
Sampailah di rumah Nayna.
Elang diam seribu bahasa, dia pun turun dan membuka pintu mobil untuk Nayna.
Namun, Nayna tidak bersuara. Hingga Nayna sendiri yang berbicara.
Nayna langsung memeluk Elang dan berkata :
"Terima kasih untuk segalanya, aku janji dalam kondisi apapun, kita akan memberi tahu bahwa Elang adalah kekasihku dan akan menjadi calon suamiku," ucap Nayna.
Elang hanya terdiam saja dan pergi begitu saja. Nayna yang melihat itu menjadi bingung dengan sikap Elang.
"Eelang....," ucap Nayna teriak.
Elang pun membalikkan wajahnya dan bingung harus menjawab apa?
Nayna berlari memeluk Elang sangat lama. Bahkan, Elang tak dapat mengelakkan itu.
"Nayna, kamu kenapa?" Ucap Elang bertanya.
"Maafi aku Elang, aku janji ke depannya kita tak akan berpisah," ucap Nayna terbata-bata.
Elang masih diam seribu bahasa, dia pun harus menjawab karena pikirannya masih kalut.
"Nayna, kamu kenapa? Katakan saja jangan menangis begitu saja," ucap Elang membersihkan air mata dari wajah cantik Nayna.
Nayna pun menangis sesungukan, dia tidak berhenti menangis. Elang tidak bisa mendiamkan, Elang pun bingung harus berbuat apa dengan sikap Nayna yang tiba-tiba saja menangis. Sepanjang bersama Nayna, dia tidak pernah melihat Nayna bersikap begini.
"Nayna, katakan saja berhenti menangis nya, aku bingung dengan sikapmu," ucap Elang.
Nayna pun berhenti menangis karena Elang terus saja membujuk dirinya.
"Baik sekarang mau kamu apa Nayna?" Ucap Elang membujuk.
"Aku mau kamu tidak lagi marah sama aku," ucap Nayna membujuk.
__ADS_1
"Nayna, kami laki-laki juga memiliki perasaan yang sama jika tersinggung, tapi kami lebih memilih memendam karena kami menjaga perasaan pasangan kami, jadi beri aku waktu ya Nayna, aku izin pulang kamu jaga diri ya," ucap Elang.
Elang pun pergi tanpa menoleh sedikit pun ke wajah Nayna. Nayna hanya tertunduk lesu dengan perasaan Elang saat itu. Rasa kecewa dan kesal terpancar dari wajah Elang. Namun, Elang hanya membungkusnya dengan wajah tanpa suara. Wajah tanpa suara itu lebih menyakitkan daripada dia bicara, sehingga Nayna lebih suka jika Elang mengomelinnya.
Namun, jika diamnya kembali kumat. Tidak ada satu kata pun yang akan keluar dari mulutnya.
Malam itu setelah dari Rumah Sakitnya tidak berbicara satu sama lain. Keduanya diam seribu bahasa, bahkan tidak ada sapaan pagi.
Elang yang biasa menyapanya di pagi hari hilang tanpa suara. Nayna menelpon pun tidak aktif sama sekali. Bahkan, Nayna ke kampus Elang pun mengatakan dia tidak ke kampus hari itu.
Nayna bingung akan keberadaan Elang berada dimana?
"Elang berada dimana kah dirimu sekarang?"
"Apa yang harus ku perbuat akan dirimu muncul di permukaan?"
Nayna terus mencari dengan menelpon terus. Tapi nihil tidak di angkat bahkan tiba-tiba mati.
Selama 3 hari Nayna tidak mendapati kabar Elang. Elang pun tidak ada dimanapun. Bahkan, di rumah hanya pelayan yang biasa membersihkan rumah itu sendirian tanpa ada Elang di rumah itu.
Belum lagi dia juga harus menjenguk Hayyan. Hayyan yang masih perlu mengembalikan ingatannya kembali meski perlahan harus dilakukannya kontinu.
"Kembali lah Elang, aku merindukanmu, sangat merindukanmu," gumam Nayna dalam kerinduannya yang sangat berat.
Tiga hari pun sudah berlalu, bahkan sudah seminggu mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Pikiran Nayna sudah kemana-mana meskipun dia harus berbagai waktu, namun pikirannya masih ke Elang. Entah, dimana keberadaan Elang. Nayna, hanya berharap Elang kembali dari tempat persembunyian.
