
Abian beserta istri dan anaknya masih berada di sisi makam Renata. Sementara para tetangga yang ikut mengantar, satu persatu sudah pada pulang.
"Mama. Maafin Abian Ma." isaknya sambil mengusap batu nisan. "Kenapa disaat aku sudah sadar, disaat aku ingin bersama Mama. Tapi justru Mama pergi meninggalkan aku. Kenapa Ma?"
Deraian airmata terus keluar. Abian masih tak percaya. Renata akan pergi secepat itu. Rasa penyesalan pun kini hadir. Menyesal karena pernah menganggapnya tak ada padahal sudah ada di depan mata. Menyesal karena ia tetap acuh jika Renata menemuinya, menyesal karena merasa sangat jahat padanya. Padahal ia tau Renata ibu kandungnya sendiri. Tapi ... jika mengingat gimana Renata dulu padanya. Tentu, Abian gak mungkin bersikap seperti itu.
"Mas. Aku tau apa yang kamu rasakan sekarang, karena aku juga pernah mengalaminya. Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai itu .... Sangatlah perih. Lebih perih dari apa pun. Apa lagi aku saat dulu yang mau tak mau harus menerima kenyataan. Bahwa aku harus kehilangan kedua orangtuaku sekaligus, karena sebuah kecelakaan mobil yang mereka tumpangi."
Ujar Ajeng dengan menyeka sudut mata. Mengingat dirinya juga sangat kehilangan saat kedua orangtuanya pergi meninggalkannya secara tiba-tiba akibat kecelakaan maut yang menimpa mereka. Sampai Ajeng benar-benar terpuruk saat itu. Namun beruntung masih ada sang mantan suami pertama yang selalu menguatkannya.
"Sekarang yang hanya bisa kita lakukan hanyalah berdo'a untuk mereka yang telah pergi lebih dulu. Ikhlaskan Mama. Mama sudah tenang di alam sana." kata Ajeng. Membuat Abian menoleh lalu memeluknya dengan erat sambil terus terisak.
Kabar duka itu pun sudah sampai ke telinga Hasna. Luthfan dan juga Retno. Sedangkan Yudha sendiri, ia dikasih tau oleh Retno. Lalu mengenai siapa itu Renata. Ajeng pun sebagai yang ngasih kabar menjelaskannya kalau Renata adalah ibu kandung suaminya sendiri. Abian Qadafi.
Dan sekarang, mereka semua sudah berada di pemakaman tersebut, kemudian melangkah dan berdiri di hadapan pasangan suami istri itu. Membuat keduanya pun mendongakkan kepalanya.
"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ibu kamu Nak." ucap Retno.
"Iya, aku dan Hasna juga kaget mendengarnya. Kamu yang tabah ya. Dibalik musibah, pasti ada hikmahnya." kata Luthfan mencoba menguatkannya.
Sedangkan Yudha hanya diam saja. Dan Abian pun sama sekali tak meliriknya.
"Iya, terimakasih kalian semua sudah menyempatkan diri untuk datang kesini." lirih Abian.
Setelah itu, mereka semua menggelar do'a bersama untuk Renata, agar di lapangkan kuburnya serta di terima segala amal ibadahnya.
Setelah usai. Mereka pun kini pulang dan naik kedalam mobil masing-masing.
Tapi Yudha sendiri masih enggan naik. Ia sengaja tetap berdiri karena ingin memandang Ajeng dan putrinya yang sedang dituntun Abian untuk naik ke dalam mobil. Hatinya meringis perih saat itu juga, apa lagi saat menatap perut yang semakin membesar, yang itu berarti mantan istrinya sudah melalui banyak hal dengan suaminya. Padahal jelas, karena mereka memang pasangan suami istri.
Seketika Yudha pun teringat dengan momen-momen tersebut. Dimana ia juga suka menuntun Ajeng dan Qeera lalu naik kedalam mobil. Pun mengingat dimana ia juga pernah melewati malam-malam bersama Ajeng dengan begitu romantis, sehingga akhirnya lahirlah Qeera Nakesya Mahardika ke dunia. Putri semata wayangnya bersama Ajeng Shafanina.
Puk
Sebuah tepukan pelan di pundak, membuat Yudha tersentak dan sadar dari lamunan itu.
"Ngelamunin apa?" tanya Retno sambil melirik pada Ajeng. Ia tau, putranya pasti sedang memperhatikan mereka.
"Nggak kok Bu." jawab Yudha tersenyum pelan.
"Yasudah naik."
Akhirnya Yudha pun naik, namun matanya masih melirik dimana mobil yang di tumpangi Ajeng sudah berjalan lebih dulu. Sehingga Yudha pun membuang napasnya dengan kasar.
