Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Meminta Hak


__ADS_3

Terlihat Mahendra, Alex, dan Mulan yang sedang menggendong Dava, sudah berdiri dihalaman rumah untuk menyambut kedatangan Ammar, yang kata lelaki itu lima menit lagi akan sampai. Dan benar saja, deru mesin lima mobil beruntun mulai memasuki halaman megah rumah Mahendra.


Cit.


Ammar menekan pedal rem, membuat kereta besi yang ia kemudikan terhenti dengan baik. Gana menatap takjub rumah Mahendra beserta si empu yang sudah menunggu di halaman.


"Ini rumah bos, Abang?" tanyanya. Ia masih menjawil-jawil bibirnya yang terasa panas.


Ammar mengangguk. "Iya, Dek."


"Hem."


"Kok bibirnya di pegangin terus, kenapa? Panas ya?" Ammar terkekeh.


Gana menunduk malu. "Iya, Bang. Agak bengkak kayaknya."


Ammar menilik jelas bibir lantas mengusapnya, bibir Gana masih terlihat basah, jejak-jejak salivanya menempel di sana. "Maapin Abang ya. Abang kangen soalnya."


Karena di sepanjang perjalanan, Ammar tidak bisa menahan diri. Ia melummat habis bibir Gana tanpa jeda. Bahkan Gana sana sulit untuk mengimbangi permainan lidah dan bibir lelaki itu.


Entahlah bagaimana nasib Gana saat melepas kehormatannya nanti, menghadapi keberingasan Ammar, mungkin ia akan masuk IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Haha.


"Iya, Bang. Adek ngerti. Maaf ya jadi rindu berat." usap Gana pada pipi mulus lelaki itu.


"Macam Dilan sama Milea, rindu-rindu berat. Tapi enggak jadi nikah, duh kasian."


"Dilan sama Milea itu siapa, Bang?"


Ammar menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sepertinya ia akan belajar untuk tidak usah membicarakan sesuatu yang akan menciptakan pertanyaan dari Gana, yang akan membuat kepalanya ruwet. Lama-lama dia bisa jadi embah google. Bisa menerjemahkan semua hal yang ingin Gana ketahui.


"Udah yuk kita turun. Kasian kita di tungguin." ajak Ammar. Ia membukakan seal belt di perut Gana.


Ammar turun lebih dulu lalu memutar langkah ke pintu Gana, setelah pintu di buka ia menjulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun.


Gana tersenyum bahagia. Ia senang sekali di perlakukan seperti ini. "Makasih ya, Bang."


"Iya sayang." Ammar menggandeng Gana, melangkah bersama menuju posisi mereka bertiga yang sudah menunggu sejak tadi.


Wajah ketiganya gembira. Terutama Mulan dan Dava. Mulan bergumam hamdalah, saat yang Ammar bawa memang lah Ganaya.


Seakan burung-burung menari-nari di udara menemani kegembiraan mereka yang sedang memandang Gana. Melihat senyuman Ammar yang kembali berseri. Gana memanglah jantung hati Maldava.


"Ante Ana!" seru Dava. Ia bergeliat turun dari tubuh Mulan dan berlari ke arah Gana yang di susul Mulan lalu Mahendra dan Alex.


Gana masih mematung karena anak itu bergeliat di kakinya. Gana hanya bisa menatap mata Ammar, seraya bertanya siapakah anak ini.


"Ini Dav---"


Suara Ammar mengatung tak kala Mulan langsung menerjang Gana.


"Gana ..." Mulan lebih dulu memeluk Gana. Memeluk sesosok yang ia fikir sudah diambil oleh Allah SWT. Tapi ternyata dihadirkan kembali, dan bisa ia peluk dan di sentuh. Gana melongo dan menerima pelukan itu dengan wajah sulit di artikan. Ia tidak kenal dengan semua wajah yang ia tatap sekarang.


"Ini Ibu Mulan. Istrinya Bos Abang, Dek."


Semua alis menaut. Hawa yang sedang bertabur keharuan, begitu saja memudar. Dan di detik selanjutnya, gelak tawa Mahendra dan Alex memuncar.


