
Sesampainya di apartemen. Luthfan pun turun, kemudian masuk.
"Hasna beneran sudah tidur Bi?" tanya Luthfan pada ART nya bernama Sari.
"Sudah Tuan. Tadi juga nanyain Tuan. Lalu saya jawab, kalau Tuan sedang keluar sebentar. Terus bilang lagi, katanya mau tidur. Ngantuk." jawab Sari mengangguk sopan.
Lalu Luthfan pun masuk ke dalam kamar. Kemudian membersihkan diri terlebih dahulu, dilanjut dengan mengganti pakaiannya, setelah itu, baru ia tidur.
Sementara Fiona pun terbangun. Dan melihat ke sekeliling, ternyata sudah beda tempat.
"Dimana aku ini?" gumamnya bingung dan masih sedikit pusing.
Kemudian ia pun turun dari mobil, beruntung pintu mobil itu tak dikunci. Entah, mungkin Luthfan lupa.
Setelah turun. Ia pun menatap apartemen tersebut.
"Apartemen siapa ini? Bisa masuk gak ya? Minimal bisa nginep malam ini lah." katanya berbicara sendiri.
Lantas Fiona pun melangkah. Dan membuka pintunya dengan perlahan. Dan... Bisa. Ternyata pintu itu juga belum di kunci.
Dengan langkah pelan Fiona pun masuk. Berjalan mengendap. Lalu langkahnya langsung tertuju ke arah kamar yang dimana Luthfan kini berada.
Ia tercengang saat membuka pintu kamar itu. Karena Luthfan lah yang ia lihat. Lelaki itu sudah tertidur pulas. Senyuman pun terbit dibibir Fiona.
Lantas, Fiona pun masuk kedalam kamar Luthfan.
"Jadi, apartemen ini milik kamu? Hhhhh kenapa dari dulu, gak kamu saja yang aku kejar. Kalau kejar si Ferdy. Aku gak tau sekarang dia ada di mana, aku malas cari. Mending yang jelas-jelas saja yang ada di depan mata. Dan benar kata si Siska. Ternyata kamu itu cakep juga. Eehh kok jadi inget sama dia sih. Iiwwhh gak banget."
Pada akhirnya sebuah ide pun muncul di kepala Fiona, dan tanpa menunggu apapun lagi. Fiona langsung melancarkan idenya.
***
Pagi hari saat adzan subuh berkumandang. Seperti biasa Ajeng pun bangun lebih dulu. Lalu membangunkan Qeera. Dan kini ia salat bersama putrinya didalam kamar. Bukan lagi dengan suaminya. Setelah usai. Ajeng pun menyimpan mukenanya, lalu keluar. Dan masuk kedalam kamarnya. Mempersiapkan baju untuk suaminya pergi ke kantor.
"Sayang... Sudah sholat?" tanya Abian tersenyum. Sengaja. Karena tak ingin di cueki istrinya lebih lama lagi. Tapi sepertinya Ajeng masih kesal. Yang hanya dijawab "sudah." jawaban yang sangat singkat, padat dan jelas.
Abian pun mengambil napas panjang. Lalu memilih diam dan hanya melihat sang istri mondar mandir mempersiapkan segala sesuatu untuknya. Dan Abian sendiri sudah salat.
Meski Ajeng tengah kesal. Tapi ia tetap harus melakukan semuanya. Sadar, karena memang itulah tugasnya sebagai istri.
Saatnya tiba. Abian pun harus pergi ke kantor.
"Semoga saat aku pulang nanti. Bibirmu kembali tersenyum menyambut kedatanganku." ucap Abian. Lalu mencium kening istrinya. Barulah ia pun naik kedalam mobil bersama Ezhar. Kemudian pergi. Lantas Ajeng pun masuk.
Dan disaat itu juga. Yudha datang. Dan kini sudah berdiri di depan pintu gerbang yang baru saja akan ditutup oleh Heru.
"Maaf. Dengan Pak Yudha kan?" tanya Heru yang sudah sedikit hafal dengan wajah Yudha.
"Ya, seperti biasa, saya kesini ingin bertemu dengan anak saya. Qeera." jawab Yudha basa basi. Padahal tujuannya memang ingin bertemu dengan Ajeng.
"Maaf Pak. Non Qeera sudah pergi ke sekolah." jawab Heru.
