
Gana menatap lirih keluarga nya yang tengah beriung di pembaringan Mama. Wajahnya terlihat letih, berkali-kali mengusap dadanya naik turun karena sesak mulai datang di dada.
Gana di asing kan seorang diri di sofa yang tidak jauh dari ranjang. Ia menatap Papa yang tengah duduk di kursi terus memegangi tangan Mama. Begitu pun di bibir ranjang ada Gifali, Gelfa dan Fara. Sedangkan Gemma sedang keluar sebentar.
Setengah jam lalu wanita paru baya itu, akhirnya sadarkan diri. Perlahan kelopak matanya terbuka. Mengerjap-ngerjap, dan akhirnya bisa menilik semua orang yang mencintainya dengan jelas. Di area bibirnya terlihat sedikit miring dan tubuhnya terasa kaku sebagian. Air mata Mama tumpah saat tahu kondisinya seperti ini.
Terlebih lagi ketika merasakan pelukan dari Gana, Mama semakin deras mengucurkan air matanya. Ingin bicara banyak, tapi ia tidak mampu. Berulang-ulang Gana berseru minta maaf, tapi Mama hanya menatapnya dalam tangis.
Gelfani yang baru tiba dari Batam, sampai mendorong Gana untuk pergi menjauh dari tubuh Mamanya. Adik perempuannya itu tak henti-hentinya memaki Gana dan Ammar. Mencaci Gana yang terus membela Ammar, padahal keadaan Mamanya sudah seperti ini.
"Aku enggak sudi punya Kakak ipar seperti dia! Segitu gampangnya membunuh, bisa saja kalau dia butuh nyawa. Gantian kita yang jadi korban. Lihat saja sekarang, Mama yang sengsara!" begitulah kata-kata menyakitkan dari Gelfani, membuat Gana terhempas dari lingkaran keluarga.
"Tapi suamiku sudah bertaubat! Semua orang punya masa kelam, apakah tidak bisa diberi maaf? Kalau Mama bisa berbicara sekarang, Mama pasti setuju dengan ucapanku!" Gana terus menjawab, sampai dimana Gelfa naik pitam dan terus memaki Kakak perempuannya tersebut.
Didepan orang tua mereka yang tengah berbaring, Gelfa dan Gana jadi bertengkar. Jika tidak dipisahkan Papa dan Gifali, mungkin mereka akan main cakar-cakaran. Gelfa membela Mamanya dan Gana membela suaminya. Bukan ia tidak sayang dengan keadaan Mama, tapi ia tahu kalau Ammar tidak sepenuhnya bersalah.
"Tunggu saja sampai polisi memenjarakan suamimu, dan membuatmu menjadi janda!" dan makian Gelfa itu berakhir dengan tamparan dari Gana.
"Dasar adik kurang ajar!" seru Gana tidak terima.
Pertengkaran itu membuat Papa tambah emosi. Beliau semakin mencecar Gana untuk berpisah.
Gana merasa sakit hati. Karena tidak ada yang mau menerima suaminya. Maka dari itu ia memilih menyendiri di sofa. Berkali-kali Mama menatapnya, seakan memanggil untuk mendekat. Dan Gana hanya bisa memandang sendu sambil mengurut-urut dadanya yang sudah bergetar sejak tadi.
Ia ingin melenggang pergi. Tapi kakinya berat. Tidak tega meninggalkan Mama dalam keadaan seperti ini, tapi hatinya sakit. Sakit karena tidak dihargai oleh keluarga.
Ia butuh Ammar, ia ingin memeluk lelaki itu. Butuh semangat, walau di ujung hatinya tidak menampik, ia juga kecewa. Jika saja Ammar tidak seperti ini, dua keluarga mereka tidak akan bercerai berai.
Gana menggenggam gawai yang sejak siang sudah lowbat. Ia yakin, suaminya pasti sudah resah memikirkan dirinya.
"Ammar, tolong jemput aku." lirihnya sambil meremat kain di dada. Air matanya tumpah. Pusing kepalanya, memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini.
Memikirkan Mama, bagaimana keadaanya setelah ini, apakah bisa sembuh atau tidak? Benarkah suaminya akan masuk penjara? Atau rumah tangganya akan berakhir?