Ammar memiringkan sudut bibir. Ia tahu apa yang kedua lelaki itu tertawakan.


"Maaf ya, Bu. Kalau saya kelihatan aneh. Soalnya saya enggak ingat apa-apa." ucap Gana polos. Perubahan Gana sungguh drastis. Wanita cerewet yang selalu banyak bicara. Kini, begitu teratur, gemulai dan bersahaja.


"Saya ngerti kok. Maaf ya saya sampai nangis. Senang banget akhirnya kamu selamat." Mulan lupa untuk bersikap tenang. Padahal ia harus tetap menjaga kastanya didepan Gana. Kalau saat ini dirinya ada di atas level Gana dan Ammar.


"Iya, Bu. Makasih banyak."


Mulan melepaskan pelukannya, agar Mahendra dan Alex bisa bersalaman dengan Gana. Sedih melihatnya, seperti orang baru kenalan.


"Ini Bos Abang, Dek. Namanya Bapak Mahendra." demi apa Mahendra ingin tertawa lagi mendengar Ammar menyerukan dirinya dengan sapaan itu kepada Gana.


"Saya Mahendra, Bu."


Gana sedikit menganggukan kepalanya sebagai rasa hormat. Ia menyambut jabat tangan dari Mahendra.


"Makasih banyak, Pak. Atas semua bantuan Bapak. Sudah meminjamkan mobil kepada suami saya, mengawal dengan para anak buah Bapak dan sekarang dibolehkan untuk menginap. Tapi, Bapak enggak akan potong gaji suami saya 'kan?"


Semua mata membola. Gana benar-benar sudah termakan tipu muslihat Ammar. Lagi-lagi semua ingin tertawa, tapi ditahan. Karena mata Ammar sudah melotot horor kepada mereka.

__ADS_1


"Ibu tenang aja. Abang Ammar ini ... eh, maksud saya. Bapak Ammar ini adalah karyawan kesayangan saya. Kepercayaan saya, jadi semua ini saya berikan secara gratis." Alex dan Mulan menahan geli mendengarnya.


Tepuk tangan meriah untuk Mahendra yang bisa juga berakting. Lelaki yang mirip Cristian Sugiono itu, mau tidak mau harus ikut bersandiwara, menuntaskan keinginan Ammar.


"Dan ini, Bos Abang juga." lanjut Ammar memperkenalkan Alex.


Alex dan Gana bersalaman. "Betrand." Alex menyebut namanya.


Mahendra dan yang lain langsung terbahak-bahak. "Nama asli Omen 'kok, sok-sok-an kenalin diri, Betrand." decak Mahendra.


Gana macam anak batita saja yang sedang di giring untuk bermain. Sungguh polos dan lugu. "Jadi yang benar namanya siapa, Bang?" Gana berbisik kepada Ammar.


Ammar menghentikan tawanya. "Namanya Bapak Alex. Suka bercanda memang."


Gana tertawa, walau ia sedikit takut melihat wajah Alex yang sebagian sudah terkena luka bakar.


"Alex bin Omen." Mahendra kembali bersorak dan terus tertawa, sampai dimana ia diam karena mereka semua tiba-tiba membisu. Memandang aneh kepada Mahendra, hanya Dava yang mentertawakan Ayahnya.


Mahendra melipat dalam-dalam bibirnya. Lelaki itu jadi salah tingkah.


"Ayo-ayo kita masuk ke dalam!" titahnya mengakhiri kebodohan yang ia buat sendiri. Haha.


***


Karena sudah waktunya makan siang, Mulan mempersilahkan mereka untuk makan siang di meja makan kesayangannya. Mereka semua makan dengan lahap, di selipi dengan berbagai perbincangan-perbincangan hangat. Sedikit banyaknya Mahendra dan Alex hanya menanyakan bagaimana Gana selama di rumah keluarga Maryadi.


"Bu, apakah boleh saya minta tolong untuk membawakan Dokter kesini? Biar istri saya bisa diperiksa lagi. Takut-takut ada luka dalam." pinta Ammar kepada Mulan.


