
Malam pun menyapa dengan di iringi gemerincik air hujan dari atas langit. Berdirilah seorang perempuan dibalkon atas sambil menatap lurus. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar diatas perutnya dari belakang.
"Kenapa?" bisik Abian sambil mengeratkan pelukannya. Semilir anginpun menyapa kulit keduanya.
"Gak ada apa-apa Mas, aku masih gak nyangka saja sama mereka berdua, Luthfan yang aku kenal sangat baik, tapi nyatanya ia jahat. Apalagi Hasna, dia sahabatku sejak dulu, dia juga yang banyak membantu aku disaat aku kesusahan." jawab Ajeng sambil menghela napas.
"Tapi ... Harus aku akui, semua yang kudapat memang ada campur tangan dirinya. Dulu ... Ruko itu miliknya, lalu ia kasihkan untukku saat aku memilih keluar dari rumah, ia sangat memikirkan kebutuhanku sama Qeera. Tapi ... Aku tidak mau menerimanya begitu saja, karena dia sudah banyak membantu aku selama ini. Aku gak enak, maka aku berinisiatif untuk mencicilnya dari hasil penjualanku, meski ia sempat menolaknya, tapi aku tetap bersikuku ingin membayarnya, dan sekarang semua sudah lunas. Tapi ... Aku sungguh gak nyangka. Hasna malah mengungkitnya dengan berdalih balas budi." tambah Ajeng sambil menundukkan kepalanya. Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mereka berdua memang licik, beruntung kamu punya pikiran untuk tak menerimanya secara cuma-cuma. Kamu sudah benar sayang! Tapi ... Tak seharusnya dia meminta kerugian ataupun balas budi atas semua kebaikannya selama ini, karena itu artinya dia sama sekali tidak ikhlas membantu kamu." timpal Abian.
"Entahlah, aku pun tak tau kenapa dia bisa seperti itu. Mungkin karena ingin mendapatkan kamu, makanya segala cara ia lakukan. Cinta memang bisa membutakan segalanya." balas Ajeng.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirin, yang penting aku tidak akan menikahi dia, apalagi meninggalkan kamu demi dia. Dan aku minta sama kamu untuk jangan bergaul lagi dengan mereka." pinta Abian.
"Iya, aku akan patuh padamu, karena kamu suamiku." balas Ajeng.
Sejatinya, seorang istri memang harus patuh dan tunduk pada suami, kecuali suami itu sendiri malah menyesatkan, dalam artian melarang melaksanakan perintah Allah, seperti sholat, dan melaksanakan kewajiban lain, termasuk menutup aurat. Maka tidak wajib baginya untuk patuh.
Apalagi yang dilakukan Abian memang jelas, untuk melindungi istrinya dari kejahatan.
Abian memutar tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika kembali bertemu dengan Hasna? Karena dia pasti akan menagih keputusan kamu soal kemarin."
"Aku tidak akan pernah membagi suamiku dengan perempuan manapun, tidak akan!" jawab Ajeng tegas sambil menatap manik mata suaminya. Kedua tangannya pun ia angkat dan menangkup kedua pipinya, sambil sesekali mengusap bulu-bulu halus disana.
"Dan aku juga tidak akan membiarkan kamu direbut oleh lelaki lain, termasuk Yudha mantan suami kamu, karena yang aku lihat, dia masih menginginkan kamu, terlihat dari caranya menatap kamu kemarin yang hampir tak berkedip." kata Abian.
Lalu mereka berdua pun berpelukan, saling menumpahkan rasa yang ada dalam diri masing-masing. Bahwa bukan tak mungkin akan terlepas dari segala ujian yang akan menimpa rumahtangga mereka berdua. Pasti ujian itu akan datang lagi yang entah apa. Maka untuk menguatkannya tentu dengan kepercayaan dan menjalin komunikasi dengan baik.
__ADS_1
Semua masalah tentu harus mereka hadapi dengan kepala dingin. Apalagi Ajeng seorang ibu beranak satu, ia yang pernah merasakan pahitnya karena sebuah perceraian, dan tentu anaklah yang menjadi korban. Ia tak mau kembali mengulang hal yang sama lagi. Cukup hanya masalalu saja ia merasakan semua itu. Sekarang ia tidak akan membiarkan orang ketiga masuk lagi kedalam rumahtangganya ataupun masalah lain yang bisa saja merusaknya.
Mereka pun melerai pelukannya dan melangkah masuk, karena hujan semakin deras.
Ditutupnya pintu itu dengan rapat, tak lupa jendela dan tirai pun mereka tutup. Namun, saat ditutupnya tirai justru ada kain lain yang terbuka.
