
Tiba didalam mobil. Ajeng duduk menyandar sambil menatap kesamping.
Abian menoleh lalu menggenggam tangannya. "Sayang, udah dong. Jangan sedih." ucapnya sambil menyentuh pipinya lalu ia tuntun agar menghadap wajahnya.
"Jangan turuti apa mau dia sayang. Karena aku pun tidak akan melakukan itu. Tidak akan!" kata Abian tegas.
Ajeng menatap suaminya dengan wajah sayu, dan Abian menatapnya juga, hingga detik berikutnya tak ada jarak diantara mereka, lalu Abian kembali mengambil sesaat hak bernapas istrinya.
"Itu bukti kalau aku sangat mencintai kamu, tak kan ada yang bisa menggantikan kamu dihatiku." ucap Abian sambil mengusap bibir manis sang istri menggunakan ibu jari.
Ajeng tersenyum melihat ketulusan suaminya. Sambil mengangguk lemah. Kemudian mereka berdua pun pulang.
Sekitar setengah jam, akhirnya mereka tiba, lalu turun dan langsung masuk kedalam rumah.
Disana hanya ada Retno dan Ezhar. Karena Qeera sama pengasuhnya masih di sekolah.
Ajeng ijin masuk ke kamar lebih dulu. Ia melangkah tak bersemangat. Membuat Retno bertanya-tanya, karena saat berangkat, ibu satu anak itu terlihat ceria, namun saat pulang ia malah terlihat sedih.
"Kalian bertengkar?" tanya Retno pada Abian.
"Bukan bu, tadi kita habis ketemu Hasna dijalan." jawab Abian.
"Ya ampun, dia buat ulah lagi? Makanya Ajeng sedih begitu." tanya Retno sedikit cemas.
"Ya begitulah." jawab Abian sekenanya. "Aku ijin ke kamar." Abian pamit. Ia pun segera menyusul sang istri kedalam kamar.
Tiba didalam kamar, Ajeng terlihat sedang berdiri menatap keluar dari arah jendela.
Perlahan Abian mendekat, dan langsung memeluknya dari belakang.
"Mas." ucap Ajeng sedikit terkejut dari lamunannya.
"Mikirin apa sih istriku ini? Hem?" tanya Abian berusaha mencairkan suasana. Padahal ia tau Ajeng sedang memikirkan apa.
"Aku ... Kepikiran soal tadi." jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang.... Hei. Untuk apa di pikirin. Soal minta dinikahi? Kamu pun tau, aku tidak akan melakukan itu, sampai kapanpun hanya kamu istriku satu-satunya." balas Abian yang semakin memeluknya dengan erat.
"Tapi ... Aku banyak berhutang budi padanya Mas." kata Ajeng sambil memutar badannya. Dan kini mereka saling berhadapan dengan sangat dekat.
"Tapi, bukan itu solusinya sayang. Dengar! Aku akan membayar semua uang yang pernah dia keluarkan untuk kamu. Jika dia tetap menolak, Biarkan saja itu hak dia, yang penting kita sudah melunasinya." papar Abian serius.
"Mas."
"Sayang."
Ucap mereka berbarengan.
"Sayang, sudah janji kan, mau patuh pada suami?" bisik Abian. Dan Ajeng menganggukkan kepalanya.
"Lihat aku." titahnya membuat Ajeng pun menatapnya.
"Aku minta, jika kita sedang berduaan seperti ini. Aku ingin ... Kita jangan membahas mereka. Bisa?" tanya Abian lagi, dan kembali Ajeng menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku yang sudah bimbang akan keputusanku, karena Hasna benar, aku banyak berhutang budi padanya. Bahkan ... Aku sempat berkata dalam hati 'Haruskah Aku Berbagi Suami' Tapi ... Aku pun tidak akan sanggup, jika harus kembali mengulang hal yang sama. Cukup hanya dulu aku merasakan semua itu. Sungguh sakit memang. Tapi sekarang aku tidak akan membagi suamiku dengan perempuan manapun, kecuali ... Suamiku yang meminta menikah lagi, aku pun tidak akan menolaknya, asal aku diceraikan lebih dulu. Baru boleh menikah lagi." papar Ajeng serius.