Dada Gana semakin sesak. Menyandar lemah di sandaran kursi sambil menunggu uluran tangan Allah untuk menolongnya yang sedang terhimpit akan suatu beban.
****
Pintu kamar perawatan Mama dibuka. Ada cahaya dari luar yang masuk kedalam bersamaan dengan sosok Maura yang lebih dulu sampai diambang pintu, terlihat tubuh Ammar di belakangnya, melihat suaminya datang, dengan jantung berdegup cepat, Gana buru-buru bangkit dari sofa.
Ia berusaha menahan lelaki itu untuk tidak dulu masuk. Walau dalam hatinya senang, karena Ammar tiba untuk menjenguk Mama dan menjemput dirinya.
Gana begitu saja melewati Maura tanpa sapa dan kata. Memilih keluar untuk mendorong Ammar, namun sebelum itu terjadi. Tubuh Ammar lebih dulu ditarik dari belakang. Lelaki itu memekik kaget.
Gemma menghajarnya tanpa ampun.
BUG.
BUG.
BUG.
Ammar terjungkal di lantai dan Gemma terus saja menghajarnya secara membabi buta. Gemma yang baru melihat Ammar akan masuk ke dalam, langsung di buru dan dihajarnya tanpa ampun.
Gana berteriak histeris. Ia mencoba menarik kemeja Gemma dari belakang, nyatanya ia yang terhuyung jatuh karena gerakan tangan Gemma begitu kuat menghajar Ammar.
"Lepas, Gemma! Beraninya kamu memukul suamiku!" seru Gana dengan derai air mata. Ammar tidak melawan, ia biarkan dirinya dipukul dan dihajar.
"LEPAS!!" Gana terus berteriak-teriak sambil memukuli punggung Gemma. Adik lelakinya itu tengah mengungkung Ammar dan menghajar wajahnya.
Decitan darah mencuat dari sudut bibir Ammar. Gemma kepalang gelap dan buta. Ia terus meninju Ammar tak mengenal lelah. Padahal punggung tangannya pun sudah sakit.
"Dasar keparatt! Puas kamu sudah membuat Mamaku syok, tertekan dan sekarang stroke!" Gemma terus mencaci Ammar dalam pukulannya.
Ammar tidak diberikan kesempatan untuk menjawab. Tubuhnya sudah lemas. Tubuhnya masih panas, sakit jiwanya karena di caci semua orang, dan sekarang fisiknya hancur lebur tidak karuan. Ia meminta kepada Allah, agar tidak mati dulu hari ini. Ia masih ingin bertaubat, meminta maaf atas segala dosa-dosanya.
Tidak tahan suaminya di pukuli. Gana menghentak kepala Gemma dengan sepatunya. Membuat Gemma mengaduh sakit dan mengentikan pukulan yang sejak tadi dilayangkan secara bertubi-tubi.
"Ayo sayang bangun." ucap Gana sendu dengan mata berlinang. Ia mencoba memapah Ammar setelah ia mendorong Gemma untuk bangkit dari tubuh sang suami.
"Sayang ..." seru Ammar lemah. Ia memeluk Gana dengan merebahkan kepala di bahu istrinya.
"Maaf ya, Gemma memang kurang ajar." jawab Gana. Ia mengusap darah yang ada di sudut bibir suaminya.
Sambil memegang kepala karena merasa pusing Gemma kembali bertutur. Lelaki itu menatap Ammar dengan seringai keji.
__ADS_1
"Ceraikan Kakakku! Dan pergi dari kehidupan keluarga kami. Orang tuaku, menginginkan kalian untuk bercerai!" seru Gemma.
Dengan napas terengah-engah, Ammar mendongak menatap permukaan leher Gana yang bekedut-kedut, karena wanita itu sedang menelan salivanya banyak-banyak. Ammar sudah tahu, pasti hal ini yang akan ia dengar dari keluarga Hadnan.
"Apa-apaan sih kamu!" Gana mencubit lengan Gemma kasar. "Jangan bicara macam-macam, Gemma!" ancam Gana.
"Gana ... Apa itu benar?" Ammar kembali bertanya dengan suara amat parau. Ngilu sekali hati Gana, melihat suaminya diperlakukan seperti binatang. Ia tahu Gemma sedang marah, tapi bisakah semua ini dibicarakan baik-baik tanpa memukul.