"Sudahlah Yudh. Lupakan Ajeng. Kamu masih muda. Masih bisa cari perempuan lain." kata Retno menatap putranya. Miris
"Bicara mah gampang Bu. Tapi menjalankannya yang susah. Karena sampai sekarang aku gak pernah bisa melupakan Ajeng. Entah. Mungkin aku satu-satunya lelaki yang gak akan pernah menikah lagi." balas Yudha menunduk dengan mata berembun.
Untuk ke sekian kalinya Retno mendengar kalimat itu. Ia pun menatap iba pada putranya sendiri. Bagaimana bisa Yudha sedepresi itu, hanya karena masalah perasaan yang gak pernah bisa ia singkirkan.
***
Setibanya dirumah. Ajeng mengajak suaminya untuk istirahat didalam kamar.
"Tetaplah di sini sayang." pinta suaminya. "aku sekarang hanya punya kamu dan anak-anak kita. Jadi ... Jangan pernah pergi meninggalkan aku."
"Iya Mas, kita sama. Sama-sama sudah tidak memiliki kedua orangtua. Dan kita akan menjadi orangtua untuk anak-anak kita, semoga kita selalu sehat dan kuat, juga diberikan umur panjang agar bisa merawat anak-anak kita sampai besar nanti, sampai mereka menikah dan kita akan punya cucu." kata Ajeng dengan tersenyum manis.
"Aamiin." balas Abian yang sudah mulai tersenyum kembali.
__ADS_1
Malam pun tiba. Abian menggelar tahlil dan do'a bersama untuk almarhum Renata bersama dengan para warga sekitar.
Setelah hampir satu jam, akhirnya tahlil pun selesai. Lalu para warga satu persatu pamit dan di berikan bingkisan satu-satu.
Namun, Luthfan, Hasna dan juga Retno yang ikutan hadir. Mereka masih di sana membantu membereskan karpet-karpet yang telah di gelar.
Setelah semuanya beres. Mereka pun istirahat sambil berkumpul di ruangan yang cukup luas. Mereka pun membicarakan apa saja. Dari mulai seputar kehamilan Ajeng yang saat ini tengah doyan ngemil sehingga bobot tubuhnya semakin bertambah. Lalu seputar masalah pekerjaan, kemudian bagaimana Abian bisa bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Hingga tiba saatnya masalah Luthfan dengan Fiona. Luthfan pun mengisahkan soal tadi siang yang dimana ia juga berhasil membuat Fiona kembali mendekam di penjara.
"Apa?" tanya mereka serempak.
"Iya, aku dan Hasna sudah mengatur semuanya sebaik mungkin. Dan Alhamdulillaahh berakhir sesuai keinginan kita." jawab Luthfan.
"Lebih tepatnya, Luthfan lah yang mengatur semuanya. Aku hanya bisa memberikan pendapat, sadar diri. Aku ini bisa apa. Jalan pun masih di kursi roda." kata Hasna menunduk dan tersenyum pahit. Mengingat dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa, karena terhalang di kakinya.
"Hasna. InsyaaAllah kamu akan segera sembuh dan bisa berjalan lagi. Kamu hanya perlu terus berusaha dan berdo'a. Kamu mau kan menyenangkan suamimu?" ujar Ajeng dengan mengusap pundaknya. Dan Hasna mengangguk.
"Naahh kuncinya, kamu harus kuat dan yakin kalau kakimu akan sembuh. Juga harus selalu berpikiran positif. Karena energi positif itu sangat mempengaruhi untuk kesembuhan kamu."
Seketika Hasna mengangkat wajahnya menatap Ajeng yang tersenyum. Lalu memeluknya dengan senyum keharuan. Ia sadar, hanya Ajeng lah yang selalu membuat hatinya tenang. Yang selalu membuat dirinya tersenyum. Ia pun berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi, apa lagi membuat sahabatnya menangis.
"Sudah ya. Jangan berkecil hati lagi." kata Ajeng dan melerai pelukannya. "Oh iya, kami juga mau kasih tau, kalau besok. Kami akan meresmikan butik baru yang berada tak jauh dari tempat ruko." papar Ajeng serius.
"Alhamdulillaahh." ucap mereka bersamaan.
"Serius Nak? Ibu bahagia sekali mendengarnya." kata Retno tersenyum dengan binar bahagianya.
"Iya Bu. Do'a kan kami. Agar selalu diberi keberkahan dan kemudahan. Serta bisa menjalankan bisnis ini." balas Ajeng.
