
Sepulangnya dari rumah Ajeng. Hasna menarik napas panjang dan menyeka sudut matanya. Keduanya kini sedang berada di ruang tamu.
"Aku sudah putuskan akan tetap berusaha mempercayaimu, karena aku tau bagaimana liciknya Fiona, pun sama seperti aku dulu." ujar Hasna dengan menatap kosong.
"Tapi ... Meskipun begitu, kenapa rasanya tetap saja sakit. Bahkan lebih sakit daripada saat aku baru mengetahui kalau Abian ternyata sudah menikah dengan Ajeng." tambahnya. Lalu menunduk.
"Apa itu artinya rasa cintamu terhadapku lebih besar daripada rasa cintamu pada Abian saat itu?" tanya Luthfan menoleh.
"Entahlah... Karena itu yang kurasakan saat ini. Tapi mungkin ... Akan lebih sakit lagi, jika cintaku tak terbalas. Dan entah yang ke berapa kali aku merasakannya." kata Hasna dengan tersenyum pahit.
"Hasna, aku tau, aku-."
"Sudahlah, tak perlu kamu jawab. Tapi ... Ada satu hal yang ingin aku tanyakan sama kamu." ujar Hasna mengangkat wajah. Menatap lelaki yang ada dihadapannya yang sedang menatapnya juga.
"Apa itu?"
"Kenapa kamu mati-matian meyakinkan aku bahwa itu hanya jebakan dan kamu selalu bilang kalau kamu tidak merasa melakukan itu dengannya, padahal ... jika memang kamu gak melakukan apa pun, kamu gak perlu sepanik itu." papar Hasna.
"Itu karena ... kamu istriku. Tanggungjawabku. Terutama karena aku tau kamu memiliki rasa padaku. Aku gak mau kamu terluka hanya karena sesuatu yang gak pernah aku lakukan." ujar Luthfan serius.
"Yakin hanya karena itu?" Hasna berdecih. "hhhh bodoh sekali aku, yang masih berharap kalau semua itu karena kamu pun ada sedikit saja rasa untukku. Tapi ... Yasudahlah, karena cinta memang gak bisa dipaksakan."
Dengan sedikit membawa rasa kecewa, Hasna pun memilih untuk masuk kedalam kamar. Membiarkan Luthfan seorang diri disana.
"Apa itu benar? Kalau aku ... Sudah mulai ada rasa sama kamu?"
***
Lain lagi dengan Fiona. Yang masih tersenyum puas setelah apa yang ia lakukan.
"Huuhhh... Apa mereka percaya ya sama aku." Fiona berbicara sendiri dengan membuang napas kasar.
"Tapi sepertinya sih iya, semoga saja deh ini berhasil."
Fiona pun meraih ponselnya. Melihat kembali beberapa foto yang sempat ia ambil saat bersama Luthfan. Foto tersebut akan ia jadikan senjata, agar Luthfan menuruti apa pun keinginannya. Tanpa menunggu waktu lama. Fiona pun mengirim pesan padanya.
Fiona : "Hallo Luthfan. Gimana semalam? Apa kurang puas?"
Lelaki itu pun langsung meraih ponselnya karena berbunyi. Sorot matanya terlihat tajam setelah membaca pesan tersebut.
Luthfan : "Dengar Fiona. Aku sama sekali gak melakukan apa pun sama kamu. Jadi gak usah neror aku terus. Ngerti? Karena percuma."
Fiona : "Oh ya? Lalu, bagaimana dengan ini."
Fiona pun mengirim beberapa foto itu. Seketika darah Luthfan terasa mendidih. Napasnya kembang kempis, rahangnya pun mulai mengeras dengan tangan terkepal kuat.
Luthfan : "Dasar perempuan licik, gak tau malu. Hapus foto itu. Atau aku akan lakukan sesuatu."
"Hahaha Luthfaaan Luthfan. Kamu itu ternyata memang bodoh." ucap Fiona berbicara sendiri. Ia pun membiarkan pesan tersebut dan sengaja tidak membalasnya lagi. Ingin tau reaksinya.
Lalu terdengar lagi nada pesan masuk dari Luthfan.
Luthfan : "Fiona. Jangan kurang ajar ya kamu."
Fiona tetap tak mau membalas pesannya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Luthfan : "Oke baiklah. Apa maumu sekarang? Katakan, asal ... Kamu pun berjanji, akan menghapus foto-foto itu dari handphone kamu."
Fiona : "Tenanglah... Gak usah panik. Baiklah, aku akan mengatakannya lagi seperti tadi pagi. Aku ingin kamu bertanggungjawab, nikahi aku secepatnya. Kalau tidak! Yaaa mungkin foto-foto ini sudah tersebar dimana-mana. Gimana. Mau kan?"
Setelah membaca pesan tersebut, seketika Luthfan membanting ponselnya hingga jatuh membentur lantai, dan membuat ponselnya pun sedikit retak. Beruntung masih bisa hidup.
