
#Biaskan setelah membaca like dan comment ya, terima kasihπ€
Next.
Elang pun menjaga Nayna dengan sangat telaten, bahkan omelan Elang melebihi mama nya. Nayna terus menatap Elang, dia tidak menyangka lelaki yang dulu nya sempat dia khawatir kan masa depannya, adalah lelaki yang selalu bersama nya di saat sulit.
Hingga dering ponsel Elang pun berbunyi dari sekretariat nya.
π±"Hallo Pak, bisakah kita bicara sebentar," ucap sekretaris nya.
Elang yang merasa Nayna kepo, dia pun meminta sekretaris nya untuk menampakkan wajahnya.
π±"Bisa, silahkan Deni katakan yang ingin kamu sampaikan," ucap Elang sambil melihat ke sampingnya.
π±" Baik pak, akan saya sampaikan," ucap Deni mulai presentasi.
"Oh sekretaris nya laki-laki, ehm kok video call, apakah karena aku melihat Elang dari tadi?" ucap Nayna dalam hati.
π±"Oke bagus Deni, perbaikannya tunggu 30 menit ya, oh ya Deni, perkenalkan ini calon istri saya," ucap Elang memperlihatkan Nayna yang tengah bingung.
π±"Hay Deni, saya Nayna," ucap Nayna tersenyum.
π±"Oke cukup ya Deni kamu melihat senyum calon istriku, nanti saya hubungi kamu kembali," ucap Elang.
π±"Siap pak, saya izin mematikan ya pak,," ucap Deni.
π±"Oke," ucap Elang mematikan lebih dulu.
Elang pun memandang Nayna dengan intens, Nayna menundukkan pandangan, takut di omelin oleh Elang.
"Kenapa kamu takut kalau sekretaris ku itu wanita?" ucap Elang bertanya pada Nayna.
"Ehm itu, ehm nggak kok, aku hanya penasaran saja tadi," ucap Nayna serba salah
"Ya ampun Nayna, tinggal bilang saja, kan kamu yang meminta ku jadi calon suami mu, aku udah perkenalkan kamu malah tidak menjawab nya," ucap Elang pura-pura kecewa.
"Ehm iya-iya, aku cemburu kalau sekretaris mu wanita, untung tadi itu laki-laki," ucap Nayna menjelaskan.
"Nah gitu dong, Deni itu sepupu aku, orang tua nya meminta agar anaknya bekerja, sebab kerjaan Deni berjualan online, dan ternyata skill nya bagus sekali, jadi malam dia online pagi sampai sore kerja di perusahaan," ucap Elang menjelaskan.
"Oh begitu," ucap Nayna menjawab.
"Aku panjang lebar jawaban kamu hanya oh begitu saja," ucap Elang kecewa.
"Hihi, karena aku cukup mengenal kamu seorang, yang lain aku cukup mendengarkan nya saja, tidak mau lebih dari itu," ucap Nayna menatap wajah Elang.
Elang salah tingkah di tatap Nayna, Elang pun tersedak karena tatapan Nayna. Elang pun pergi ke kamar mandi beralasan ingin ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aduh, kenapa aku bisa salah tingkah sih gara-gara ulah si Nayna, padahal Nayna hanya menatapku saja, emang sih tatapan nya membuat ku nyaman, ih rasanya mau aku cubit kalau nggak sakit," ucap Elang tersenyum.
Nayna pun memikirkan hal sama, dia pun salah tingkah dengan sikapnya, sehingga Nayna pun hanya mampu tersenyum sendiri di tempat tidurnya.
Hingga Elang pun keluar dari kamar mandi dan masih melihat sikap Nayna yang begitu menggemaskan membuat Elang semakin leleh. Hingga ketegangan mereka hilang, ketika seorang suster masuk untuk memeriksa kondisi Nayna.
"Permisi ya, saya akan periksa pasien dulu," ucap perawat tersebut.
"Baik silahkan," ucap Elang mundur.
Perawat tersebut pun memeriksa Nayna, setelah selesai dia pun membereskan barangnya dan pergi begitu saja.
Elang pun membuka pembicaraan.
"Nayna, saat kita istirahat ya, besok semoga kamu kembali sehat ya, aku tidur di sofa," ucap Elang kembali ke sofa.
"Ehm itu, komentar tentang tugas kantor mu tadi gimana?" ucap Nayna bertanya.
"Ini baru mau aku tuliskan," ucap Elang tersenyum.