Gana menatap Ammar lalu beralih kearah Mulan.


"Siap, akan saya datangkan Dokter langganan keluarga kami, Pak." jawab Mulan.


Gana buru-buru menyergah. "Enggak usah, Bang. Ngerepotin Ibu. Biar nanti kita aja ke Rumah Sakit berdua."


Air minum yang baru saja hinggap di lidah dan mau di dorong ke dasar tenggorokan begitu saja keluar dari mulut Mahendra.


Duarr.


Langsung muncrat mengenai wajah si Omen. Eh, Alex. Haha.


"Asyuu. Lagi enak-enak nikmatin obrolan, malah di siram pake gas air mata! Dasar makibauu!" decak Alex sambil meraih tissue untuk mengusap wajahnya yang sudah banjir.


Tentu membawa Gana ke muka umum, sama saja menyodorkan nyawa hidup-hidup.


"Bayarnya pasti mahal ya, Pak?" tanya Gana.


Hidup dua minggu dengan keluarga Maryadi, sepertinya gejolak hidup sederhana sudah mulai terpatri di kepala Gana. Wanita itu terus saja membicarakan masalah biaya. Ia hanya tidak enak kepada Ammar, kalau harus mengeluarkan banyak uang.


Ammar mengelus kepala istrinya. Dan melabuhkan kecupan di pusara rambut Gana. Gana beralih menatapnya. "Enggak usah di fikirin, Dek. Abang bisa kok nyicilnya."


Semua membuang muka, rasanya ingin muntah. Tatapan mata Gana dan Ammar, begitu lekat dan romantis. Layaknya Romi dan Roma. Eh, Romi dan Juliet. Hihi.


"Ia, Bu. Boleh kok di cicil." imbuh Mulan.


"Sampai berapa lama?" tanya Gana.


"Seumur hidup juga bisa." kini Mahendra yang menjawab dengan kekehan.


"Semoga saja Bapak duluan yang mati, jadi hutang saya cepat lunasnya." timpal Ammar.


"Abang!" sentak Gana. "Enggak boleh kayak gitu, dosa! Ucapan itu doa!"


Ammar yang sedang tertawa langsung diam. Bukan diam karena tersinggung. Melainkan sisi Ganaya yang dulu kembali muncul. Ucapan Gana itu, sering ia dengar jika dirinya sedang mengucap kata-kata yang asal.


Ammar kembali sendu, tidak dipungkiri kalau ia masih merindukan Gana yang dulu. Tidak harus berpura-pura dan berbohong. Karena ketika kita sudah menciptakan satu kebohongan, pasti akan ada kebohongan berikutnya.


"Maaf ya, Bang. Adek udah kelewatan ya bicaranya?" Gana memegang lengan Ammar untuk membangunkan lelaki itu dari lamunan.


"Bangun, Pak! Kelamaan bengong, nanti Bapak kesurupan." Alex mengelus bahu Ammar yang duduk persis di sebelahnya.


Ammar tertawa kaku. Ia tersenyum menatap Gana, lalu menjawab lembut. "Enggak sayang."


Gana kembali tersenyum.


"Ikuti saja ucapan Abang, ya. Adek akan diperiksa di sini dengan Dokter khusus milik Bapak Mahendra. Jadi enggak usah fikirkan biaya, biar jadi urusan, Abang."

__ADS_1


Gana hanya bisa mengangguk. "Iya, Bang." ia kembali menyuap nasinya.


"Ayo, Pak, Bu, makan lagi." pintanya. Karena ia risih menjadi pusat perhatian.


Mereka kembali melanjutkan makan yang sempat terjeda.


"Adek ..." panggil Ammar.


Gana menoleh ke arahnya. "Nih, cobain. Enak loh." Ammar menyodorkan sendok berisi daging bebek kesukaan Gana. Saat Gana mulai memajukan kepala dan bibir untuk mencoba melahapnya, tangan Ammar dimundurkan sampai bibirnya mencium kening Gana.


Blass.


Cup.


