
"Ahh ... Abang!!" seru Gana kencang dari dalam rumah. Ammar dengan langkah blingsatan sambil menggendong Rora, buru-buru keluar dari warung untuk masuk ke dalam rumah. Mendengar piring pecah dan teriakan Gana, membuat lelaki itu takut.
Ada apa dengan istrinya?
Ammar menduduki Rora di sofa ruang tamu, lantas mendekat memegangi tubuh Gana yang sedang berdiri memegangi tepi meja makan. Masakan yang baru saja matang terlihat berserak begitu saja di atas lantai. Terlepas dari tangannya ketika Gana mendadak mengalami kontraksi.
"Kenapa, Dek?" tanya Ammar. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Mengelus perut dan punggung Gana secara bersamaan. Seolah tengah memberikan ketenangan dan kekuatan kepada istrinya.
Gana meringis sambil berusaha mengatur napas. "Sakit banget perutku, Bang. Kayak mules."
"Sabar ya sayang." Ammar tahu, ini pasti tanda-tanda mau melahirkan.
Ammar memapah Gana untuk duduk di kursi. Namun Gana menyergahnya.
"Enggak mau duduk. Mau berdiri ajah! Euhh ..." Gana melenguhh lagi, dan tetap bertahan pada posisi tersebut. Rasa sakit semakin menjarah perutnya.
Dan
Byrr.
Air bening terjerembab turun, mengalir dari pusat intinya sampai ke mata kaki.
"Lihat, Bang!" tunjuk Gana. Ia membawa bola mata Ammar untuk melihat kakinya yang sudah basah.
"Ya Allah, air ketubannya udah pecah." Ammar tersentak, lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk meraih ponsel miliknya. Menghubungi Bidan Nia yang sudah di pesan jasanya oleh Ammar sejak jauh-jauh hari.
Aurora yang melihat Mamanya meringis dan hampir menangis menahan sakit. Mencoba turun dari sofa ruang tamu dan melangkah tertatah-tatah menuju Mamanya.
"Mah ..." langkahnya sampai. Rora memeluk kaki Mamanya dan menarik-narik sarung yang melingkar di pinggang Gana. Melihat sang Mama memejam mata karena menahan sakit, dan keringat yang sudah penuh. Rora terlihat mencebikkan wajah, dan akhirnya bocah gendut itu menangis. Ia terus menarik-narik sarung Gana, mengulurkan tangan ke atas seraya meminta untuk di gendong.
"Nanti ya, Nak. Mama enggak kuat gendong kamu." ucap Gana. Ia menatap nanar Rora yang terus bergeliat dan menangis. Keadaan rumah pagi ini jadi mencekam dan panas. Padahal di luar, udara begitu sejuk dan segar.
"Ya Allah ..." desah Gana. Ia terus mengigit bibir bawahnya karena menahan rasa mules yang susah untuk ditahan. "Kok rasanya sakit banget ya. Beda pas lagi mau ngelahirin Rora." gumamnya.
"Mah ... Mama! Ma .... Huwaaaaaa." Rora terisak-isak. Ia tetap memaksa agar tubuhnya di gendong.
"Bang ... Abang! Roranya ni, Bang." Gana menyerukan suaminya. "Gendong dulu, Bang. Nanti muntah." titanya lagi.
Ammar masih di dalam kamar berbicara dengan Bidan Nia di sambungan telepon. Bidan desa itu siap datang kerumah dan akan sampai dalam waktu setengah jam lagi.
"Biar cepat, saya saja yang kesana. Nanti diantar suami. Daeng fokus nenangin istri."
"Baik Bidan Nia."
Setelah sambungan telepon terputus. Ammar memasukan kembali ponsel ke dalam celana dan keluar dari kamar. Ia mendekati Gana dan Aurora yang tengah menangis.
"Bang tolong gendong Rora. Berikan susunya."
"Iya nanti. Kamu nya tiduran di kamar ya, jangan berdiri terus begini." ucap Ammar sambil menggendong Rora di pinggang sebelah kiri. Lantas menggandeng Gana untuk masuk ke dalam kamar. Gana mencoba untuk tenang, ia melangkah pelan-pelan.
