
Abian menoleh pada Ajeng yang sedang menatap gadis yang usianya lebih muda daripada dirinya.
"Kamu tau gak? Aku mencarimu kemana-mana di amrik. Kangen makan bareng, nonton bareng. Tapi rupanya kamu ada di indonesia. Kenapa gak pamit sama aku kalau mau pulang?" tanya Eleena tanpa memperdulikan perempuan yang telah menatapnya tanpa berkedip. Tentunya dengan tatapan sedikit tajam.
"Ikut aku yuk?" ajak Eleena sambil meraih tangan Abian. Seketika Ajeng melepaskan tangan gadis itu, membuat Eleena menautkan kedua alisnya. Lalu menoleh pada Abian meminta penjelasan siapa perempuan yang sedang berdiri disampingnya.
"Sayang, kenalin. Ini Eleena. Dia teman aku saat aku masih tinggal di amrik. Dan Eleena! Aku lupa ngasih kabar sama kamu, kalau aku sudah menikah, dan ini Ajeng. Istriku." kata Abian dengan senyuman sambil merangkulnya.
"Hah? Kamu sudah menikah?" tanya Eleena mengerutkan dahi sambil memindai penampilan Ajeng.
"Ajeng." ucap Ajeng sambil mengulurkan tangan.
Mata Eleena berpindah pada uluran tangan itu, lantas ia pun menerimanya. "Eleena."
Mereka berdua pun berjabat tangan dengan saling menatap tanpa ekspresi.
"Selamat, kamu perempuan paling beruntung bisa menikah dengannya, aku pikir ... Aku yang akan dinikahi oleh Abian. Mengingat kebersamaan kami dulu." ucap Eleena spontan.
Abian tidak bisa diam disitu. ia harus segera pergi menghindar dari hadapan Eleena.
"Maaf El, kita harus segera pulang. Dan tolong! Jaga kata-kata kamu barusan, itu bisa melukai hati istriku. Permisi." ucap Abian yang tak suka dengan kehadiran Eleena.
"Ayo sayang, kita samperin yang punya pesta ini, dan setelah itu kita pulang." ajak Abian meraih jari jemari istrinya karena Ajeng telah melepaskan lingkaran tangannya saat mendengar beberapa pengakuan dari Eleena.
Ajeng pun mengikuti langkah suaminya tanpa senyuman sama sekali seperti saat pertama kali mereka berdua masuk.
Mereka menghampiri Alisya teman Abian yang sedang berulang tahun. Lalu mengucapkan selamat seperti orang lain pada umumnya. Setelah itu memberikan kado, lalu tak lama, akhirnya Abian ijin pamit untuk pulang dengan alasan tak enak badan, padahal karena sang istri yang tiba-tiba diam membisu.
Mereka pun melangkah menuju pintu untuk keluar.
Eleena menatap kepergian mereka yang semakin menjauh.
Didalam mobil. Ajeng tak menoleh sama sekali pada suaminya, ia terus menatap lurus.
"katanya gak punya mantan. Tapi gak punya mantan pun bisa sedekat itu seperti orang yang sedang pacaran." celetuk Ajeng tanpa mau menoleh.
"Sa-"
"Lagipula dia memang cantik sih! Gak heran kalau kamu pernah tertarik sama dia." lanjutnya lagi tanpa memberikan waktu untuk suaminya berbicara.
"Sa-"
"Makan bareng, nonton bareng, apaan coba." lagi Ajeng memotong ucapan suaminya.
Abian mengambil napas berat dan mengeluarkannya perlahan.
"Sayang, itu tidak seperti yang kamu pikirkan! Oke aku ngaku, aku pernah jalan berdua dan nonton bareng dengan dia, tapi hanya sebatas teman gak lebih. Tolong percaya sama aku, lagipula itu kan dulu saat aku tinggal diluar negri. Sekarang aku sudah punya kamu, untuk apa mikirin hal-hal yang gak penting." ujar Abian meraih tangan Ajeng dan mengecupnya.
"Tapi mungkin gadis itu tengah menaruh hati sama kamu Mas, kamunya saja yang gak sadar, makanya jangan terlalu dekat dengan gadis manapun."
"Soal itu, aku gak peduli sayang, yang penting aku tidak pernah menaruh hati padanya."
"Tapi ... Aku tetap cemburu Mas." kata Ajeng menoleh dengan tatapan nanar. Karena ia jika sedang cemburu pasti ingin menangis.
"Iya hal wajar jika kamu cemburu, karena itu artinya tanda cinta. Dan mulai sekarang berhenti mikirin yang gak penting. Bisa?"
