu pergi menggunakan mobil Bapak disaat saya sedang keluar berbelanja, Pak." jawab Yuni ketika melihat rekaman cctv yang hanya terpasang di halaman depan.


"Aaa---apa?" Alex mengulang dengan gagap. Deru napasnya mulai berantakan.


Ammar melototkan matanya ketika melihat kejanggalan di wajah Alex. Dengan gugup ia bertanya lagi. "Bagaimana, Lex? Gana ada dirumah 'kan?" seakan Ammar memaksa agar Alex menjawab iya.


Alex menggeleng lemah. "Gana pergi dengan mobil kamu, Mar." ucap Alex pelan.


Ammar yang mendengar jawaban Alex langsung membeliak. Dadanya bergerak naik turun karena mulai sesak. Kepalanya seraya ingin terbelah, lalu pecah dan hancur.


"GANAAAAAAAA!"


🌺🌺🌺


Setelah tahu Gana tidak ada dirumah, Mahendra mengarahkan mobil langsung ke arah TKP. Ammar turun dari dalam mobil dengan keadaan lemah tidak berdaya. Ia langsung dihampiri oleh beberapa polisi yang sedang memeriksa keadaan di sini. Napas Ammar terengah-engah. Wajah dan bajunya sudah sangat basah. Peluh, air mata dan ingus bercampur menjadi satu.


Rasanya saat ini, kakinya tidak bisa menapak tanah. Tubuhnya begitu lemah dan ringkih. Orang-orang sudah berkerumun dengan gawai mereka untuk leluasa merekam mobil sedan yang sudah berhasil dipadamkan dari si jago merah. Ada police line berwarna kuning melintang di pertumbuhan ilalang di area kejadian. Agar masyarakat tidak terlalu masuk ke area TKP.


"Kami menemukan ini, Pak."


"Astagfirullahaladzim, Ya Allah ..." seru Ammar histeris.


Tangan kekar itu bergetar ketika mendapati tas kesayangan Gana yang sudah terbelah dua. Tas gucci berukuran kecil berwarna kuning, yang ia belikan tiga bulan lalu untuk istri kesayangannya.


Ammar terjerembab jatuh ditanah. Ia memeluk tas itu didadanya. Menumpahkan air mata, teriakan dan ketidak percayaan yang masih hinggap di kepala.


"Ammar ..." seru Alex dan Mahendra bersamaan.


Mereka ingin mengangkat Ammar untuk berdiri, tapi lelaki itu enggan. Terus membungkukkan badan, menundukkan kepala sambil memejamkan mata, berharap ini adalah mimpi. Dan ketika suara masa semakin berisik, seakan langsung menyadarkan dirinya. Jika apa yang ia rasakan sekarang, bukan lah mimpi. Ammar semakin menangis.


Ammar mendongak dengan wajah basah menatap Polisi.


"Tolong cari istri saya, Pak. Tolong!" Ammar sampai memegang telapak tangan Bapak polisi dengan bergetar dan amat iba.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak."


Mahendra menghela napas berat. Tak habis fikir dirinya, Gana akan pergi secepat ini. Dari perbincangan para polisi yang sejak tadi sudah naik lagi ke daratan. Mobil meledak lalu terbakar dan kini kondisinya sangat memperihatinkan. Jika saja Gana memang ada di dalam mobil tersebut pasti nyawa wanita tidak akan selamat.

__ADS_1


Lalu kemana 'kah Gana? Polisi belum bisa melacak kemana Gana.


Polisi hanya menduga, Gana terlempar jauh dari mobil saat mobil tersebut turun ke jurang dan meledak. Bisa saja di area ilalang-ilalang sekitar jurang atau terbawa aliran sungai yang cukup deras. Polisi mengirim pasukan tim sar untuk mengecek sungai, takut-takut dugaan mereka benar kalau Gana tenggelam.


Jika memang ia tenggelam atau terbawa aliran sungai. Jika dalam tiga hari tidak ditemukan, tubuhnya pasti sudah berurai, terhancurkan oleh air.


"Tolong sekarang ya, saya akan kirim alamatnya!" titah Mahendra kepada anak buahnya. Ia mengeluarkan helikopter yang akan dikemudikan oleh anak buahnya untuk mencari Gana dari udara.


"Sayang ... Jangan tinggalkan aku." seru Ammar.


Bahunya membuncang hebat seiring gelak tangis yang kembali mencuat.


