
Acara yang ditunggu-tunggu kini sudah tiba. Semua yang dibutuhkan sudah siap, dari mulai dekorasi ruangan, meja, kursi semuanya disulap menjadi warna putih. Termasuk tempat mempelai kedua pengantin. Juga tempat untuk acara prosesi ijab qabul nanti.
Berbagai Makanan dan minuman pun sudah tersaji diatas meja. Tak lupa souvenir untuk para tamu. Dengan dibuat bingkisan kecil yang berisikan satu parfum dan satu gelas mini dengan tulisan 'Happy Wedding Ajeng & Abian' dan soal bingkisan itu, Hasna tak diberi tau sama sekali.
Hasna dan Ajeng, juga Qeera dan pengasuhnya sudah satu jam berada disana lantaran untuk dirias terlebih dahulu oleh seorang MUA yang sudah Ezhar pilihkan. Kecuali sus Rini yang tak di rias.
"Aku bilang juga apa! Aku akan jadi adik madu mu kan?" kekeh Hasna yang belum selesai di make-up.
Sedangkan Ajeng yang pertama di make-up, lalu putrinya, Qeera dan setelah usai, Ajeng memilih untuk menemani Hasna didalam kamar sampai prosesi ijab qabul sudah dinyatakan 'SAH' barulah mereka akan disuruh keluar. Itu semua atas perintah suaminya.
Para tamu undangan pun satu persatu sudah mulai berdatangan, dengan disambut oleh Diana dan Axel selaku penerima tamu. Juga Darman dan Dibyo ditugaskan menjaga keamanan selama acara berlangsung. Dan mereka pun sudah datang sepagi mungkin.
Serta seorang fotografer dan juga MC pun sudah siap dengan tugas mereka.
Kedua orang tua Hasna pun datang dan dibelakangnya di susul oleh Yudha dan Retno. Mereka disambut begitu ramah. Lalu memilih tempat untuk duduk.
Kemudian Alvino, ia pun datang seorang diri, dan dibelakangnya di susul tiga karyawan Ajeng. Riana, Yumna dan Zia. Mereka juga disambut dengan sangat ramah. lalu memilih tempat untuk duduk.
Begitu juga Haris, ia datang seorang diri, selang lima menit, pak Hartoyo pun tiba. Lalu mereka disambut dan sama, setelahnya mereka memilih tempat untuk duduk.
Teman-teman Ajeng dan Abian, serta para kolega bisnisnya pun juga sudah pada duduk dengan nyaman.
Mereka semua tinggal menunggu kedatangan pak penghulu.
Sedangkan Abian dan Luthfan, mereka berada dalam satu ruangan. Dan Luthfan akan keluar jika penghulu sudah datang, sedangkan Abian sendiri tetap berdiam diri diruangan itu dan baru akan keluar jika sudah waktunya.
Retno bangkit untuk mencari Ajeng, karena ingin memastikan apakah benar ia akan di madu, apalagi yang menjadi madunya adalah Hasna. namun tangannya dicegah oleh Yudha yang menggelengkan kepala. Membuat Retno pun kembali duduk.
Acara sebentar lagi akan di mulai. Dan sambil menunggu kedatangan penghulu. Para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan.
Sementara didalam kamar. Hasna terus menyunggingkan senyuman terbaiknya. Sedangkan Ajeng sendiri menahan tawa kala melihat bagaimana raut wajah Hasna.
"Aku jahat gak sih udah ngerjain dia. Tapi ... Salahnya sendiri yang mulai dari awal. Kenapa harus menjebak suamiku. Huuffttt."
Ajeng mengambil napas berat lalu memangku Qeera.
"Anak bunda udah makan?" tanya Ajeng mengusap kepalanya.
"Sudah bunda." jawab Qeera.
"Nanti ikut foto sama bunda dan papa ya?"
"Jangan lupa, ikut berfoto juga sama tante dan papa nanti." celetuk Hasna tiba-tiba. Membuat Ajeng melebarkan mata.
"Bunda? Apa maksudnya?" tanya Qeera menoleh.
"Nggak sayang. Tante Hasna cuma bercanda." tutur Ajeng.
"Hasna, tolong diam! Jangan bicara apapun lagi di depan anakku. Jika ingin bicara, bicaralah hal lain, jangan malah menambah masalah." tegur Ajeng.
Hasna hanya mengendikkan kedua bahu. Sementara sus Rini ijin keluar untuk bergabung dengan para tamu.
Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya penghulu pun tiba, dan disambut dengan ramah. Setelah itu dipersilakan masuk dan di persilakan untuk menikmati hidangan terlebih dahulu. Namun ia menolak lantaran ditempat lain ada beberapa orang yang sedang menunggu kedatangannya juga untuk mengikrarkan sebuah janji pernikahan.
Maka penghulu pun duduk ditempat yang sudah disiapkan.