Nayna pun hanya mengangguk dan tersenyum begitu saja, sedangkan Elang melanjutkan kembali tugasnya untuk mengoreksi presentasi sekretaris nya.
Setelah selesai Elang pun mengirimkan ke sekretaris nya, dan dia pun rehat setelah melihat kondisi Nayna.
Nayna tiba-tiba terbangun di tengah malam, saat mau turun dari ranjang dia malah terjatuh.
"Bruk," bunyi tubuh Nayna terjatuh.
"Ya ampun Nayna, hayo bangun kamu mau kemana?" ucap Elang memegang Nayna.
"Aku mau ke kamar mandi, mau pipis," ucap Nayna dengan wajah merunduk.
"Oke ayok aku antar saja, aku tunggu di luar, kamu bisa lepas sendirian kan," ucap Elang bertanya.
"Bisa kok, aku akan ke kamar mandi," ucap Nayna perlahan.
Nayna terdiam karena dia bingung harus bagaimana, dia pun meminta Elang.
"Elang bantu aku buka klosetnya," ucap Nayna.
"Tunggu sebentar ya, aku bantu membukanya, terus sudah kan kamu bisa kan," ucap Elang bertanya.
"Ehm bantu turunkan celana ku, tapi mata mu di tutup," ucap Nayna.
"Iya tunggu sebentar, aku cari kain dulu," ucap Elang keluar kamar mandi dan mendapatkan kain untuk menutup matanya.
Nayna pun memegang tangan Elang, dan membantu nya. Setelah itu Nayna pun mulai pipis, Elang hanya memalingkan wajahnya padahal kondisi matanya sudah tertutup.
__ADS_1
"Hayo Elang kita keluar," ucap Nayna.
"Tunggu sebentar, celana kamu sudah pas kayak semula kan," ucap Elang bertanya masih posisi matanya di tutup.
"Belum Elang," ucap Nayna dengan terbata-bata.
"Oke, aku bantu ya, sekarang arahkan saja," ucap Elang mengatakan.
Elang pun membantu dengan arahan tangan dari Nayna. Setelah selesai Nayna pun mengarahkan Elang untuk keluar dan membuka kain di matanya.
Tanpa sengaja keduanya saling beradu ketika Nayna membuka kain di mata Elang. Hanya beberapa menit saja keduanya salah tingkah dan mengalihkan pandangan mereka.
Nayna kembali ke tempat tidurnya dengan sikap yang malu-malu yang sama terjadi dengan Elang, hingga ketegangan keduanya hilang atas kedatangan seseorang yang tak di kenal.
"Maaf apakah benar ini kamar Reyna," ucap lelaki tersebut.
"Bukan, di ruangan ini namanya Nayna dan dia calon istri saya," ucap Elang menatap sinis lelaki tersebut.
"Oh salah, maaf permisi ya," ucap lelaki tersebut berlalu saja.
Nayna pun sangat ngantuk hingga dia tertidur, Elang yang belum bisa tidur menatap ponselnya melihat pertandingan bola online.
"Gol," teriak Elang.
"Aerreghh," teriakan Nayna, Elang pun langsung mendekati Nayna.
"Sayang kamu mimpi lagi, katakan sayang," ucap Elang khawatir.
"Elang, tolong bantu Reyna, dia ingin di celakai oleh pria tadi sayang," ucap Nayna ketakutan.
"Ya sudah aku akan cari, kamu di sini saja ya sayang," ucap Elang.
Nayna hanya mengangguk saja, Elang pun meminta Nayna untuk tidak keluar kemanapun.
Benar, yang dikatakan Nayna hal itu pun terjadi. Di ruangan pasien tersebut terjadi sebuah insident, beruntung nya masih ada yang terjaga.
"Reyna, kamu harus gugurkan anak itu," ucap lelaki tersebut.
"Tidak, aku akan mempertahankan anak ini," ucap Reyna.
Seseorang yang berada di dekatnya mencoba membantu, tapi belum bisa karena lelaki tersebut memakai senjata. Elang yang pelan-pelan dan sudah sampai di dekat lelaki tersebut langsung membungkuk hingga bisa mendapatkan lelaki tersebut.
Meskipun.
"Bret," darah mengalir di lengan Elang.
Keamanan pun datang dengan sigap menangkap pria tersebut dengan bantuan Nayna. Nayna yang melihat Elang langsung teriak dan menangis, dan Elang pun di periksa oleh dokter.
__ADS_1
πππ
Bersambung π