"Kenapa kamu harus pergi dari rumah? Kamu memang mau kemana, sih? Kenapa tidak bilang?" Ammar terus merancau frustasi, sampai dimana ia semakin menangis tak kala panggilan dari Gana tidak sempat di jawab.


"Ahhhhhhh!!" Ammar kembali berteriak. Mencakar-cakar tanah dengan buku-buku jarinya.


"Ammar ayo bangun!" ajak Alex. Ia mencoba menarik tubuh Ammar yang terasa berat karena begitu lemah. "Tolong bantu cari Gana. Aku yakin istriku masih hidup, Lex." pinta Ammar memelas. Air matanya luruh, dan hati Alex tersayat melihatnya.


Alex mengangguk. "Aku pasti akan mencarinya."


"Apa yang harus aku katakan kepada keluarganya?" rintih Ammar. "Lebih baik aku yang mati dibanding Gana! Aku yang banyak dosa, aku yang pantas di hukum!" Ammar terus menangis. Mengaduh tentang batinnya yang perih.


"Ujian apa lagi ini, Ya Allah? Mengapa engkau terus mengujiku? Apakah aku belum pantas mendapatkan maaf dari mu? Tolong kembalikan istriku, jangan ambil dia." Ammar menangis seperti anak balita. Mahendra dan Alex terus mendekapnya. Tentu ditinggal istri dengan keadaan seperti ini, bukanlah idaman para suami.


"Padahal dia sudah mencintaiku, kenapa malah pergi." desahnya lagi. "Selama dua belas tahun aku menunggu cintanya, dan ketika aku sudah mendapatkannya, kenapa harus terhempas lagi? KENAPA??" Ammar kembali mengaung. Semua masa dan polisi menatapnya iba. Terasa sekali cinta suami kepada istri. Tidak rela jika ditinggal begitu saja dengan cara seperti ini.


"Sabar, Mar. Allah tahu yang terbaik untuk umatnya. Allah pasti akan menjaga Gana."


Sungguh klise. Kata sabar dalam keadaan seperti ini memang tidak di perlukan. Yang Ammar mau sekarang, hanyalah Gana selamat.


"Aku tidak mau sabar! Aku hanya ingin istriku! Ganaya-Ku!" Ammar menurunkan satu oktaf nada emosinya.


Hancur sudah dunia nya. Untuk apa ia hidup, jika semangat hidupnya sudah tidak ada. Gana adalah harapan terbesarnya dalam melawan dunia dan mendekap akhirat, ia ingin selamnya hidup dengan Gana.


"Bukankah kamu sudah berjanji untuk membangun janah di dunia maupun di kehidupan selanjutnya bersamaku? Lalu bagaimana dengan janjimu?" Ammar terisak lagi. Dadanya seakan di hunus obor yang sangat panas. Ingin berteriak kepada Rabb-nya. Agar mencabut nyawanya juga sekarang.


Tapi sekarang harapan itu sudah musnah. Dan pada akhirnya, ia tetap di tinggal oleh sang istri. Istrinya yang bawel, humor, galak, tapi sangat perhatian. Bagaimana Ammar menjalani hari-hari setelah ini? Ia tidak berani untuk membayangkan.


Di saat orang tuanya saja mengusirnya, di saat orang menghinanya, tapi Gana tetap merentangkan kedua tangannya untuk menerima, mendekap dan membelai Ammar dengan segala dosa yang sudah penuh. Kini wanita itu tidak akan lagi ia lihat. Tidak akan ia rasakan lagi bagaimana belaian lembut dari Gana. Astagfirullah ... sungguh menyakitkan.


"Gana ... sayang, ayo kita pulang." rancau Ammar lemah. Ia tidak konsen diajak bicara oleh polisi atau siapapun. Maka dari itu sedari tadi, Mahendra lah yang lebih banyak berdiskusi dengan aparat kepolisian. Tidak tanggung-tanggung, Mahendra meminta intel untuk menyelidiki kasus ini.


Atmosfer seakan mengetat. Oksigen di udara terasa tertutup angin, Ammar yang terus menangis tanpa sadar sudah tidak sadarkan diri dalam dekapan Alex


Lelaki itu amat syok. Terus meminta kepada Semesta bahwa semua ini hanyalah mimpi di siang bolong.


🌺🌺🌺


Putri kedua dari sang konglomerat Galih Hadnan, dikabarkan menghilang setelah mobil yang ditumpanginya terbakar.


Putri Ganaya Hadnan, Presiden Direktur Hadnan Group, meningal dunia setelah mengalami kecelakaan tragis.


