
Ajeng sudah berada didepan rumah Hasna. Ia menatap rumah itu sambil menghela napas. "Semoga ini yang terbaik." desisnya. "Abian, maafkan aku, aku gak mau melihat Hasna menderita di atas kebahagiaanku."
Ia membuka pintu mobil dan turun. Namun pada saat akan melangkah. Ponselnya berbunyi. Lantas Ajeng pun mengambil ponselnya didalam tas, dan tertera nama Abian.
Ajeng ragu untuk mengangkatnya, karena takut akan berubah pikiran, sehingga suara panggilan itu ia biarkan sampai terputus dan tak terdengar lagi.
Tapi ponselnya kembali berbunyi. Ia pandang lagi nama itu, nama yang sekarang sudah menetap didalam hatinya.
"Abian, kenapa kamu menghubungi aku, disaat aku akan melepaskan kamu." desisnya pelan. Dan panggilan itu pun kembali terputus.
Namun, saat panggilan ke tiga kali, membuat Ajeng tak tega, lantas ia pun mengangkatnya.
"Hallo." sapa Ajeng pelan.
"Sayang, kamu dimana? Kenapa lama banget angkat teleponnya?" tanya Abian panik.
"Aku ... Aku ... Lagi ada ... didepan rumah ... Hasna." jawab Ajeng sedikit gugup.
"Sayang, kalau kamu kasihan pada kami, cepat kamu datang kerumah sakit sekarang juga. Nanti aku kirimkan alamatnya." titah Abian.
"Apa? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanya Ajeng cemas.
"Bukan, bukan aku sayang, tapi ayahku." balas Abian sambil terisak.
"Abian, kamu nangis? Ada apa dengan ayah kamu?"
"Ayah ... Ayah ... " Abian tak kuasa melanjutkan kata-katanya lagi.
"Abian, ada apa?" tanya Ajeng yang sangat cemas. Lalu panggilanpun terputus begitu saja.
"Pak Rasyid? Kenapa dengan beliau." gumam Ajeng berbicara sendiri. "Bagaimana ini? Apa aku tetap melanjutkan niatanku, atau ... Pergi kerumah sakit?" kata Ajeng lalu menoleh pada rumah itu.
Dengan pergolakan hati. Ajeng memikirkan semua itu, di satu sisi, logikanya mengatakan ia tetap harus kerumah Hasna dan merelakan Abian bersamanya. Tapi disisi lain, feelingnya berkata kuat, bahwa ia harus pergi kerumah sakit sekarang juga.
Dengan pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Ajeng akan menuruti feelingnya itu, karena atas rasa kemanusiaannya ia lebih mendahulukan orang yang tengah terbaring sakit. Lantas Ajeng pun segera naik kedalam mobil, dan melaju menuju rumah sakit dimana ayah Abian berada.
Saat diperjalanan, ponselnya kembali berbunyi, dan itu dari Retno, Ajeng segera mengangkatnya.
"Hallo bu." sapa Ajeng.
"Ajeng, pikirkan sekali lagi Nak! Ibu takut kamu menyesal nantinya dengan keputusan yang kamu ambil." ujar Retno.
__ADS_1
"Aku belum sempat kerumah Hasna. Karena aku ... mau pergi kerumah sakit. Sekarang lagi dijalan." jawab Ajeng sambil fokus menyetir.
"Apa? Rumah sakit? Siapa yang sakit Nak?" tanya Retno cemas.
"Ayahnya Abian, Pak Rasyid dilarikan kerumah sakit." balas Ajeng.
"Yasudah, ibu juga mau kerumah sakit sekarang, tolong kirimkan alamatnya." titah Retno. Dan panggilanpun terputus.
"Ajeng, apa ibu bilang, ternyata feeling ibu benar, kamu tidak akan sampai hati melakukan itu Nak, karena kamu berhak bahagia." kata Retno tersenyum senang.
Ajeng pun tiba dirumah sakit itu, ia gegas turun lalu melangkah masuk, dan langsung menanyakan kamar pasien atas nama Rasyid.
Setelah dapat, ia sedikit tergesa menuju ruangan yang dituju.
Tiba di depan kamar, Ajeng pun masuk dan didapati Abian sedang terisak.
"Bu Ajeng." sapa Ezhar membuat Abian menoleh.
"Sayang." sapa Abian mendekat dengan linangan airmata.
"Bagaimana keadaan beliau? Kenapa sampai dibawa ke rumah sakit?" tanya Ajeng cemas.
"Ajeng, kemarilah Nak." panggil Rasyid dengan suara pelan. Karena layar di monitor itu kembali berjalan normal. Membuat Ajeng menoleh, lalu menatap Abian yang menganggukkan kepalanya. Ajeng pun mendekat. Diraihnya tangan itu oleh lelaki yang selalu menemani hari-hari putranya.
"Saya mau minta maaf, jika saya punya salah sama kamu." ujar Rasyid dan Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Tidak pak! Bapak sama sekali tidak ada salah sama saya, jika adapun, saya mungkin sudah memaafkan bapak dari dulu." jawab Ajeng menatap penuh iba.
