
Ferdy mengajak Luthfan untuk berbicara ditaman. Lelaki itu berdiri membelakangi Luthfan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sementara Luthfan berdiri dibelakang Ferdy sambil memejamkan mata.
"Apa kamu sudah tau maksud saya mengajak kamu bicara berdua saja?" tanya Ferdy menatap lurus.
"Maaf Pa, apa soal hubunganku dengan Hasna?" tanya Luthfan mencoba menebaknya.
"Tepat sekali!" ucap Ferdy tegas. "saya ingin kamu menjauhi anak saya dan jangan pernah untuk menampakkan diri di hadapannya lagi." lanjut Ferdy dengan memutar badan. Dan kini keduanya saling berhadapan.
"Maaf Pa, aku tidak bisa." jawab Lutfhan menunduk.
"Kenapa tidak bisa? Apa alasanmu untuk tetap bertahan dengan anak saya? Bukankah alasan kamu menikahi anak saya, lantaran ada anak kamu di dalam perutnya? Lalu. Anak itu sekarang sudah tidak ada. Jadi tolong, turuti perintah saya." ujar Ferdy penuh penekanan.
Bukannya apa Ferdy berucap demikian, lantaran dirinya sendiri belum menerima Luthfan sebagai menantunya. Ia berfikir, semua yang di alami sang anak, karena gara-gara Luthfan. Padahal jika ditelisik lebih jauh. Hasna lah yang memulai perpecahan dari dulu.
"Maaf Pa, Papa tidak bisa seenaknya saja sama aku. Dia itu istriku." balas Luthfan mengangkat wajah, menatap lelaki berperawakan tinggi yang sedang menatapnya juga.
"Ceraikan anak saya." sentak Ferdy membuat Luthfan tercekat dan matanya pun terbelalak.
"Pa, Hasna sedang sakit, bahkan dia kritis, Papa sudah tau itu. Tapi kenapa Papa malah berbicara seperti itu. Bukan malah fokus untuk kesembuhan Hasna." papar Luthfan sudah mulai berani. Karena dirinya tidak tau harus ngomong seperti apa lagi.
"Kamu berani ngatur saya?" tantang Ferdy menatap tajam.
"Bukan itu maksud aku Pa." Luthfan menggeleng.
"Lalu apa? Bahkan harusnya kamu itu sadar, semua yang Hasna alami, itu semua gara-gara kamu Luthfan. Gara-gara kamu." bentak Ferdy di akhir kalimat. Membuat Luthfan kembali menunduk.
"Maafkan aku Pa, aku juga sadar. Ini semua gara-gara aku." lirih Luthfan.
"Pokoknya, saya gak mau tau, jauhi anak saya, dan cepat ceraikan dia." ucap Ferdy, lalu melangkah pergi.
"Maaf Pa, saya tidak akan menceraikan Hasna, jika bukan Hasna sendiri yang meminta." kata Luthfan menoleh menatap punggung Ferdy. Dan Ferdy pun juga menoleh ke belakang.
"Saya pastikan. Jika anak saya sadar, Hasna pasti akan meminta cerai dari kamu." tunjuk Ferdy. Lalu kembali melangkah meninggalkan Luthfan.
Luthfan memejamkan matanya. Entah kenapa dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin mempertahankan Hasna dan tidak mau menceraikannya. Padahal ia sendiri belum memiliki rasa, pun ayah mertuanya memang benar, ia menikahi Hasna lantaran sebuah tanggungjawab, karena ada sang anak yang tumbuh di rahim Hasna.
"Papa darimana saja?" tanya Widya beranjak dari duduknya.
"Aku ada urusan sebentar. Tidurlah! Ini sudah malam. Ayo kita duduk. Dan kamu tidur dipangkuanku." ajak Ferdy menuntun sang istri untuk duduk, lalu Widya pun tidur dipangkuan suaminya. Mereka pun akhirnya tertidur diatas kursi didepan ruangan Hasna. Dengan posisi, Ferdy duduk menyandar dan Widya sendiri tidur dipangkuan Ferdy.
***
Suara ayam berkokok dari ponsel milik Ajeng, membuat suami istri itu terbangun dengan masih posisi semula. Ajeng membelakangi suaminya. Sedangkan Abian sendiri memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Sayang, kamu miara ayam ya?" tanya Abian dengan suara malas lantaran masih ngantuk.
