Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Kelicikan Dibalas Kelicikan


__ADS_3

Mendengar kata talak. Fiona terperanjat dan membelalakan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa Mas? Apa aku gak salah dengar? Kamu talak aku?" tanya Fiona, kemudian tak terasa airmata pun lolos begitu saja.


"Ya, memang itu kejutannya." jawab Yudha tegas tanpa rasa bersalahnya.


"Tapi apa alasannya Mas? Kamu gak bisa menceraikan aku begitu saja. Apa soal rumah yang aku jual? Aku minta maaf Mas! Aku minta maaf." kata Fiona dengan isak tangis yang memilukan.


"Soal itu sudah aku maafkan." kata Yudha menghela napas.


"Lalu apa? Apa salahku?" teriak Fiona.


"Kamu ingat? Lelaki yang bernama Alvino?" tanya Yudha menatap sinis. membuat Fiona tersentak mendengar nama itu. Tidak! Apa suaminya sudah tau soal dia dan Alvino?


"Kamu diam saja karena kamu pun gak bisa jawab kan? Itulah alasanku Fiona." cetus Yudha menatap perempuan yang terus menangis dihadapannya. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya iba, yang ada hanyalah rasa jijik mengingat Fiona pernah disentuh berkali-kali oleh lelaki yang bernama Alvino.


"Ak... Aku... Bisa jelasin Mas?" kata Fiona gugup ditengah isakannya.


"Mau jelasin bagaimana lagi? Sementara aku pun sudah melihat video kalian berdua saat di dalam kamar. Kamu terlihat sangat menikmatinya Fiona." sentak Yudha.


"Tidak Mas, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku diancam sama dia. Tolong kamu percaya sama aku." elak Fiona.


"Di ancam kamu bilang? Tapi saat pertama kali kalian melakukannya apa kamu mau bilang kalau itu juga di ancam? Tidak kan? Saat itu kamu melakukannya dengan penuh kesadaran Fiona, bukan dengan ancaman yang kamu maksud." bentak Yudha dengan rahang mengeras.


"Mas, saat itu-"


"Apa? Apalagi yang mau kamu jelaskan? Semuanya sudah clear. Dan mulai dari sekarang kita sudah bukan suami istri lagi. Permisi." Yudha pamit dengan guratan wajah emosi lalu keluar dengan langkah cepat, tak peduli dengan teriakan Fiona yang terus memanggilnya.


kemudian Yudha pun menaiki mobilnya dan melesat meninggalkan tempat yang juga pernah ia tinggali.


Yudha juga sudah tidak tinggal lagi di kontrakan. Ia sudah membeli sebuah rumah dengan uang dari ATM yang Fiona berikan karena itu juga uangnya sendiri. Meski tidak begitu besar dibanding rumahnya dulu, tapi Yudha begitu nyaman dan tenang, meski kadang kesepian karena tak ada lagi seorang istri disampingnya. Apalagi Yudha terus saja menyesali perbuatannya karena sudah menyia-nyiakan Ajeng. Tiap malam sebelum tidur, ia selalu memandang foto pernikahannya bersama Ajeng.


***


Di jam makan siang, Abian akan menjemput sang istri ke ruko untuk makan siang diluar, setelah itu dilanjut dengan mendatangi lokasi kejadian untuk mengecek apakah disana dipasang CCTV atau tidak.


Tiba di depan ruko, Abian pun turun dan melangkah masuk.


"Siang pak." ucap Riana sopan.


"Siang." jawab Abian tersenyum. Langkahnya langsung menaiki anak tangga satu persatu karena sebelumnya ia diberi tahu kalau Ajeng ada di lantai atas.


"Beruntung sekali ya bu Ajeng, dapat suami kayak pak Abian. Udah mah baik, ganteng, tinggi, putih, tajir pula. Paket komplit ini mah." celetuk Yumna.


"Kamu mau?" tanya Zia menoleh.


"Ya mau lah, siapa coba yang nolak punya suami kayak gitu." timpal Yumna.

__ADS_1


"Tapi ada syaratnya?" kata Zia.


"Apa itu?" tanya Yumna.


