Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna


__ADS_3

Disebuah rumah kontrakan. Yudha sedang menatap foto anak kecil yang selalu ia simpan didalam dompet. Foto itu mungkin waktu Qeera berusia lima tahun., karena semenjak dirinya memutuskan menikah lagi, ia tak punya foto baru, apalagi sekarang saat usia Qeera sudah hampir tujuh tahun.


Ia meneteskan airmata, rona penyesalan jelas terlihat diraut wajahnya.


"Maafkan ayah Nak, ayah sudah gagal menjadi ayah yang baik untuk kamu, ayah sudah mengecewakan kalian berdua." desisnya dengan isakan yang tak tertahankan lagi.


Yudha kini memilih tinggal disebuah kontrakan, bukan di hotel. Padahal sebelum memutuskan ke jakarta, ia di bekali uang yang berbentuk ATM oleh sang ibu. Namun tekadnya ia ingin mandiri dan tak ingin menyusahkan ibunya lagi. Maka ia memutuskan untuk tinggal dikontrakan. Berniat membayarnya dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Lalu ia menatap secarik kertas yang Fiona tulis untuknya.


"[Mas, sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu. Aku sungguh menyesal menjual rumah itu. Karena saat itu aku gak sanggup hidup dalam kemiskinan saat kamu berada didalam penjara. Tapi ... Dengan keadaanku yang sekarang, aku sadar aku telah banyak melakukan kesalahan pada semua orang, mungkin ini juga hukuman atas dosa-dosaku selama ini. Dan ini kartu ATM ku, tolong kamu simpan dan gunakan uangnya untuk kebutuhan kamu. Bila perlu sedekahkan sebagiannya. Karena didalam ATM itu, adalah hasil dari penjualan rumah kamu. Dan dibawah tulisan ini, itu adalah nomor passwordnya.


Aku juga mau minta maaf sama ibu kamu dan juga Ajeng, sekaligus mau mengucapkan banyak terimakasih, berkat mereka berdua, akhirnya aku sadar.


Mas, jika kamu masih menginginkanku lagi, tolong kamu untuk datang kesini. Karena aku berharap kamu pun akan menjengukku kapanpun itu. Aku mencintai kamu Mas. I love you suamiku.]"


Begitulah isi pesan yang ditulis Fiona. Yudha kembali melipat kertas itu dan membuangnya begitu saja.


Matanya ia pejamkan, lalu teringat dengan alamat rumah yang tadi siang Ajeng berikan. Lantas Yudha pun mengambilnya didalam saku celananya.


"Jadi kalian sudah pindah rumah." gumamnya saat membaca alamat yang tertera.


***


Hasna dan Luthfan sedang berada disebuah resto, Luthfan sengaja membawa Hasna untuk sarapan disana. Memilih menu makanan yang Hasna mau, karena saat dirumahnya, tak ada satupun makanan yang Hasna sentuh. Perempuan itu tetap tak mau memakan makanan buatan Luthfan.


"Ini ada beberapa menu makanan, silakan kamu pilih mana yang kamu suka." ucap Luthfan sambil memberikan buku menu.


Hasna meraihnya lalu memilih. "Aku ingin ini dan ini." tunjuknya ke deretan makanan pedas.


"Hasna jangan ngaco deh, ini tuh makanan pedas, kamu mau? Anak kita yang ada didalam perut kamu kenapa-napa? Gak. Aku gak ijinin." protes Luthfan.


"Biarin, untuk apa dia hidup." umpat Hasna.


"Astaghfirullaahh... Hasna! Kamu sadar gak dengan ucapan kamu barusan? Anak itu gak bersalah. Dia berhak hidup. Kamu mau? Di cap sebagai pembunuh?" tegur Luthfan yang tak habis pikir sama arah pikiran Hasna.


"Iya iyaaa, gitu aja sewot." celetuk Hasna. "Yasudah, kamu saja yang pilih."


