Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Kebebasan Yudha


__ADS_3

"Hah? Serius kamu? Aku kan sudah bilang, untuk diam dulu, jangan bertindak apapun lagi." tanya Luthfan sedikit terkejut mendengar pengakuan Hasna.


Mereka sedang ketemuan disebuah kaffe.


"Ya, untuk apa aku bohong, aku hanya ingin mengingatkan! Bahwa dia banyak berhutang budi padaku." balas Hasna sambil mengunyah makanan.


"Tapi apa itu akan berhasil? Malah aku berpikir ... Cara kamu salah, yang ada, Abian malah semakin membenci kamu. Dan aku tak yakin, Ajeng akan mengijinkan suaminya begitu saja untuk menikahi kamu." ucap Luthfan serius.


"Itu sudah aku pikirkan, toh jika aku tak dinikahi juga, aku puas sudah menghancurkan mental dia, dia pasti akan selalu kepikiran soal hutang budi itu, aku tau sifat Ajeng itu kayak gimana, selalu tidak tegaan jika orang itu sudah baik sama dia." kata Hasna serius.


"Aku gak nyangka kamu akan sejahat ini Hasna, padahal dia itu sahabat kamu." kata Luthfan.


"Hey, kita samaan bukan? Kamu juga jahat sekarang." kekeh Hasna.


Seketika hening, keduanya menikmati makanan masing-masing.


"Aku hari ini ingin mengunjungi ruko milik Ajeng." ujar Luthfan.


"Untuk apa?" tanya Hasna menoleh.


"Hanya ingin mengambil berkas-berkasku yang ada disana. Karena pasti Ajeng tidak akan mau lagi kerjasama denganku."


"Itu sudah pasti." jawab Hasna. "Tapi kamu nanti bukan tak mungkin akan ketemu mereka disana."


"Gak papa, aku akan menghadapinya."


"Kamu gak takut sama Abian?" tanya Hasna.


"Untuk apa ditakuti, dari dulu aku gak takut sama dia." balas Luthfan.


"So good, itu bagus." kata Hasna memuji Luthfan.


***


Aku tadinya ingin mengajak kalian pindah tepat diwaktu sekarang. Tapi ... Yasudahlah kita ke kantor polisi dulu." ucap Abian sambil fokus menyetir karena mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor polda.


"Kan bisa nanti sore." jawab Retno.


"Besok aja lah. Gak papa kan sayang?" tanya Abian menoleh pada Ajeng yang dari tadi diam membisu sambil menatap lurus.


"Iya." jawab Ajeng seperlunya. Dirinya beneran marah soal tadi, padahal suaminya hanya bercanda.


Kini tak ada obrolan apapun diantara mereka bertiga, sampai akhirnya tiba dikantor polisi.


Ajeng turun lebih dulu. Sementara Abian dan Retno masih didalam.


"Abian." panggil Retno saat Abian hendak membuka pintu mobil.


"Kalian bertengkar ya kali ini? Jujur saja pada ibu, jangan sungkan." tanyanya.

__ADS_1


"Iya bu, Ajeng lagi merajuk karena ulahku sendiri. Tadi ... Dia nanya emang serius ya mau cabut laporan soal Yudha, dan aku jawab kenapa, jangan bilang masih berharap sama dia, ehh Ajeng malah ngambek, padahal kan niat aku cuma bercanda doang." papar Abian serius.


"Ya wajar lah Ajeng ngambek, karena merasa kamu gak percaya sama dia." balas Retno.


"Dia juga bilang gitu sih tadi. Terus aku harus gimana dong, masa nanti malam aku tidur diluar. Kan gak asik." keluh Abian.


"Duuhh kalian ini, nikah baru seumur jagung udah main berantem aja, lain kali kalau ngajak bercanda jangan berlebihan, tau sendiri kan?"


"Iya aku ngaku salah."


"Saran ibu! Kamu jangan pernah lelah untuk dekati istrimu saat sedang merajuk. Bujuk dia dengan apapun yang membuatnya suka dan nyaman. Karena perempuan itu biasanya selalu menolak tapi hatinya malah kebalikannya. Dan yang terakhir kamu harus minta maaf sama dia." papar Retno menjelaskan.


"Tadi udah minta maaf padahal." kata Abian dengan lirih.


"Nahh itu dia, perempuan biasanya ingin kalimat yang berulang, termasuk minta maaf tadi. Tapi tantu dibarengi dengan sentuhan-sentuhan. Paham kan, maksudnya apa?" tanya Retno.