"Kalau begitu ibunya." kata Yudha yang tidak mau berbohong lagi.
"Maaf Pak. Tuan Abian juga tidak mengijinkan anda untuk menemui Nyonya, jika Tuan Abian sendiri tidak ada dirumah."
__ADS_1
"Panggilkan saja, apa susahnya sih?" sentak Yudha yang tidak sabar.
"Sekali lagi, maaf Pak. Karena ini perintah. Jadi saya harus nurut." balas Heru yang tetap mengangguk sopan.
"Hey dengar ya. Saya itu mantan suami Nyonya kamu." Yudha tak mau kalah.
"Justru itu, karena anda mantan suaminya. Maka Tuan Abian melarang anda datang kesini tanpa sepengetahuannya. Jadi, silakan buat janji dulu." kata Heru.
Dan Ajeng pun mendengar keributan tersebut. Lantas ia pun kembali keluar.
"Ada apa ini, kok ada suara ribut?" tanya Ajeng yang seketika matanya terbelalak saat melihat kedatangan Yudha yang sedang menatapnya juga.
"Ajeng." ucap Yudha tersenyum menatap Ajeng yang begitu dalam. Ia pun langsung terpana akan pesona kecantikan yang dimiliki Ajeng. Yang dimana Ajeng memang semakin terlihat cantik saja. Apalagi ia kini tengah hamil, dan badannya pun sedikit berisi. Dan justru itulah pesona yang ada didalam tubuh perempuan hamil. Apa yang dikatakan orang-orang. Tubuh perempuan hamil memang menambah kesan tersendiri. Apalagi Ajeng, yang memang aslinya cantik dan mempesona.
Yudha pun segera mendekat, sontak saja, Yudha langsung memeluk Ajeng begitu saja. Tanpa Ajeng sendiri bisa menghindarinya. Dan disaat itu juga. Abian pun kembali datang, karena ingin mengambil berkas yang tertinggal. Namun sayang, ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, menyaksikan dimana sang istri tengah dipeluk oleh mantan suaminya sendiri. Dan Ajeng pun terus meronta meminta dilepaskan.
Abian pun berlari dan melerai pelukan itu.
"Mas." lirih Ajeng yang tak sadar akan kedatangan suaminya.
"Kurang ajar."
Bugh
Abian pun memukul wajah Yudha dengan sangat kuat. Dan pukulannya pas dibagian sudut bibir Yudha dan sampai mengeluarkan darah.
"Berani kamu datang kesini? Hah? Kurang ajar kamu Yudha."
Bugh
Pukulan kali kedua dari Abian. Dan Yudha pun terjengkal lalu duduk.
"Kamu sudah kurang ajar! Apa tujuanmu datang kesini? Hanya ingin memeluk istriku? Ingin merebutnya dariku? Jangan mimpi." teriak Abian dengan napas menggebu. Emosinya benar-benar sedang berada dipuncaknya.
Lalu, pukulan kali ketiga, harus Yudha rasakan lagi. Membuat Yudha memegang sudut bibirnya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Yudha sendiri sengaja tidak membalasnya. Karena sadar atas apa yang ia lakukan.
Ezhar hanya meringis ngilu melihat luka yang dialami Yudha. Sementara Ajeng sendiri memejamkan mata melihat kemarahan suaminya. Pun Heru sendiri diam tak ada keberanian untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma.. Maaf. Aku kesini hanya ingin ketemu Qeera." Yudha beralasan.
"Omong kosong." bentak Abian. "Qeera di jam segini sudah berangkat ke sekolah. Kamu sengaja kan ingin bertemu dengan istriku?" bentaknya lagi. Sementara Yudha pun terdiam dan menunduk.
"Pergi kamu dari sini. Pergiiii." teriakkan Abian sungguh melenakkan telinga bagi siapapun yang ada disana.
Yudha pun akhirnya pergi. Tanpa meminta maaf terlebih dahulu.
"Mas." Ajeng mendekat. Sambil meraih tangan suaminya. Namun ditepis dan tanpa menoleh sedikitpun.
"Ezhar. Kita pergi." titahnya.
"Ba.. Baik Pak."
Sebenarnya Ezhar tak tega melihat perubahan wajah Ajeng saat tangannya mulai ditepis. Namun apa boleh buat. Ia pun harus pergi karena perintah atasannya. Meski Ajeng juga atasannya. Tapi ia sendiri saat ini harus mengikuti Abian ke kantor.