"Percayalah padaku. Aku tidak akan melakukan apa yang mantan suami kamu lakukan." kata Abian sambil merapatkan tubuhnya.
Seketika hening....
"Duuuhhh pengap." ucap Ajeng karena dipeluk begitu erat.
"Maaf, abisnya melow terus sih." kekeh Abian sambil melerai pelukannya.
"Mau kemana sayang?" tanya Abian dengan manja. Saat melihat sang istri melangkah.
"Mau ke kamar mandi, mau ikut?" canda Ajeng menoleh.
"Mau dong, ikut ikut."
Seketika Ajeng sedikit tergesa lalu masuk kekamar mandi dan mengunci pintu dengan rapat.
"Yaahhh gagal deh, awas ya." keluh Abian.
Lalu terdengar bunyi ponsel berdering, Abian mencarinya karena merasa itu bukan nada panggilan di ponsel miliknya.
Dan ternyata itu adalah bunyi ponsel milik sang istri. Gegas ia mengambilnya didalam tas milik Ajeng.
Sesaat Abian tertegun menatap nama yang tertera disana. Haris. Nama yang sekarang menghubungi sang istri.
"Haris? Siapa lagi dia? Ternyata sainganku bukan cuma Luthfan, tapi ada lagi si Haris. Namun akhirnya akulah yang paling beruntung. Kasian sekali mereka." gumamnya pelan sambil tersenyum bangga.
Tanpa menerimanya, Abian langsung memutus panggilan dari Haris.
Lalu panggilan yang kedua. Membuat Abian terbakar api cemburu. "Nekad sekali dia, sudah jelas panggilanpun ditolak. Masih saja telepon." omelnya.
Segera Abian mengangkatnya. "Hallo. Siapapun disana, tolong jangan ganggu Ajeng, dia sudah menjadi seorang istri sekarang. Paham?" ucapnya yang tanpa basa basi dan langsung memutuskan panggilan begitu saja, tanpa tau balasan dari Haris.
Ia pun menaruh ponselnya kembali kedalam tas. Disaat itu juga, Ajeng keluar dan sudah berganti pakaian mengenakan pakaian rumahan, baju dan celana panjang, serta rambut terurai karena sedang berada didalam kamar. Kalau diluar beda lagi, ia akan memakai kerudung.
Abian selalu menatapnya penuh cinta, lalu ia pun mendekat. "Sayang." Abian langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Mas, jangan kenceng-kenceng kenapa sih, aku gak bisa napas." omel Ajeng.
Namun napas Abian malah terdengar semakin berat, kemudian tangannya menyentuh setiap titik kelemahan pada perempuan.
"Mas, aduuuhhh aku baru mandi juga, ini udah jam sepuluh lho Mas, nanti Qeera datang nyari-in kita." keluhnya, tapi Abian tetap tak peduli. Rasa cemburu membuatnya seperti kehausan. Dan Ajeng sedikit kewalahan menerima perlakuan suaminya.
Sampai akhirnya Ajeng pun pasrah apa yang sedang dilakukan suaminya. tak terasa semua pakaian yang mereka kenakan sudah tertanggal begitu saja, yang kini entah ada dimana.
Suara-suara manja terdengar serta denting jam pun berbunyi mengiringi aktifitas mereka berdua. Bahwa ada usaha yang harus mereka lakukan untuk tiba di titik nirwana, dimana mereka berdua berharap akan ada sosok manusia baru yaitu seorang anak kecil yang akan menetap dirahimnya kelak.
AC kamarpun tak mampu menawarnya sehingga bulir keringat terus berjatuhan dari dahi keduanya. Hingga saatnya akan tiba, dan menit berikutnya mereka pun akhirnya selesai.
Abian merebahkan dirinya disamping sang istri.
"Makasih sayang." ucap Abian tersenyum.
"Kamu sekarang beda Mas, buat aku kewalahan." balas Ajeng dan Abian malah tergelak.
"Iihhh kok ketawa sih?" omel Ajeng.
"Maaf sayang, habisnya aku cemburu." jawab Abian jujur.
"Cemburu? Ya gak gitu juga kali Mas meskipun cemburu. Lagian cemburu sama siapa, aku kan dari tadi ada disini sama kamu." kata Ajeng.
"Itu." tunjuk Abian pada tas milik Ajeng yang berada diatas sofa.