"Mamaaaaa ... huwaaaaaaaaaa." Rora tetap menangis. Berkali-kali ia ingin mengulurkan tangan ke leher Mamanya untuk meminta di gendong. Namun Gana hanya mendiamkannya saja. Sudah tidak bisa fokus. Ia hanya sedang berpusat pada rasa sakit dan mulas yang saat ini sedang ia rasakan.
Rora kembali di turunkan Ammar di lantai. Ia membantu Gana berbaring diranjang. Mengatur tata letak bantal agar bisa di pakai senyaman mungkin.
"Abang ..." keluhnya lagi.
Ammar dengan dada naik turun, sekuat mungkin untuk tidak terlihat panik. Ia harus bisa menenangkan istrinya. Rora menghampiri Gana, kemudian memeluknya. Ia belai-belai wajah Mamanya nya yang sudah banjir karena peluh.
"Mah ..." Rora terus saja mencium-cium pipi Gana. Gana yang sedang menahan sakit hanya bisa tersenyum tipis dan mencium balik sang anak. Lalu mengerang, melenguhh dan merintih sakit kembali.
"Sabar ya, Dek. Bu Bidannya lagi menuju ke sini."
"Iya, Bang." jawabnya dengan ringisan.
Ammar memijit-mijit tangan Gana. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Hanya doa yang bisa ia panjatkan agar Gana bisa lancar dalam melewati persalinan ini.
"Kasian Abang sama Rora belum sarapan. Makanannya jatuh. Abang masak mie aja ya atau goreng telur." ucap Gana. Disaat-saat genting dan perutnya sakit. Wanita baik ini masih saja memikirkan anak dan suaminya.
"Udah enggak usah mikirin Abang. Kamu aja sama Rora. Nanti Abang buatin telur dadar. Sekarang masih sakit enggak?" Ammar mengusap perut istrinya yang sudah munjung ke atas.
Gana kembali menghela napas panjang dengan wajah yang masih menahan sakit. "Sakit banget, Bang. Mules!" keluh Gana.
"BELII ..."
"Ya ampun, pakai segala ada yang beli!" gerutu Ammar. Dan salahnya ia membuka warung di saat-saat Gana akan melahirkan seperti ini. Harusnya sudah ia tutup sejak kemarin.
__ADS_1
"BELII ... Oy, Daeng. Beliiiiii!"
Ammar memilih mendiamkan saja si pembeli. "Itu ada yang beli, Bang. Sana layanin dulu." titah Gana.
Ammar menggeleng tidak mau.
"Daengg ... Belii!" diluar sana semakin berisik.
"Enggak ada orangnya!" akhirnya Ammar berteriak agar si pembeli mendengar.
"Nah itu ada orangnya. Beli daeng, beli ...." si pembeli kembali bersua dan tetap bersikeras menunggu untuk dilayani.
Gana sekilas tertawa saat Ammar membekap mulutnya, karena ketahuan berbohong. Haha ... Bodoh.
"Duuuh dasar, pala batu! Sudah di usir, masih aja nangkring di sana!" decak Ammar. Lelaki itu akhirnya bangkit menuju warung untuk melayani pembeli.
"Haha ... Papa, Mah." seru Rora yang sudah berhenti dari tangis. Ia menunjuk Papa nya sambil menatap Gana yang kembali memejam mata untuk menahan rasa mules yang kembali melanda.
Kelahiran anak kedua kali ini sungguh sesuatu. Kontraksi memang akan sering datang dan pembukaan akan cepat berubah.
"Mama ... Mah ... Tanapa, Mahhhhhh ...?" si cantik kembali mencecar. Tangan mungilnya seraya mengusap-usap wajah Gana.
Gana membuka mata dan mencium Rora berkali-kali. "Dedek mau lahir, Nak." Gana meletakan tangan Rora untuk mengusap-usap perutnya.
"Cinih dedena, Mahhh? Geyak-geyak." Rora tertawa-tawa.
"Iya, Nak."
Rora usap lagi perut Gana, lalu menarik tangan, di usap dan ditarik lagi. Begitu saja terus menerus. Dan Gana kembali mengerang, saat rasa mules itu kembali melanda lebih lekat.
