Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Dalam Waktu Yang Bersamaan.


__ADS_3

Setelah melewati banyak rintangan yang menghadang dirinya di hari ini. Lelaki itu baru merasakan remuk di sekujur tubuhnya, berkat


perkelahian yang ia mainkan secara brutal.


Hal itu pula yang membuat ia bisa menang melumpuhkan lawan dan terlebih nya lagi, Ammar beruntung karena bisa mendapatkan organ-organ lagi secara gratis.


Niatnya sehabis bertemu dengan Farhan, Ammar ingin mendatangi rumah yang sudah ia beli, dan melihat apakah dekorasi rumah, perabotan, dan lain-lainnya sudah sesuai konsep dan tertata rapih di sana. Serta memastikan semua sudah selesai sebelum mereka menikah.


Karena rencana Ammar, di saat dirinya sudah meng ijab qabul Ganaya. Lelaki itu akan membawa istrinya langsung menempati rumah pribadi mereka.


Sebenarnya Ammar juga sudah mempunyai Apartemen pribadi, tapi ia merasa terlalu kecil untuk Ganaya. Lelaki itu ingin selalu memberikan yang mewah, besar dan berkesan kepada calon istrinya tersebut.


Namun Ammar merasa tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi. Ia menitah Bima dan Denis untuk menggantikan dirinya, pergi mengontrol kesana.


Setelah melewati dua jam perjalanan menuju arah balik pulang. Akhirnya lelaki itu tiba. Tepatnya, langkah kakinya baru sampai di ambang pintu utama rumah Mama dan Papanya. Langkahnya terlihat sangat gontai, tubuhnya lemas sekali.


"Eh ... eh!"


Langkah lelaki itu seketika terhenti, ketika sang Papa menyerukan dirinya dari balik sofa.


"Kayak anak ayam kamu, Dek! Masuk rumah enggak pakai salam. Main nyelonong aja." ucap Papa Bilmar.


Lelaki itu menurunkan kaca matanya dan dibiarkan menggantung di dada dengan tali yang masih tersemat di daun telinga.


Ammar tersenyum. Mau bagaimanapun ia diomeli, tetap saja lelaki itu hanya bisa diam. Karena dalam kamusnya tidak ada kalimat melawan orang tua-----Mungkin diganti dengan kalimat boleh membohongi orang tua. Dan Ammar selalu menyesal jika mengingat hal itu. Hanya menyesal, tidak berniat untuk menyudahinya.


"Assalammualaikum, Pah." Ammar memberikan salam, yang terasa sangat kelu di lidahnya.


Ia mencium punggung sang Papa yang sangat putih, bersih dan wangi. Di jari tengahnya tersemat cincin titanium permata rubby merah yang dibelikan oleh Ammar.


Lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu terlihat masih mengenakan baju koko dan sarung karena beliau habis menjalani shalat Dzuhur.


Ammar tersenyum lagi. Ia senang karena Papanya selalu memakai apa yang ia belikan. Baju koko putih dan sarung kotak-kotak itu, juga Ammar yang memberikannya.


"Mau beli baju koko lagi? Ini udah kesempitan kayaknya." tanya Ammar, lelaki itu menghempaskan bokong disebelah Papa. Baik sekali lelaki itu, sampai hal-hal terkecil untuk Papanya, sangat ia perhatikan.


Baru Papa ingin menjawab, tetiba laki-laki itu mengerutkan kening. Dengan cepat mengenakan kaca matanya lagi, takut-takut apa yang ia lihat salah. Papa menelisik wajah Ammar dengan beberapa luka di sana.


"Astagfirullahaladzim, kenapa ini? Kamu berkelahi, Dek?" Papa membenarkan tata letak kaca matanya. Lantas memegang dan menyentuh luka lebam tersebut.


Ammar meringis dan memundurkan wajahnya. "Sakit, Pah."


"Iya maaf." jawab Papa yang ikut meringis. "Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini padamu?" nada Papa berubah dingin. Turunan sifat Papa memang semua menurun kepada Ammar. Tidak suka miliknya terusik dan di perlakukan kasar oleh orang lain.

__ADS_1


Ammar menggeleng.


"Kejedot pintu, Pah. Adek tadi enggak hati-hati. Pas lagi bantuin tukang-tukang buat masukin barang kerumah baru, eh gak tau ada pintu yang lagi terbuka, pandangan Adek ketutup sama kardus besar yang sedang Adek bawa. Kardusnya jatuh dan Adek nabrak ujung pintu." Ammar berdalih dengan tangkas. Ia tidak mau Papanya curiga macam-macam, walau tidak dipungkiri raut Papa Bilmar memang masih belum percaya.


"Sudah di obati lukamu?" tanya Papa.


Ammar mengangguk.


"Hati-hati, Dek. Makanya jangan banyak keluar, pamali. Kamu tuh mau nikah! Kamu enggak ingat, ucapan Mamamu itu yang sepanjang hari ia ucapkan?"


Ammar tertawa. "Iya, Pah. Namanya juga Mama, cerewet."


Papa Bilmar menyunggingkan senyum. Benar kata anaknya, istrinya semenjak sudah berumur memang cerewet sekali. Tapi tetap saja cantikm


"Baju koko nya udah sempit, nih. Nanti Adek beliin lagi ya." Ammar memegang kain lengan Papa nya.


