
"Percuma saja kamu menunggu, dia pasti gak akan datang. Aku yakin itu! Dan Ajeng tak akan percaya semudah itu atas semua yang kamu lakukan Hasna. Itu karena cinta dan kepercayaan merekalah yang saling menguatkan." gumam Luthfan dari kejauhan.
"Aku harus bergerak cepat, sebelum kamu bertindak lebih jauh. Mungkin saatnya aku harus menebus kesalahanku pada mereka dengan caraku sendiri, semoga dengan ini ... Kamu pun akan berhenti mengusik kehidupan mereka, bukan apa-apa! Aku melakukan ini atas dasar rasa tanggungjawabku sama kamu karena ulahku sendiri, kamu harus menanggung akibatnya. Semoga nanti cinta pun hadir diantara kita berdua seiring kebersamaan kita tentunya."
Lantas Luthfan kembali melangkah dan naik kedalam mobil. Ia akan datang ke kantor milik Abian.
Setelah tiba. Ia pun turun dan langsung meminta ijin pada security untuk bertemu dengan Abian.
"Apa sudah ada janji?" tanya Darman.
"Maaf, kami tidak ada janji. Tapi ... Katakan saja ada yang ingin bertemu dengan atasan kalian atas nama Luthfan Aqmar. Dia pasti kenal siapa saya." jawab Luthfan.
"Baiklah. Tunggu sebentar." kata Darman.
Darman pun menghubungi atasannya, memberitahukan ada orang yang bernama Luthfan Aqmar ingin bertemu dengannya. Dan Abian pun mempersilakannya untuk langsung masuk keruangannya. Setelah itu telepon terputus.
"Baiklah, Anda langsung dipersilakan masuk keruangannya. Mari saya antar." ajak Darman.
Keduanya kini menuju ruangan milik Abian yang ada dilantai tiga. Setelah tiba di depan pintu. Darman membukanya perlahan.
"Tamu sudah di depan pintu pak." kata Darman dengan sopan
"Suruh dia masuk." titah Abian.
Luthfan pun masuk dan menatap Abian yang sedang menatapnya juga. Lalu dipersilakan untuk duduk. Darman pun menutup pintu dan kembali ke tempat tadi.
"Terimakasih." ucap Luthfan sopan. Lalu duduk.
"Apa ada hal penting? Sehingga kamu berani menemuiku disini. Apa kurang puas karena aku dan Ajeng masih baik-baik saja?" cetus Abian yang masih kesal atas apa yang pernah Luthfan lakukan.
"Oke! Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat pada kalian. Tapi ... Aku kesini bukan untuk berdebat apalagi mempermasalahkan hal itu. Akan tetapi ... Aku kesini hanya ingin menyelamatkan rumahtangga kalian berdua." papar Luthfan serius.
"Maksud kamu?" tanya Abian menautkan kedua alisnya.
"Aku tau Abian, atas masalah yang sedang menimpa kamu saat ini! Itu semua karena ulah Hasna sendiri dan aku percaya sama kamu, kamu gak mungkin tega menghianati Ajeng." kata Luthfan. Ia tidak kasih tau kalau dirinya sudah tau foto-foto dia bersama Hasna.
"Ohhh jadi kalian bersekongkol? Kalian berdua memang sama-sama licik." umpat Abian dengan senyum sinis.
"Bukan itu maksud aku! Aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan kalian. Sungguh dan aku berani bersumpah." kata Luthfan sambil mengutip dua jari.
"Lalu apa tujuan kamu sebenarnya berani datang kesini?" tanya Abian sedikit emosi.
"Aku ... Ingin mengajak kalian berdua untuk bekerja sama." jawab Luthfan serius.
"Apa? Bekerja sama? Hhhh apa aku gak salah dengar?" Abian menarik satu sudut bibirnya.
"Ya, aku serius. Karena dengan cara ini, aku pun bisa menikahi Hasna." kata Luthfan tegas.
__ADS_1
Abian membelalakan matanya atas penuturan lelaki yang sempat menjadi saingannya. Luhtfan mau menikah dengan Hasna? Yang benar saja? Seperti tak ada perempuan lain saja.
"Bagaimana dengan tawaranku? Aku juga yakin, jika kalian mau diajak kerjasama denganku, Hasna pun tak akan mengusik ketenangan kalian lagi." ucap Luthfan.
"Aku gak habis pikir sama kamu Luthfan. Gak bisa dapatkan Ajeng, kenapa kamu malah ingin menikahi perempuan seperti dia. Kamu tau sendiri dia itu seperti apa. Tapi yaaa serasi sih sebenarnya. Karena kamu juga pernah jahat." papar Abian. Yang sudah mulai yakin kalau Luthfan sudah kembali baik seperti dulu.
"Aku mau menikahi dia bukan tanpa alasan." kata Luthfan menatap kosong.
"Lalu, apa alasan kamu?"
"Karena dia ... Tengah mengandung anakku."
"Apa? An... Anak?" Abian terperanjat dan matanya membola.
"Ya, saat itu aku pikir dia adalah Ajeng. Tapi ... Ternyata salah dan perempuan yang aku tiduri ternyata dia ... Hasna." jawab Luthfan menundukkan kepalanya.