Namun, bukan kantor tujuannya kali ini. Melainkan makam Rasyid. Ayahnya Abian.
__ADS_1
Tiba di pemakaman. Abian pun duduk sambil menyeka sudut matanya.
"Ayah. Aku saat ini sedang sedih, ayah. Tolong aku... Aku butuh sandaran ayah. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah." isaknya kemudian.
"Ayah. Aku sakit, aku cemburu, saat melihat istriku dipeluk lelaki lain. Ayah... Ayah....." Abian terus menangis tersedu di hadapan makam sang ayah.
Sementara Ezhar. Ia malah tak tenang dengan keadaan yang ada. Lantas ia pun menghubungi Heru. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan Heru pun memaparkan apa yang ia lihat.
"Sudah ku duga. Lalu kenapa kamu tidak jujur sih saat tadi?" omel Ezhar "aahhh sudahlah. Terimakasih." ucapnya. Dan telepon pun ditutup, tanpa mendengar jawaban dari Heru.
Ezhar kembali mendekat pada atasannya.
"Pak, apa sebaiknya kita pulang saja?" tawar Ezhar.
"Nanti saja. Saya sedang rindu dengan ayah. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah." tolak Abian.
"Tapi ... Bukannya Bu Ajeng juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi? Bapak lupa? Istri Bapak sudah yatim piatu? Sementara Bapak sendiri malah pergi meninggalkannya begitu saja, seolah tidak ada kepercayaan lagi dalam diri Bapak, untuk istri Bapak." Ezhar berusaha mengingatkan. Bahwa apa yang dilakukan atasannya sangat salah.
"Pak, Bapak percaya, dengan apa yang Bapak lihat? Tapi ... Tolong! Bapak dengarkan ini dulu." kata Ezhar.
Ia pun langsung memutar rekaman suara Heru di telepon. Karena Ezhar merekamnya tadi saat ia sedang menelepon Heru.
Seketika Abian pun mengucap istighfar.
"Astaghfirullah... Apa yang telah aku lakukan? Aku sudah sangat keterlaluan, dan pasti menyakiti perasaan istriku." lirih Abian yang baru sadar akan kesalahannya.
"Cepat. Kita kembali ke rumah."
"Baik, Pak."
Sementara itu. Ajeng sendiri sedang terisak didalam kamar.
"Mas. Apa sedikitpun kamu sudah tidak percaya lagi sama aku? Apa rasa sayangmu sudah tidak ada? Aku sakit Mas, sakiiiit." tangisannya pun kini semakin pecah. Berasa ribuan paku menancap ditubuhnya.
Lalu semakin lama, Ajeng semakin merasa lemas. Hingga akhirnya Ajeng pun pingsan.
Marni terlihat panik. Karena majikannya tidak kunjung keluar sedari tadi. Ia pun mencoba membuka pintu. Namun dikunci dari dalam.
Lantas, Marni pun memanggil Heru dan Marno untuk mendobrak pintu tersebut.
Dengan melakukan ancang-ancang. Heru dan Marno pun mendobrak pintu itu. Betapa terkejutnya mereka bertiga, saat mendapati majikannya sudah tak sadarkan diri di atas lantai.
"Ya ampun Nyonya. Cepat bawa Nyonya kerumah sakit." kata Marni panik. Sambil menekan urat nadinya.
Heru pun mengangkat tubuh majikannya dan membawanya masuk kedalam mobil milik Ajeng. Beruntung Heru bisa menyetir. Dengan ditemani Marni. Mobil itu pun pergi menuju rumah sakit terdekat. Sementara Marno sendiri, jaga rumah.
"Cepat telepon Tuan." kata Heru sambil menyetir.
"Ini sudah, tapi tidak aktif." jawab Marni.
"Kalau begitu asistennya." kata Heru lagi.
"Saya tidak punya nomor asisten Tuan." balas Marni.
"Ahh yasudah. Pakai ponsel saya. Eh tapi... Ya ampun... Ponsel saya juga ketinggalan dirumah." ujar Heru yang semakin panik.
__ADS_1
"Ezhar, cepat! Hatiku mendadak tidak tenang." titah Abian tak sabar.
"Allah... Semoga tidak terjadi sesuatu dengan istri dan anakku yang ada didalam perut. Sayang... Maafkan aku."