Akhirnya Luthfan yang memilih makanan yang cocok untuk ibu hamil. lalu memanggil pelayan.


Setelah beberapa menit, makanan pun sudah terhidang diatas meja.


"Sekarang, makanlah! Kasihan anak kita." titah Luthfan, namun mendengar Luthfan menyebut 'anak kita' membuat Hasna berdecih, karena yang ia inginkan anak dari lelaki yang sampai sekarang masih dia cintai. Abian Qadafi.


Hasna pun perlahan memakannya, karena dirinya juga sudah sangat lapar. Belum makan dalam waktu yang cukup lama. Beruntung tak merasakan mual saat memakannya.


"Aku akan menemui kedua orangtua kamu, untuk melamarmu." ucap Luthfan ditengah-tengah sarapannya. Membuat Hasna yang sedang lahap pun terdiam seketika lalu menatap wajah Luthfan. Lelaki itu memang terlihat serius. Tapi Hasna tetap tidak mau menikah dengannya karena tidak ada rasa sama sekali.


"Bagaimana kalau besok saja kita menemui orang tua kamu." tambahnya lagi.

__ADS_1


"No! Aku gak mau." tolak Hasna.


"Lalu kapan? Perut kamu akan semakin membesar nantinya. Apa kamu gak malu dipandang orang-orang? Sementara kamu pun belum menikah." ucap Luthfan.


"Beri aku waktu." jawab Hasna.


"Baiklah, aku tunggu." balas Luthfan.


Lalu tak ada obrolan lagi dari keduanya. Hanya bunyi sentuhan sendok saat akan menyendok makanan yang ada didalam piring.


Setelah usai, Luthfan pun memanggil pelayan untuk membayarnya. Lalu mereka pun keluar dan kembali menaiki mobil dan meninggalkan resto.


Namun, pada saat diperjalanan, Hasna melihat Ajeng yang sedang berdiri didepan bangunan kosong dan terlihat baru. Ajeng sedang berbicara dengan Haris dan ditemani oleh Zia.


"Berhenti." ucap Hasna sambil memandang ke arah mereka bertiga.


Mobil pun berhenti ditepi jalan, dan Luthfan menoleh pada Hasna lalu pandangannya mengikuti kemana arah mata Hasna.


"Dengan siapa dia?" ucap Hasna. "Ternyata dibelakang, kamu sangat busuk Ajeng." umpatnya.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Siapa tau lelaki itu saudaranya atau nggak teman bisnisnya. Dia kan semakin maju usahanya sekarang." balas Luthfan mengingatkan.


"Itu karena ada campur tanganku." timpal Hasna dengan sombong dan memasang raut wajah emosi. Emosi karena hidup Ajeng selalu selangkah lebih depan daripada dirinya.


Napasnya sedikit menggebu menahan amarah pada perempuan yang dulu pernah menjadi sahabatnya.


"Sudahlah Na, jangan mengganggu kehidupannya lagi, fokuslah pada masa depan kita dan anak kita." pinta Luthfan menatap Hasna yang masih dengan amarahnya.


Lantas, Luthfan pun kembali menyalakan mesin, lalu melesat membelah jalanan kota jakarta. Langkahnya kini akan menghampiri butiknya dulu.


"Mau kemana kita?" tanya Hasna.


"Kita akan mampir dulu ke butik." jawab Luthfan.


Setelah setengah jam, akhirnya tiba, lalu keduanya pun turun. Dan melangkah, kemudian masuk.


Saat sudah masuk, Luthfan menatap lelaki yang usianya hampir kepala lima yang sedang memegang baju hasil rancangannya. Lalu lelaki itu pun menoleh.


"Pak Luthfan? Ternyata benar ini butik milik anda?" tanya lelaki itu.


"Pak Hartoyo bukan ya?" tanya Luthfan.


"Benar, saya Hartoyo." jawabnya tersenyum.