"Tentu Nak. Ibu selalu mendo'a kan yang terbaik untuk kalian. Kalian orang baik. Jadi ... Allah pun tentu sayang pada kalian. Sehingga kalian bisa seperti sekarang ini."
Ucap Retno membuat semuanya mengangguk, dan Retno pun menyeka sudut matanya saking bahagianya.
"Maaf. Kami telat." kata Widya.
Mereka pun menoleh ke arah kedatangannya.
"Gak papa Tante. Mohon do'anya untuk Mama saya." kata Abian.
"Tentu. Semoga Mama kamu dilapangkan kuburnya dan segala amal baiknya diterima." balas Widya.
"Aamiin. Terimakasih Tante."
Ajeng pun berdiri mendekat dan mencium punggung tangan Widya dan Ferdy.
"Sehat Tante. Om?" sapanya.
"Alhamdulillaah sehat. Kamu sendiri gimana? Itu perut semakin besar saja. Semoga sehat-sehat serta lancar ya pas lahiran nanti." kata Widya tersenyum.
"Aamiin. Makasih Tante atas do'anya. Do'a yang baik pasti akan balik ke diri kita." kata Ajeng.
"Mama." sapa Hasna.
"Sayang. Mama kangen banget sama kamu. Bisanya cuma say hello lewat telepon doang. Maafin Mama ya. Karena akhir-akhir ini Mama dan Papa sibuk sekali, jadi baru bisa ketemuan lagi." kata Widya mendekat.
"Sehat, Ma. Pa." sapa Luthfan. Kemudian bergantian mencium punggung tangan mereka.
"Alhamdulillahh Nak Luthfan. Kami sehat-sehat kok." jawab Widya lalu melirik pada suaminya yang dari tadi diam saja.
"Ahh ya, kami sehat kok." kata Ferdy, mengerti arah lirikan Widya yang itu berarti suruh ikutan menyapa sang menantu. "teruuuss gimana hubungan kalian ke depannya? Apa tetap akan berpisah setelah kakinya Hasna sembuh?" tanyanya membuat mata Widya membola. Tak suka dengan pertanyaan tersebut karena di sana bukan hanya mereka saja.
__ADS_1
Terang saja. Abian, Ajeng, Retno dan Ezhar pun yang berdiri tak jauh dari mereka semuanya tersentak kaget mendengar pertanyaan tersebut. Namun, satu pun tak ada yang berani berkomentar. Semua hanya pokus dengan dugaan masing-masing.
"Pa. Jangan di sini." bisik Widya pada suaminya.
Luthfan pun tersenyum menanggapinya. Lalu menoleh pada Hasna yang malah menunduk.
"Tidak apa Ma. Biar semuanya tau sekarang. Kalau aku dan Hasna ... Sepakat untuk tak berpisah sampai kapan pun." jawab Luthfan dengan tegas. Dan Hasna mengulum senyum.
"Alhamdulillaahh. Mama seneng dengernya." kata Widya tersenyum bahagia. "Pa." Widya menoleh pada suaminya.
"Iya, Papa juga senang dengernya. Maafin Papa. Karena sempet tak suka sama kamu." kata Ferdy menatap Luthfan.
"Tidak apa Pa. Terimakasih sudah merestui kami." balas Luthfan.
Semuanya tersenyum dengan raut muka bahagia. Tak menyangka, berawal dari jebakan, yang akhirnya berakhir bahagia dan tetap memilih hidup bersama sampai ke surga.
Hingga tiba membahas pekerjaan lagi.
Lalu Ajeng pun menawarkan kembali pada Luthfan untuk bekerjasama lagi seperti dulu. Tanpa pikir panjang. Luthfan langsung menyetujuinya. Dan mereka akan mulai berkolaborasi lagi dalam membuat rancangan baju yang akan mereka pamerkan di butik baru milik Ajeng. Dan akan memprosikannya lewat akun sosial media.
***
Tiba saatnya hari ini adalah hari peresmian butik baru yang akan segera di mulai. Semua orang tengah berdatangan menyaksikan pemotongan pita yang akan dilakukan Ajeng.
Retno, Hasna-Luthfan. Widya-Ferdy, Ezhar dan Sus Rini. Mereka berdiri di posisi paling depan dengan senyuman yang terus terukir di bibir mereka. Menampakkan senyuman kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
Acara pemotongan pita pun akan dimulai. Pun Ajeng sudah bersiap memegang gunting. dengan posisi ia sendiri berada ditengah. Sedangkan putrinya di sebelah kiri. Dan suaminya di sebelah kanan.
