Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Eks Part Three


__ADS_3

"Juara satu adalah Madinah Husein."


Helaan napas lemah mencuat dari bibir Rora. Ia menatap Madinah yang tersenyum sumringah di depan sana bersama kedua orang tuanya. Tidak di pungkiri, di sudut hatinya ada rasa kecewa walau setitik.


Ammar dan Gana mengusap punggung putrinya, untuk menguatkan. Rora berbalik menatap mereka.


"Maaf ya, Mah, Pah, Dek. Kakak enggak menang."


Semua memandang senyum. "Enggak apa-apa, Nak." jawab Mama dan Papa bersamaan, lantas mengecup Rora.


"Tahun depan pasti menang." Taya menyemangati. "Naik ke panggung sendirian , dilihatin banyak orang, itu aja udah bagus 'kok, Kak. Papa-Mama bangga sama kamu." timpal Ammar.


"Iya, Kak. Bener itu, Adek aja belum tentu bisa. Belum tentu berani. Haha." Aidan tertawa.


Papa menggeleng dengan wajah menuntut menatap Aidan, dan gelak tawa anak lelaki itu padam. "Khusus anak lelaki, harus berani! Aidan harus lebih jago, paham?"


Aidan meringis, ia bersembunyi di balik bahu Gana takut. Tapi, tanganya terulur ke arah Ammar, menyodorkan jarinya yang berbentuk V. Dan semua tertawa.


"Mohon maaf untuk para hadirin, ada info terbaru kalau juri menambahkan lagi tiga pemenang."


Bola mata Taya dan Aidan membesar.


"Semoga Kakak ... semoga Kakak!" seru mereka berisik. Aurora hanya tertawa, dia akan tetap berjiwa besar walau tetap tidak terpilih.


"Kepada tiga ananda yang akan saya sebutkan secara berurutan, di mohon untuk segera bersiap naik ke atas panggung bersama kedua orang tuanya."


Gana menatap Ammar yang sedang bergumam pelan, seraya tengah berdoa, agar putrinya menang.


"Harapan satu diberikan kepada Malvinia Aurora Artanegara ... Harapan ke dua diberikan kepada ...."


Di kursi penonton, keluarga Ammar bersorak gembira.


"Ya Allah, Alhamdulillah." Gana dan Ammar berucap syukur.


Dan yang paling senang sampai berjingkrak adalah Aidan dan Taya. Mereka memeluk Rora dan mencium pipi Kakaknya. "Tuh 'kan, Kak. Kakak pasti menang!"


Rora mengangguk. Kelopak matanya memerah menahan rasa haru. Berlalu lah Ammar dan Gana menggandeng Rora untuk naik ke atas panggung. Taya dan Aidan mendekat ke panggung untuk membidik Mama, Papa dan Kakaknya lewat kamera ponsel milik Ammar.


Di atas panggung, Gana mengikuti arah mata Rora yang sedang menoleh ke arah Sofwan. "Kasian ya, Kak. Sendirian." mendengar hal itu Rora mengangguk sedih dan Ammar ikut menoleh ke arah Sofwan yang berdiri sendirian tidak jauh dari mereka.


Walau tidak ada orang tua di sisi nya, tapi lelaki tampan itu tetap memberikan senyuman manis kepada semua orang. Ia tidak sedih, karena ia tahu Mama dan Papanya hanyalah seorang pegawai biasa yang sedang berjuang mencari uang untuk membayarkan uang sekolah mereka di sekolah bonafit dan mahal ini.


"Kita temenin aja, yuk." ajak Gana.


"Mau, Mah, Pah?" Rora memastikan.


Ammar dan Gana mengangguk.


"Ayo kita temenin." timpal Ammar.


Si solehah tersenyum senang. Bergegaslah ia melangkah sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya untuk menghampiri Sofwan.


"Biar Papa dan Mamaku yang menemani kamu, Wan."


Sofwan tersenyum senang, lantas mencium tangan Gana dan Ammar bergantian dengan rasa hormat. "Makasih, Tante, Om," tuturnya.


Papa memegang bahu Sofwan. "Sama-sama, Nak. Jangan berkecil hati, ya. Kamu nih hebat bisa juara dua."


"Rora juga hebat, Om. Bisa juara juga." sambung Sofwan, ucapan itu membuat Aurora tersenyum malu. Pipi nya memerah.