Hal yang dilakukan Nayna selama tidak ada Elang, kuliah, menjenguk Hayyan dirumah sakit dan mencari keberadaan Elang.
Keberadaan Elang....
Ternyata Elang jatuh sakit karena sebuah kecelakaan setelah dia mengantar Nayna. Tiada yang tahu atas kecelakaan, namun tanpa sengaja Nayna curhat dengan Sheila. Hingga Sheila mengatakan sesuatu yang harusnya dijadikan rahasia.
"Sheila saya sudah seminggu mencari keberadaan Elang, tapi tidak ditemukan keberadaannya, aku benar-benar pusing dengan keadaan ini, aku selalu terpikir ke dirinya, takut terjadi apa-apa dengannya?" Ucap Nayna dengan wajah sedih.
"Ohw begitu yaa Nay, apakah kamu benar-benar tidak tahu keberadaan Elang?" Ucap Sheila bertanya.
__ADS_1
"Sudah seminggu aku mencarinya kemanapun, tidak ada yang mengetahui nya, bahkan wanita paruh baya di rumahnya yang suka bantu berespun tidak tahu keberadaan Elang," ucap Nayna sedih dan bingung.
Sheila hanya diam seribu bahasa, bahkan dia bingung harus berkata jujur atau tidak. Hingga hatinya pun berbicara dengan sesungguhnya.
Tapi lagi-lagi dia sudah berjanji dengan Elang dan Redy untuk tidak mengungkapkan ke Nayna. Karena Elang tidak mau membuat Nayna khawatir tentang dirinya. Cukup Nayna berpikir untuk Hayyan saja.
Sheila pun mendekati Nayna dan berbicara dengan lirih.
"Nayna, aku mau mengatakan sesuatu tapi janji denganku untuk tidak mengungkapkan bahwa aku yang mengatakan nya," ucap Sheila berkata lirih.
"Baiklah, aku berjanji maka katakan saja dengan jujur Sheila," ucap Nayna memegang tangan Sheila.
"Nay, sebenarnya Elang mengalami kecelakaan dia berada di rumah sakit selama seminggu, dia sengaja tidak mengatakan ke kamu, karena dia berpikir kamu harus berfokus ke Hayyan yang tengah membutuhkan bantuan mu," ucap Sheila berbicara serius.
"Apaaa?" Ucap Nayna terkejut.
"Iya Nay, maaf aku tidak menghubungi mu selain aku sibuk dengan perkuliahan dan juga sibuk dengan usaha konveksi ku, jadi baru sekarang bisa bertemu denganmu, maafkan aku Nayna," ucap Sheila meminta maaf.
"Iyaa aku maafkan Sheila, bisakah kamu memberi tahuku dimana rumah sakit nya," ucap Nayna bertanya dengan Sheila.
"Kalau begitu kita ke rumah sakitnya saja yaa, karena aku belum berkunjung hari ini, dan aku berharap kamu tahan emosimu jangan memerahi Elang ya, karena selama ini aku dan Redy yang membantunya," ucap Sheila menarik tangan Nayna untuk mencari taxi menuju rumah sakit tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Tampak dia melihat Redy dan Elang tengah berbicara, namun pembicaraan mereka terpotong saat melihat sesosok Nayna dihadapannya.
Nayna tidak tahan lagi dengan kerinduannya. Dia pun memeluk Elang dengan erat. Elang hanya diam membisu dan memberi kode kepada Redy untuk pergi. Redy pun pergi keluar ruangan tersebut.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kecelakaan?" Ucap Nayna menangis.
"Maaf Nay, saat kecelakaan kita sedang bertengkar dan aku tidak ingin kamu memarahi ku kembali, mana juga kondisi Hayyan lebih penting dari aku, jadi aku lebih mementingkan Hayyan daripada diriku sendiri," ucap Hayyan mengusap air mata Nayna dengan jemarinya.
"Hayyan sudah membaik perlahan, pikiranku hanya tertuju ke kamu Elang, jangan lagi lakukan hal ini kepadaku, aku sungguh merindukanmu dan hanya memikirkan mu," ucap Nayna masih menangis.
"Baiklah Nayna aku tidak akan mengulanginya lagi tapi kamu juga berhenti yaa menangisnya," ucap Elang kembali menghapus air mata di wajah Nayna.
Keduanya pun kembali bahagia. Nayna dan Elang saling berpelukan dalam kerinduan.
__ADS_1
πππππ