__ADS_1
"Biaklah para hadirin sekalian. Karena pak penghulu sudah datang. Mungkin saatnya kita akan menyaksikan acara ijab qabul yang dari tadi sudah kita tunggu-tunggu. Dan untuk mempelai laki-laki, diharapkan untuk keluar dan duduk didepan pak penghulu." kata seorang MC dengan memakai pengeras suara.
Luthfan yang mendengarnya pun ia segera bangkit dan mempersiapkan diri.
"Good luck, semoga lancar." ucap Abian menepuk pundak Luthfan.
"Terimakasih! Aku lakukan ini untuk kalian berdua." kata Luthfan.
"Bukan karena anak didalam rahim Hasna?" kekeh Abian.
"Ahhh ya itu juga. karena dia selalu menolak untuk aku nikahi, maka terpaksa kalian pun harus aku libatkan. Maaf." balas Luthfan menepuk pundak Abian.
"Sudah sana. Semua orang sudah menunggu." titah Abian.
Dengan mengucapkan basmalah ia pun keluar dengan langkah pasti menuju tempat yang sudah di siapkan. Lalu Luthfan pun duduk didepan penghulu dengan sedikit gugup.
Namun semua tamu terperanjat melihat siapa yang keluar. Lantaran mempelai laki-lakinya bukan Abian seperti kabar yang mereka dengar. Tapi justru orang lain dan itu Luthfan. Ada yang kenal dengan Luthfan, ada yang tidak tau sama sekali. Kini semuanya tengah fokus dengan pikiran masing-masing.
Apalagi Retno, ia menatap dengan keheranan. "Itu Luthfan kan?" bisiknya pada Yudha.
"Iya itu Luthfan. Tapi ... Kenapa bukan Abian?" Yudha pun juga heran.
"Dari awal ibu memang gak begitu percaya soal kabar kalau Abian akan menikahi Hasna. Mungkin itu hanya tak-tik mereka yang entah ada masalah apa sehingga dikabarkan demikian. Ibu yakin! Ini semua rencana mereka sendiri." papar Retno. Membuat Yudha menunduk, merasa bersalah karena kemarin sempat menghajar Abian.
Dan Alvino pun juga sama dengan pemikiran Retno, maka ia pun tak heran dan tetap santai. Namun lain lagi dengan Riana, Yumna dan Zia. Mereka juga heran dan menatap tak percaya. Lalu pandangannya mencari keberadaan Ajeng dan Abian, tapi tak terlihat.
Lalu kedua orangtua Hasna dipersilakan untuk duduk didekat mereka. Dengan posisi Widya di belakang Luthfan. Sedangkan Ferdy di samping penghulu. Dan dua saksi lainnya yaitu kerabat dekat Luthfan diharapkan untuk mendekat.
Luthfan bersalaman dengan calon mertua dengan menunduk sopan. Ferdy pun menepuk pundaknya pelan.
"Iya pak, betul." jawab Ferdy sopan.
"Apa bapak sendiri yang akan menikahkan anak bapak? Atau akan di wakilkan kepada saya?"
"Saya serahkan saja semuanya kepada bapak penghulu."
"Baiklah kalau begitu." balas penghulu.
"Disini tertulis atas nama Luthfan Aqmar sebagai mempelai laki-laki?" tanya penghulu dan Luthfan mengangguk. "Apa pak Luthfan sudah siap?"
"Insyaallah siap pak." jawab Luthfan tegas.
Luthfan pun berjabat tangan dengan penghulu, dan bersiap untuk mengucapkan kalimat sakral tersebut.
Dengan satu kali tarikan napas, dengan mahar uang tunai senilai lima puluh juta rupiah serta satu set perhiasan. Akhirnya Luthfan mengucapkan ijab qabul dengan lancar dan para saksi mengatakan 'SAH' atas pernikahan mereka.
Setelahnya, penghulu melafalkan do'a agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Serta selalu diberikan kesabaran akan setiap ujian, juga mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah.
Dan secara bersamaan semua tamu pun menjawab "Aamiin." meski dalam benak hati mereka bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?.
"Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin... Jadi sekarang sudah sah ya." kata seorang MC. "Baiklah kalau begitu, kita panggilkan pengantin perempuannya untuk duduk di samping mempelai laki-laki."
Lantas sang ibu lah yang akan menjemput Hasna yang berada didalam kamar, Widya pun bangkit lalu melangkah menuju kamar tersebut dengan perasaan antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya sang anak sudah menjadi seorang istri, terlebih Luthfan sangat menghormatinya dan begitu sopan kala Luthfan menemui kediaman Widya waktu itu, dan juga sedih karena ia pun sebentar lagi harus menyaksikan keterkejutan Hasna saat tau semua kebenarannya.
Disaat itu juga, kebetulan Fiona sedang melewati rumah Almarhum Rasyid yang sekarang dijadikan tempat acara pernikahan tersebut. Fiona menatap rumah itu karena begitu banyak orang disana, membuat Fiona pun penasaran, lalu mendekat ke arah dua satpam. Darman dan Dibyo.