Dari bawah panggung Aidan menatap senang dan bangga. Bangga karena hanya keluarganya yang kasihan kepada Sofwan.


"Makasih, ya, Aidan. Mama, Papa dan Kakakmu mau menemani Kakakku." Aidan menoleh ke samping dan menemukan senyum indah dari bibir Nurul.


"Sama-sama, Kak Nurul." Taya menyelak.

__ADS_1


Aidan juga membalas. "Apa kamu mau naik juga ke atas? Nanti aku temenin."


Nurul menggeleng. "Aku malu."


Aidan pun tertawa. "Aku juga, Rul. Ya udah kita di sini aja, ya."


"Sama-sama pemalu ternyata. Hihi." ledek Taya.


...🌾🌾🌾...


"Atu adayah anah gembalah celalu liang ..."


"Apaan, orang nangis melulu. Itu nyanyi suara sama nada enggak sama." Papa terkekeh. Membuat Mama menoleh dengan tatapan seram.


"Bisa enggak sih, Pah. Jangan bikin suasana runyam? Kamu tau kan kalau Adela udah nangis? Melengking nya, Masya Allah!" dengkus Mama. Suaminya ini memang jahil dan suka meledek, berbeda dengan cucunya yang gampang cengeng.


"Canda, Mah." Papa menjawil pipi Mama gemas. Dan Alda yang sedang duduk di pangkuan Mama tengah menatap Kakaknya di depan, kemudian menoleh ke arah Kakeknya, dan menghentakkan tangannya di pipi Papa.


"Aduh!" keluh Papa. Papa pura-pura kesakitan dan Alda tertawa-tawa sambil mengemut tangannya.


"Ayo, Dek. Tonjok matanya, Kakek!" titah Mama.


"Yang bener aja masa nyuruh cucu buat nonjok." Papa memiringkan sudut bibir.


"Duh, gitu aja ngambek sih, Ban ...."


Papa menyerengitkan dahi. "Apaan tuh, Ban?"


"Uban. Haha." Mama tertawa terpingkal-pingkal. Papa hanya bisa menghela napas bete.


Saat ini mereka berdua tengah duduk bersisihan di sofa, menemani Adela yang sedari tadi bernyanyi di depan televisi. Si keriting melenggak-lenggokan tubuh sambil terus bernyanyi.


"Cat dong, Mah."


"Ijo, ya?"


Mama menatap Papa menuntut. "Mas Galih punya kambing warna hijau, Pah?"


Papa mengangguk. Ia merogoh celana dan meraih ponselnya. "Kemarin dia kirimin foto peliharaannya ke Papa. Mau kasih tau kalau dia baru aja ngecat bulu ketek nya."


Mama menautkan alis. Alda pun sama, seakan bayi lincah itu mengerti kalau kepala Kakeknya sedang koslet.


Papa tertawa. "Maksudnya bulu kambing, Mah. Masa minta di adu sama si Cullen."


Cullen adalah burung peliharaan Papa yang dibelikan Ammar tiga bulan lalu. Dan Ammar juga membelikan Papa mertua nya tiga ekor kambing sekaligus. Ammar selalu memenuhi permintaan orang tua dan mertuanya.


"Wih keren dong, ya. Mama jadi pengin lihat. Kalau udah di cat hijau, wajahnya gimana tuh, ya."


"Ya pasti mirip sama yang meliharanya." Papa dan Mama berdecis tawa. Membayangkan wajah besannya menghijau.


Seakan tahu Kakeknya di bully. Alda menarik jambang rambut Papa dengan kasar.


"Akhh ... Akh!" Papa berseru dramatis. "Ayo, Dek. Lagi! Giginya rontokin!" titah Mama menggebu-gebu.


"Nenek sama cucu sama ajah! Nyebelin!"


...🌾🌾🌾...


Sedari tadi Aidan menatap layar gawai Papanya. Melihat hasil bidikannya di galeri. Ada juga foto dirinya dengan Nurul saat di tempat makan barusan.


Anak lelaki itu tersenyum-senyum sendiri. Ia duduk dekat dengan jendela mobil. Sedangkan Taya di tengah dan Rora di pojok jendela persis di belakang kursi kemudi Ammar.


Ammar melajukan kereta besinya menuju rumah orang tuanya, setelah mereka semua mengajak Sofwan dan Nurul untuk makan siang bersama di sebuah restoran dan mengantarkan mereka pulang ke rumah terlebih dulu.


