Gaun Usang

Gaun Usang
Bab 10- Menepis cinta yang belum waktunya


__ADS_3

Lagi-lagi Hayyan teringat senyuman Nayna, Bagaimana mungkin mereka sekarang dekat. Namun, Hayyan mengelak semuanya. Ehm, gue di sekolah ini hanya sementara waktu. Nanti juga akan kembali seperti semula.


Hayyan pun mempersiapkan buat pelajaran besok. Tiba-tiba pintu ada yang memasuki kamarnya Hayyan.


"Nay, loe ngapain ke kamar gue," ucap hayyan tanpa sadar, dia pikir adiknya Leo yang masuk kamarnya tanpa izin.


"Aaaapaaa Nay? Nay itu siapa sayang?" ucap Mama Hayyan.


Hayyan pun menoleh dan terdiam ketika dilihatnya adalah mama nya.


"Heheh, hanya siswa di sekolah kok ma," ucap Hayyan menyembunyikan mukanya dari mama nya.


"Tapi, siswa kamu banyak loe sayang. Masa" cuma ingat Nay aja," ucap mama nya sambil bercandaan dan duduk di kursi.


Hayyan hanya malu-malu dengan mama nya. melihat tingkah anaknya seperti itu, makin dibuat-buat olehnya.


Β "Hayoo, jujur sama mama, Nayna itu siapa? kok bisa menarik perhatian kamu," ucap mama bertanya dengan nada bercanda.


"Argh mama, buat aku malu saja," ucap Hayyan.


Hayyan pun mendorong mama nya untuk keluar kamarnya. Karena Hayyan ingin beristirahat. Mama nya pun pergi dengan senyuman yang lebar dengan tingkah Hayyan yang tak biasa.


Paginya pun Hayyan dan keluarganya sarapan.


"Ciyee, yang tadi pagi di kamar mandi nyebut nama Nayna," ucap Leo menggoda abangnya.


"Iih apaan sih dek, kamu ini ikutan saja urusan orang ya," ucap Hayyan mendengus kesal.


"Udah hayoo makan, Leo kamu kan ikut papa, 5 menit sarapan selesai ya, papa ada rapat pagi ini," ucap papa.


"Siap Pa, ini mau selesai kok, aku pakai sepatu dulu," ucap Leo pergi ke depan langsung menuju mobil papa.


Hayyan kesal bukan kepalang dengan tingkah adiknya yang nyebelin.


"Iih Leo nyebelin, awas aja loe ya," ucap Hayyan mendengus kesal.


"Sudah hayo makan, kamu kan mau magang ke sekolah, nanti telat juga, selesaikan makannya dulu," ucap mama.


Selesai makan, Hayyan pun berangkat setelah papa nya pamitan dengan mama nya.


Matahari pun memperlihatkan senyum indahnya.

__ADS_1


"Morning Vira dan Dila, " ucap Hayyan karena dia bagian penutup pintu pagar sekolah.


"Morning Pak," ucap keduanya.


"Aduuuh bakal telat nie, mana macet lagi jalannya. Nayna pun menelpon temannya, masih ada kah waktu sampai ke sekolah, temannya bilang 30 menit lagi dan yang menjaga pintu depan Hayyan," ucap Vira dalam telpon.


Nayna pun mengambil inisiatif seseorang dengan memakai kostum bersepeda, dia pun meminjam dan orang tersebut diberikan tumpangan dimobilnya. Nay pun menyuruh sopirnya memberikan makanan dan uang untuk orang tersebut, tanpa dia tahu orang di dalamnya.


"Sorry, itu tadi siapa Pak Sopir. Nona kalian ya," ucap Elang yang merasa barangnya di ambil.


"Iya," ucap Pak Sopir.


"Duuh, gue ketemu ke dua kalinya kesialan dengan cewek ini. Gue paling nggak suka berhubungan dengan wanita," gumam Elang dalam hati.


Sepeda yang dikendarai oleh Nayna pun sampai di sekolah tepat 15 menit, dan Elang datang setelah 10 menit selanjutnya. Betapa jengkelnya dia, sepeda nya malah di titipkan dengan Pak Hayyan. Laki-laki yang membuatnya jengkel.