Gana menggeleng. "Jangan dengarkan dia! Gemma hanya adik yang kurang ajar tanpa tau sopan santun. Tentu saja Papa dan Mama tidak menginginkan hal ini. Mama pasti maafkan kamu." Gana tahu harapan itu mustahil, tapi ia tidak mau membuat Ammar semakin down. Ia tahu, hati suaminya sudah tercacah karena perkataan papa mertuanya beberapa jam lalu.
Gemma berdecak garang. "Ammar, jika saja keadaanya dibalik. Kamu berada di posisi kami, tahu jika Kakak Iparmu yang telah membuat Mama kandungmu sengsara. Hanya bisa tergolek lemas, tidak berfungsi. Apa yang akan kamu lakukan? Hanya tenang begitu saja? Memaafkan semudah kacang terlepas dari kulitnya?"
Ammar menunduk. Mendengar umpatan itu betul-betul menyakitkan. Tapi ia sadar, kesalahannya memang sudah fatal. Apa yang ia tanam itulah yang ia tuai.
"Cukup Gemma! Jangan terlalu ikut campur! Tidak ada manusia dimuka bumi ini yang tidak mempunyai dosa!"
Gemma tertawa sarkas. "Memang semua manusia mempunyai dosa, tapi dosa yang menyerupai iblis hanya SUAMIMU!" Gemma menunjuk wajah Ammar dengan jari telunjuknya.
Gana menepis kasar tangan itu untuk terayuh ke bawah. "Jangan adili suamiku, layaknya kamu adalah Tuhan-Nya!"
"Aku pantas mendapatkan cacian ini, sayang." ucap Ammar lirih.
"Enggak! Kamu orang baik, tidak seperti yang difikirkan oleh mereka!" mati-matian Gana membela suaminya. Ia jadi teringat bagaimana perjuangan dirinya membela Ammar didepan semua keluarga barusan. Bagaimana perjuangan dirinya untuk melawan Farhan, dan membawa Ammar untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh selama dua minggu terakhir.
"Ceraikan Kakakku! Kami ingin hidup tenang tanpa para bandit yang mungkin sedang mengincar nyawa kami!"
"DIAM KAMU! Kamu tidak ada hak meminta kami untuk berpisah! Urus saja rumah tangga mu! Mulai sekarang, aku tidak mau menganggapmu Adiku lagi!"
Suasana semakin mencekam. Hubungan antara saudara dalam keluarga jadi tercerai berai karena mulai menyimpan dendam perihal Ammar. Padahal sebelumnya keluarga ini selalu harmonis, saling menyayangi dan saling menghargai. Kini pecah sudah, membuat hati terkoyak-koyak.
"Kita pergi ya dari sini." ajak Gana mulai memutar langkah dan membawa paksa Ammar untuk berlalu dari tempat ini.
Gemma bertepuk tangan, menyeringai dengan tawa. "Hebat kamu, Ammar! Sudah membutakan mata hati Kakakku! Lebih membela kamu yang jelas-jelas pendosa, dibanding Mamaku yang sedang tergolek tidak berdaya."
Gana menoleh, dan menatap Gemma dengan picingan tajam. "Apapun yang terjadi aku tetap memilih suamiku! Dan Mama tetap prioritasku! Kamu tidak berhak membuatku untuk memilih! Karena suami dan Mamaku bukanlah suatu pilihan!"
Gemma tersentak. Ia diam seribu bahasa.
"Ayo kita pergi." ajak Gana lagi.
Gana mencium kelopak mata Ammar yang kembali mengembun. Romantis sekali Gana, di saat dirinya sedang terhimpit dalam hujatan perihal suaminya. Gana tetap berpegang teguh untuk terus disamping Ammar.
"Nanti aja. Maaf mu sudah aku wakili tadi. Mama udah maafin kamu 'kok." Gana tetap memaksa Ammar untuk membuka langkah ke depan. Meninggalkan Gemma yang masih menatap punggung mereka dengan hembusan napas kasar.
"GANA!"
Seruan atas namanya kembali didengar. Baru saja mengayun dua langkah, Gana dan Ammar terhenti beberapa jarak dari Gemma.
Bukan suara Gemma yang memanggil. Dan keduanya sangat hafal siapakah pemilik suara tersebut. Jantung Gana memburu lagi, ia tahu peperangan sesungguhnya masih belum dimulai.