__ADS_1
Ya, sehari sebelumnya Fiona sudah di nyatakan bebas, karena ia berprikelakuan baik selama di penjara. Juga karena termasuk penganiayaan ringan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk pekerjaan jabatan atau pencarian. Maka di ancam pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Seperti halnya di kutip dalam pasal 353 dan 356.
Sontak Darman dan Dibyo terperanjat saat melihat kedatangan Fiona yang semakin mendekat ke arah mereka berdua.
"Darman, Dibyo. Ada acara apa ini?" tanya Fiona langsung.
"An... Anu... Bu Fiona." Dibyo sangat gugup.
"Katakan! Aku tidak akan membuat onar kok." ucap Fiona. Lalu matanya menatap ke atas dan membaca tulisan Happy Wedding Ajeng dan Abian. Yang berada diatas pintu.
"Ini pesta pernikahan mereka?" tanya Fiona menatap mereka. Dan mereka pun menganggukkan kepala.
Fiona pun hendak masuk, namun di cegah oleh mereka.
"Kenapa? Saya mau masuk." kata Fiona.
"Maaf bu, ibu gak boleh masuk. Karena yang boleh masuk hanya yang di kasih undangan." ujar Darman.
"Kalian ini, kalian kan sudah kenal siapa saya." timpal Fiona.
"Maaf bu, kami hanya menjalankan tugas."
Fiona mendengus kesal. "Tapi jika di ambang pintu, bolehkan? Please." Fiona memohon, membuat dua satpam itu saling menoleh. Lalu mengangguk.
"Baiklah! Asal bu Fiona janji, tidak akan membuat keributan disini." tekan Darman.
Tak menunggu waktu lama, Fiona pun melangkah dan berdiri di ambang pintu, dimana matanya langsung menatap Hasna yang berbalut baju pengantin yang di rangkul oleh Widya, sementara Ajeng berada dibelakangnya bersama Qeera.
"Hah? Apa aku gak salah lihat? Ini bukannya pesta nikahannya Ajeng sama Abian? Tapi kok ... Apa jangan-jangan-" gumam Fiona.
"Kamu akan di madu lagi Jeng? Tapi aku sekarang kok kasihan ya sama kamu."
Sementara itu. Hasna pun duduk perlahan disamping Luthfan dengan terus mengembangkan senyuman terbaiknya. Sedangkan Ajeng dan Widya duduk dibelakang kedua mempelai. Keduanya saling menoleh lalu Ajeng meraih tangan Widya dan menggenggamnya erat, lalu menganggukkan kepala. Widya sendiri tersenyum menatap wajah Ajeng. Sungguh kedua orangtua Hasna memang benar-benar baik. Mereka pasrah dengan keadaan sang anak nantinya jika sudah tau semuanya.
"Baiklah para hadirin sekalian. Karena pengantin perempuan pun sudah duduk. Maka kini saatnya untuk pengantin laki-laki menyematkan cincin di jari manis pengantin perempuan." kata MC.
Luthfan pun mengambil sebuah kotak berukuran kecil, lalu meraih tangan Hasna yang dari tadi hanya menunduk. Diraihnya tangannya itu dengan perlahan, Luthfan pun akhirnya menyematkan cincin itu di jari manis Hasna yang kini sudah 'sah' menjadi istrinya.
Luthfan meraih dagu Hasna agar menoleh padanya. Lalu ia pun mengecup kening sang istri yang memejamkan mata.
Dengan perlahan, mata Hasna pun membuka. Namun ia langsung terperanjat dan sedikit mundur.
"Lu.. Luthfan." Hasna menatap tak percaya.
Lalu keluarlah seorang laki-laki dari dalam kamar yang kini sedang melangkah, lantas ia pun naik ke atas pelaminan dan berdiri dengan gagahnya.
"Ajeng sayang, kemarilah." ucap Abian mengulurkan tangannya.
Mendengar suara itu, Hasna menoleh ke arah Abian dan matanya pun terbelalak sempurna, serta mulut pun terbuka lebar.
Lalu Ajeng yang berada dibelakang mereka, lantas ia pun bangkit bersama sang anak. Lalu melangkah mendekati suaminya. Dan kini mereka pun sudah berdiri diatas pelaminan dengan seulas senyum terbit dari bibir masing-masing.
Terang saja! Semua para tamu pun terkejut atas apa yang tersaji dihadapan mereka. Namun tidak berlaku bagi Alvino dan Retno. Lantaran mereka sangat percaya akan kesetiaan Ajeng dan Abian. Pun sus Rini, ia menyeka sudut matanya. Bukan tangis kesedihan, melainkan terharu akan kebesaran cinta mereka yang tak goyah meski halang rintang manghampiri.
Dan kini tinggal Hasna lah yang shock. Menatap tak percaya akan apa yang tengah ia alami.
__ADS_1
Ia pun bangkit "Apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi begini?" kata Hasna menggelengkan kepalanya, lalu airmatapun lolos begitu saja dan melewati pipinya.