"Syaratnya kamu harus nikah dulu, lalu diselingkuhi sama suami kamu dan akhirnya kalian cerai, dengan begitu kamu pasti dapat suami kayak pak Abian, itu pun kalau kamu beruntung sih! Bu Ajeng kan gitu." kekeh Zia.


"Yeeaayyy gak gitu juga kali, aku pengennya nikah satu kali seumur hidup." sentak Yumna.


"Sssttt sudah-sudah, kok jadi melebar kemana-mana sih." tegur Riana.


"Abisnya si Yumna, harusnya tau diri lah, kita ini siapa? Kalau bos kita kan jelas, udah kaya, baik hati, cantik lagi." kata Zia.


Riana pun menggelengkan kepalanya. Dan akhirnya semuanya pada diam, lalu Zia dan Yumna saling menjulurkan lidah. Begitulah kekonyolan para karyawan Ajeng, ada saja tingkah mereka.


Sementara itu, Abian pun masuk. "Sayang." sapanya mendekat. "Sudah siap?"


"Sudah Mas. Ayo."


Mereka pun keluar dengan tangan saling tertaut, kemudian pergi untuk makan siang.


Tiba di restoran. Keduanya turun dan melangkah masuk. Lalu memilih tempat, setelah itu duduk.


Keduanya pun memesan makanan dan minuman yang sama pada pelayan, setelah beberapa menit, akhirnya makanan yang dipesanpun sudah ada diatas meja.


Dengan diawali do'a, keduanya kini tengah menikmati makan siang. Baru saja satu suapan, ponsel milik Ajeng berbunyi.


Ajeng segera meraihnya lalu ia buka. Ia menatap seksama pada isi pesan tersebut, Setelah itu menoleh pada Abian yang sedang menatapnya juga.


"Hasna. Dia minta aku untuk ketemuan. Katanya ada yang mau dia tunjukkan sama aku." jawab Ajeng.


"Itu pasti soal foto-foto itu. Berani sekali dia." timpal Abian.


"Mungkin karena kamu menolak untuk datang. Makanya dia ingin tunjukkan langsung foto itu sama aku. Dan dia kira ... Aku akan shock saat melihat fotonya lalu menangis dihadapannya setelah itu aku nyalahin kamu dan kita bertengkar di depan dia. Pasti itu yang dia inginkan dan memang itu tujuannya." papar Ajeng.


Abian kembali mengingat akan ide dari Luthfan. Karena ia juga tak bisa membiarkan Hasna semena-mena pada keluarganya.


"Mungkin kita harus ikuti saran dari Luthfan." kata Abian.


"Luthfan?" tanya Ajeng dengan menautkan kedua alisnya.


"Ya, tapi kita selesaikan dulu makannya. Baru aku kasih tau." titah Abian.


Keduanya kini kembali menikmati makan siang. Setelah beberapa menit akhirnya usai.


"Sekarang katakan Mas, kenapa Luthfan tiba-tiba menemui kamu." ucap Ajeng yang tak sabar.


"Ya, tadi dia datang ke kantor, ternyata dia pun sudah tau masalahku dengan Hasna. Untuk itu dia memberikan saran kalau kita harus ikuti dulu permainannya Hasna. Setelah semuanya beres, baru Luhtfan akan maju." ujar Abian serius.

__ADS_1


"Maksudnya? Aku sama sekali gak ngerti Mas." tanya Ajeng kebingungan.


"Kita harus berpura-pura didepan Hasna, kalau kita sudah masuk ke perangkapnya, terutama kamu sayang! Saat nanti Hasna menunjukkan foto itu, seperti yang barusan kamu bilang, kalau kamu akan menangis dihadapan dia. Kemudian kamu marahi aku, lalu kita pun bertengkar dihadapannya. Dan akibat pertengkaran itu, aku akan katakan kalau aku bersedia menikahi dia, yang paling penting buat dia merasa menang dulu." ujar Abian.


"Nggak Mas, aku gak mau kalau kamu harus pura-pura menikah dengan dia, aku gak rela. Masa kamu tega sih sama aku." timpal Ajeng melipatkan tangan dengan memasang wajah cemberut.


"Sayang! Mana mungkin aku akan menikah dengan Hasna. Pura-pura pun aku gak mau." kata Abian yang sekaligus bahagia karena itu artinya sang istri tidak mau kehilangannya.


