
Ravan terus saja mengusik Nayna selalu saja mencari kesempatan untuk mendekati Nayna. Meskipun Nayna tidak memperdulikan nya bahkan mencaci dirinya, Ravan tetap saja menganggu Nayna. Hingga suatu hari Nayna tidak tahan dengan sikap Ravan.
"Ravan jam 2 siang kita bertemu di cafe love star," ucap Nayna dengan wajah yang ditekuk.
"Oke baiklah, sampai ketemu sayang," ucap Ravan dengan senyum indahnya.
Cafe Love tempat favorit Nayna dengan Ravan kala itu ,sengaja tempat itu dipilih karena ada sesuatu yang disampaikan oleh Nayna kepada Ravan.
Nayna pun sampai lebih dulu.
"Mba tolong menu nya," ucap Nayna.
Nayna pun menyuruh Ravan untuk memilih menu tersebut. Setelah memesan menu, Nayna menyuruh Ravan untuk fokus ke dirinya saat ini. Ravan pun mensilent ponselnya agar bisa fokus yang dibicarakan oleh Nayna.
"Oke Nay, saya akan mendengar semua keluhan mu padaku, yang penting kita bisa bersama seperti saat ini," ucap Ravan tersenyum ramah.
Nayna pun menceritakan semua keluhannya. Dari mereka jadian hingga berakhirnya Nayna memutuskan melupakan Ravan. Ravan hanya tertunduk diam mendengar semua cerita Nayna, seolah-olah Ravan malu menunjukkan wajahnya kepada Nayna.
Nayna meluapkan semua emosi nya yang sudah bertahun-tahun di pendam nya, sehingga ibarat gunung sudah meletus mengeluarkan abu vulkanik begitu lah perumpamaan emosi Nayna saat ini.
Ravan tertunduk diam atas semua keluhan Nayna. Hingga minuman dan makanan yang mereka pesan sudah tiba, membuat Ravan tidak memiliki nafsu untuk meminum yang dipesan.
"Ravan, minum saja yang dipesan. Kenapa malah kamu lebih banyak diam?" bukankah keinginan kamu untuk berbicara dengan aku berdua itu kemauan lama kamu," ucap Nayna panjang lebar.
Ravan pun meminum yang sudah disajikan. Ravan tiada ucapan satu pun yang disampaikannya bahwa dia memiliki alasan atas semuanya. Namun, alasan Ravan akan percuma jika Nayna sudah membenci dirinya.
"Ravan bicaralah, kenapa kamu diam saja?" ucap Nayna dengan nada kesal.
"Jika seseorang sudah membenci kita, fakta apapun yang akan membuktikan itu tidak ada artinya lagi," ucap Ravan berbicara datar.
"Ehm meskipun begitu kamu harus bilang fakta yang sebenarnya, agar kesalahpahaman kita bisa diketahui, setidaknya aku tahu fakta yang sesungguhnya," ucap Nayna.
"Terima kasih Nayna atas waktu hari ini, aku bahagia bersama kamu hari ini meskipun bukan hari yang baik dan saya izin pamit duluan semoga kamu bahagia," ucap Ravan berdiri untuk pergi.
"Ravan, kenapa kamu pergi tanpa memberikan penjelasan yang benar, aku benci dengan kamu Ravan, jangan sampai aku tahu kebenaran ini, dan hanya aku wanita bodoh yang mencoba menganiaya sikapku atas sikapmu sekarang, maka katakan faktanya!!" ucap Nayna mulai kesal.
__ADS_1
Ravan tidak mendengarkan semua obrolan terakhir Nayna, sedikitpun di hati Nayna tidak ada kata maaf bahkan menaruh kebencian yang tiada tara buat dirinya.
Ravan pergi tanpa mengungkapkan kebenaran dibalik dirinya tidak ada kabar. Dia pun menelpon anak buahnya untuk memesan tiket malam nie. Ravan akan meninggalkan Indonesia setelah sebulan berada disini, tiada hal lagi yang bisa dilihat di Indonesia.
Flashback
Ravan meninggalkan Nayna tanpa satu kata karena sebuah penyakit anemia, saat itu Ravan tidak sempat mengabari Nayna. Bahkan orangtuanya hanya memikirkan kesembuhan Ravan.
Pengobatan serta penyembuhan untuk Ravan lumayan lama. Bahkan Ravan hanya bersekolah di rumah saja. Ravan hanya boleh berada di lingkungan rumahnya selama 3 tahun di Austria. Selama itu juga Ravan menuliskan semua kegiatannya di Buku Diary dan mengenang kenangan bersama Nayna. Ravan tidak melupakan Nayna namun butuh fisik yang kuat untuk menghadapi Nayna.