"Bagaimana bisa, kakak ku menyukai laki-laki yang bernama Hayyan ini. Apaan yang disuka darinya," ucap Elang ngedumel dalam hati.


"Thanks Pak sudah menjaga sepeda saya" ucap Elang.


"Kok bisa, sepeda kamu ada di Nayna," ucap Hayyan dengan penuh keheranan.


"Baguslah kalau gitu, Bapak pikir tadi kenapa bisa begitu? yaa sudah masuklah sana," ucap hayyan.


Para siswa belajar seperti biasanya. Hari-hari pun terus berlalu tanpa terasa Hayyan sudah harus menyelesaikan magangnya selama seminggu lagi.


Para siswa yang mengidolakannya bersiap menyiapkan hadiah untuk Hayyan begitupun teman-temannya Nay, hanya Nay yang tidak memberikan hadiah karena dia tidak memiliki waktu membeli hadiah tersebut.


"Ehm, seminggu lagi Pak Hayyan nggak lagi ngajar di sekolah, teman-teman pada kasih hadiah, lah gue masak nggak kasih hadiah juga, malu dunk apa nanti kata orang bisa-bisa dibilanh pelit," gumam Nayna dalam hati.


Dia pun meminta tolong dengan mama nya untuk menghubungi toko jam. Mama nya pun menunjukkan koleksi-koleksinya, akhirnua Nay memberikan jam tangan hitam.


"Buat siapa Nay, biasanya kamu nggak pernah kasih hadiah. Biasanya juga transfer uang kalau temanmu ultah," ucap Mama Nay.


"Kado buat guru magang di sekolah ma," ucap Nay.


Β 


Hari pun berlalu dengan begitu cepat.


"Wah besok perpisahan dengan guru magang nie," ucap Nay.

__ADS_1


Ketika Nay mau berangkat sekolah, tiba-tiba terdengar suara jatuh. Dia pun berlari ke arah sumber, papa nya jatuh terpeleset. Mama dan Nay pun segera mengenderai mobil menuju Rumah Sakit terdekat.


"Papa, jawab Pa. Kamu dengar suara mama nggak," ucap Mama Nay.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat di rumahnya.


Papa nya pun segera di masukkan ke ruang UGD. Nayna pun memeluk untuk menenangkan mama nya. Setelah beberapa jam berlalu, doktef keluar dari ruang UGD. dan menyatakan bahwa pasien baik-baik saja. Hanya ada memar di bagian pelepis kening saja. Mama dan nay pun bernafas lega.


Telpon pun berdering dari ponsel nya Nay.


"Hallo, ini Nay kah. Gimana kabar Papa kamu," ucap Dila bertanya.


"Papa baik-baik saja, kok kamu bisa tahu Dila," ucap Nayna.


"Tadi, kami menelpon mu tapi nggak diangkat. akhirnya telpon rumah, kata bibi yang dirumah Papa mu masuk rumah sakit," ucap Dila.


"Iya nie, kayaknya aku nggak bisa ikut ke sekolah perpisahan dengan guru magang nie, titip salam saja ya," ucap Nayna.


"Oke-oke, iya nie Pak hayyan gelisah lihat kamu nggak hadir dan malah mendengar papa mu masuk rumah sakit," ucap Dila.


"Bisa berikan telponnya dengan Pak Hayyan," ucap Nayna.


"Oke aku berikan sekarang" ucap Dila.


Dila pun memberikan telpon tersebut ke Pak Hayyan. Nayna dan Hayyan pun berbicara dengan panjang lebar. Hayyan pun senang bisa berbicara dengan Nay meskipun tidak bertemu langsung.


"Pak Hayyan, lain kali aja ya. Kado nya aku berikan, sekarang aku nggak bisa ninggalin mama sendirian," ucap Nay.


"Iya nggak apa-apa, jaga aja mama dan papa mu, saya tutup dulu ya," ucap Hayyan.


"Baik Pak, terima kasih," ucap Nayna menutup dan meletakkan ponselnya di dalam tas nya.


Panggilan telpon pun berakhir.


Hari-hari Nayna mulai berbeda tanpa kehadiran Hayyan. Namun, Elang yang malah mengusik hidupnya.


Penasaran...


Tunggu episode selanjutnya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


__ADS_2