Rona merah muda kembali terpancar di wajah Gana yang begitu alami tanpa make up seperti biasa. Ia menunduk menahan malu.


Mulan tersenyum senang menatap kemesraan Gana dan Ammar. Sedangkan Alex dan Mahendra seperti ingin kejang-kejang melihatnya.


"Tahan ... Tahan, jangan kegoda. Inget binik lagi dikampung." Alex mencoba menyadarkan dirinya sambil terus mengusap-usap dada.


Mahendra menatap Mulan. "Nanti malem ya, Bu. Kita wiwiw-wiwiw."


Mulan hanya mendengus, dan kini Ammar dan Gana yang berbalik mentertawakan mereka.


Ammar labuhkan terus berbagai kecupan di pusaran rambut istrinya.


🌺🌺🌺


Sambil menunggu Dokter yang katanya akan tiba dua jam lagi. Ammar menitah Gana untuk istirahat dulu di kamar tamu yang di peruntukan Mulan untuk mereka selama menginap di sini.


Gana di baringkan Ammar di ranjang. "Tidur dulu ya, biar nanti pas diperiksanya enak."


Gana mengangguk.


"Abang keluar bentar ya." ucapnya. Sebelum bibir Ammar mendarat di dahi Gana, wanita itu lebih dulu mengelak.


"Abang enggak usah keluar, tidur dulu di sini, temenin Adek." Gana menepuk bagian kosong di sebelahnya.


Padahal Mahendra dan Alex sudah menunggunya di ruang kerja untuk membahas langkah apa yang selanjutnya akan Ammar ambil.


Tidak mau melihat istri bersedih, dan juga tidak tega meninggalkannya sendiri dikamar sebesar ini. Ammar menurut dan mengiyakan permintaan sang istri. Ia merangkak naik dan berbaring disebelah Gana.


"Ayo tidur!" seru Ammar.


Gana yang sejak tadi berbaring terlentang, kini berubah miring agar bisa menatap wajah suaminya. "Iya, Bang." Gana mulai memejam matanya. Mulai melangkah ke alam mimpi. Rasanya tenang sekali, tidur bersama orang ganteng yang sejak diperjalanan kesini, selalu ia puji-puji.


Ammar terus menilik wajah istrinya, mengusap lembut pipi, merapihkan poni yang menutup alis, menyibak helai rambut yang menutupi pipi ke belakang daun telinga. Ia usap bibir mungil itu dengan tatapan penuh damba.


Lalu bola matanya turun ke permukaan kulit leher Gana yang putih dan terjerembab turun ke dada sang istri.


Gleg.


Saliva berkumpul di kerongkongan dan rasanya sulit untuk ditelan. Ammar sudah kepalang ingin menikmati istrinya. Napsu nya berkobar tak kala ia lihat betis jenjang Gana menggesek-gesek seprai. Wanita itu sedang menuju kepulasan nya.


Tanpa sadar Ammar merebahkan Gana kembali untuk berbaring terlentang. Ia merangkak naik ke atas tubuh istrinya.


Gana spontan membuka mata, menatap kaget karena suaminya tiba-tiba sudah merayap di atas tubuhnya.


"Abang pengin Adek."


Bola mata mereka saling bersitatap. Gana tersenyum ragu, ada pula rasa takut yang sedang terbesit. Seakan mengerti, Gana pun menjawab.


"Adek bau, Bang. Belum mandi lagi."


"Enggak apa-apa, nanti aja abis ini, kita mandi bareng."


"Iya, Bang."


Aku akan meminta hak ku sekarang. Ammar membatin. Ia mulai menurunkan kepalanya di leher Gana. Megecup, menjilatt dan terakhir menyesap.


"Eum." Gana memejam mata. Desisan nikmat mulai keluar dari bibirnya, seiring pergerakan bibir Ammar di kulit lehernya.


Ammar mendongak, lalu mensejajarkan lagi kontak mata mereka. "Gak apa-apa kan kalau Abang pengin sekarang?"


"Iya, Bang. Adek siap."

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


Skip ah, besok malem lagi yah. Hihihi.


__ADS_2