"Ah, masa? Longgar kok ini. Tapi enggak gapapa deh beliin aja. Warna yang lain ya, kopiah sama alat tasbih digital nya juga. Kemarin rusak dibanting sama si Ginka."


Ammar mengangguk dengan senyum yang terkulum hangat. Kemudian mencium pipi Papanya lalu bersiap beranjak dari sofa.


"Dek, kamu capek enggak?"


Ammar mengerjap dua kali. "Kenapa, Pah?"


Ammar memang gemar memijat kaki Papa dan Mamanya sejak dulu. Walau sudah jadi Presdir dan mafia kejam. Ia tetap melakukan tugas sebagai anak yang berbakti.


"Ya udah Papa berbaring." titah Ammar.


Papa Bilmar menurut untuk berbaring tengkurap di atas sofa yang berbahan lembut. Ammar membalurkan tetesan minyak zaitun di permukaan kulit kaki Papanya. Lalu menggerakan telapak tangannya untuk memijat.


Pelan, lembut, gerakan naik turun sesuai aliran otot. Sungguh nikmat pijatan Ammar. "Nah tuh, Dek. Enak banget, Nak." Papa terus memuji kepiawan sang anak.


"Nanti kalau Adek udah nikah, bakal jarang urutin Papa kayak gini." kalimat itu terdengar sedih sekali di telinga Ammar. Papa mengucapkan dengan nada setengah getir.


"Enggak, Pah. Adek akan selalu datang kalau Papa minta di urut kayak gini."


"Janji ya."


"Iya dong."


Papa Bilmar mengangguk dengan senyuman. Ia kembali merebahkan kepala di atas lipatan tangannya. Memejam kedua mata untuk menikmati pijatan dari anak lelaki yang selalu ia banggakan.


Ammar kembali memijat. Padahal rencananya ia pulang cepat untuk merebahkan dirinya langsung di atas kasur.

__ADS_1


Ammar ingin istirahat saja hari ini di rumah dan kembali berbalas pesan dengan wanita yang ia rindukan.


Tapi sepertinya rasa lelah itu terbayar, ketika sang Papa bisa tersenyum senang. Hati Ammar begitu puas dan bahagia.


Dan disaat hati lelaki itu tengah berbinar. Ia kembali dikagetkan dengan huru-hara yang terjadi pelataran kebun miliknya.


"Pak, Maaf. Itu---sangkar burung dan burungnya semua terbakar." ucap Art.


Papa Bilmar langsung membuka mata dan melebarkan tatapannya tajam. Pun sama dengan Ammar, tangannya yang sedang asik memijat tiba-tiba berhenti.


Tanpa bertanya untuk minta dijelaskan lebih detail Papa Bilmar dengan langkah seribu sambil memegangi sarung agar tidak merosot, langsung melangkah panjang ke kebun belakang. Ia berteriak karena sepuluh kandang burungnya habis terbakar. Si jago merah melahapnya tanpa sisa.


"Astagfirullahaladzim ... Ya Allah. Siapa yang tega berbuat seperti ini?" seru Papa tidak percaya. Ammar hening. Terlihat wajahnya sedang menahan amarah. Jauh didalam lubuk hatinya, ia sedih sekali. Bayangan Papanya sedang memberi makan, berbicara dengan para peliharaannya muncul seketika.


"Siapa yang berani-berani mencoba meneror keluargaku?" batinnya kesal. Rahangnya mengencang dengan tangan yang mengepal kuat. Dadanya kembali bergejolak untuk bersiap membunuh.


"Dek, burung kesayangan, Papa." lirih Papa. Lelaki itu sampai menitikkan air mata, karena begitu sedih. Sang peliharaan terbakar dan mati begitu saja. Di urus, di rawat penuh kasih dan sayang. Dan tentu harga burung-burung itu sangat mahal luar biasa.


"Papa sabar ya. Ikhlasin aja, nanti Adek belikan lagi, dua kali lipatnya." Ammar menguatkan hati sang Papa. Ia mengelus lembut punggung Papa Bilmar.


Drrt drrt drrt.


Terasa gawainya bergetar. Ammar merogohnya ke dalam saku celana.


[Ammar, Papaku baru saja mengalami musibah. Sekarang masih ada di IGD Rumah Sakit. Rem mobilnya begitu saja blong, ketika sedang diperjalanan menuju rumah Kak Maura. Papa enggak sengaja menabrak pohon]


DEG.


Jantung Ammar mencelos hebat. Deruan napasnya kembali berdentam tidak karuan. Tubuhnya terasa sangat lemas.


Mengapa masalah selalu silih berganti datang di waktu yang bersamaan?


Tanpa sadar, sang peneror tidak lagi mengincar nyawanya tapi juga memburu nyawa keluarganya, dan tidak menutup kemungkinan akan mengincar juga nyawa Ganaya dan keluarga Hadnan.


Dan semua ini terjadi karena ulahnya.


[Tunggu aku sayang, aku akan datang kesana]


***


Like dan Komen ya guyss🌺


Tungguin keseruan Dedek Mafia ijab qabul ya.

__ADS_1



__ADS_2