
"Biasanya kamu selalu manis, tapi saat ini kamu malah menyebalkan. Tolak aja kalau enggak mau pergi! Jangan bisu kayak patung!!" Gana mendengus, memaki dalam hatinya.
Menerka-nerka jika Ammar tidak suka dengan ide nya kali ini. Gana hanya bisa mendengus pasrah, melipat tangan di dada dan menyandarkan diri di sandaran jok. Kedua matanya menatap ke depan, ke kanan atau ke kiri. Memandangi jalan tol yang hanya di bubuhi dengan pepohonan dan pembatas jalan.
Padahal dibalik itu. Dada Ammar masih saja bergetar. Ia takut Gana mengetahui keaslian dirinya. Ditambah lagi hatinya juga sedang gegana. Karena dua hari lalu ia bertengkar hebat dengan Farhan.
Jujur, Ammar sedih karena tali persahabatannya yang sudah di bina bertahun-tahun begitu saja terputus. Walau Ammar berat untuk menentukan pilihan. Tapi ia tetap harus memilih. Dan seperti yang ada di dalam hatinya, Gana lah yang berarti saat ini.
Satu jam kemudian, Ammar tetap saja membisu. Gana melirik kesal suaminya yang hanya fokus memutar-mutar stir kemudi. Dan saat ini mobil mereka sudah masuk kedalam kawasan perkebunan yang setengah jam lagi akan sampai di tempat wisata.
Wanita itu sudah mengalihkan perhatian Ammar, mulai dari menawarinya minum, ingin menyuapinya snack atau mungkin memijat bahu, takut-takut Ammar lelah. Ammar hanya bisa menggeleng setiap Gana menawarinya.
Bodoh sekali Ammar. Padahal Gana sedang belajar untuk lebih membuka diri kepadanya. Tapi lelaki itu hanya membiarkan saja, malah membuat Gana menjadi malas dan kesal. Ini semua karena masalah dengan Farhan yang sudah merusak pola fikirnya.
"Aku mau pulang." ucap Gana dingin.
Ammar terkesiap. Lantas menoleh dan melepas kaca matanya. "Kenapa tadi? Kamu bilang apa?"
Gana menyerengit dahi dan juga melepas kaca mata hitamnya. Ia mendengus kesal menatap Ammar yang sejak tadi malah melamun. "AKU MAU PULANG?"
Ammar terperangah lagi. "Kok, pulang? Sebentar lagi kita mau sampai."
"Pulang aja! Aku mau pulang!" seru Gana. Ia terus meluapkan emosinya. Nyatanya ide dari Mulan, agar Gana bisa pergi berdua bersama suami, malah membawa bencana.
"Kenapa mau pulang? Ada yang ketinggalan?"
Oh-em-ji. Ammar yang biasanya sangat peka, mendadak jadi orang yang tidak peka dan menyebalkan. Istri di diamkan selama di perjalanan, boro-boro dipeluk atau digenggam tangannya. Padahal Gana sedang menunggu hal itu. Tapi ia hanya fokus dengan masalahnya dengan Farhan.
Gana menggeleng, lalu memutus kontak matanya. Gana beralih menatap ruas jalan. Ammar meminggirkan mobil dan memberhentikan lajunya sebentar.
__ADS_1
Ammar beringsut mendekati Gana yang masih merajuk. Di raih dagu istrinya agar menatap dirinya kembali. "Kamu kenapa sayang? Aku ada salah?"
Ya Tuhan, lembut sekali suara itu. Begitu meneduhkan. Gana yang sejak tadi sudah menahan kesal, kini hatinya agak mencair. Entah 'kah ia malu karena sudah merutuk suaminya dengan banyak prasangka. Atau sedang tersihir dengan pesona Ammar. Karena dengan penampilan Ammar yang seperti ini, membuat jiwa Gana tiba-tiba bersorai gempita. Wanita itu bingung, menafsirkan rasa apa yang tengah ia rasa.
Mulai suka 'kah? Atau hanya perasaan nyaman? Entah lah, Gana selalu pusing jika memikirkan hal itu. Tapi yang paling ia senangi sekarang, karena Adri sudah pupus dari hatinya. Dan peluang untuk bisa mencintai Ammar, sangatlah besar. Sabar saja, waktu yang akan menegapkan perasaannya.
"Kamu diam aja dari tadi. Apa lagi marah sama aku? Waktumu jadi terbuang, dan letih karena harus mengemudi." ucap Gana.
