Gaun Usang

Gaun Usang
Masa lalu


__ADS_3

Joe pun menunggu Yea di rumahnya, saat dia menunggu papa nya Yea datang menyapanya.


"Hai, kamu Joe yaa teman anakku," ucap papa Yea.


"Iya oom, kenalkan saya Joe," ucap Joe memperkenalkan diri.


"Baiklah, salam kenal Joe, hayoo duduk kembali, ohya Joe sudah berapa lama kamu mengenal anak saya," ucap papa Yea.


" Ehm baru beberapa Minggu oom, karena kami beda kampus," ucap Joe menjawab.


"Ohw begitu, oom titip Yea yaa Joe, dia ini jarang sekali bicara, sejak kembarannya meninggal dia menjadi pribadi yang menutup diri, padahal dulunya anak yang paling ceria, istriku Seorang dokter jadi dia sibuk dengan pekerjaannya, dan aku seorang pemusik ketika di panggil akan datang, jadi Yea tidak dekat dengan siapapun, pas masa kuliah dia hanya menyebutkan Nayna sebagai sahabat dekatnya, itu pun baru beberapa bulan dia menyebutkan nama tersebut," ucap papa Yea.


"Iya om bener banget, Yea berteman dekat dengan Nayna, dan Nayna adalah teman dekat ku," ucap Joe menjelaskan.


Ketika Joe dan Papa nya Yea berbicara, datanglah Yea.


"Ayoo Joe kita berangkat," ucap Yea bicara dengan Joe.


Joe pun berpamitan dengan papa nya Yea. Yea pun berpamitan dengan papa nya. Keduanya pun berangkat dengan menggunakan mobil Joe. Diam sunyi di dalam mobil tersebut, hingga beberapa menit Joe pun bicara.


"Ohya Yea, nanti setelah ke bioskop kamu mau nya kemana?" ucap Joe bertanya sambil fokus mengemudi.


"Ke toko buku saja, ada yang mau aku lihat di sana," ucap Yea gugup berbicara dengan Joe.


"Hihihi, kenapa Yea kok kamu terlihat kaku, padahal seperti biasanya, kamu tidak kaku begini, kenapa ya?" ucap Joe bertanya sambil tersenyum.


"Heheh, nggak sih aku baik-baik saja sekarang tapi ini pertama kali aku berjalan dengan laki-laki dan papa membolehkan, karena kamu izin langsung dengan papa, makanya papa memberi izin," ucap Yea menjawab.


"Ohw oke lah kalau begitu, aku pikir kenapa kamu kaku bicaranya," ucap Joe menjawab.


Yea hanya tersenyum dengan sikap Joe. Joe pun begitu dia pun tersenyum dengan sikap kaku Yea. Keduanya pun kembali terdiam satu sama lain.

__ADS_1


Sesampainya di mall, mereka pun memarkirkan mobil mereka. Setelah selesai mereka pun menuju ke bioskop yang dituju.


Joe pun mengantri untuk pengambilan tiketnya. Setelah selesai beberapa menit yang lalu, Joe pun mengajak Yea menuju ruang bioskop.


Setelah mereka sampai di ruang tersebut. Lagi-lagi keduanya sama-sama terdiam. Entah kenapa dengan Yea, Joe seakan-akan tidak bisa bertindak berlebihan karena wanita yang di sampingnya benar-benar terlihat masih kaku dengan seorang laki-laki, maka baginya memberikan kesan yang baik buat Yea.


Mereka pun usai menonton, dan keluar dari ruang bioskop.


"Yea, kita makan dulu Yook," ucap Joe berusaha berbicara dengan Yea yang tengah melamun.


Tiba-tiba Yea memegang lengan Joe seperti ketakutan.


"Yea, kamu fine kan, coba bilang mengapa kamu seperti ketakutan?" ucap Joe penasaran.


"Enggak apa-apa kok Joe, aku nggak suka keramaian, aku takut nanti aku hilang," ucap Yea masih memegang lengan Joe.