"Peresmian butik ini. Akan aku persembahkan untuk suamiku tercinta juga putriku Qeera. Dan sebagai hadiah anniversary pernikahan kami yang pertama." kata Ajeng menoleh pada suaminya yang tersenyum. "sebenarnya sih satu bulan lagi. Tapi ... Berhubung peresmian ini akan diadakan hari ini. Jadi ... sekalian saja. Dan nama butik ini akan aku kasih nama ... AQA FASHION. Singkatan dari nama kami." tambahnya, dan yang menyaksikan pun mengangguk paham.
"Bissmillaahirrohmaanirrohiim."
Dalam keadaan hamil besar. Ajeng pun perlahan memotong pita berwarna merah tersebut. Dan akhirnya pita pun sudah terbelah menjadi dua. Dan mulai sekarang, butik AQA FASHION telah resmi dibuka. Sontak saja semuanya bersorak dan bertepuk tangan dan saling melemparkan senyuman kebahagiaan mereka.
Begitu juga Abian, Ajeng dan juga Qeera. Mereka pun saling memeluk sambil sama-sama mengusap perut besarnya dengan senyum bahagia yang tak mampu mereka ucapkan dengan kata-kata. Tak menyangka. Ibu satu anak itu telah sampai di titik ini. Setelah sebelumnya harus melewati halang rintang kehidupan yang begitu pahit. Hingga akhirnya bertemu laki-laki yang mau menerimanya apa adanya. Mau menerima Qeera sebagai putrinya juga. Tapi tak cukup sampai di situ saja. Ia juga harus melewati berbagai cobaan dari sahabatnya, yang sekarang alhamdulillaah sahabatnya sudah kembali seperti dulu lagi.
Pun Hasna dan Luthfan saling menoleh tersenyum lalu berpegangan tangan dengan erat. Widya dan Ferdy pun menyaksikan itu. Hingga keduanya pun tersenyum dan Widya menyandarkan kepalanya dipundak suaminya.
Begitu juga Ezhar dan Sus Rini. Yang tersenyum haru melihat kesetiaan cinta mereka, padahal orang ketiga selalu datang menghampiri untuk meruntuhkan pernikahan mereka. Namun mereka tetap setia dan kokoh, hingga yang sempat mengganggunya kini sudah menuai balasannya sendiri.
Apa lagi Sus Rini yang menemani Ajeng dari semenjak masih bersama Yudha. Ia menatap mereka dengan mata berembun. Namun, karena tak mampu menahannya lagi, akhirnya airmata itu pun lolos mengenai pipinya. Lalu ia pun menyekanya.
Dan itu tak luput dari pandangan Ajeng. Membuat Ajeng tersenyum padanya lalu menganggukkan kepalanya dengan mata sedikit terpejam.
Lain lagi dengan Yudha. Ia hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan. Dengan hati yang entah apa yang ia rasakan saat ini. Satu sisi, hatinya ikut bahagia melihat kesuksesan mantan istri. Satu sisi lagi, hatinya masih sangat cemburu. Apa lagi saat melihat Ajeng berdekatan dengan suaminya. Sedikit demi sedikit merasa ada yang sedang menyayat-nyayat hatinya, hingga rasa itu terasa perih, Dan semakin perih. Lalu ... Apakah luka itu akan segera sembuh?
Entahlah. Yudha semakin rapuh dibuatnya. Sehingga kakinya merasa lemas dan tak mampu untuk berdiri lagi. Seketika ia pun ambruk dan duduk di atas tanah dengan linangan airmata. Yang melihatnya segera menolongnya, Namun Yudha menolak dengan mengangkat satu tangannya. Dengan susah payah. Ia pun kembali berdiri lalu menyeka sudut matanya.
Sementara Fiona harus kembali mendekam dipenjara selama lima tahun. Sesuai pasal terkait yang dilaporkan atas pemfitnahan dan pencemaran nama baik. Mau tak mau Fiona harus menerima kenyataan itu.
Kembali lagi ke yang tengah berbahagia. Mereka kini tengah berfoto bersama dengan berbagai gaya. Untuk dijadikan momen kenangan yang akan mereka pajang Fotonya di rumah mereka.
"Terimakasih suamiku. Karenamu hidupku merasa berarti. Karenamu aku bisa seperti ini Dan terimakasih juga sudah menyayangi putriku dengan tulus. Kamu suami sekaligus ayah terbaik bagiku." ucap Ajeng tersenyum menatap suaminya yang tersenyum juga.
"Sama-sama sayang. Kalian juga pelengkap hidupku."
Abian pun memeluk istrinya di hadapan semua orang sambil mengecup keningnya dengan mata terpejam.
Sebuah potret keluarga yang sangat bahagia. Dan semua orang menyaksikan itu.
__ADS_1
...********TAMAT********...