Ajeng menoleh. "Hah? itukan tas aku. Aduuhh ada-ada aja kamu ini, masa cemburu sama tas itu sih?" omelnya sambil menyipitkan mata.
"Bukan tas-nya sayang, tapi ponsel kamu yang ada didalam tas." jawab Abian.
"Memang kenapa dengan ponsel itu?" tanya Ajeng.
"Tadi ada yang telepon kamu, terus aku lihat namanya Haris."
"Hahaha jadi cemburu karena itu?" tanya Ajeng sambil tertawa geli sekali.
"Iya, lah dianya nelepon kamu terus, dia gak tau aja kamu sudah menikah dan menjadi istriku."
"Tarus kamu angkat gak?" tanya Ajeng.
"Aku angkat lah, aku maki-maki dia, enak saja mau merebut kamu dari aku."
"Hah? Kok di maki-maki sih." omel Ajeng sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu ia melangkah untuk mengambil ponsel miliknya.
Abian pun mengikutinya dari belakang tanpa tanda kutip. Dan Ajeng menoleh.
"Mas malu ihh." omelnya sambil menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Iya, tapi aku malu lihatnya, sudah sana pakai baju dulu." titah Ajeng.
"Nggak sayang, Mas akan tetap disisi kamu, karena kamu mau telepon si Haris itu kan? Siapa sih dia? Ganteng gak? Gantengan mana sama aku? Coba sini lihat fotonya, kamu punya kan? Aku mau lihat setelah itu aku hapus." papar Abian serius.
"Kamu kok kayak anak kecil sih Mas. Aku gak punya foto dia." timpal Ajeng sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah ah, aku mau telepon dia sekarang, takut penting." kata Ajeng.
Dan telepon pun tersambung. Tapi tak diangkat. "Kenapa gak diangkat sih." keluhnya. Membuat Abian kembali memeluknya dengan erat.
"Aku cemburu sayang, kenapa kamu menghubungi dia balik?" tanya Abian.
"Mas, aku jelaskan ya, Haris itu seorang arsitek, dia yang mengurus pembangunan dimana aku sedang mendirikan sebuah butik, dan mungkin dia menghubungi aku mau kasih tau soal pembangunan itu." papar Ajeng menjelaskan.
"Tapi tetap saja aku cemburu."
"Mas, udah ah, kita bukan anak kecil lagi, sekarang ayo kita mandi gantian, nanti Qeera keburu datang dan pasti nyari-in kita." titah Ajeng.
Abian menarik sang istri masuk kedalam kamar mandi.
Aktifitas itu, mereka selalu melakukannya dimanapun, tanpa bosan dan tanpa adanya paksaan.
***
Diluar rumah, Retno menerima surat panggilan dari kepolisian untuk datang hari ini juga.
Ajeng dan Retno diminta untuk datang sebagai saksi dan korban pasca terjadinya penganiayaan yang dilakukan oleh menantunya.
Dengan menarik napas berat, Retno mambaca surat itu. Ia pun duduk diatas sofa, sambil menunggu pasangan suami istri itu keluar. Mau dipanggil ia urungkan, takut mengganggu. Lalu terlihat Ezhar sedang melintas dari kejauhan.
"Ezhar." panggil Retno. "Tolong kamu panggilkan Abian dan Ajeng, ini penting." titahnya pada Ezhar.
"Maaf bu, kata Pak Abian, kalau mereka lagi berduaan didalam kamar, jangan ada yang mengganggu sekalipun itu penting, kecuali hal yang sangat darurat. Apa memang sangat darurat?" tanya Ezhar.
"Duuhh mereka ini, mentang-mentang pengantin baru. Yasudah biar nunggu mereka saja." cetus Retno, dan Ezhar pun berlalu.
Pintu depan terbuka lebar, Retno menoleh kearah pintu. Ternyata sang cucu yang sudah pulang dari sekolah, di ikuti pengasuhnya di belakang.
"Nenek." panggil Qeera lalu menghambur ke pelukannya.
"Cucu Nenek sudah pulang." ucap Retno tersenyum.
"Sudah dong Nek." jawab Qeera tersenyum juga. "Bunda udah pulang? Tadi pagi katanya mau belanja." tanyanya.
