
Pagi sekali Ajeng sudah bangun dan beres-beres rumah terlebih dahulu, lalu dilanjut untuk membuat sarapan. Karena pagi-pagi ia harus mengantar sang anak daftar sekolah baru.
Dengan sangat cekatan tangan itu mengerjakannya. Karena sudah terbiasa dari dulu meski saat masih dengan Yudha yang ada pembantu sekalipun, Ajeng selalu tak sepenuhnya memberikan pekerjaan rumah pada ART nya. Dia gak mau dimanja karena pikirnya perempuan juga harus mandiri.
Setelah semua usai, adzan subuh pun terdengar, buru-buru ia mengambil wudlu lalu sholat dirumah. Tak lupa berdo'a setelahnya meminta urusannya dimudahkan, dan selalu diberi kebahagiaan serta keberkahan rizki atas apa yang dia dapatkan sekarang.
Selesai berdo'a, ia bangun dan melepas mukenanya lalu disimpan ditempat semula, kemudian berjalan kekamar sang anak untuk membangunkannya mengerjakan sholat subuh.
Meski masih usia enam tahun, Ajeng selalu mengajarkannya sholat dari kecil, maka sekarang diusia segitu, Qeera sudah terbiasa untuk sholat dan gampang dibangunkan.
Tak terasa, waktu sudah pukul setengah enam pagi, Qeera dan Ajeng pun sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, kali ini tidak dengan pengasuhnya. Sedangkan Retno sudah pergi sedari tadi. Karena ada urusan penting, dan tentu sudah berpamitan pada Ajeng dan Qeera terlebih dahulu.
Saat berada didepan pintu keluar, Qeera membelalakan matanya melihat mobil itu yang terparkir dihalaman rumahnya.
"Bunda, itu mobil yang selalu bunda pakai kan? Kok ada disini lagi?" tanyanya menoleh pada Ajeng.
"Iya sayang, sekarang kita pakai mobil itu lagi." jawab Ajeng tersenyum.
"Kok bisa? Katanya sudah dikembalikan sama yang punya, emangnya mobil itu punya siapa sih?" tanya anak itu lagi
Namun suara klakson terdengar dan itu dari mobil yang sudah berada didepan pagar. Sontak Qeera memekik kegirangan karena sudah hafal dengan pemilik mobil itu.
Anak itu langsung berlari kearahnya dan membuka pintu pagar, begitu juga Abian, ia pun turun dan langsung mendapat rengkulan dari Qeera. Membuat Ajeng menggelengkan kepalanya melihat antusiasnya sang anak menyambut Abian. Lalu Ajeng pun tersenyum.
"Makasih Om, sudah menempati janji. Sekarang aku dan bunda sudah siap. Ayo kita langsung saja ke sekolah." kata Qeera sambil melerai pelukannya dan mengangkat wajahnya menatap Abian.
"Iya ayo, kita naik mobil Om ya?"
Qeera menoleh pada ibundanya yang sedang berjalan mendekat kearahnya. Dan Abian juga menatap Ajeng sambil mengembangkan senyumannya.
"Ayo bunda." ajak Qeera saat Ajeng sudah berada disampingnya.
"Memangnya gak mau naik mobil itu?" tanya Ajeng menunjuk pada mobil yang berada didalam pagar rumahnya.
"Nggak ah bunda, aku mau sama Om baik. Ayo." ajaknya kembali dan Ajeng pun pasrah mengikuti keinginan sang anak.
Ketiganya pun naik kedalam mobil. Lalu melesat menuju sekolah yang dituju.
__ADS_1
Seperti biasa, Qeera selalu berceloteh saat bersama Abian, kali ini ia menceritakan bagaimana antusiasnya saat bangun tidur karena bahagia akan masuk sekolah baru.
Dan Abian selalu menyimaknya dengan terus tersenyum, dan tentu sesekali menatap wajah Ajeng dari kaca yang berada diatas kepalanya, karena Ajeng duduk dibelakang Abian sedangkan Qeera duduk disisi Abian.
Selang waktu sekitar satu jam lebih. Akhirnya mereka sampai di sekolahan favorit yang berada di jakarta.
Mereka pun turun, dan melangkah ke ruangan yang dimana sudah banyak orang yang daftar disana.
Qeera pun bertemu dengan beberapa temannya saat masih sekolah TK, karena beberapa teman-temannya juga ada yang mendaftar kesana, sebagian lagi mendaftar ke sekolah lain.
