Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Tetap Enggak Suka!


__ADS_3

Kata Mulan, Gana harus bisa berdamai dengan hatinya yang selalu menolak untuk menyentuh atau di sentuh Ammar. Di bibir bilang iya, walau di hati bilang tidak.


Itulah yang selama ini Gana lakukan ketika sedang membantu Ammar untuk mendapatkan pelepasan. Lagi-lagi status sebagai istri ia pergunakan untuk bisa menjalankan kewajibannya, walau ia masih belum ingin.


Ia senang, karena Ammar mau menunggu untuk menikmati harta berharga yang sudah ia jaga selama tiga puluh tahun usianya.


Tapi, ia juga faham. Ammar adalah lelaki yang sudah menikah, sering menatapnya hanya bergelut dengan handuk, atau tidak sengaja melihat lekuk tubuhnya ketika tidur.


Suami mana yang bisa menahan?


Lagi-lagi kata Mulan, suami yang terlalu lama tidak dipuaskan napsu nya, secinta apapun dia. Bisa saja akan mencari pelampiasan diluar. Lelaki terkadang bisa bermain tanpa cinta. Hanya menekan hawa napsu, semua nya pasti akan selesai.


Gana tahu dirinya masih butuh waktu. Ia mau menuntaskan hasrat Ammar walau dengan jalan lain. Ia tetap ingin menjaga lelaki itu agar tidak berpindah hati atau berzinah di belakang nya.


Karena instingnya berkata bahwa, gana yakin, dirinya akan mencintai Ammar sebentar lagi. Ia mau melepas semua itu memang karena rasa ingin, cinta dan sayang. Ingin memberikan kepada Ammar disaat dirinya sudah mencintai.


Gana bisa leluasa seperti ini, hanya karena Ammar adalah lelaki sabar yang mau menerima dengan ikhlas kesiapan istrinya. Jika saja lelaki lain, Gana pasti akan tetap dipaksa melayani walau dalam gelakan tangis.


Seperti yang saat ini terjadi seusai pelepasannya. Wanita itu menangis dalam dekapan Ammar.


Hiks ... Hiks.


Ammar terus menenangkan istrinya. Mengunci tubuh Gana dalam pelukan yang erat, hatinya ikut teriris ketika Gana terus menangis


Gana merasa aneh, mengganggap dirinya seperti wanita murahan yang sedang dipakai. Walau ia tahu, suaminya yang telah melakukan.


"Aku hanya ingin kamu puas, Gana. Ingin kamu seperti aku." lirih Ammar.


Gana semakin menangis. "Aku enggak kesal sama kamu. Tapi aku kesal sama diri aku!" Gana memukul-mukul kepalanya.


"Jangan sakitin diri kamu. Kalau mau pukul, pukul aku aja. Aku udah salah, aku enggak bisa nahan diri. Aku selalu maksa kamu, walau aku tau kamu enggak ingin melakukan hal itu." Ammar menghentikan hentakan yang sedang Gana labuh kan ke kepalanya sendiri.


Gana menggeleng. "Aku yang salah, Ammar. Tolong maafkan aku." rintih nya berat. "Harusnya kita sudah menyatu, tapi sampai saat ini aku belum bisa." Gana menunduk lemah seiring air mata yang terus berjatuhan ke bawah.


Ammar menghela napas, lantas terdiam. Menatap hamparan pepohonan yang berada di tepi mobil mereka.


"Kamu pasti berat kan menjalani pernikahan ini denganku?" Gana mendongak dan menatap suaminya.


Ammar membelai rambut Gana. "Aku malah bersyukur. Bisa menikah dengan kamu. Tidak ada yang aku rasa berat selama itu masih bersama kamu. Karena hal terberat adalah, ketika aku kehilangan kamu."


Demi Tuhan, rasanya Ganaya ingin terbang ke langit ke tujuh. Raut wajah Gana berbinar, berseri dan bahagia ketika Ammar mengucap kata-kata yang sangat menggelitik kalbu. Ia senang karena dengan kata lain, lelaki itu masih mau menunggu kesiapannya untuk menjadi seorang istri sungguhan.


"Apakah aku masih belum ada tempat di hatimu, Gana?"

__ADS_1


DEG.


Jantung Gana seperti kembali terselengkat. Wanita itu langsung beku layaknya batu di tepi sungai. Ia hanya bisa mengangguk lemah. Tapi langsung mendongak dan memberikan argumen.


"Jujur, aku sayang kamu, Ammar."


Kini raut Ammar yang bersinar terang.


"Tapi sayangnya seperti kepada Adik. Aku masih belum bisa mengubah jatidiri mu sebagai suamiku saat ini ... Maafkan aku, Ammar."


Sinar terang itu mendadak gelap, runtuh dan terkoyak. Rasa sesak di dadanya kembali datang membelit. Telinga Ammar berkali-kali keram jika mengingat hal itu terus dikemukakan oleh istrinya.


"Tapi aku yakin, aku pasti mencintaimu sebentar lagi."


Ammar langsung membeliakkan kedua bola matanya. "Dari mana kamu bisa mempunyai insting kuat seperti itu?"


"Karena saat ini hati aku sudah kosong, Ammar."


"Kosong?" Ammar mengulangi.


Ia menatap bola mata Gana lekat-lekat. Setelah ia mencerna dengan bahasanya sendiri, terlihat samar-samar, lelaki itu menarik garis senyumnya ke atas. "Apa kamu sudah melupakan, Adri?"


Ya, pertanyaan ini yang ingin Ammar tanyakan sejak mereka menikah. Percuma saja berjuang, jika nama lelaki itu belum sepenuhnya hilang.