"Itu alarm Mas." jawab Ajeng pelan. Menit kemudian, Ajeng kembali mendengar dengkuran halus dari belakang. Ya, suaminya kini tengah terlelap kembali. Kemudian Ajeng memutar badannya dan meringkuk menghadap suaminya.
"Entah kenapa, aku semalam marah banget sama kamu Mas, padahal kamu pun tak punya salah sama aku." ucap Ajeng sambil mengelus bulu-bulu halus di pipinya. "Maafin aku." lirihnya. Perlahan, ia mengecup bibir sang suami. Lalu Ajeng pun bangun dan turun dari kasur, setelah itu masuk kedalam kamar mandi.
Sementara Abian kembali terjaga, ia pun terkejut karena sang istri tidak ada disisinya.
Kemudian suara derit pintu kamar mandi terbuka. Abian menatap Ajeng yang keluar dari sana.
"Sayang, aku kaget banget, tiba-tiba kamu sudah tidak ada di tempat tidur." ucap Abian bangkit dan mendekati istrinya.
"Aku kebelet tadi." kata Ajeng.
"Yasudah, kita tiduran lagi yuk sambil menunggu adzan subuh. Masih jam empat pagi. Ini." ajak sang suami.
Ajeng menghambur memeluk suaminya. "Maafin aku Mas, semalam aku marah-marah gak jelas sama kamu."
"Iya sayang, Mas paham, mungkin itu efek dari kehamilan kamu. Kita cek kandungan ke dokter ya nanti."
"Iya Mas."
Keduanya pun kini sudah berada diatas kasur. Dengan saling berdiskusi apa saja sambil menunggu waktu subuh. Padahal Abian sendiri sedang dalam mode ON, namun dirinya takut kenapa-napa pada kehamilan istrinya. Maka ia akan tanyakan hal itu nanti pada dokter.
Pagi sekali, tim dokter kembali di sibukkan oleh pasien bernama Hasna. Lantaran kondisi detak jantungnya tiba-tiba melambat. Terlihat dari layar monitor. Membuat Ferdy meninju tembok dan akhirnya menangis. dengan perlahan Ferdy pun duduk diatas lantai sambil menyandar.
Luthfan sendiri terus memikirkan cara bagaimana agar bisa mendapatkan donor darah untuk istrinya. Lantas ia pun keluar dari rumah sakit dengan sedikit berlari. Bertujuan ingin mencari pendonor darah untuk istrinya, berharap ia pun bisa menemukannya. Langkah pertama, ia akan ke kantor PMI terlebih dahulu.
Setelah kepergian Luthfan. Kemudian muncul lah mobil milik Abian memasuki halaman rumah sakit. Ya, mereka akan memeriksa kandungan Ajeng dirumah sakit yang sama dengan Hasna.
Mereka pun turun dari mobil. Lalu melangkah masuk kedalam rumah sakit.
Setelah itu mereka mendaftar di poli bagian kandungan, yang kebetulan kebagian nomor dua. Setelah itu, keduanya duduk menunggu panggilan.
Yang nomor satu sudah masuk. Maka tak butuh waktu lama untuk mengantri. Dan setelah menunggu lima belas menit, akhirnya pasien nomor satu itu pun keluar. Dan sekarang giliran nama Ajeng yang dipanggil. Lantas keduanya pun masuk dan dipersilakan duduk oleh sang dokter bernama dokter Ina. Kebetulan hari ini adalah jadwal dokter kandungannya seorang perempuan. Karena dirumah sakit ini ada beberapa dokter kandungan yang kesemuanya memiliki jadwal sendiri.
"Dengan pasien atas nama Bu Ajeng Shafanina?" tanya Dokter Ina sambil menatap kertas putih berisi data milik Ajeng.
"Iya Dok, saya sendiri." jawab Ajeng.
"Baik, langsung saja kita periksa ya. Mari ibu berbaring disana." titah Dokter Ina. Sementara ia sendiri mengambil alat yang diperlukan untuk memeriksa pasien.