Begitulah berita yang sekarang sedang berdengung di dunia pembisnis di media online, surat kabar dan desas-desus gosip yang tidak bertanggung jawab. Para musuh Ammar dari segi mafia kelas kakap, kelas teri, kelas tongkol begitu bersorak gembira.


Mampuss lah kamu, Ammar! Seru mereka kegirangan, begitupun Farina dan Asyifa. Berbeda hal dengan Farhan dan Adri, mereka meratap sedih dari jauh.


Sudah lima hari berlalu pasca kecelakaan tersebut. Belum ada berita dari kepolisian sama sekali yang mengatakan kalau Gana sudah diketemukan, semua beranggapan kalau Gana sudah tiada.


Keluarga besar kembali di rundung luka. Mengetahui anaknya telah menjadi korban kecelakaan, Papa Galih sampai pingsan beberapa kali. Ini yang ia takutkan, dan naasnya terjadi. Ia mengutuk Ammar, karena sudah membuat hidup Gana berantakan. Kini hilang, dan mungkin sudah mati.


Keluarga Artanegara dan keluarga Hadnan Mahendra, Alex Bima dan Denis, sudah mengerahkan tenaga, dan orang-orang terkuat yang mereka miliki untuk menyelidiki kasus ini.


Dan Polisi mengatakan, ini bukanlah kecelakaan tunggal, melainkan kecelakaan yang dibuat terencana oleh orang jahat. Walau sampai detik ini, polisi belum berhasil menemukan dalangnya.


Mama Difa yang sudah sakit, makin bertambah sakit. Ia berucap pada batinnya. Lebih baik nyawanya saja yang ditukar. Hidup Gana masih panjang, belum memiliki anak, belum menikmati indahnya rumah tangga, tapi mengapa harus pergi sekarang? Dan caranya sangat tragis. Papa, Kakak dan Adik-adik Gana, menyesal. Kenapa mereka lebih dibutakan emosi, dan menjauhi Gana di saat-saat terakhirnya.


Mama Alika yang memang sudah pulang dari Rumah Sakit. Langsung melesat pergi dan menginap di rumah anak lelakinya sejak Gana dinyatakan hilang. Begitupun Papa, walau hatinya masih tidak sudi menerima Ammar, tetapi melihat anaknya seperti ini, rasa prihatin di hatinya kembali terusik. Maura pun sama, ia setiap hari datang untuk melihat kondisi Adiknya.


"Gimana Mah, Adek?" tanya Maura. Ia beranjak bangkit dari sofa. Wanita itu baru saja sampai dengan membawa berbagai macam kue yang ia bawa dari tokonya. Melepas lelah dan menikmati secangkir teh buatan Yuni. Mama yang baru keluar dari kamar dengan sebuah nampan yang berisikan bubur masih penuh dalam mangkuknya, hanya menggeleng frustasi.


"Tetap tidak mau dimakan, Ra." ucap Mama dengan nada sendu.


"Mama takut Adikmu tambah sakit." imbuh Mama lagi.


Maura menghela napas sedih. Wanita itu bergegas masuk kedalam kamar untuk melihat langsung keadaan adiknya yang terlihat lemah dan kurus.


Terlihat di bibir ranjang ada Papa yang duduk memegangi tangan Ammar yang sudah di ikat dengan tali tambang. Begitupun dengan kedua kakinya. Papa terus membujuk anak itu untuk mau makan. Ammar hanya diam, menatap kosong atap kamar.


"Pah ..." Maura mengelus bahu Papa dari belakang. Buru-buru Papa seka air matanya yang masih hinggap di pelupuk. Rasa sesal kini terus membelenggu batinnya. Mungkin ini yang harus Ammar terima dari segala dosa yang telah ia lakukan.


"Tangan dan kakinya kok di ikat lagi, Pah? Bukannya kemarin Adek udah bisa diajak ngobrol?"


Ammar mengalami depresi cukup berat. Dirinya terpaksa diikat, karena ketika emosinya kembali datang, ia akan menghancurkan barang-barang secara brutal, sampai mau mengakhiri nyawanya berkali-kali dengan pisau.


Seperti kemarin misalnya, jika saja Mahendra tidak datang menjenguk dan tidak menembak tali tambang yang sudah bergantung sebesar lubang kepala yang menjuntai dari atap kamar Ammar, mungkin Ammar sudah mati sekarang karena gantung diri.