"Jangan panggil saya bapak Nak, panggil saya ayah seperti Abian memanggil saya ayah." pinta Rasyid.
"Nak Ajeng! Nak Ajeng mau kan, memenuhi keinginan saya?" tanya Rasyid pelan, bahkan hampir tak bersuara.
"Selagi saya mampu, saya akan penuhi semua keinginan ayah.." balas Ajeng menunduk.
"Apapun itu? Janji?" tanya Rasid. Dan Ajeng menganggukkan kepala.
"Kalau begitu ... Maukah kamu menikah dengan putraku satu-satunya. Yaitu Abian Qadafi." ujar Rasyid pelan.
Ajeng dibuat terkejut mendengar permintaan itu. Lalu ia menoleh ke belakang, disana pun sudah ada Retno yang sudah berdiri ditengah pintu. Lalu menoleh pada Abian. Lelaki itu menatap tersenyum tanpa mengurangi tetesan air dimatanya.
Retno mendekat. "Terimalah Nak. Mungkin ... Abian memang jodoh kamu." bisiknya ditelinga Ajeng.
__ADS_1
"Gimana Nak Ajeng? Mau kan?" tanya Rasyid, tapi Ajeng belum juga memberikan jawaban. Namun seketika layar dimonitor berjalan semakin tidak normal.
Abian kembali panik dan mendekati sang ayah. " Ayah, jangan tinggalin Abian, ayah! Abian sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah." kata Abian menangis tersedu.
Lalu datanglah seorang penghulu ditemani satu temannya. Karena memang, Ezhar sudah mempersiapkan semuanya termasuk mahar yang Abian minta.
Ezhar juga sudah bertanya pada Retno, siapa nama orangtua Ajeng untuk prosesi ijab qabul nanti.
"Permisi." sapa pak penghulu. "Bagaimana? Bisa kita laksanakan sekarang juga? Kebetulan saya juga ada urusan ditempat lain." tanya pak penghulu.
Abian menoleh dan menatap dalam pada Ajeng. "Semua keputusan ada ditangan Ajeng Pak. Saya pasrah saja. Jika pun nanti di tolak, mungkin dia bukan jodoh saya." kata Abian menunduk lemah.
Ajeng menghela napas terlebih dahulu sambil memejamkan mata dan membukanya perlahan. Ia pun menoleh pada layar di monitor itu. Lalu menunduk.
"Bagaimana Nak Ajeng?" tanya pak punghulu.
"InsyaaAllah. Saya ... Bersedia." jawab Ajeng pasti. Membuat semua orang yang ada diruangan itu tersenyum dan mengucap hamdalah bersamaan.
Apalagi Abian, meski hatinya bersedih karena keadaan sang ayah, dirinya juga tersenyum ditengah isakannya karena akhirnya penantiannya selama ini akan berlabuh juga.
"Baiklah kalau begitu, prosesi ijab qabul, kita laksanakan sekarang." ujar pak penghulu. "Siapa yang akan jadi walinya?" tanyanya.
"Kebetulan, Bu Ajeng ini sudah yatim piatu dan tidak punya saudara kandung. Juga saudara dari ibu bapaknya pada jauh. Jadi ... Saya sendiri yang akan menjadi wali-nya." jawab Ezhar.
"Baik, jadi disini kita memakai wali tahkim ya, karena wali tahkim sendiri yaitu wali nikah yang diangkat sendiri oleh calon suami atau pun calon istri. Mengingat ayah mempelai wanita sudah tidak ada, juga tidak adanya wali hakim, maka bisa kita pakai ... wali tahkim." papar pak penghulu. Dan semua mengangguk paham.
"Kalau begitu. Silakan Pak Abian untuk duduk dihadapan saya bersama mempelai wanita." titahnya.
Ajeng pun sudah berganti pakaian dikamar mandi dengan mengenakan kebaya berwarna putih yang sudah disiapkan oleh Ezhar.
Ajeng dan Abian pun duduk didepan penghulu. Abian berlatih ijab qabul menggunakan bahasa indonesia. Lalu berjabat tangan dengan pak penghulu dan bersiap mengucapkan kalimat sakral tersebut.
Dengan mahar satu buah rumah juga perhiasan senilai lima ratus juta rupiah. Abian mengucapkan ijab qabul dengan lancar. Dan para saksi mengatakan 'SAH' atas pernikahan mereka.
Setelahnya, pak penghulu melafalkan do'a agar rumahtangganya Sakinah, Mawaddah, waRohmah. Dan agar selalu diberikan kesabaran akan setiap ujian yang ada, juga agar segera mendapatkan momongan.
Dan semuanya menjawab 'Aaamiin'.
Lalu Abian menyematkan satu cincin lagi yang kali ini dijari tengah Ajeng, dan untuk pertama kali ia mengecup kening perempuan yang ada disisinya, ia kecup dengan perlahan dan sangat lama sambil memejamkan mata. Setelah itu Ajeng mencium tangan Abian dengan takjim, lalu kedua mempelai berfoto bersama sambil memegang buku nikah masing-masing.
Dan sekarang, mulai hari ini, mereka pun sudah sah sebagai pasangan suami istri.
__ADS_1