Ammar menggeleng, lalu melabuhkan kecupan singkat di bibir Gana. "Masa iya aku marah? Kamu mau minta jantung aku, saat ini juga pasti aku kasih." Ammar terkekeh. "Walau enggak mungkin sih. Kamu enggak akan sampai hati minta jantung aku. Nanti aku mati, terus yang jagain kamu sampai keriput, siapa?"
Gana menghempaskan pukulan pelan di bahu suaminya. "Aku gigit nih!"
"Harley aja yang digigit kayak semalam, aku siap nih." Ammar mengedip-ngedipkan kelopak matanya. Menggoda istri, begitu menyenangkan batinnya yang saat ini sedang dilanda kegelisahan.
"Jangan mulai, Ammar!" bibir Gana mencebik bagai itik.
"Aku tuh selalu ingin buat kamu senang." jari-jemarinya sudah mulai memainkan ujung rambut Gana. "Apapun yang kamu mau, aku akan selalu turutin. Walau hal itu dianggap tidak mungkin, tapi aku akan belajar untuk memungkinkannya, demi kamu." kini jari nya semakin nakal, mengusap-usap permukaan kulit leher Gana. Membuat wanita itu berdesir tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat. Ditambah lagi ketika Ammar berhasil mengendus aroma leher Gana dan menyeruputnya.
"Bahkan arena wisata taman bunga sudah aku booking untuk kamu seorang. Hanya ada kamu dan aku di sana nanti." Ammar mengangkat bibirnya dan berbisik dengan suara sexy di telinga Gana.
Gana menoleh cepat bermaksud untuk mengeluarkan kekagetannya. Tapi sial nya, bibir mereka langsung bertemu.
Dan pastinya Ammar tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk lolos begitu saja.
***
Dengan mulut yang sedikit menganga, Ammar membuka kelopak matanya yang sudah dua puluh menit terpejam. Ammar menoleh ke arah Gana sambil menarik resleting celananya. Memasukan Harley kembali ke tempatnya.
"Makasih ya sayang." ucap Ammar, ia mengacak pucuk rambut sang istri. Gana mengangguk di sandaran jok. Dadanya masih bergemuruh. Ia takut ada orang yang memergoki mereka didalam mobil ketika Gana mau tak mau harus mengiyakan kemauan Ammar saat ini juga untuk meraih pelepasan.
__ADS_1
Ammar tidak bisa menahan diri, ketika awalnya mencium bibir Gana yang selalu lezat baginya. Libidonya tersulut, lalu seperti biasa, ia akan menurunkan kepala Gana ke dalam persembunyian Harley.
Ammar mendekat lagi. Mencium pipi Ganaya. "Kamu mau seperti aku? Rasanya enak. Aku bisa melakukannya tanpa menyatukan tubuh kita." Ammar terkekeh. Telapak tangannya mengusap pusat tubuh Gana.
Gana mendelik tajam lalu menepis tangan suaminya. "Aku enggak mau."
"Aku tau kamu pasti udah basah, nanti kepala kamu cekot-cekot loh."
Gana memiringkan sudut bibirnya. "Emangnya aku tuh kamu?? Mana tadi lama banget keluarnya. Capek tau!" Gana memegang bibir.
Ammar ikut memegang bibir wanita itu. "Sengaja aku lamain. Suasananya enak soalnya. Menantang adrenalin. Pelepasan di muka umum. Haha." Ammar bergelak tawa.
"Dasar enggak waras kamu tuh!"
Ammar menghentikan tawanya. "Kamu mau juga enggak? Aku juga pengin kamu ngerasain kaya aku." sesaat itu pula tangan Ammar dengan cepat menurunkan resleting di celana jeans milik Gana.
"Ammar!" Gana memegang cepat tangan Ammar yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kain tipis segitiga miliknya.
Mata Gana melotot. Ammar berhasil menembus rerumputan di bawah sana.
"Amm---" suara Gana yang ingin melenguh nama suaminya, langsung tercekat, ketika Ammar kembali memagut bibirnya. Seiring jari tengah Ammar bermain-main di bawah sana.
"Ammar, aku mau pipis!" ucap Gana berkali-kali. Ammar tersenyum puas. "Pipis aja di sini, aku menunggu."
Dan siang ini, setelah lima bulan pernikahan. Giliran Gana yang merasakannya.
***
Kasian ah dedek terus, Kakaknya juga dong kudu hehe. Like dan Komennya ya guys. Part penuh gelombangnya besok yaw.
__ADS_1