"Benar kata Ajeng. Aku harus tenang menghadapinya gak boleh gegabah." gumamnya dengan membuang napas kasar.
***
"Mas, aku boleh pergi?" tanya Ajeng mendekati suaminya yang sedang mengerjakan pekerjaannya lewat laptop.
__ADS_1
"Mau kemana emang?" tanya Abian menoleh.
"Aku mau ke ruko. Udah lama gak kesana."
"Baiklah, aku ikut tapi."
"Iya, sekarang kita kesana ya. Ayo siap-siap."
Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah bersiap untuk pergi.
Dan keduanya kini sudah berada didalam mobil. Yang akan disopiri oleh Ezhar. Dan mobil pun melesat jauh.
"Kita akan ke kantor?" tanya Ezhar.
"Ya, kita akan ke kantor dulu. Setelah itu, baru kita ke ruko." jawab Abian.
"Kok ke kantor dulu sih Mas?" tanya Ajeng.
"Iya sayang, ada berkas yang harus aku kerjakan."
"Kenapa gak di kantor saja ngerjainnya? Gak usah ikut aku, gak papa."
"Tidak, sayang. Aku ingin selalu bersama kamu."
"Pak Abian itu masih takut setelah kejadian tadi pagi. Dan sangat menyesalinya. Lihat saja mukanya." kekeh Ezhar ikutan bersuara sambil fokus menyetir.
"Ezhar benar sayang. Aku sangat takut kehilangan kamu."
Lalu tak ada obrolan lagi diantara mereka. Hingga mobil pun tak terasa kini sudah tiba di depan kantor.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruangan yang biasa Abian tempati. Dan Ezhar mengekornya.
"Pak Ezhar masih betah aja jadi obat nyamuk." celetuk Dibyo saat Ezhar melewatinya yang sedang berdiri. Membuat lelaki itu pun berhenti, lalu menoleh.
"Bukannya kita sama?" canda Ezhar tersenyum.
"Naahhh iya Pak Ezhar benar. Kamu juga kan masih sendiri. Makanya nikah lagi, biar kalau ngomong gak sembarangan." timpal Darman menjitak kepala Dibyo.
"Kalian ini dari dulu memang lucu. Saya betah jika bersama kalian." kekeh Ezhar tersenyum.
"Tuuhhh kan, Pak Ezhar saja gak masalah. Malahan betah katanya." ujar Dibyo.
"Kamu ini." ucap Darman.
Sementara Ezhar pun tertawa mendengar celotehan mereka. Lalu kembali melanjutkan langkah.
Setibanya keluar dari lift. Abian dan Ajeng pun harus bertemu lagi dengan Renata yang sedang berjalan kearah mereka.
"Abian, Ajeng. Akhirnya kalian datang juga. Mama menunggu kalian disini dari tadi pagi. Mama pikir kalian gak akan datang. Karena ini sudah jam berapa sekarang. Tapi kalian berdua baik-baik saja kan?" tanya Renata.
Ajeng melirik pada suaminya yang malah membuang pandangannya.
"Kita baik-baik saja kok Ma." jawab Ajeng tersenyum.
"Syukurlah. Mama seneng dengernya." katanya dengan menghela napas. "mama kesini karena kangen banget sama kalian. Terutama cucu Mama yang masih di dalam perut. Oh iya. Mama bawakan ini untuk kamu Nak. Tolong dimakan ya?" ujar Renata sambil menyerahkan bingkisan yang berisikan buah-buahan. Seperti biasanya.
Sementara Abian sendiri memilih pergi dan masuk kedalam ruangannya lalu menutup pintu dengan sedikit keras.
Renata yang melihatnya pun tersentak dan seketika meneteskan airmata.
"Mama. Yang sabar ya? Mas Abian itu sebenarnya baik. Hanya saja ... Mungkin masih belum menerima kehadiran Mama, ditambah harus mengetahui fakta kalau Mama ..... "
"Mama?" kedua alis Renata tertaut.
"Mama sudah menjodohkannya dengan perempuan lain. Mungkin hal itu lah yang membuatnya semakin menjauh." kata Ajeng menunduk.
"Astaghfirullaahh Nak. Jadi kamu juga sudah tau? Kalian berdua sudah salah paham."
__ADS_1
"Maksud Mama?" Ajeng mengangkat wajah.
"Iya, Mama sudah menjodohkan Abian dengan perempuan lain. Tapi .. Perjodohan itu terjadi saat mereka sama-sama masih berusia lima tahun. Lalu setelah tau kalau Abian sudah menikah. Mama langsung membatalkannya. Dan Abian juga tau itu." papar Renata dengan kesedihan yang mendalam.
Ternyata sang anak malah semakin membencinya karena masalah tersebut. Perlahan. Renata meraih jari menantunya yang malah diam membisu. Sedang mencerna ucapannya.