Dengan di iringi suara rintik hujan dari luar. Mereka berdua hanyut dalam balutan surga dunia, seolah tak ada bosannya. Apalagi Abian yang belum pernah menikah. Maka sudah sepantasnya Ajeng menuruti semua keinginannya.
***
Berbeda dengan Hasna. Ia pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Tak pernah ia seperti itu sebelumnya. Lagi, semua karena cinta.
Hasna sampai tak fokus berkendara hingga ia mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak sebuah pohon yang ada dipinggir jalan. Tak ada rumah satupun disana, karena jauh dari pemukiman warga. Beruntung jalannya masih sedikit lambat, maka hanya mobilnya saja yang rusak dibagian depan. Dia sendiri tidak mengalami luka yang berarti. Hanya pingsan karena kepalanya membentur setir mobil.
Tidak ada satupun kendaraan lain yang lewat saat itu. Hingga sepuluh menit kemudian. Sebuah mobil melintas dan berhenti karena melihat kecelakaan itu.
"Hasna." ucap Luthfan panik.
Lantas dengan terpaksa kaca mobilnya ia pecahkan untuk memudahkannya mengeluarkan Hasna dari dalam.
Setelah itu, Luthfan pun memencet tombol kunci otomatis agar pintunya bisa dibuka.
Dan setelah berhasil dibuka. Ia segera membopong Hasna untuk masuk kedalam mobil miliknya. Ia sedikit terbatuk karena mencium aroma alkohol dari mulut Hasna.
Hasna pun di dudukkan dan menyandar disamping kemudi. Lantas ia sendiri masuk dan melaju meninggalkan lokasi kejadian.
Luthfan menoleh pada Hasna. "Kamu seperti ini karena Abian kan? Hasna, aku gak nyangka kamu bakalan seperti ini hanya gara-gara lelaki brengsek itu." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Bukannya Hasna diantar untuk pulang kerumahnya. Luthfan malah membawanya ke apartemennya.
__ADS_1
Tiba di apartemen. Ia kembali membopong Hasna lalu melangkah dan masuk, kemudian ia tutup pintunya menggunakan kaki.
Hasna langsung dibawa kedalam kamar yang satunya. Karena ia sendiri tidak mau kamar miliknya ada aroma alkohol.
Di rebahkannya tubuh Hasna dengan perlahan. dan ditutup tubuhnya menggunakan selimut.
"Untuk sementara kamu tidur disini dulu, biar besok saja kamu aku antar pulang." kata Luthfan berbicara sendiri.
Bukannya ia tak mau mengantarnya untuk pulang, karena dipikirannya ini sudah tengah malam, makanya ia bawa kesana.
Lantas ia keluar dan masuk kedalam kamar miliknya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, setelah itu ia pun kembali ke kamar yang dimana ada Hasna disana.
Ia kasihan jika Hasna tidur sendirian, takut terbangun tengah malam. Maka Luthfan memilih menemaninya dan tidur diatas sofa.
Beberapa menit kemudian, Luthfan akhirnya tertidur.
Namun tepat pukul dua malam, Luthfan terbangun. Matanya langsung menatap sosok perempuan yang masih tertidur diatas kasur. Namun bukannya Hasna yang ia lihat. Luthfan malah melihat kalau dia adalah Ajeng.
Dengan segera ia pun bangkit dari tidurnya. Dekat dan semakin mendekat, matanya masih melihat kalau dia memang Ajeng. Sampai mengucek matapun tetap yang dilihatnya adalah Ajeng.
Tanpa menunggu waktu lama. Luthfan membuka selimut itu, lalu merapatkan tubuhnya pada perempuan yang masih juga tak mau membuka matanya.
Dengan tiga kali tarikan, kain itu pun terlepas dari tubuhnya. Yang akhirnya terjadilah perbuatan yang sangat jelas dilarang, karena mereka berdua belum ada ikatan halal. Mungkin Setan tengah bertepuk tangan karena berhasil menjerumuskan keduanya.
Perempuan itupun hanya diam saja tanpa perlawanan sama sekali, karena salah sendiri telah meminum alkohol dalam jumlah banyak. Dan mungkin itulah yang menyebabkannya tidak kunjung bangun.
Setelah usai, Luthfan merebahkan dirinya disamping perempuan itu. Ia tersenyum puas karena akhirnya yang ia inginkan selama ini bisa ia rasakan juga bersama Ajeng.
Setelah melepaskan hormonnya, Luthfan pun tertidur sambil mendengkur dengan halus.
__ADS_1