Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sebagai Orang Ketiga.


__ADS_3

"AMMAR!!"


Setelah seruan nyaring itu, Ganaya dan Ammar terbelalak kaget. Tentu mereka sangat hafal siapa wanita pemilik suara tersebut. Mereka lantas beranjak berdiri, baru saja ingin memutar tubuh dan menoleh.


Bak, petir menggelegar di pertengahan awan, Langkah kaki Asyifa dengan cepat masuk kedalam ruangan. Tangan wanita itu terjulur untuk menjambak rambut Ganaya dengan tarikan maksimal.


"Akh ... sakit!" pekik Gana.


Bola mata Ammar terbelalak. Menatap mantan tunangan nya sedang menyakiti calon istrinya. Lelaki itu bergegas masuk di antara mereka.


Menepis paksa tangan Asyifa agar terhuyung ke bawah. Ganaya bersembunyi dibalik tubuh Ammar. Meringkuk takut, kejadian dengan Adri beberapa hari lalu kembali terbayang seperti roll film.


Asyifa. Wanita itu langsung melesat datang ke EG untuk meminta penjelasan kepada Ammar. Dirinya tertohok, ketika Mutiara menceritakan bahwa Ganaya sudah melepas Adri dan sebentar lagi akan menikah dengan Ammar. Remuk redam jiwanya. Janji yang pernah Ganaya ucapkan kepadanya, hanya semu semata.


"Dasar brengsekk! Pelakor! Orang ketiga!!"


Asyifa murka. Ia kembali menjulurkan tangannya melewati bahu Ammar untuk menarik kembali rambut Ganaya.


"Wanita sialann!!" Asyifa terus mengata-ngatai Ganaya.


Tidak ada lagi rasa hormat seperti dulu yang selalu ia berikan kepada Gana. Hanya ada rasa benci dan muak. Gana hanya terdiam, tidak membalas perlakuan kasar Asyifa, tentu membuat kemarahan di dada Asyifa semakin berkobar.


Ammar terus memegangi pergelangan tangan Asyifa, mendorong langkah wanita itu untuk menjauh. Namun entah mengapa, atau mungkin karena emosi. Tenaga Asyifa begitu besar.


"Untuk apa kamu menikah dengan orang yang tidak pernah kamu cintai. Hanya untuk membalas rasa sakit hatimu!"


Ganaya mendesah berat. Air matanya menetes menahan rasa sakit karena perkataan Asyifa.


"Kamu boleh sakit hati dengan sikap Kak Adri! Tapi kenapa harus menjadi duri dalam hubunganku dan Ammar! Apa rasanya menikah dengan orang yang tidak kita sukai? Tentu kamu tau bagaimana rasanya!" Asyifa terus berkata kencang.


Ganaya menunduk sambil terus memegang kain jas Ammar.


"Cukup, Syifa. Ayo pergi! Sebelum aku melakukan hal yang kasar padamu!" seru Ammar dengan tatapan garang.


Asyifa tetap bernapsu ingin mencakar wajah Ganaya. Padahal sebenarnya Ganaya mampu untuk melawan, karena Asyifa juga orang yang harus bertanggung jawab atas kesedihan batinnya sekarang. Tapi ia tidak bisa, ia menyayangi Asyifa.


"Kamu kan sudah janji padaku, Kak! Tidak akan pernah menerima, Ammar! TAPI KENAPA SEKARANG KAMU LAKUKAN!!" Asyifa berteriak. Wajahnya memerah karena terus menahan kesal sampai ke ubun-ubun. "Kenapa kamu mau menikah dengannya? KENAPA?" tangis Asyifa pecah.


"Jangan dengarkan dia sayang, kita akan tetap menikah sebentar lagi." bisik Ammar. Ia tidak mau Ganaya terpengaruh dan membatalkan rencana pernikahan mereka.