Namun ada satu anak yang bertanya pada Qeera. "Qeera, itu papah baru kamu ya?" tanya Arumi.
"Bukan kok, ini Om baik." jawab Qeera.
"Om baik?" tanya Arumi sambil menautkan kedua alisnya.
"Iya, karena dia orangnya sangat baik, jadi aku panggil Om baik." balas Qeera tersenyum.
Sementara teman-teman yang lainnya hanya menyimak.
Lalu Qeera dan Ajeng melangkah untuk mendaftar. Sementara Abian memilih menunggu dikursi yang sudah disediakan.
"Sudah lepas dari yang pertama, sekarang sudah dapat lagi yang baru, lebih tampan lagi, dah gitu kelihatannya tajir banget." ucap seseibu itu.
"Iya ya, pintar banget si Ajeng milih laki-laki." timpal ibu satunya.
"Aku juga mau yang kayak gitu." ujar ibu dibelakangnya.
"Husstt gak boleh gitu, kita mh cukup suami kita yang sekarang saja, si Ajeng juga gak memungkinkan laki-laki itu setia, buktinya yang pertama saja diselingkuhi. Apalagi yang itu, rata-rata lelaki tajir itu pasti pengen nikah lagi karena merasa mampu." papar ibu yang pertama bicara tadi.
Dan tentu obrolan itu terdengar ditelinga Abian yang menggelengkan kepalanya lalu menoleh pada ibu-ibu yang bergosip ria. Membuat ibu-ibu itu diam seketika.
Ajeng dan Qeera pun sudah selesai mendaftar begitu juga semua anak-anak yang mendaftar disana sudah dicatat.
Pelajaran akan dimulai dengan perkenalan tiap murid terlebih dahulu. Lalu dilanjut membaca huruf A B C D dan yang lainnya.
Sementara semua wali murid menunggu diluar.
__ADS_1
***
Fiona mencari sertifikat itu didalam kamarnya. Ia cari di lemari, di nakas, dibawah sprei. Namun tak ditemukannya. Sehingga ia pusing sendiri.
Lalu melangkah ke kamar lain, dan tak juga ditemukannya.
Dilanjut kesetiap ruangan yang ada dirumah itu. Tetap hasilnya nihil.
"Mas Yudha ... Dimana kamu menyimpannya." ucap Fiona sedikit kesal.
Ia pun duduk dengan kasar. "Aku harus menemui Mas Yudha, menanyakan dimana sertifikat rumah itu. Tapi ... Kayaknya gak mungkin dikasih tahu." gumam Fiona.
Akhirnya ia akan terus mencarinya sampai ketemu. Karena percuma jika bertanya pada Yudha, pasti tak akan dikasih tau.
Sementara Retno masuk dan didapati Fiona sedang membuka setiap laci lemari yang berada diruang tamu.
"Cari apa?" tanya Retno membuat Fiona sedikit terkejut.
"Ehh ibu." Fiona menoleh. "Hmmm anu ... Itu ... Aku lagi cari ... Jepitan ... rambutku, ya jepitan rambut, kemana ya!" jawab Fiona sedikit gugup.
"Jepitan rambut?" tanya Retno. Ia langsung menaruh curiga pada Fiona karena jawaban itu sangat konyol baginya juga karena Fiona terlihat gugup.
Retno terus mengawasi Fiona, sehingga Fiona berhenti mencari sertifikat itu karena ada Retno disana.
***
Sudah pukul sembilan, Qeera pun pulang, sengaja diberi jam pelajaran pendek karena baru masuk.
Lalu setelah itu, mereka bertiga naik kedalam mobil untuk pulang.
Kali ini hanya ada obrolan seputar dimana tadi tahap perkenalan. Lalu mobil pun tak terasa sudah berada didepam rumah Ajeng.
Ketiganya turun, namun Abian harus kembali pergi karena ada urusan dikantornya, lantas mereka berpamitan.
Ajeng dan Qeera sudah masuk kedalam rumah. Namun saat Abian hendak membuka pintu mobil, ada mobil berwarna merah disana yang berhenti tepat didepan mobil Abian.
Pemilik mobil berwarna merah itu pun turun.
__ADS_1
"Rupanya kamu ada disini juga." ucap Luthfan membuat Abian menoleh kearahnya.
"Untuk apa menemuinya yang jelas sudah bersuami." kekeh Luthfan.