Keduanya menoleh ke belakang begitupun dengan Gemma. Mereka mendapati Papa tengah berdiri dipertengahan koridor menatap Ammar dan Gana dengan wajah tidak bersahabat.
Dibelakang Papa sudah ramai. Ada Gifali yang terus menggenggam tangan Maura untuk tidak ikut campur, lalu Gelfa dan Fara. Fara yang melihat suaminya kesakitan memegang kepala seakan ingin menghampiri, buru- buru Gemma melenggang langkah ke arahnya. Membawa ibu hamil itu masuk kembali ke dalam kamar Mama. Ia tidak ingin, istrinya syok dan menganggu kehamilannya.
Papa berjalan ke arah mereka berdua yang sudah mematung. Walau Maura sedang kesal, tapi tetap saja ia tidak suka adik nya dipukul seperti itu. Ia menatap nanar wajah Ammar yang sudah penuh luka dan lebam. Ingin meminta suaminya untuk membantu, tapi urung. Ia tahu diri, Ammar memang sudah bersalah.
Gana langsung beringsut, memegang kaki Papanya untuk tidak mengucap kata cerai. Wanita itu memohon dengan air mata.
"Pah, Gana mohon." lirihnya. Ia mendongak ke atas, menatap sendu lelaki yang selama ini ia cintai setulus hati.
Papa tidak menggubris Gana. Bola matanya lekat menatap wajah Ammar.
Ammar membungkuk, seraya meraih tangan Papa untuk di cium sebagai tanda hormat. Papa memberikan tangannya untuk di cium.
Hati Gana lega melihatnya, jika sudah begini ia tahu kalau Papa tidak akan mungkin meminta Ammar untuk menceraikan dirinya.
"Maafkan Ammar, Pah." ucap Ammar sungguh-sungguh. "Ammar sudah bertaubat." imbuhnya lagi.
Papa mengangguk pelan dengan wajah yang masih dingin. "Papa maafkan kamu, Nak. Kembalilah ke jalan yang benar. Kasian orang tuamu, harus menanggung dosa ketika di akhirat nanti. Tapi sebagai imbalan maaf dari Papa, tolong kembalikan Gana kepada kami."
DEG.
Suara pelan dan datar yang awalnya sangat tenang dan enak untuk didengar malah berubah menjadi kata-kata yang paling dibenci di akhir kalimat.
Ammar menatap Papa tanpa kedipan sama sekali. Angin kencang seperti menyambut wajahnya. Tubuhnya kembali menegang, ada yang lebih sakit dari sebuah pukulan. Yaitu ucapan Papa mertuanya sekarang.
__ADS_1
"Papah!" Gana berteriak sambil menarik-narik celana Papanya.
"Pah, Gana mohon!" Gana mencium-cium kaki Papanya untuk meminta pertolongan.
"Tolong ceraikan Gana, Ammar. Biar nyawa anak Papa bisa terselamatkan. Sudah cukup Mamanya yang menjadi korban. Jangan lagi anak kami. Ganaya, cinta kami. Buah hati kami." air mata Papa menetes.
"Tidak ada orang tua di dunia ini meminta anaknya untuk berpisah jika tidak ada sebabnya. Cukup kecelakaan Gana waktu itu sebagai pertanda, Papa tidak mau lagi hal lain menimpa Gana."
Air mata Maura luruh dari kejauhan. Mengapa seperti ini nasib adiknya? Ia mulai terisak, menunduk, membasuh wajahnya yang basah dengan ujung hijab panjangnya.
Gana meraung-raung dengan tangisan. Ia beralih memegang kaki suaminya, dan mendongak. "Jangan dengarkan sayang. Papa sedang emosi."
Ammar membungkuk dengan kekuatan yang tinggal sedikit. Ia meraih bahu istrinya untuk di angkat agar berdiri.
Gana bangkit dengan wajah yang sudah memerah. Menahan kesal, sedih dan kecewa.
"Gana tidak mau bercerai, Pah! Sampai mati, Gana akan tetap menjadi istri Ammar!"
"Ceraikan Gana, Ammar ..." Papa mengulang ucapannya. Ia menatap bola mata Ammar dengan keseriusan yang mendalam. Tidak menggubris sama sekali ucapan Ganaya.