"Kak Adri mencintaimu! Dan kamu mencintainya! Kalian saling mencintai, kenapa memaksa untuk berpisah, jika hatimu tidak bisa? Kembalilah kepada Kak Adri, Kak!"

__ADS_1


Asyifa terus saja merancau seperti Pengacara yang sedang membela kliennya didepan hakim dan jaksa. Merasa cekalan tangan Gana terlepas dari kain jas nya. Membuat jantung Ammar berdentam. Ia takut wanita itu termakan ucapan Asyifa.


"Sayang ..." seru Ammar menoleh, dengan tenaga yang masih ia pakai untuk menahan langkah Asyifa yang ingin maju mendekati Ganaya.


Ganaya kembali berendam dalam kepedihan. Ia menangis terseguk-seguk. Sepertinya tapakkan kakinya begitu lemas. Lantas Ganaya berjongkok, menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia pun bersalah karena sudah mengingkari janjinya kepada Asyifa, dengan merebut Ammar darinya. Ganaya merasa dirinya memang betul, sebagai orang ketiga diantara Ammar dan Asyifa. Jalan takdir jodohnya, lagi-lagi membuat dirinya pelik.


"Tidak ada yang salah dengan istri kedua. Selagi sang suami bisa berlaku adil!" Asyifa tetap meracuni fikiran Gana.


"Sayang ..." Ammar kembali memanggil. Ammar semakin takut, Ganaya termakan ucapan sinting Asyifa.


Mendengar seruan Ammar untuk Gana, membuat hati Asyifa teriris. Bahkan selama empat bulan mereka memadu kasih, Ammar tidak pernah memanggilnya dengan sebutan seperti itu apalagi dengan nada yang begitu lembut.


Asyifa memukul dada Ammar. Menumpahkan rasa kesalnya. "Brengsekk kamu, Ammar! Tega-tegannya kamu nyakitin aku!!"


Wanita yang hatinya masih bercabang. Bisa saja goyah ke kanan dan ke kiri. Bisa terusik dengan denial yang berubah-ubah. Apalagi wanita lebih mengedepankan perasaan.


Ya, saat ini hatinya masih mencintai Adri. Lelaki yang sudah ia lepaskan dan menggantinya dengan Ammar. Ganaya masih dalam fase terbawah. Terkadang ia kuat, lalu lemah, kemudian bangkit dan kembali jatuh dalam kesedihan. Begitulah suasana hatinya sekarang.


"Syifa ... Aku minta maaf." Asyifa menghentikan pukulan yang sejak tadi ia layangkan. Wanita muda itu terhenti sesaat, ketika Gana mengeluarkan suaranya.


Masih dalam posisi berjongkok dengan wajah menunduk. Gana menyambung kembali ucapannya. "Aku akan tetap menikah dengan, Ammar. Aku akan belajar mencintainya. Seperti Ammar mencintaiku dengan tulus."


Ammar bernapas lega. Ingin sekali menarik Ganaya untuk berdiri dan membenamkan tubuh wanita itu didalam dadanya. Tapi ia masih berusaha untuk memegang pergelangan tangan Asyifa agar tidak maju untuk memukul atau menjambak rambut calon istri kesayangannya.


"Brenggsek kamu, Kak!" Asyifa mencoba melangkah untuk mendekati Gana, sambil meronta agar pergelangan tangannya dilepaskan oleh Ammar.


"CUKUP SYIFA!" tak tahan lagi Ammar untuk menenangkan wanita itu yang terus saja menyuduti Ganaya.


"Berhenti dan pulang! Atau aku lubangi kening mu dengan pistolku!" suara bariton Ammar membuat dua wanita tersebut mengedikkan pangkal bahu. Mereka tersentak bukan main.


Apa tadi? Pistol? Gumam mereka bersamaan.


Ganaya sampai mendongak menatap punggung calon suaminya. Begitupun Asyifa, ia melongo hebat menatap Ammar tidak percaya. Sampai air mata mereka yang sejak tadi menetes kini bergulir kering.