Ammar tidak mau makan semenjak Gana menghilang. Minum saja tidak. Ia seperti orang yang tengah berpuasa. Bibirnya kering, wajahnya pucat dan kantung matanya sangat hitam. Dalam sehari tidur hanya satu jam, tidak nyenyak dan selau gelisah. Tubuhnya lemas, lunglai dan berkali-kali pingsan.


"Dua jam lalu. Adekmu ngamuk lagi. Teriak-teriak panggil istrinya." jawab Papa apa adanya.


"Ya Allah." Maura meratap sedih.


Wanita itu lantas merangkak naik ke kasur dan ikut berbaring disebelah sang adik. "Adek .." Maura menarik tubuh Ammar untuk masuk ke dalam dekapannya. Ammar menerima pelukan itu dan akhirnya menangis lagi.

__ADS_1


"Gana pasti selamat. Kita kan masih mencari. Gana akan ditemukan sebentar lagi. Maka dari itu, kamu harus makan. Biar Kalau Gana pulang, kamu tidak dengan keadaan lemah seperti ini."


Ammar menggeleng. Air matanya tercurah lagi, ia memeluk Kakaknya erat untuk mencari kekuatan batin.


"Mereka bilang istriku sudah tiada. Bahkan pencaharian Gana di jurang itu, akan ditutup dua hari lagi." ucap Ammar dalam isak tangisnya.


"Makanya ayo kita cari. Kakak akan temenin kamu. Tapi sebelum itu, Adek makan dulu. Biar pas bawa Gana pulang, tubuh Adek enggak lemas."


Ammar akhirnya menurut. Ia mengangguk seperti anak bocah yang sedang ditenangkan sehabis merajuk. Ammar melepas dekapan itu dan menoleh ke arah Papa. Papa tersenyum tipis lalu membantu Ammar untuk bangkit dan menyandar di punggung ranjang.


"Kak, ambilkan lagi bubur untuk adikmu." titah Papa.


Maura mengangguk dan beranjak turun dari ranjang.


"Pah ..." panggil Ammar dengan air mata.


Papa mengangguk. Seraya merapihkan rambut anaknya yang sedikit berantakan.


"Doain Gana, Pah."


Papa mengangguk lagi. "Selalu, Nak. Doa Papa enggak pernah putus buat Adek dan Gana."


Ammar beringsut memeluk dada Papa. Sentuhan dan belaian yang tidak lagi ia rasakan setelah mereka berdua berseteru. Bagaimanapun Ammar, walau ia sudah salah melangkah. Lelaki itu tetaplah anaknya, dan kini sedang berduka.


Batin Ammar tersiksa. Mengapa dengan cara kepergian Gana dulu, dirinya dan Papa bisa kembali saling berpeluk. Sungguh ia tidak mau, jika Gana yang harus menebus semua kesalahannya.


🌺🌺🌺


Malam kembali datang. Malam ke lima tanpa Gana di sampingnya. Malam yang begitu mencekam dan terasa amat dingin. Padahal malam ini seperti biasa, dirinya tidur di apit Mama dan Papa dalam satu selimut. Kedua orang tua itu takut meninggalkan Ammar sendirian. Takut jika lelaki itu menyakiti dirinya lagi.


Kepala Ammar menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ritme cepat di atas bantal. Kelopak matanya masih lekat memejam. Napasnya menyembul kasar. Peluh bergerumun sebesar butir jagung di pertengahan dahi. Mimpi buruk kembali datang. Bayangan Gana mulai tampak.


Tolong aku sayang ... Di sini dingin. Aku kedinginan.


Ammar ... tolong aku!


Tolong ... dingin.


Hiks ... hiks.


Ammar terlihat risau. Mulai menggeliat kasar dalam tidurnya. Kedua tangannya mengepal. Seakan ingin bangkit untuk menolong Gana yang sedang berdiri dipertengahan air. Ingin menolong, meraih tubuh wanita itu nyatanya sangat sulit.


Tolong aku ... Dingin.


Dan.


"GANAAA!!" desahnya sedikit kencang. Orang tuanya sedikit bergumam karena tersentak, tapi tidak sampai bangun.


Kelopak mata Ammar terbuka lurus menatap lampu kamar yang tidak di matikan. Ammar menghembuskan napas berkali-kali, untuk menghilangkan degup jantung yang terus memburu hebat. Ia usap keringat yang ada di wajahnya. Lalu beranjak dari kasur dengan langkah tenang. Ia tidak mau orangtuanya terbangun.