"PAPA!!" tanpa sadar, Gana kembali menghentak Papanya.
"GANA!!" Gifali berseru. Ia tidak suka jika Papanya dibentak.
Gana menatap Gifali. "APA? Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur! Kamu bukan kakakku! Kamu bukan apa-apa di keluarga ini! Kakak macam apa hanya diam saja ketika adiknya dipaksa untuk bercerai!!"
Gana yang kecewa terus mengeluarkan emosi yang seharusnya tidak ia keluarkan. Menumpahkan rasa kesal kepada Papa lewat Gifali.
Lelaki itu meradang, air matanya berduyun-duyun luruh, Gifa menatap benci Ganaya. Ia memilih berlalu masuk kedalam kamar sambil mengusap sudut matanya yang sudah basah. Gelfani mengekor Kakaknya, sedangkan Maura masih berdiri menatap nelangsa Adiknya.
"Cukup Gana! Gifali tetap kakakmu. Dia yang akan menjaga dan menggantikan Papa nanti." ucap Papa.
"Yang akan menjagaku adalah suamiku, Pah. Bukan dia!" Gana semakin berapi-api.
"Gana, jangan berbicara kasar kepada orang tua. Aku selama menjadi suamimu, tidak pernah mengajari kamu seperti itu." ucap Ammar lembut. Gana menghentak kakinya. "Tapi Papa tetap ingin kita bercerai, dan aku tidak mau!" wanita itu terisak lagi.
"Ammar ... tolong. Anggap saja ini sebagai penebus kesalahanmu pada keluarga kami. Terutama kepada istriku."
Kesalahannya memang sudah fatal. Mengakibatkan dua nyawa sebagai tumbal dari kebiadabannya di masa lalu, yang tidak akan pernah ia bayangkan, akan serumit dan sesusah ini. Nyatanya kata maaf tidak semudah itu untuk di balas.
Sudah ratusan nyawa yang ia tebas. Dijual organnya dan meraup keuntungan. Membuat keluarga yang ditinggalkan tidak rela dan mengutuk.
Sudah ratusan masa depan yang ia hancurkan dengan narkoba. Anak-anak muda sampai harus mencekik leher orang tua mereka untuk memaksa memberikan uang agar bisa membeli barang haram darinya.
Sudah ratusan wanita yang ia jual kepada lelaki beristri. Menyebarkan penyakit kelaminn dimana-mana. Membuat rumah tangga yang harusnya teduh menjadi rusak, karena adanya wanita yang siap untuk dipakai sebagai pelepas hasrat.
Dan masih banyak lagi kejahatan, kebiadaban yang sudah ia lukis selama ini. Tentu semua itu, tidak akan bisa mendapatkan kata maaf secara gampang, seperti ketika kita menusuk daging dengan pisau.
Semua yang kita lakukan pasti ada bayarannya. Dan Ammar sedang diminta pertanggung jawaban oleh Allah, walau masih di dunia. Dan lelaki itu harus bersyukur banyak-banyak.
"Demi nyawa, Gana." Papa mengulangi. Memaksa Ammar untuk terbangun dari lamunannya.
Gana bergeliat di lengan Ammar. Meronta agar suaminya tidak mengatakan hal apapun.
"Lebih baik kita pergi." ajak Gana. Tapi Ammar tetap mematung.
Ammar menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia semburkan perlahan seiring kepalanya yang menunduk ke bawah. Dan ia kembali mendongak menatap Papa dengan wajah tetap tenang.
Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Gana. Lantas memeluk istrinya erat-erat. Di rasa sudah cukup, Ammar kembali menatap wajah Ganaya. Ia seka air mata wanita itu dengan punggung tangannya. Dan meletakan bibir di kening istrinya. Di kecup nya lama sekali.
Air bening terjerambab lurus dari ekor mata Ammar. Seakan hari ini adalah hari terakhirnya, mencium dan memeluk sang permaisuri hati.
Ammar memutus kecupan itu dan kembali menyatukan kontak mata dengan istrinya.
"Aku menjatuhkan talak satu padamu, Gana."
"Aku menceraikanmu ..."
Ammar menoleh, menatap manik mata Papa yang sudah menggenang.
"Ammar kembalikan Gana, Pah. Tolong jaga Gana setelah ini."
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1