Ajeng menganggukkan kepalanya. Dan Abian tersenyum lalu mengecup keningnya dengan sangat lama. Setelah itu mereka pun pulang.
***
Pagi pun tiba, pasangan suami istri itu tengah kembali mengeringkan rambutnya meski semalam sempat ada masalah sedikit, tapi beruntung bisa di selesaikan saat itu juga.
"Sayang, haid itu biasanya berapa hari sih?" tanya Abian yang sudah rapih dengan pakian kantornya.
"Tergantung Mas, ada yang seminggu, ada yang lebih, bahkan ada yang sampai dua minggu." jawab Ajeng sambil bercermin membetulkan kerudung.
"Hah? Selama itu? Terus kamu biasanya berapa hari kalau haid?"
__ADS_1
"Pernah sampai seminggu lebih, paling sedikit ya ... Lima hari."
mendengar penuturan istrinya, Abian mengambil napas berat.
"Memangnya kenapa sih? Tanya-tanya soal itu?" kata Ajeng mendekat lalu meraih tangan suaminya untuk keluar dari kamar.
"Entahlah, kemarin saja aku gak sanggup harus nunggu satu minggu."
"Hhhh kamu ini. Udah ah. aku lapar, ayo kita turun."
Kemudian mereka berdua pun keluar. Dan menapaki anak tangga satu persatu setelah itu duduk didepan meja makan.
Semua sudah bersiap dan Qeera yang memimpin do'a. Setelah do'a usai mereka pun menikmati sarapan bersama.
"Maaf pak, hari ini saya mau minta ijin." ucap Ezhar saat Abian baru saja usai dari sarapan.
"Ada apa Ezhar? Apa ada sesuatu?" tanya Abian karena tak biasanya Ezhar mendadak minta ijin, biasanya selalu jauh-jauh hari.
"Ibu saya sedang sakit! Saya akan membawa ibu berobat. Dan catat saja ijin saya ini, ijin yang biasanya bapak kasih dua hari dalam sebulan. Nanti setelah dua hari, saya akan kembali lagi kesini." kata Ezhar.
"Baiklah! Dan ... Ini tolong diterima untuk pengobatan ibu kamu. Semoga ibu kamu cepat sembuh" kata Abian sambil menyerahkan uang ratusan ribu sepuluh lembar.
"Ya Allah pak, terimakasih banyak." balas Ezhar tersenyum haru sambil menerima uang itu.
Haru karena ia memiliki majikan seperti Abian. Selain baik, tapi juga dermawan.
Lelaki itu pun pamitan pada semua orang yang ada disana dan keluar dari rumah.
Begitu juga Qeera, ia ijin untuk pergi ke sekolah. Setelah itu keluar dengan di ikuti pengasuhnya.
"Mas, hari ini aku gak antar kamu makan siang ya? Aku mau belanja keperluan buat di ruko. Dan setelah itu, aku mau menemui Haris untuk melakukan transaksi." kata Ajeng.
"Memang belum ya?" tanya Abian.
"Belum, kemarin ketemu hanya bahas soal yang lainnya. Nanti aku akan ditemani Zia lagi kok Mas."
"Yasudah terserah kamu. Tapi ... Jika kamu merasa capek, istirahat saja dirumah. Udah jangan kerja lagi, kamu kan punya karyawan, kamu hanya perlu memantau doang, gak usah setiap hari kesana. Bukan apa-apa, aku gak mau kamu terlalu capek." ucap Abian sambil memegang tangannya.
"Aku juga sangat sayang sama kamu." balas Abian memeluknya juga.
Setelah lama berpelukan. Akhirnya Abian pun keluar dan menaiki mobilnya.
Sedangkan Ajeng kembali masuk untuk beres-beres rumah terlebih dahulu, karena belum menemukan ART.
***
Ajeng dan Zia, sedang menunggu kedatangan Haris. Mereka janjian disebuah kaffe. Tak lama Zia ijin ke toilet. Disaat itu juga Haris pun masuk ke kaffe tersebut. Dan langsung melihat Ajeng yang sedang menunggu kedatangannya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Haris berdiri didepan Ajeng. Kemudian duduk.
"Lumayan pak." jawab Ajeng.
Mereka pun meneguk minuman terlebih dahulu yang sudah dipesankan oleh Ajeng. Namun Ajeng tiba-tiba tersedak saat meneguknya.
"Bu Ajeng gak papa?" tanya Haris. Lalu mengambilkan tissu dan diberikan pada Ajeng.