"Ciihhh, bisa-bisanya kamu melihat kalau Hasna itu Ajeng. Apa kamu suka berhayal dengan istriku? Kurangajar." umpat Abian membuang napas kasar.
"Ya, karena saat itu aku lagi di mode yang sangat buruk, sampai akhirnya setelah kejadian itu, aku pun sadar bahwa apa yang telah aku lakukan pada kalian jelas sangat salah dan mungkin itu juga merupakan balasan untukku." papar Luthfan.
"Oke! Sekarang katakan! Kerjasama apa yang kamu maksud?" tanya Abian sambil jarinya memainkan bolpoin diatas meja.
Kemudian Luthfan pun menjelaskan atas ide yang dia punya. Membuat Abian tak bisa berpikir ulang, karena ia juga sedikit tertarik atas ide dari Luthfan.
"Gimana?' tanya Luthfan menatap wajah Abian.
"Sepertinya menarik." kekeh Abian. "Tapi ... Aku harus minta persetujuan dulu dengan istriku."
"Baiklah, secepatnya aku akan kasih kabar." balas Abian.
"Yasudah, kalau begitu aku pamit, terimakasih atas waktunya." tutup Luthfan.
Keduanya saling bersalaman, lalu Luthfan pun keluar dari ruangan itu.
***
Di ruko, Ajeng kedatangan tamu yang sebelumnya pernah bertemu saat ada acara. Ya dia adalah Hartoyo, lelaki setengah paruh baya yang ingin mengajak Ajeng untuk bekerjasama dengannya.
"Bu Ajeng?" sapa Hartoyo ketika sudah berada didalam ruang tamu yang diantar oleh Yumna. Dan Yumna diminta untuk menemani mereka.
"Siapa ya?" tanya Ajeng menyipitkan mata karena ia sudah lupa.
"Saya Hartoyo. Masih ingat?" tanya Hartoyo kembali.
"Hartoyo?" Ajeng pun terus mengingat-ingat nama itu. "Ohh ya ampuuun, pak Hartoyo, kita sempat bertemu kan ya?" akhirnya Ajeng pun mengingatnya.
"Ya benar! Gimana kabar anda bu Ajeng?"
__ADS_1
"Alhamdulillaahh baik pak." jawab Ajeng tersenyum sopan.
Kemudian, Hartoyo menceritakan maksud dan tujuannya datang menemui Ajeng. Bahwa ingin mengajaknya bekerjasama di bidang fashion.
"Gimana bu Ajeng?" tanya Hartoyo.
"Saya akan diskusikan ini dulu dengan suamiku." jawab Ajeng tegas.
"Baiklah, jika bersedia ataupun tidak, tolong untuk beritahu saya. Nomornya ada di kartu nama yang sempat saya berikan pada bu Ajeng." ucap Hartoyo.
"Duuhhh ya ampuuun lupa lagi kan sama kartu nama bapak. Maaf ya pak? Tapi nanti saya akan cari kok." ucap Ajeng yang tak enak hati.
"Iya gak papa. Kalau begitu saya permisi." kata Hartoyo. Dan ia pun keluar dan di susul oleh Yumna di belakangnya.
"Siapa sih?" bisik Zia.
"Namanya pak Hartoyo. Mau ngajak kerjasama katanya." jawab Yumna.
"Ohhh kirain." cetus Zia.
"Huussttt. Jangan berpikiran yang tidak-tidak." tegur Riana.
"Habisnya bu Ajeng cantik sih! Pantes banyak yang suka." celetuk Zia.
Riana dan Yumna hanya menggelengkan kepalanya
***
Sementara itu, Hasna pun pulang dalam keadaan kesal. Lelaki yang ia cintai tak juga datang. Padahal ia sangat yakin, jika Abian pasti akan menuruti semua keinginannya karena takut Ajeng mengetahuinya.
"Baiklah sayang, jadi kamu beneran gak takut dengan ancamanku?" gumam Hasna.
Ia pun mengambil ponsel didalam tas. Dan akan mengirim foto-foto itu langsung pada nomor milik Ajeng. Namun Hasna urungkan. Ia ingin memberikannya didepan Ajeng, ingin tau reaksi Ajeng yang pasti akan menangis saat melihat foto itu.
"Menangislah Ajeng saat kamu melihat foto ini, karena saat itu juga aku akan tertawa diatas penderitaan kamu." kekeh Hasna tersenyum puas sambil membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
***
Dikantor polisi. Yudha sedang menjenguk Fiona.
"Akhirnya kamu datang juga Mas." ucap Fiona berbinar. Saat mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Ya, aku kesini ingin memberikan kejutan." kata Yudha tanpa eskpresi.
"Woowww sungguh? Kejutan apa itu Mas?" tanya Fiona tak sabar.
Seketika hening. Dan Yudha mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
__ADS_1
"Mas, kenapa diam? Aku sudah tak sabar menunggunya." kata Fiona tersenyum.
"Fiona Deliswara. Aku jatuhkan talak tiga sekaligus untuk kamu."