"Percayalah Nak. Mama tidak mungkin merusak pernikahan kalian." lirih Renata menatap sendu.
Abian pun kembali keluar sambil membawa beberapa berkas.
"Ayo sayang kita pergi." Abian meraih tangan istrinya yang sedang digenggam oleh Renata. Membuat Renata kembali melepasnya.
"Nak. Kalian mau kemana?" tanya Renata sambil tangannya ingin menggapai mereka. Namun tak bisa, karena mereka terus menjauh.
"Ezhar. Tolong bawakan buah-buahan ini. Berikan saja pada siapa yang mau. Buat kamu juga gak papa." titah Abian.
"Maaf Bu." Ezhar meminta bingkisan itu agar berpindah ketangannya. Dengan terpaksa, Ajeng pun nurut.
"Mas, janganlah berlebihan seperti ini." kata Ajeng menatap manik mata suaminya.
"Sayang. Aku juga mampu belikan ini semua, bahkan lebih. Jadi mulai sekarang, gak usah terima lagi apa pun pemberian darinya." katanya dengan tegas.
"Iya, aku percaya, Mas bisa berikan apa pun yang aku mau. tapi tolong Mas, hargailah pemberian Mama kamu. Itu saja."
Abian tak menjawabnya lagi, suami istri itu terus melangkah dengan tangan yang saling tertaut. sampai kini sudah tiba didepan mobil.
Ketiganya pun memasuki mobil itu. Dan Ezhar segera menyalakan mesin, lalu keluar dari area perkantoran.
Ting
Suara notifikasi pesan pada ponsel milik Ajeng. Ia pun langsung membukanya.
"Ajeng. Fiona semakin berulah. Ia ingin aku cepat menikahinya. Kalau tidak, maka foto-foto yang ia ambil malam itu. Akan ia sebarkan. Tolong aku, apa yang harus aku lakukan? Pikiranku benar-benar sedang kacau, ditambah Hasna yang masih merajuk karena aku tak kunjung membalas cintanya."
Sebuah pesan dari Luthfan. Membuat Ajeng membuang napas kasar.
"Dari siapa?" tanya Abian.
"Luthfan. Dia bilang, Fiona ingin segera dinikahinya, kalau tidak. Foto-foto itu akan disebarkan." jawab Ajeng menoleh.
"Keadaannnya kok bisa sama persis dengan yang aku alami. Beruntung saat itu kita memiliki banyak bukti." kata Abian serius. "tapi sayang. Menurutku. Kamu gak usah ikut campur urusan mereka. Biarlah mereka berdua yang menyelesaikannya. Kamu cukup diam saja. Mereka pasti bisa."
"Tapi aku kasihan Mas. Gak tega."
"Itu lah sifat asli kamu. Selalu gak tega-an, dan cepat merasa kasihan. Tapi aku suka itu. Karena selain itu ... Kamu pun perempuan yang sangat kuat dan tegar dengan situasi apa pun." Abian menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"Baiklah. Aku ijinkan kamu membantu mereka. Asalkan ... Tetap menjaga kondisi anak kita didalam sini." kata Abian sambil mengelus-elus perut sang istri, lalu menunduk kemudian mengecupnya.
"Itu pasti sayang. Karena ini buah cinta kita." balas Ajeng dengan mengusap rambut sang suami yang masih betah dengan perutnya.
***
Di sela-sela kerjanya. Yudha menyempatkan diri untuk pulang. Ingin tau keadaan Ajeng dengan menanyakan pada sang ibu.
"Bagaimana keadaan Ajeng Bu?" tanyanya.
"Dia baik-baik saja. Beruntung ART nya cepat membawanya kerumah sakit. Kalau tidak. Ibu gak tau apa yang terjadi. Mungkin Ibu juga tidak akan memaafkan kamu." ujar Retno yang masih kesal.
"Syukurlah. Aku lega dengernya." balas Yudha.
"Yudha. Ibu minta. Untuk jangan melakukan hal apa pun lagi pada mereka. Move on Nak. Move on. Ajeng itu sudah bahagia dengan suaminya."
"Aku masih cinta sama dia Bu. Sangat cinta." jawab Yudha dengan lirih.
"Ibu tau. Tapi tolong. Jangan berbuat sesuatu lagi yang membuat pernikahan mereka goyah. Kalau perlu buanglah rasa itu. Kalau tidak bisa juga. Kamu pun hanya perlu memendamnya." ucap Retno tegas.
Yudha hanya diam saja. Dan malah masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa rasa cinta ini semakin besar saja. Aku sangat tersiksa setiap kali melihatnya aku ingin memilikinya kembali. Tapi ... Ibu benar. Aku gak boleh merusak kebahagiaannya. Mungkin inilah hukuman buatku. Yang telah menyia-nyiakan istri sebaik dirinya."
Tanpa terasa, airmata itu pun akhirnya menetes, melewati pipinya.