Ajeng pun berbaring di temani suaminya yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
Dokter Ina mulai melakukan pemeriksaan pada Ajeng, dari mulai tes darah yang biasa di tempel dibagian lengan, lalu tes golongan darah. Dilanjut dengan tes hemoglobin [Hb]. Dan semua beberapa tes lainnya. Dan yang terakhir yaitu USG.
"Waahh selamat Pak, istri anda memang hamil. Dan ini kantung janinnya sudah terlihat ya Pak." ucap Dokter Ina sambil menatap layar hasil USG tersebut. "dan alhamdulillahh kondisi janinnya baik-baik saja. Dan usianya kini sudah tujuh minggu ya Bu."
mendengar hal itu membuat Abian menitikkan air mata. Ya, airmata bahagia. Karena sebentar lagi ia akan memiliki anak dari seorang perempuan yang sangat ia cintai. Sementara Ajeng menatap wajah suaminya dengan tersenyum haru.
Pemeriksaan pun kini sudah selesai. Mereka bertiga kembali duduk.
"Ini golongan darah Ibu O ya. Terus Hb-nya alhamdulillah normal dan yang lainnya juga normal. Selama ini apa ada keluhan?" tanya Dokter Ina.
"Ada Dok. Saya sedikit pusing dan mual. Bawaannya juga sensitif mulu. Padahal hamil yang pertama biasa aja perasaan." kata Ajeng sambil memijat pelipisnya.
"Oohh anak kedua?" tanya Dokter Ina lagi.
"Iya Dok. Tapi anak yang pertama dari suami yang pertama." jawab Ajeng mengulum senyum.
"Oohh masyaallah... Selamat ya Pak, Bu." ucap Dokter Ina tersenyum. "dan tolong dijaga kandungannya ya. Dan ini saya akan buatkan resep obat untuk pereda pusing dan mual. Juga ada vitamin ibu hamil. Tolong nanti di minum ya Bu."
Dokter Ina pun memberikan resep obat itu. "Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanyanya menatap mereka berdua.
Sementara Abian terlihat salah tingkah. Ingin bertanya tapi masih sungkan, lantaran yang ingin ditanyakan perihal kebutuhan biologis.
"Apa ada yang ingin ditanyakan Pak?" tanya Dokter Ina karena melihat Abian seperti sungkan.
"Mmmm anu... Itu..." Abian pun gugup sambil menundukkan kepalanya. Membuat Ajeng menyenggol lengannya, ia sendiri tidak tau akan apa yang ingin ditanyakan suaminya.
"Baik, saya paham maksud anda." ucap Dokter Ina tersenyum. "jadi begini ya Pak, selama kondisi istri anda baik-baik saja dan tidak adanya gangguan kehamilan. Jadi boleh-boleh saja kok! Asal jangan keseringan. Minimal tiga kali dalam seminggu, karena ini masih trimester pertama." papar Dokter Ina serius.
"Terimakasih Dok. Maaf, saya gak berani bertanya soal itu." kekeh Abian yang justru mendapat cubitan di pinggangnya dari sang istri.
"Itu hal wajar kok Pak, banyak kok yang gak berani juga seperti bapak." kekeh Dokter Ina.
"Kalau begitu, kita pamit ya Dok. Terimakasih untuk semuanya." ucap Ajeng mengangguk sopan.
"Iya sama-sama. Semoga selalu sehat dan dilancarkan sampai proses persalinan nanti." kata Dokter Ina.
"Aamiin."
Keduanya kini keluar dari ruangan itu. Lalu melangkah ke tempat lain dan duduk menunggu antrian untuk menebus resep obat. Setelah obat itu di dapat. Mereka pun melangkah untuk pulang.
Namun, pada disaat itu juga, Widya melihat mereka berdua.
"Ajeng. Abian." panggilnya membuat mereka pun berhenti lalu menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Ajeng menyipitkan mata melihat Widya sedang berjalan ke arahnya. Sementara Abian membuang napas kasar. Ia sendiri lupa, bahwa Hasna juga ada dirumah sakit ini. Kalau ingat! Abian pun pasti memilih rumah sakit lain.
Disaat itu juga, hati Abian mendadak cemas sekaligus takut, karena ia sendiri baru ingat. Hasna sedang membutuhkan golongan darah O. Sementara istrinya juga punya golongan darah yang sama. Seperti yang Dokter Ina tadi bilang. Yaitu O.