"Ya Allah ..." rintih nya. Gana sampai mendongak wajah ke atas, menatap langit kamar. Napasnya terengah-engah. Rasa sakit saat melahirkan adik Rora lebih-lebih dibanding saat melahirkan pertama kali.
Untung saja ia pernah melahirkan, jadi masih bisa mengatur napas dan berusaha untuk tenang. Jika saja saat ini adalah kehamilan pertama. Gana pasti sudah berteriak-teriak histeris.
"Minum dulu sayang." Ammar menyodorkan air hangat. Dirinya kembali ke kamar setelah menutup warung. Agar tidak ada pembeli yang bolak-balik di saat-saat seperti ini.
Gana meneguknya sambil tiduran. Mengangkat kepala saja rasanya sangat susah.
"Suapi dulu Rora makan, Bang." titah Gana.
Ammar mengangguk.
Gana menggeleng. Tidak ada napsu makan sama sekali sekarang. Ia hanya ingin cepat melahirkan dan menggendong bayinya.
"Abang sama Rora dulu yang sarapan. Adek di sini aja, gak apa-apa sendirian, sekalian nunggu Bu Bidan datang."
"Abang gorengin telur dadar ya. Biar Adek ada tenaganya." Ammar tetap memaksa. Karena ia tahu, sang istri juga belum sarapan.
Gana pun akhirnya mengangguk.
"Ya, Bang." jawabnya pelan. Dada Ammar terasa cenat-cenut, melihat Gana seperti ini sungguh dirinya tidak tega. Seandainya di pulau ini ada Rumah Sakit besar, Ammar pasti akan memilih jalan operasi untuk Gana.
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Bang ... Abang!!" seru Gana tidak kuat.
Ammar yang masih menggoreng telur di wajan sambil menggendong Rora, lantas menoleh ke arah kamar. Knop kompor buru-buru dimatikan.
"Iya, Dek." ucapnya, sesaat sudah sampai di bibir ranjang.
"Masih lama Bu Nia nya? Ini air ketubannya keluar terus, Bang." Ammar menyorot sarung Gana yang memang sudah basah sekali. Rora bergegas turun dari gendongan Ammar dan kembali mendekap Gana.
"Mama, tenapa cih Mah? Atit agih, Mahhh??" Rora terus berceloteh. Gana mengangguk menatap Rora dengan tatapan tidak berdaya.
"Bentar ya, Dek. Abang telepon dulu Bu Nia nya sudah sampai dimana."
Gana mengangguk. Rasa sakit membuat ia sulit untuk berbicara lebih banyak selain memaksa untuk berteriak, karena menahan rasa sakit.
"Oh, ya. Baik, Bu. Semoga cepat sampai ya, Bu. Hati-hati dijalan" ucap Ammar dengan wajah tambah panik di layar gawai saat tahu motor suami Ibu Nia mogok. Namun Alhamdulillahnya, sudah bisa di pergunakan lagi dan saat ini sedang ada di pertengahan jalan.
Baru saja mematikan sambungan telepon. Telepon masuk kembali dari nomor berbeda muncul di layar gawai.
"Mama?" ejanya dalam hati.
Melihat Mama yang menelpon, Ammar memilih keluar meninggalkan Gana. Dan berbicara dengan wanita itu di ruang tamu.
__ADS_1
"Assalammualaikum, Nak." suara yang amat lembut terdengar dari selat Jawa.
"Waalaikumsallam, Mah. Nanti aja Adek telepon lagi ya, Mah. Gana mau lahiran, Mah." cecar nya dengan nada cemas. Sebenarnya Ammar masih ingin berbicara dengan Mama, namun Ammar merasa saatnya tidak lah tepat.
Mungkin kontak batin antara orang tua kepada Anak sedang terjadi. Mama Alika menelponnya Ammar tepat saat menantunya akan melahirkan.
"Ketubannya udah pecah, Dek?" Mama masih ingin berbicara.
"Iya, Mah, udah. Tapi Bidannya belum datang. Masih di jalan."
"Adeknya tenang ya---"
"ABANG!! Euhhhhhhhh!!" Gana kembali mengerang, kontraksi kembali muncul, membuat Mama menghentikan suaranya di sambungan telepon.
"Coba kasihin teleponnya sama Gana. Mama mau bimbing biar rasa sakitnya berkurang."