Dan mereka berdua berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan anda. Mari silakan duduk " titah Luthfan, dan mereka pun duduk tak lupa juga Hasna ikutan duduk sambil menyimak obrolan mereka berdua.


"Tumben pak Hartoyo datang kesini! Apa ada hal penting?" tanya Luthfan to the poin.

__ADS_1


"Ya, saya datang kesini ingin menanyakan alamat rumah bu Ajeng, kalau gak salah kita sempat bertemu kan ya? Disebuah acara fashion show waktu itu." jawab Hartoyo serius. "Saya ingin menanyakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan saya. Karena saya dulu sempat memberikan kartu nama saya pada bu Ajeng. Tapi beliau tak juga menghubungi saya. Mungkin lupa." tambahnya sambil terkekeh.


Hasna yang mendengarnya semakin meradang, karena lagi dan lagi, Ajeng selalu lebih beruntung darinya, dari mulai urusan cinta sampai sebuah pekerjaan. Membuatnya bangkit dari hadapan mereka berdua dan memilih duduk dikursi yang ada didepan butik.


Luthfan pun menatap kepergian Hasna dengan mengambil napas berat, sambil menggelengkan kepalanya.


"Istri anda?" tanya Hartoyo.


"Masih calon pak." jawab Luthfan menunduk sopan. "Maaf, dia memang suka begitu, suka pergi sesuka hati." kata Luthfan tak enak hati, karena Hasna pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu pada tamunya.


Tapi Luthfan paham kenapa Hasna langsung bangkit saat mendengar soal kerjasama. Dan ia malah melamun.


"Ahh tidak masalah pak Luthfan." balas Hartoyo.


"Lalu. Bagaimana pak Luthfan? Anda tau kan? Alamat rumah bu Ajeng dimana?" tanya Hartoyo membuat Luthfan sadar dari lamunannya.


"Ahh ya. Maaf!" kekeh Luthfan berusaha tersenyum. Kemudian ia menulis alamat ruko milik Ajeng, karena dia tidak tau alamat rumah barunya yang ia dengar dari para tetangga rumah Ajeng saat ia berkunjung kesana, yang kata mereka kalau pemilik rumah sudah pindah sebulan yang lalu.


"Ini alamat ruko nya, karena saya sendiri tidak tau alamat rumah baru nya." jawab Luthfan sambil menyerahkan kertas yang berisikan alamat.


Hartoyo pun meraihnya. "Bu Ajeng pindah rumah?" tanyanya.


"Sepertinya begitu." balas Luthfan.


"Kalau begitu, terimakasih banyak pak Luthfan, semoga nanti pas acara akad, dimudahkan." ucap Hartoyo.


"Terimakasih banyak pak. Sama-sama." kata Luthfan tersenyum.


Mereka berdua pun akhirnya berpamitan. Dan Luthfan mengantarnya sampai depan, namun pada saat sudah didepan. Luthfan tak melihat Hasna dimanapun.


"Saya permisi pak Luthfan." pamit Hartoyo.


"Iya pak, hati-hati." balas Luthfan.


Dan mereka berdua berjabat tangan.


Setelah kepergian Hartoyo. Luthfan mencari Hasna ke sekitaran butiknya. Namun tak ada juga.


"Kemana kamu Hasna." ucapnya yang sudah mulai lelah menghadapi perangai Hasna.


Dihubungi pun tak aktif. "Arrgghhh." teriaknya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Didepan gerbang sekolahan. Yudha sedang berdiri menunggu sang anak pulang.


Setelah beberapa menit menunggu. Akhirnya Qeera terlihat keluar dari gerbang bersama dengan pengasuhnya.


Yudha nampak berbinar melihat putrinya yang sudah besar dan semakin cantik. Menurun dari ibunya.

__ADS_1


"Qeera anakku." panggilnya membuat anak itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah sumber suara.


__ADS_2