"Sejak kita shalat berjamaah, hatiku langsung plong, Ammar. Tidak terisi dengan cintanya lagi. Tapi juga tidak dengan cintamu ... Maafkan aku ya."


"Ya Allah, benarkah karena berkat doaku waktu itu?" gumam Ammar. Ia semakin semangat untuk terus mendoakan Gana. Ammar semakin mantap, jika keputusannya meninggalkan Farhan memang pilihan yang terbaik.


Ammar tersenyum puas, senang dan ingin melompat-lompat kegirangan. Tidak masalah baginya, kalau sang istri belum bisa mencintai dirinya. Yang penting lelaki keparatt itu sudah sirna dari hati Ganaya.


"Tolong buat aku benar-benar jatuh cinta sama kamu." pinta Gana.


"Jangan dipaksa. Rasain dan jalanin aja. Seperti kamu yang tiba-tiba bisa melupakan Adri. Aku yakin kamu juga bisa tiba-tiba cinta sama aku. Seenggaknya di hati kamu udah enggak cowok lain."


Gana mengangguk dengan muka yang sudah basah.


Ammar menyesap kening Gana dan bergumam dalam hati. "Aku akan mendoakan kamu lebih giat lagi."


***


Harusnya arena wisata ini. Hanya bisa di nikmati oleh Gana dan Ammar saja. Karena Ammar sudah merogoh uang untuk menyewa arena wisata ini. Tapi, ketika mereka baru masuk ke dalam pintu gerbang wisata.


Ganaya seakan tidak tega, karena melihat beberapa pengunjung yang sudah datang dengan keluarga mereka. Malah, ada yang jauh-jauh bergembol-gembol dengan sepeda motor. Ada juga anak yang menangis karena tidak bisa bermain didalam dengan para bunga.

__ADS_1


Hati Gana terenyuh. Ia tidak tega melihatnya. Maka untuk itu ia merengek kepada Ammar, untuk membiarkan agar arena wisata yang sudah di sewa ini bisa dinikmati juga oleh mereka semua.


Jika Gana sudah meminta, lantas Ammar bisa apa? Selain hanya mengiyakannya saja.


Gana terus berjalan ke setiap blok perbungaan. Semua bunga ia sentuh, cium, dan ia tatap penuh mesra. Ammar selalu setia mengekor dibelakangnya, menemani dan membidik Gana dengan kameranya. Sinar matahari memang sudah sangat meninggi. Berkali-kali Ammar mengusap keringat yang bercucur di wajahnya. Tapi ia tidak perduli, selagi Gana bahagia. Hanya panas matahari saja, akan ia terjang.


Saat ini, Gana memasuki lahan pembelian bunga untuk para konsumen, sebelum kakinya melangkah ke perbukitan atas untuk bersantai, bergoler dan menikmati hidangan yang dijual oleh para pedagang di arena wisata ini.


"Yang ini bagus enggak?" tanya Gana kepada Ammar sambil menunjukan pot bunga anyelir.


"Iya, cantik kayak kamu."


Gana tertawa. "Gombal ah." Gana meletakan kembali pot bunga itu dan melanjutkan langkah. Ia mendekati Ammar yang terlihat menunduk menatap gawainya. Seketika senyum Gana meredup.


"Kamu lagi wa-an sama Farhan?" nada suara terdengar sangat dingin.


Ammar yang kaget dengan kemunculan Gana yang tiba-tiba datang dan langsung melongo ke layar gawainya, membuat gawai itu terloncat dari tangannya dan hampir terjatuh. Beruntung lah tangannya siap merengkuh, sehingga benda pipih itu tidak sampai mencium tanah.


"Jangan curigaan terus sayang. Bagaimanapun kan dia sahabat aku."


Gana memiringkan sudut bibirnya.


"Lagian juga aku tuh lagi ngeliatin foto kamu nih---"


Ammar memperlihatkan hasil fotonya. Gana terlihat sedang memejam mata sambil mencium bunga.


Tapi Gana tetap fokus ke dalam satu perkara yang sedang ia bahas.


"Aku tetap enggak suka sama Farhan. Dia tuh misterius. Aku tuh selalu ngerasa, ada sesuatu yang dia sembunyikan, aku enggak nyaman kamu berdekatan dengan dia!"


"Aslinya dia itu baik, kamu belum kenalan aja sama dia, Gana."


"Pokoknya aku gak suka kalau kamu terlalu dekat sama dia! Perasaan aku tuh rasanya selalu gak enak, aku takut kamu kenapa-napa."


Karena insting seorang istri pasti akan selalu mendekati kebenaran.


Ammar tertawa. "Ya gimana enggak dekat, aku kan sama dia udah sahabatan dari jaman SD. Papaku dan Papanya juga bersahabat dari jaman SMA. Udah gitu, aku sama Farhan terikat dengan pekerjaan. Enggak mungkin kan kalau aku jauhi?"


Gana hening. Mendengar kata persahabatan disebut, sampai menjelaskan bahwa Papa mertuanya juga berhubungan baik dengan Farhan. Membuat Gana merenung agak lama. Memang betul apa yang diucapkan Ammar, lelaki itu akan selalu berdekatan dengan Farhan. Walau Ammar hanya sedang berkilah menutupi perdebatan yang sedang terjadi antara dirinya dengan Farhan.


"Tapi aku tetap enggak suka sama dia." cicit Gana sendu. "Aku takut kamu di khianati sama dia, Ammar."


***

__ADS_1


Like dan Komennya yaw🌺


__ADS_2