"Jangan ya, Mah. Nanti Gana curiga."
"Ayo cepat, Dek. Kasian Gana."
Ammar terdiam lama. Suara ringisan Gana saat menyerukan namanya kembali terdengar berulang-ulang. Kini diiringi dengan isak tangis.
"Adek cepetan!!" teriakan Mama membangunkan Ammar dari lamunan.
"Iii---ya, Mah." bergegaslah Ammar kembali ke dalam kamar. Rora pun ikut menangis lagi, tidak tega melihat Gana terus merintih. Di sana Mama Alika, hanya bisa mengelus dada. Membayangkan bagaimana kecemasan Ammar saat ini. Rintihan Gana dan tangisan Rora membuat Mama ingin sekali pergi melesat ke Makassar.
Ammar menempelkan gawai ditelinga Gana. "Siapa, Bang?" tanya Gana dengan wajah yang sudah basah. Mama bisa merasakan hembusan napas kasar Gana di sambungan telepon.
"Abang telepon Dokter langganan Bapak Mahendra. Biar bisa bimbing Adek pas lagi kontraksi kayak gini."
Dulu saat melahirkan Rora, Gana mengalami mules hanya di ujung saat pembukaan sepuluh, dan bayi itu langsung keluar. Namun sekarang amatlah berbeda. Gana mulai merasakan bagaimana kontraksi dari pembukaan satu.
"Hallo, Nak---" ucap Mama. Buru-buru Mama mengganti sapaannya. "Hallo, Bu."
"Iya, hallo Dok." jawab Gana lemah.
"Ikuti saya ya, Bu. Biar rasa sakit diperutnya berkurang."
"Baik, Dok."
"Tarik napas dalam-dalam ..."
Gana mulai mengikutinya.
"Lalu hembuskan lewat bibir perlahan."
Gana terus mengikuti titahan Mama. Di sana, Mama tersenyum ketika merasakan hembusan napas Gana terasa lebih lembut. Ammar tetap menempelkan gawai di daun telinga istrinya. Sambil mengusap peluh di wajah Gana dengan handuk.
"Sekali lagi ya ... Tarik napas dalam-dalam." titah Mama.
"Hhh ..." Gana menghembuskan lagi napas yang sudah ia tarik untuk keluar lewat bibir.
"Sedikit tekan perutnya, agar udara benar-benar keluar. Ayo tarik, lalu hembuskan ... Tarik."
Mama terus membimbing. Bersyukurnya Ammar memiliki Mama seorang tenaga kesehatan, walau bukan bidan. Setidaknya Mama cukup mengerti dan bisa membantu istrinya dengan ilmu dasar seperti ini.
"Hhh ..." wajah Gana mulai tenang. Kontraksi berangsur meredah.
"Makasih banyak ya, Dok. Sudah mau direpotkan." ucap Gana tersenyum seakan Mama sedang berada di sini. Ia mendongak ke arah Ammar yang sedari tadi mengecup keningnya berkali-kali untuk menguatkan.
Di sana Mama terdiam, menahan isak tangis yang ingin keluar. Hatinya haru. Tidak tega melihat Gana harus melahirkan dengan segala keterbatasan seperti ini. Harusnya di kasur mahal, ditangani oleh Dokter kandungan yang ia miliki di Rumah Sakit pribadinya. Sungguh miris.
"Mama lagi teleponan sama siapa?"
DEG.
Mama menoleh tak kala Papa Bilmar sudah berdiri dibelakangnya. Refleks Mama menekan icon end di layar gawai. Jantung Mama bergemuruh kencang. Ia takut suaminya menguping pembicaraannya di telepon barusan.
"Telepon siapa?" suara bariton Papa membuat Mama merinding.
"Dok?" panggil Gana. Saat Mama Alika tidak lagi bersuara. Padahal ia ingin sekali lagi mengucapkan terima kasih.
Merasa Mama tidak menjawab. Ammar melihat layar gawai, dan ia kaget karena sambungan telepon sudah terputus. Lelaki itu merasa aneh.
Ada apa dengan Mamanya di sana?
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ
Like dan Komen ya guyss. Sehat selalu kalianโค๏ธโค๏ธ