"Jadi dong Kakak di kasih hadiah sama Nenek." ucap Taya. Ia ikut menatap piala yang saat ini tengah berada dipangkuan Rora.

__ADS_1


"Kan kata Nenek kalau juara satu, Dek. Sedangkan Kakak 'kan hanya harapan satu."


"Sama aja namanya menang, Kak." sambung Aidan sambil menggerakan naik turun layar gawai dengan tangannya.


Papa menatap Gana. "Mama mau beliin hadiah?"


"Iya, Bang. Sebelum berangkat lomba, Mama bilang kalau Kakak juara satu Mama mau beliin gelang kaki."


Ammar menggelengkan kepala. "Kalau nanti Nenek mau ajak Kakak ke toko emas. Bilang aja jangan, ya."


"Emang kenapa, Pah?" tanya ketiga anaknya di belakang.


"Kasian Nenek udah tua. Harusnya kita yang kasih ke Nenek." jelas Ammar.


Walaupun Ammar tahu, uang simpanan Mamanya amatlah banyak. Tapi tetap saja pantang baginya mendapatkan uang dari orang tua.


"Mungkin Mama hanya ingin bersikap adil, Bang. Sebulan lalu waktu Ginka lomba pidato di sekolahnya. Kan menang tuh, Mama beliin gelang kaki juga 'kok."


Ammar tetap saja menggeleng. Membuat Istri dan Anak-anaknya hanya bisa menurut.


Tak berapa lama mobil Ammar masuk ke dalam pelataran parkir rumah mewah milik Bilmar Artanegara. Ia tilik anak dan istrinya yang sudah tidur semua.


Dan ide briliannya pun muncul. Ia gendong satu persatu anak-anaknya terlebih dulu untuk keluar dari dalam mobil dan dibawa masuk ke dalam.


"Wah pada tidur nih." ucap Mama. Melihat ketiga cucunya sedang direbahkan di sofa.


"Mama sehat, Mah? Papa dan anak-anak di mana?" Ammar mengecup punggung tangan Mama. "Sehat, Nak. Papa lagi di kolam renang sama Adela dan Alda."


"Siang-siang begini renang?"


"Anakmu rewel. Mau minta berenang terus."


Ammar tertawa.


"Rora menang? Terus Gana mana?" Mama memberondong pertanyaan.


"Rora menang, Mah. Tapi hanya harapan satu. Kalau Gana masih di dalam mobil. Ketiduran juga."


"Alhamdulillah Kakak menang. Gana ketiduran di dalam mobil, kenapa enggak dibangunin?"


Ammar meringis malu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Adek mau pulang dulu sama Gana ke rumah, ya, Mah. Titip anak-anak dulu di sini."


Bola mata Mama melotot. Seakan tahu apa yang ada di kepala anak lelakinya.


"Kasian Gana, Dek. Lahiran terus jadinya. Gana tuh subur banget soalnya."


"Sekarang pakai pengaman 'kok, Mah. Mama tenang aja, ya. Soalnya sudah seminggu enggak ketemu Gana, Adek kangen, Mah. Belum nanti malam Adek harus terbang lagi ke Jogja." Ammar tersenyum manis kepada Mama.


Mama mendengus. "Ya udah sana, hati-hati."


"Bilangin Papa, nanti Adek kesini lagi kok jemput anak-anak."


"Hem." Mama menyodorkan punggung tangannya untuk di cium Ammar lagi karena lelaki ini akan berlalu pergi.


Melihat Ammar yang melangkah cepat menuju mobil dengan wajah senang membuat Mama menggelengkan kepala.


"Enggak Anak, enggak Bapaknya. Doyan banget bikin adonan. Untung aku enggak sesubur Gana. Bisa dipastiin anak-anakku akan banyak, mungkin melebihi kesebelasan."


Karena sampai ini walau Papa Bilmar sudah berumur, tetap saja tenaganya besar. Masih menginginkan Mama di ranjang.


Ammar mengelus pipi Gana yang masih tertidur menyandar di jok mobil. Lantas mengecupnya.


"Kita buka puasa dulu, ya. Dek." Ammar terkekeh. Ia mulai menjalankan kereta besinya lagi menuju rumah.

__ADS_1


...🌾🌾🌾...


Moga suka ya guys. Aku bingung mau kasih mereka konflik apa lagi. Paling lebih banyak cerita-cerita keseharian kayak begini aja, ya.


__ADS_2