__ADS_1
"Sudah, tapi lagi didalam kamar sama papa." jawab Retno
"Oke, aku kesana dulu ya Nek." pamit Qeera.
"Ehh mau ngapain?" cegah Retno
"Mau ketemu bunda sama papa lah Nek." balas anak itu lalu berlari, tanpa bisa dicegah lagi.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan tangan Qeera, dan Ajeng langsung membukanya.
"Sayang, sudah pulang?" tanya Ajeng tersenyum.
"Papa mana bunda?" tanya Qeera.
Ajeng menatap sang anak yang menyelonong masuk mencari papanya. Padahal Qeera belum menjawab pertanyaan dirinya.
"Papa, aku nangis lho semalam karena papa gak ada disamping aku, pas aku kebangun." celoteh anak itu.
"Oh ya? Maaf, papa gak bisa tidur, jadi papa tidurnya disini." jawab Abian sambil mendekat, lalu memangku Qeera dan duduk di atas sofa.
"Sudah bikin adik bayinya?" tanya Qeera spontan, membuat Ajeng membelalakan matanya, dan mulutnya terbuka lebar.
Tapi justru Abian menepuk keningnya. Lalu sesaat menoleh pada Ajeng.
"Sayang." kata Ajeng mendekat.
"Bunda, mana adik bayinya? Katanya mau bikin adik bayi sama papa. Terus mana? Kok gak ada sih?" tanya Anak itu lagi sambil mengedarkan pandangannya.
"Mas." panggil Ajeng dengan menatapnya sinis.
"Maaf sayang, semalam aku pusing karena Qeera gak tidur-tidur. Jadi ... Ya ... Itu tadi." ucap Abian sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Tapi bukan dengan cara seperti itu Mas, untung bicaranya cuma sama kita, coba kalau di depan yang lain, apalagi ibu. Aku gak punya muka. Malu." omel Ajeng.
"Ngapain harus malu sih? Tadi aja aku lihat semua, kamu gak malu." goda sang suami.
"Ishh nyebelin."
Sementara Abian malah menahan tawa.
"Papa sama bunda jangan berantem" ucap Qeera.
"Nggak berantem sayang, cuma diskusi." jawab Abian tersenyum.
Ajeng pun kembali memakai kerudung, lalu keluar dari kamar, membiarkan sang anak berduaan bersama papanya.
Tiba diruang tamu Retno memanggilnya. "Ajeng, Alhamdulillaahh. Akhirnya kamu keluar juga." ucap Retno.
"Ada apa bu?" tanya Ajeng mendekat dan duduk.
"Ini ada surat panggilan dari kepolisian, dan kita harus datang hari ini juga."
"Hah? Soal kasus apa? Apa jangan-jangan ... Luthfan? Aku kan kemarin mukul dia sampai berdarah." balas Ajeng sedikit terkejut.
"Bukan! Kalau soal itu kamu bisa laporkan balik." kata Retno. "Ini soal ibu sama Fiona dulu. Kamu ingat kan?" tanya Retno.
"Ohh yasudah, kita kesana sekarang. Aku panggil Mas Abian dulu." Ajeng pun bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar.
"Mas, aku mau ke kantor polisi sekarang." ucap Ajeng membuat Abian menoleh terkejut.
"Ada apa sayang?" tanyanya mendekat.
Lalu Ajeng menyerahkan kertas putih itu, dan Abian pun membacanya.
"Kalau begitu aku ikut, sekalian aku mau cabut laporan untuk Yudha." kata Abian.
"Mas." panggil Ajeng dengan lirih.
"Kenapa sayang?"
"Kamu serius mau cabut laporan itu?"
"Lho memangnya kenapa? Jangan bilang masih berharap sama dia." timpal Abian.
"Mulai deehhh." Ajeng malah ngambek.
"Ya teruuus." balas Abian.
"Tau ah, kamu ini, selalu... Saja begitu, kamu tuh kayak gak percaya sama aku."
"Iya maaf sayang, aku percaya kok." balas Abian sambil merangkulnya namun kali ini ditepis.
"Nanti malam tidur diluar." titah Ajeng lalu keluar dari kamar.
Abian pun menepuk keningnya. "Ternyata begini kalau istri lagi merajuk." katanya sambil meluruhkan bahu.
__ADS_1