Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Rumit


__ADS_3

Fiona pergi ke konter membawa ponsel milik Alvino. Setelah sebelumnya ia melihat Alvino menaiki mobilnya dan entah mau kemana.


Setalah tiba, Fiona segera minta tolong untuk membuka ponsel yang memiliki password.


"Maaf, apa ponsel ini hasil curian?" tanya penjaga konter tersebut.


"Enak saja nyuri. Aku masih mampu kali beli ponsel yang bahkan harganya pun bisa lebih mahal dari ponsel yang kamu pegang." timpal Fiona tegas.


"Maaf mbak, bukan maksud saya seperti itu." balas penjaga konter tersebut tak enak hati.


"Lain kali, hati-hati jika ngomong."


"Iya mbak. Sekali lagi saya minta maaf."


"Yasudah, sekarang buka ponsel itu." titah Fiona.


Setelah beberapa menit, akhirnya ponsel itu pun bisa dibuka. Lalu dengan segera Fiona menghapus video itu dan memformat isi yang ada didalam ponsel tersebut. Takut di copy paste dihalaman yang lain.


Setelah semuanya beres, ia bersiap akan pulang lagi ke indonesia. Tentu dengan diam-diam agar Alvino tidak mencarinya.


***


"Tolong buka pintunya, aku mau turun. Aku harus bicara sama Hasna." pinta Ajeng.


"Untuk apa sayang? Dia itu sudah tidak peduli lagi sama kamu! Kamu lihat kan? Gimana dia tadi?" Abian tak mau mengabulkan permintaan Ajeng. Ia tetap fokus menyetir sambil sesekali menoleh padanya.


"Tapi, dia itu sahabat aku. Selama ini dia sudah baik banget sama aku. Bahkan dia juga yang selalu ada disaat aku susah. Aku banyak berhutang budi padanya." balas Ajeng menjelaskan.


"Aku tau sayang. Tapi tidak seharusnya kamu merelakan aku sama dia! Aku sama sekali tidak cinta sama dia, perempuan yang aku cintai itu hanya kamu! Dan aku juga bukan barang, yang seenaknya saja bisa di tukar." papar Abian tak suka.


Ajeng menoleh menatap Abian "Maafkan aku. Bukan itu maksud aku." lirih Ajeng menunduk. "Tapi ... aku juga tidak mau melihat Hasna sedih, apalagi itu karena aku."


"Tapi bukan begitu caranya. Sayang."


"Lalu apa? Aku ... Aku gak tau harus gimana." kata Ajeng mengangkat wajah, kemudian terisak dihadapan Abian.


Abian menepikan mobilnya di sisi jalan. "Ajeng." ucapnya pelan sambil merangkul pundaknya.


Ajeng melerai pelukannya. "Apa kamu tetap akan menerima aku? Apa kamu tetap akan memanggilku dengan kata sayang? Setelah kamu tau apa yang sebenarnya terjadi." kata Ajeng menoleh dengan mata berembun.


"Maksud kamu?" tanya Abian menatap dalam perempuan itu.

__ADS_1


Ajeng mengambil napas terlebih dahulu. Saatnya dia akan memberitahukan yang sebenarnya. Bagaimana cincin itu bisa ada dijari manisnya.


"Mungkin saatnya aku harus jujur sama kamu."


"Jujur? Maksudnya apa?" tanya Abian penasaran.


"Pertama, aku mau minta maaf sama kamu. Jika setelah tau kebenarannya kamu akhirnya kecewa sama aku." papar Ajeng menunduk. "Kedua, jika kamu sudah tau yang sebenarnya. Aku harap kita tetap berteman seperti biasanya. Jangan ada kebencian diantara kita."


"Sayang ada apa?"


"Aku mau jujur sama kamu, soal cincin ini." ujar Ajeng sambil memperlihatkan cincin yang ada dijari manisnya. "Kenapa cincin ini bisa ada di jari manis ini? Itu karena aku sedang mencobanya. Namun saat itu ... Pengasuh putriku masuk kedalam kamarku dengan wajah panik, ia memberitahukan kalau putriku tiba-tiba demam tinggi. Maka aku pun berlari menemuinya lalu segera dibawa kerumah sakit, sampai aku lupa melepaskan kembali cincin itu. Dan kebetulan kamu pun datang kerumah sakit itu, dan saat itu lah kamu mungkin mengira aku menerima lamaranmu." papar Ajeng serius.


Abian mengambil napas berat, lalu memejamkan matanya. Ia tidak menyangka akan seperti itu. Tapi ia juga tidak mau menyalahkan Ajeng, karena jelas itu bukan kesalahannya. Yang membuatnya penasaran! Kenapa Ajeng tetap memakai cincin itu. Dan diam saja jika di panggil dengan kata sayang.