Ia tilik jam di dinding. Sudah pukul 02:00 malam. Entah setelah mendapat mimpi Gana dengan jelas, ia bergegas mengambil wudhu untuk bermunajat. Tidak ada yang bisa menjadi sandarannya selain Allah sekarang. Dan ia merasa Ganaya butuh doa darinya.


Ammar menggelar dua sajadah. Satu sajadah untuk dirinya dan satu sajadah lagi ia letakan dibelakang dirinya. Ammar letakan mukena Gana di atasnya.


"Selamanya aku akan selalu menjadi imam-mu." gumamnya, ia menatap sajadah dan mukena dibelakangnya yang tidak bertuan.


Mulailah Ammar menjalankan shalat malam dua belas raka'at. Disela-sela melakukan gerakan shalat, air bening dari sudut matanya begitu saja luruh. Isak tertahan ketika sedang melafadzkan doa shalat.


Bayangan dirinya ketika sedang mengimami Gana, kembali berputar-putar. Lelaki itu sampai sesekali terseguk-seguk mengusap ingus. Tapi, tetap menunaikan shalat dengan keadaan kusyu. Ia hempaskan air mata itu dalam doa. Seraya mengadu kepada Semesta, bahwa ia butuh pelukan.


"Ya Allah. Segala puji bagimu, atas semua kebesaranmu didalam hidupku. Saya, hamba yang berlumur dosa kembali datang bersimpuh untuk memohon ampunan dan mempunyai permintaan." Ammar membuka lebar-lebar telapak tangannya. Menengadah ke atas. Ia menatap ke langit, mengiba sampai ke titik terendah di dalam hidupnya.


"Tolong kuatkan hamba, Ya Allah. Tolong jaga istri hamba." Ammar menunduk, doanya terjeda. Ia menahan sakit di hati. Bayangan Gana yang muncul kembali membuat dadanya perih.


"Maafkan hamba, jika hamba belum bisa ikhlas atas tragedi yang menimpa istri hamba saat ini. Dengan apa yang nantinya akan engkau tuliskan untuk akhir dari pernikahan kami. Hamba tetap meminta agar istri hamba tetap diketemukan dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun ..." Ammar menjeda lagi doanya. Menangis lagi.


"Tapi jika akhir dari semua ini adalah luka. Tolong kuatkan hati hamba walau hal itu sulit sekali untuk hamba terima ..."


"Jika memang istri hamba telah tiada, izinkan hamba menemukan jasadnya, untuk hamba kuburkan secara layak."


Mengucap kalimat terakhir, isak tangis Ammar kembali pecah. Ia raih mukena Gana dan di peluknya erat-erat. Seakan itu adalah tubuh istrinya. Tidak mau. Ia tidak mau jika doanya itu menjadi nyata. Ia belum ikhlas. Tapi apa mau di perbuat? Ikhlas atau tidak, Allah yang punya skenarionya. Ammar hanyalah pemeran yang harus siap di apakan saja.


Ammar ayo tidur, jangan main game terus.


Kamu belum shalat subuh, ayo bangun sayang!


Ayo duduk sini! Aku pakaikan baju.


Sayang, i love you. Kamu lagi apa?


Pangkal bahu Ammar bergetar hebat. Isak tangisnya semakin jelas. Wajahnya yang semakin menirus, terus banjir karena air mata.


Suara Gana terus berisik di telinganya. Apalagi bayangan saat ia pernah membuat Gana kesal, menangis dan membentak terus-terusan membuat dadanya terbelah karena sesak. Lelaki itu tidak tahan untuk pura-pura kuat menahannya. Ia berteriak dalam kain mukena yang tidak sadar sudah ia cengkram kuat-kuat dan di gigit.


Lelaki itu mengerang, sampai otot-otot hijau tersembul disekitar permukaan lehernya yang sudah basah karena keringat dan air mata.


"Sayang, aku rindu. Pulanglah, Gana!"


Kehilangan memang sesuatu hal yang paling menyakitkan. Maka dari itu, jika masih diberikan umur panjang, jagalah sesuatu yang kita punya dengan perlakuan kasih dan sayang. Karena ketika kita kehilangan, jangankan berbicara, mengendus aroma nya saja sudah tidak bisa. Berikanlah kasih dan cinta selagi orang yang kita sayangi masih bernapas.


Bukti kasih yang paling nyata adalah ketika kita mau melakukan sesuatu hal yang tidak kita sukai, demi orang yang kita cintai.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Like dan Komennya yaaa sayang-sayang.



__ADS_2