Tapi disaat itu juga, Hasna masuk dan pandangannya langsung tertuju ke arah dimana Ajeng berada.
"Ajeng? Ternyata benar, dia ada main rupanya dibelakang." gumamnya pelan. Lalu meraih ponsel dan memotretnya.
Tak menunggu apapun lagi, Hasna langsung menghampiri mereka berdua.
Prok
Prok
Prok
__ADS_1
Sebuah tepukan tangan terdengar dari tangan Hasna yang sudah berdiri dihadapan mereka. Membuat keduanya menoleh.
"Baguuussss. Jadi inikah kelakuan kamu yang sebenarnya Ajeng, jika dibelakang suamimu." ucap Hasna sambil menaikkan satu sudut bibirnya.
"Maksud kamu?" tanya Ajeng berdiri.
"Ajeng..... Ajeng, kamu memang pantas menjadi perempuan murahan, kesana kemari kamu layani. Memangnya belum puas dengan suami kamu?" maki Hasna dengan senyum sinis.
"Hasna, kenapa kamu selalu berpirikan buruk tentang aku?" sentak Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Hhhh gak mau ngaku juga." timpal Hasna.
"Terserah, aku sudah capek melayani kamu. Sekarang juga kamu pergi, untuk apa kamu berada disini, buang-buang waktuku segala." ucap Ajeng sedikit emosi, ia sudah lelah jika harus berdebat lagi dengannya.
"Baiklah, aku akan pergi. Dan ... Akan aku pastikan suamimu pasti akan sangat marah jika melihat semua ini." kata Hasna dan berlalu dari hadapan Ajeng dan tak jadi untuk makan disana, ia memilih kaluar dari kaffe itu.
Mendengar hal itu, Ajeng tak begitu peduli. Karena ia sangat percaya pada suaminya.
"Siapa dia bu Ajeng?" tanya Haris keheranan.
"Lupakan saja pak. Gak penting!" jawab Ajeng dan Zia pun kembali dari toliet.
Lalu mereka langsung berbincang membahas soal pembiayaan pada bangunan yang sudah jadi dibuat.
Hasna naik kedalam mobil. Berniat mengirimkan foto tadi pada Abian. Tapi sayang, nomornya telah diblokir oleh lelaki itu.
"Sialan. pakai blokir segala." umpat Hasna.
Karena tak bisa mengirimnya lewat ponsel. Hasna pun mencetak foto itu lewat ponselnya dengan datang ke tempat fotocopy memintanya untuk dicetak. Dan akhirnya foto itu pun jadi.
Hasna menatap foto itu sambil mengulas senyum. Lalu ia menyuruh penunggu konter itu untuk membungkusnya.
Setelah usai, Hasna menuju kantor milik Abian. Ia pun turun. Namun tak mungkin ia yang kasih langsung kotak kecil yang berisikan foto tersebut.
Kebetulan ada seorang anak kecil lewat. Lantas Hasna memanggil anak kecil itu.
"Nak, tolong kasihkan ini untuk satpam itu ya? Dan bilang ini untuk pak Abian. Tapi jangan bilang kalau ini dari tante." kata Hasna sambil menyerahkan kotak kecil itu dan memberikannya sedikit uang.
"Iya tante." ucap anak kecil itu dan menerimanya. Lantas berlari ke arah satpam tersebut.
"Pak satpam, ini katanya untuk pak Abian. Tolong kasihkan ya?" ucap anak kecil itu.
"Dari siapa memangnya?" tanya Dibyo.
"Gak tau. Katanya ini rahasia." anak itu langsung berlari menjauh.
"Sudah, kasihkan saja yo." bisik Darman.
Dibyo pun masuk menuju ruangan milik atasannya. Tiba didepan ruangan, Dibyo mengetuk pintu.
"Iya masuk." kata Abian dari dalam.
Dibyo membuka pintu dan masuk.
"Ada apa Dibyo?" tanya Abian.
"Maaf ganggu pak. Saya disuruh kasihkan ini untuk bapak." jawab Dibyo menunduk sopan. Sambil memperlihatkan kotak kecil.
"Dari siapa? Apa itu?"
"Saya juga gak tau pak, tadi anak kecil yang kasihkan ini, katanya rahasia."
Abian pun meraihnya dan menatapnya.
"Baiklah, terimakasih." ucap Abian.
"Sama-sama pak, permisi." kata Dibyo.
__ADS_1
Dibyo pun keluar dari ruangan itu. Sementara Abian membolak balikkan kotak kecil itu.
"Dari siapa ya?" ucap Abian dalam hati.