"Sekali lagi maafkan aku." lirih Ajeng sambil menunduk.


"Aku paham, tapi ... Aku juga tidak mau menyalahkan kamu. Karena kamu pun gak salah." balas Abian.


"Kamu gak benci sama aku?" tanya Ajeng mengangkat wajah menatap Abian.


"Untuk apa aku membenci perempuan yang sangat aku cintai. Tapi ... Yang membuatku penasaran, kenapa kamu tetap mau memakai cincin dariku? Dan kamu juga gak keberatan saat aku memanggil kamu dengan kata sayang." jelas Abian.


"Itu karena ... Ibu menyarankan aku untuk tetap memakainya." balas Ajeng


"Kata ibu ... Kamu itu orangnya terlihat sangat baik. Maka tidak ada salahnya jika aku terus memakai cincin ini."


"Bukan alasan yang logis." balas Abian.


"Karena cinta bisa datang kapan saja seiring berjalannya waktu." papar Ajeng lagi.


"Dan kamu cinta sama aku?" tanya Abian. Sementara Ajeng menundukkan kepalanya.


"Ayo jawab, kamu cinta kan sama aku?" tanya Abian lagi.


"Aku gak tau." kata Ajeng lirih.


"Sekarang tatap aku." titah Abian.


Namun Ajeng tak mengindahkan perintahnya.


"Jika sama sekali hatimu tidak ada rasa sama aku sedikitpun. Maka tataplah wajahku dengan sangat lama. Agar aku yakin, kamu tidak mencintai aku. Dan mungkin ... Aku harus siap jika harus kehilangan kamu." kata Abian serius.

__ADS_1


Tapi Ajeng tetap tak berani mengangkat wajahnya apalagi menatapnya, ia terus menundukkan kepalanya. Abian menunggunya hingga menit di angka lima belas. Ajeng tetap menundukkan kepalanya.


"Oke, berarti sekarang aku tau. Kamu pun ada rasa sama aku. Karena kamu sama sekali tak berani menatap wajahku." kata Abian tersenyum.


"Makasih sayang, cintaku sudah kamu balas. Aku janji, tak akan menyianyiakan kamu untuk selamanya." kata Abian tersenyum bahagia.


"Aku-"


"Jangan katakan apapun lagi, sayang, aku sungguh sangat bahagia hari ini."


Ajeng tersenyum paksa. Karena pikirannya masih tertuju pada Hasna.


"Sekarang, kamu aku antar pulang. Dan jangan kemana-mana lagi." titah Abian.


"Belum apa-apa sudah ngatur." gumam Ajeng namun masih didengar oleh Abian.


"Ohh jadi harus ada apa-apanya dulu nih? Baiklah, aku akan segera memperkenalkan kamu sama ayahku, dan setelah itu, kita nikah." kekeh Abian.


"Hah?" Ajeng terkejut.


"Kenapa? Aku gak mau menunggunya lagi sayang, diluaran sana pasti ada banyak lelaki yang mau sama kamu. Dan aku gak mau keduluan sama mereka. Salah satunya Luthfan."


"Tapi kita juga harus memikirkan perasaan Hasna." balas Ajeng.


"Untuk apa kita pikirkan? Dia juga tidak memikirkan perasaan kamu dan juga aku. Sudah tau aku tidak cinta sama dia. Kenapa kamu yang dia benci? Seharusnya aku. Karena aku tidak bisa mencintainya." papar Abian serius.


"Sekarang kita pulang." titah Abian yang mau tak mau Ajeng pun harus menurutinya.


Mobil pun tiba di kediaman rumah Ajeng. "Sayang, maaf, aku gak bisa mampir, aku harus ke kantor sekarang juga." kata Abian.


Ajeng mengangguk lalu tersenyum.


"I Love You sayang." ucap Abian tersenyum. mendengar itu, Ajeng malah menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Balas dong." kekeh Abian.


"Apaan sih?" Ajeng tersipu malu.


"Yasudah aku pergi dulu. Sampai ketemu nanti."


Ajeng tetap berdiri didepan pagar rumahnya sampai mobil milik Abian tak terlihat.

__ADS_1


"Hasna, maafkan aku. Aku gak tau kalau selama ini lelaki yang kamu cintai itu adalah Abian." ucapnya pelan sambil menghela napas. "Apa aku harus tetap merelakan Abian untuk kamu? Karena ... Ibu bilang, cinta bisa datang kapan saja seiring berjalannya waktu. Dan semoga cinta itu hadir juga dalam hati Abian untuk kamu." gumamnya sambil memejamkan mata, namun tetesan bening itu akhirnya terjatuh juga dipipinya.


"Abian sayang, maafkan aku." Ajeng menangis tersedu sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


__ADS_2