Ternyata setelah bertahun-tahun tidak bersama Nayna, Nayna sangat membenci Ravan. Ravan tidak gentar ketika di tolak Nayna, namun setelah mereka berbicara berdua Ravan tak ingin mengungkapkan kebenaran atas kepergiannya kala itu. Ravan lebih memilih kebahagiaan Nayna daripada dirinya. Penderitaannya tidak sebanding dengan penderitaan Nayna.
Ravan pun paham dengan kondisi Nayna. Dia lebih memilih meninggalkan Nayna untuk kebahagiaannya. Meskipun sakit itu lebih terasa saat Nayna mengungkapkan perasaannya setelah bertahun-tahun. Ravan tersenyum sekaligus sakit hati karena Nayna bisa mengungkapkan perasaannya setelah bertahun-tahun.
Ravan pergi dengan hati yang tenang meninggalkan Nayna. Setidaknya sesuatu yang harus didengarnya dari tahun sebelumnya sudah di dengarnya.
"Aargh, akhirnya lega hati ini," ucap Ravan menghembuskan nafasnya dengan tenang.
Nayna tidak berhenti begitu saja, dia berlari mengejar Ravan sedangkan mobilnya sudah melaju cukup jauh. Nayna terus saja berteriak, sesaat Ravan melihat kebelakang.
"Tolong mundurkan mobilnya," ucap Ravan.
Sopirnya pun memundurkan mobil mereka, sampai di tempat Nayna terjatuh.
"Nay, kamu kenapa?" ucap Ravan turun dari mobilnya.
Nayna pun menangis dan dia pun jatuh pingsan. Ravan pun segera membawa Nayna ke rumah sakit terdekat, saat dilihatnya ponselnya Nayna sudah mati.
"Nayna, please sadarlah besok aku harus kembali ke negara ku, kamu jangan sampai sakit," ucap Ravan khawatir.
"Hayoo Pak, cepatan aku khawatir dengan kondisi Nayna," ucap Ravan.
Ravan pun terus mencari kontak orang tua Nayna, dan ketemu dia pun menelpon papa nya Nayna.
π"Iya oom, tolong segera ke sini yaa om," ucap Ravan.
__ADS_1
π"Baik Ravan, terima kasih ya," ucap papa Nayna.
Panggilan pun terputus
"Ma, hayoo kita ke rumah sakit, Nayna pingsan lagi dia di bawa Ravan ke rumah sakit," ucap papa Nayna.
"Jangan papa yang menyupir, kita suruh supir pribadi kita saja, papa ceritakan yang terjadi," ucap mama Nayna.
Papa Nayna pun menceritakan semua. Mama Nayna pun terkejut.
"Kenapa papa tidak memberi tahu Nayna? tentang sakit yang dialami Ravan," ucap mama Nayna kesal terhadap suaminya.
"Itu rahasia ma, orangtuanya dan Ravan sendiri tidak ingin Nayna tahu," ucap papa.
"Argh, kita harus menjelaskan kesalahpahaman ini pa, mereka berdua tidak harusnya saling membenci, meskipun Nayna kala itu kondisinya tidak baik, tapi jika di ungkapkan sekarang bisa jadi lebih baik kan," ucap mama Nayna.
Mobil pun melaju dengan cepat sampai rumah sakit. Nayna pun segera di periksa, dokter menyatakan kalau Nayna hanya kelelahan saja.
Ravan pun menjaga Nayna, saat itu Nayna terbangun buat sesaat, dia pun melihat kondisi Ravan, dan kembali pura-pura tidur dan mendengar sebuah percakapan.
"Iya ma, Ravan baik kok, tidak bisa ma, Nayna sangat membenci Ravan, tidak ada kesempatan untuk mengatakan kebenaran nya, jadi biarkan saja Nayna membenci Ravan sesuai keinginannya, iya ma terima kasih," ucap Ravan mematikan panggilan tersebut.
"Ehm, rahasia apa yang coba di simpan oleh Ravan selama ini," gumam Nayna dalam hati.
Beberapa saat kemudian orangtua Nayna pun datang.
Mereka pun bertemu dengan Ravan.
"Ravan, Tante sarankan, ceritakan saja langsung kejadian mu di masa lampau pada Nayna, agar dia tidak salah paham lagi," ucap mama Nayna.
"Maaf Tante aku harus pulang, Nayna sudah ada yang jaga, Ravan pamit pulang," ucap Ravan pergi.
Ravan pun pergi dari ruangan tersebut.
π·π·π·π·π·
__ADS_1