
"Ajeng kamu semakin cantik saja. Tapi... Aku sama sekali tidak melihat hal itu. Aku melihat kebaikanmu maka aku berharap bisa-"
"Cukup Mas." potong Ajeng. "Maaf, aku harus segera pergi, ada urusan."
"Kenapa kamu sepertinya menghindar setelah aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Apa itu artinya kamu masih ada rasa sama aku? Hanya saja kamu masih malu untuk mengatakannya." ujar Yudha, hatinya merasa senang dengan dugaannya.
"Aku memang ada urusan, belum lagi melaporkan Fiona." kata Ajeng yang hendak bangkit, namun tangannya dicekal oleh Yudha.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan aku barusan. Jawablah kalau memang kamu masih ada rasa sama aku."
"Apa itu penting?" tanya Ajeng menatap aneh pada mantan suaminya. "Lepasin." Ajeng melepaskan tangan Yudha dengan kasar.
"Oke baiklah. Aku akan bicara jujur. Aku... Sudah tidak memiliki rasa sama kamu sedikitpun. Yang ada hanya rasa perih yang masih membekas." jawab Ajeng serius.
"Apa karena sudah ada Abian?"
"Bukan urusanmu." timpal Ajeng. Dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Ajeng pun menemui Retno dan Qeera yang sedang duduk santai di depan kantor polisi.
"Ajeng? Sudah lama disitu?" tanya Retno menoleh.
"Baru saja." jawab Ajeng sekenanya.
"Kamu gak papa kan?" tanya Retno. Karena raut wajah Ajeng terlihat berbeda.
Ajeng hanya menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum.
"Kita jadi kan untuk laporin Fiona?" tanya Ajeng mengalihkan bahasan.
"Kamu serius?" tanya Retno.
"Seriuslah bu. Aku mau kasih efek jera sama dia, biar tidak semena-mena lagi sama ibu." balas Ajeng.
__ADS_1
"Tak kira itu hanya gertakan doang." jawab Retno.
Ajeng meraih tangan Qeera, lantas mereka bertiga pun masuk lagi kedalam.
Tak menunggu waktu lama, Ajeng melaporkan Fiona atas tindak kekerasan terhadap Retno. Bukti pun mereka perlihatkan ada luka ditangan Retno. Juga Ajeng sebagai saksi.
Laporan di terima dan akan segera menindak lanjuti kasus tersebut.
Setelah usai. Ajeng dan Qeera memilih pergi. Begitu juga Retno, ia pun pergi tanpa pamitan terlebih dahulu pada Yudha.
Setelah semua naik kedalam mobil. Ajeng melaju meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa jam, Retno turun di depan rumah Yudha. Karena Ajeng mengantarnya terlebih dahulu. Setelah itu Ajeng kembali menjalankan mobilnya selepas berpamitan dengan Retno.
Ajeng memilih untuk pulang, karena ia merasa lelah.
Tiba di depan rumahnya. Keduanya turun dan melangkah masuk kedalam rumah.
"Sus... Sus Rini." panggil Ajeng saat sudah ada didalam rumah.
"Kamu urus Qeera dulu ya? Saya mau rehat dulu dikamar." titahnya.
"Baik bu." balas pengasuh.
Ajeng melangkah dan masuk kedalam kamar.
Ia merebahkan dirinya diatas kasur dengan menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba pikirannya terlintas dengan ucapan Yudha yang mau kembali lagi dengannya.
Lantas buru-buru ia tepis, kemudian bangkit ke dekat meja rias dan duduk. Ia membuka laci dan diambilnya kotak berwarna merah yang berisikan cincin berlian pemberian dari Abian malam kemarin.
Ia buka dan ia ambil cincin itu, "Aku gak tau dengan perasaanku sama kamu. Kamu memang baik Abian, sangat baik. Tapi... Apa pantas kamu mendapatkan perempuan sepertiku. Aku hanya seorang janda beranak satu. Masih banyak diluaran sana yang lebih baik dan layak untuk lelaki sepertimu." gumamnya sambil menatap cincin itu, sambil mengambil napas perlahan lalu mengeluarkannya dengan kasar.
"Semoga kamu gak marah dengan keputusanku nanti." desisnya.
__ADS_1
Ajeng memejamkan mata dan membukanya lagi dengan perlahan, ia kembali menatap dalam pada cincin itu.
Ia mencoba untuk memakainya, karena ingin tau, pas atau tidak jika ia pakai di jari manisnya. Dan ternyata sangat pas.
Disaat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Ajeng sedikit terkejut.
Ia melangkah dengan tergesa, sampai lupa melepaskan cincin itu yang sudah tersemat di jari manisnya.
Lalu Ajeng membuka pintu kamarnya, "Maaf bu, Qeera tiba-tiba saja demam tinggi dan saya sudah cek ternyata di angka tiga puluh sembilan derajat celcius." kata pengasuh dengan panik.
"Astaghfirullahh." Ajeng berlari ke kamar putrinya dan masuk.
Didapati sang anak sedang tidur. Ajeng duduk disisinya dan menempelkan tangannya di dahi putrinya.
Dan benar, Qeera demam tinggi.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Tolong siapkan keperluannya. Aku akan membawanya kedalam mobil." titah Ajeng pada pengasuh.
Segera Ajeng menggendongnya. Melangkah keluar dan membuka pintu mobil. Lalu membaringkan putrinya dibelakang kemudi.
Pengasuh menyusulnya dari belakang sambil membawa perlengkapan yang sudah ia siapkan. Ia pun duduk bersama Qeera. lantas anak asuhannya tidur dipangkuannya. Sementara Ajeng yang menyetir dan ia pun naik kedalam mobil.
Mobil itu melesat menuju rumah sakit. Tak butuh waktu lama akhirnya mobil pun tiba dirumah sakit.
Ajeng pun turun dan langkahnya cepat untuk membukakan pintu untuk putrinya.
Ajeng kembali menggendongnya lalu masuk kedalam rumah sakit itu. Terlihat beberapa petugas membawakan brankar. Dan Qeera langsung dibaringkan diatas brankar itu.
Ajeng dan pengasuh mengikutinya dari belakang. Tentu dengan perasaan cemas yang menyelimuti janda beranak satu itu.
Qeera langsung masuk kedalam ruangan IGD. Ajeng tak diperbolehkan untuk masuk.
"Tapi saya ibunya Dok." lirih Ajeng.
__ADS_1
"Saya mengerti perasaan ibu, tapi maaf, ini memang sudah prosedur pihak rumah sakit. Kami mohon pengertiannya, supaya kami juga cepat menangani anak ibu." papar sang Dokter. Lantas ia pun masuk dan menutup pintu dengan rapat.
Ajeng pun pasrah, dan hanya bisa berdo'a, semoga Qeera baik-baik saja.