"Yaa sudah kamu pegang lengan ku aja, kita cari teman makan yang agak sepi yaa, bisa kmau ceritakan nanti," ucap Joe memberikan ketenangan Yea.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju tempat resto yang di tuju. Yea pun langsung duduk ditempat sebuah ruangan yang hanya dua orang saja.


Joe pun sudah memesan sesuai dengan keinginan Yea. Keduanya pun mulai berbicara.


"Yea ceritakan saja, kalau memang kamu mau bercerita," ucap Joe membujuk.


"Ohya baiklah aku cerita, tapi nunggu minum dulu ya," ucap Yea menjawab.


Makanan dan minuman pun tersaji,pelayan baru saja datang. Yea pun meminum dan memakan sebentar, agar memiliki energi untuk cerita.


Yea pun memulai ceritanya.


Saat aku berusia 10 tahun masa' itu orang tua ku mengajak aku ke sebuah taman bermain. Aku sangat bahagia kala itu, bahkan tiada yang lebih bahagia dari aku, hari itu mama izin ke kamar mandi karena kebelet pipis. Sedangkan papa menerima telpon kala itu di sampingku. Karena aku aktif sehingga aku meninggalkannya papa ku yang sedang menelpon sebab aku paling suka mencandainya.

__ADS_1


Aku pun mencari tempat persembunyian. Tanpa di duga ada seorang wanita yang langsung saja membawa ku, aku pun terus saja berteriak hingga suara ku hampir habis.


Wanita paruh Bayah yang menculik mengatakan kalau itu anaknya yang hilang. Semua orang percaya dengan wanita tersebut, hingga aku tidak mampu untuk berbicara kembali.


Tiba lah aku pada sebuah rumah yang sederhana, aku diperlakukan dengan sangat baik. Wanita tersebut hidup sendirian, bahkan tetangganya tidak berani berbicara dengannya.


Saat mereka tahu anaknya ditemukan tetangg pun lega, karena wanita paruh baya itu tidak akan mengancam warga lagi atas kehilangan anaknya.


Aku pun terus menangis dan dia lagi-lagi membujukku dengan sangat manis. Awalnya aku tergoda dengan perhatiannya, hingga aku sudah seminggu hidup di dalam rumahnya.


Aku pun merindukan suara mama dan papa, hingga aku selalu berdoa agar segera kembali kepada mereka.


Bulan pun berlalu, aku sudah lama hidup disana, hanya di sebuah kamar yang cukup untuk diriku. Hingga aku terus mengamati foto anaknya, dan melihat foto-foto anak wanita paruh baya tersebut.


Namun, lagi-lagi aku merasa kasian dengannya. Hingga suatu saat wanita paruh baya tersebut mengamuk sendiri di luar kamar ku. Aku pun mengunci pintu kamar ku dengan menggunakan kursi, sedangkan jendela tidak pernah dibuka sama sekali.


Hingga wanita paruh baya tersebut menggedor pintuku.


Saat aku ketakutan, aku mengingat ponsel yang terjatuh di kamar tersebut.


Aku pun mencarinya, saat ku temui ponsel tersebut masih memiliki daya baterai 70% karena selama ini di silent, aku pun berinisial memberi tahu polisi karena nomor ponsel orangtuanya lupa tidak tersave di ponsel tersebut karena baru dibeliin.


Karena aku sudah seharian di kamar tersebut tanpa ada pencahayaan dan makan, aku pun jatuh pingsan.


Hingga tiba-tiba aku terbangun sudah berada di Rumah Sakit dan dalam pelukan papa dan mama. Aku pun saat itu sulit berkata-kata, melihat wajah cantik mama penuh dengan guratan di wajahnya.


Aku pun mengelus tangan papa dan mama. Seketika mereka bangun dan langsung memelukku.


Karena trauma itu lah, aku tidak suka dengan keramaian. Sebab itu lah aku tidak pernah mempublish orangtuaku, trauma itu membuatku berdiam diri dalam cangkang ku. Hingga kehadiran Nayna bagai cahaya bagiku, bukan hanya seorang sahabat tapi persaudaraan yang melebihi segalanya.


πŸπŸ’πŸ’πŸ’πŸ

__ADS_1


__ADS_2