Ammar melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Asyifa, membuat kedua tangan itu terhempas ke bawah. Ammar memasukan tangannya ke dalam balik jas. Dan langsung mengarahkan pistol tepat di kening Asyifa.


"Ya Allah, Ammar!" seru Ganaya. Ia langsung beranjak berdiri.


"Jangan mendekat, sayang!" seruan dingin yang Ammar ucapkan membuat Ganaya mundur dua langkah ke belakang.


Raut Asyifa terlihat pucat. Benarkah lelaki ini, lelaki yang ia cintai setengah mati, dengan tega akan membunuhnya.

__ADS_1


"Cukup Syifa, kamu sudah keterlaluan!Harusnya kamu minta maaf kepada Ganaya. Kamu sudah bersandiwara untuk membantu kadal buntal itu untuk merusak hidup Gana selamanya! Coba tukar posisimu dengan Mutiara. Sanggupkah kamu, berbagi suami?"


Gana dan Asyifa semakin terbelalak kaget. Bukan karena kalimat Asyifa yang harus meminta maaf kepada Gana, melainkan ada kalimat yang dapat diartikan lebih dalam lagi.


"Kamu mengenal Mutiara, Ammar?" tanya Asyifa terbata-bata.


"Ya, aku mengenalnya. Wanita yang selalu baik dan sabar. Aku sangat menyesalkan mengapa bisa wanita solehah seperti dia menikah dengan lelaki keparat, seperti Kakakmu!"


DEG.


Jantung Gana dan Asyifa berdentam ribuan kali.


"Jadi benar ini rencanamu, Ammar?" tanya Asyifa.


"Ini semua rencana Tuhan!" serunya dengan tatapan dingin.


Asyifa menggelengkan kepala samar. Ia membekap mulut saking tidak percayanya. Mengapa dunia sesempit ini?


Disaat itu pula Denis dan Bima yang ingin sekali Ammar penggal kepalanya karena telah lalai menjaga keamanan diluar, membiarkan Asyifa masuk dan membuat keonaran, mereka datang dengan wajah panik dan gelisah. Apalagi Ammar masih meletakkan pistol di kening Asyifa.


"Bawa wanita ini! Jangan biarkan ia masuk lagi ke dalam lingkungan EG! Aku tidak mau melihatnya lagi!"


Bima dan Denis mengangguk sigap.


"Ammar ...!!" Asyifa merancau namanya dengan nada memelas. Sudah dua kali ia di usir seperti binatang. Wanita itu diseret paksa oleh Bima dan Denis. Ganaya hanya bis diam, memandang Asyifa dengan tatapan sendu.


Ammar memasukkan kembali senjata tajam berwarna hitam itu ke dalam jasnya. Memutar tubuh dan menatap Ganaya dengan pandangan yang kembali teduh. Melangkah sedikit dan membenamkan tubuh Ganaya yang masih bergetar takut kedalam dekapannya.


"Maaf kalau aku membuatmu takut, sayang. Karena wanita itu memang pantas mendapatkannya! Dan terimakasih karena sudah mau berjuang untuk hidup bersamaku setelah ini."


Ganaya mengangguk.


"Masih sakit kepalanya?" tanya Ammar mengelus kepala Gana. Melihat Gana kesakitan karena rambutnya di janggut oleh Asyifa, benar-benar membuat Ammar gelap mata barusan.


"Sedikit."


"Aku elus-elus ya, biar enggak sakit." ucap Ammar lembut.


Ganaya mengangguk. Ia merasakan kehangatan yang kembali Ammar berikan, membuat jantungnya yang sedari tadi bertalu-talu, kini mulai berdegup normal. Ia menatap dagu Ammar. "Apa hubunganmu dengan Mutiara, Ammar?"


***

__ADS_1


Like dan Komennya jangan lupa ya, maacih🌺🌺



__ADS_2