"Lah itu? Apa coba. Udah ah aku mau pergi." umpat Ajeng yang hendak pergi namun dicegah.


"Sayang dengar dulu baik-baik. Tapi kamu duduk dulu." titah Abian membuat Ajeng pun kembali duduk tapi dengan muka tidak seramah biasanya.


"Ini semua merupakan ide dari Luthfan sayang, karena dia ingin menikahi Hasna, tapi Hasna selalu saja ada alasan untuk menolaknya." jelas Abian.


"Tolong perjelas." cetus Ajeng yang masih kesal.


"Saat akan ijab qabul nanti, Luthfan lah yang akan maju mengucapkan kalimat sakral tersebut. bukan aku! Sementara aku akan bersembunyi, tapi kamu pun tidak boleh hadir saat prosesi ijab qabul berlangsung. Begitu juga Hasna dia gak boleh hadir. Hanya Luthfan sendirian dan juga kedua orangtuanya dan para saksi nikah lainnya. Kamu pun pura-pura gak kuat makanya kamu gak hadir. Agar Hasna percaya kalau lelaki yang bersama dengan penghulu adalah aku. Setelah dinyatakan 'sah' barulah kalian berdua dibolehkan untuk keluar." papar Abian menjelaskan.


"Lalu aku dan Hasna dimana Mas?" tanya Ajeng bingung.


"Soal itu, kamu gak usah khawatir, biar aku dan Luthfan yang mengatur semuanya."


"Apa akan diadakan pesta? Lalu gimana dengan orangtua Hasna?" tanya Ajeng kembali.


"Mungkin hanya cukup dengan wali nikah dan juga saksi. Tapi aku juga belum tau soal ini karena itu urusan Luthfan." balas Abian.


Dan disaat itu juga, Luthfan mengirimkan pesan pada Abian, kalau dia sudah menemui kedua orangtua Hasna. Menceritakan semuanya termasuk kehamilan sang anak, juga kejahatan yang pernah Hasna lakukan pada Ajeng. Kedua orangtuanya pun sangat shock mendengar penuturan Luthfan. Sampai akhirnya kedua orangtuanya pun merestuinya karena tak ada pilihan lain.


Pesan tersebut langsung Abian beritahukan pada Ajeng.


Ajeng pun hanya bisa pasrah dan akan menuruti semuanya, berharap Hasna akan sadar jika sudah menikah dengan Luthfan, karena ia sendiri sudah capek hidupnya terus-terusan diganggu olehnya. Tapi ada satu hal yang buat Ajeng jadi pertanyaan. Yaitu soal Luthfan yang secara tiba-tiba ingin mempersunting Hasna.


"Tapi tunggu." ucap Ajeng. "Kenapa Luthfan ingin menikahi Hasna? Apa ... Ada sesuatu yang membuatnya mendadak seperti itu?" tanya Ajeng penasaran.


"Ya, Hasna tengah hamil anak Luthfan."


"Apa? Bagaimana bisa?" sontak Ajeng pun terkejut.


"Aku juga gak tau sayang, biarlah itu jadi urusan mereka, kita gak usah ikut campur. Yang penting kita berdo'a agar semuanya berhasil sesuai harapan kita." Abian tidak mau Ajeng tau, kenapa Luthfan bisa berbuat demikian pada Hasna. Sehingga Hasna harus mengandung anaknya Luthfan.


"Tapi aku belum balas chat dari dia Mas." kata Ajeng.


"Balas saja! Dan bilang kalau dia harus datang kerumah mendiang ayah malam ini juga, karena aku gak mau dia mengetahui rumah yang saat ini kita tempati."


Ajeng menganggukkan kepalanya. Lantas ia pun membalas pesan itu atas saran dari suaminya.


"Tapi kita tetap harus ke tempat lokasi itu kan Mas?" tanya Ajeng.

__ADS_1


"Tentu saja sayang! Karena kita juga harus punya bukti jika sewaktu-waktu dibutuhkan."


Pasangan suami istri itu kembali mencair dan saling melemparkan senyuman dengan tangan yang saling menggenggam erat. Berharap semuanya berakhir dengan sesuai harapan.


__ADS_2