"Iya, makasih sarannya bu, akan aku coba." lirih Abian.


Mereka berdua akhirnya turun dan mendekat ke arah Ajeng yang sedang duduk menunggu.


"Lama banget, ngapain aja sih?" tanya Ajeng dengan memasang wajah jutek.


"Gak ada apa-apa kok. Ayo kita masuk." ajak Abian sambil tersenyum.


Lantas, mereka bertiga mengutarakan maksud dan tujuan untuk datang ke sana, sambil menyerahkan surat panggilan itu.


Juga Abian sudah bilang pada polisi, bahwa ia ingin mencabut semua laporan untuk Yudha dan juga Herman.


Yudha memeluk Retno yang menangis bahagia, karena Akhirnya sang anak pun bebas.


Setelahnya, Yudha melerai pelukannya dan menoleh pada Abian. "Terimakasih banyak. Kamu memang sangat baik." ucap Yudha sambil memeluknya.


Abian hanya mengulum senyum tak membalas pelukan itu.


Lalu, Yudha melerai pelukannya, dan matanya melirik pada Ajeng yang berada disamping Abian.


Tak percaya, banyak sekali perubahan pada mantan istrinya itu, terlihat semakin cantik, juga bentuk tubuh yang sangat ideal. Karena saat bersamanya dulu, tubuh Ajeng lumayan gemuk tapi tetap terlihat cantik.


Mata Yudha sampai tak mau berkedip melihatnya, dan itu tak luput dari pandangan Abian, membuat lelaki itu meraih tangan Ajeng dan menggenggamnya dengan erat. Rasa cemburu kembali hadir dalam dirinya. Karena sejatinya Abian memang pencemburu.


"Kenalkan, dia istriku sekarang." ucap Abian tegas.


"Istri?" sesaat hening. "Maaf, aku hanya sedikit terkejut, karena tidak tau kalau kalian berdua sudah menikah, dan aku ucapkan selamat untuk kalian berdua." ujar Yudha dengan perasaan sesak.


Sesak karena berniat akan kembali dengan Ajeng. Tapi nyatanya perempuan itu sudah dimiliki sahabatnya.


Ajeng masih diam membisu, tak mau bicara sepatah katapun, membuat Yudha heran melihatnya, dan menerka-nerka bahwa Ajeng tidak bahagia dengan pernikahannya. Padahal Ajeng hanya masih merajuk pada suaminya. Lama memang, tapi itulah yang dirasakan Ajeng sampai saat ini.


Selanjutnya mereka semua menemui Fiona. Perempuan itu sedang duduk terisak dipojokan.

__ADS_1


"Akhirnya kamu disini juga, darimana saja kamu selama ini?" tanya Retno membuat Fiona mengangkat wajahnya.


"Ibu." Fiona menghambur memeluk Retno. "Maafin aku bu, aku udah jahat sama ibu. Aku mohon jangan jebloskan aku kedalam penjara." Fiona memohon sambil terisak. Lalu melerai pelukannya dab mendekat pada suaminya.


"Maafin aku Mas, aku khilaf, jangan hukum aku." katanya sambil menunduk. Ia tak berani jika langsung memeluk Yudha begitu saja.


"Khilaf kamu bilang? Lalu dengan khilaf, apakah kamu bisa menarik kembali sertifikat rumah aku. Hah!" bentak Yudha.


"Maafin aku Mas, aku mohon." lirih Fiona yang kali ini berjongkok dan memeluk kaki suaminya.


"Lepasin Fiona, apa-apaan kamu ini." timpal Yudha.


Lalu, Fiona pun berdiri dan menatap wajah Ajeng yang sedang menatapnya juga.


"Sudah puas lihat aku seperti sekarang? Ini kan yang kamu inginkan selama ini? Melihat aku menderita." cebik Fiona dengan menahan emosi.


"Jangan bicara sembarangan kamu." tegur Abian dengan berdiri didepan Ajeng, melindunginya dari kemarahan Fiona.


"Minggir gak. Jangan halangi aku, aku ingin bicara sama dia." ucap Fiona kesal.


"Tidak akan, dia istriku, jadi aku harus melindunginya dari orang jahat seperti kamu." bentak Abian.


"Ohh kalian berdua sudah menikah rupanya." kekeh Fiona. "Ajeng, kamu pintar sekali cari laki-laki, punya pelet apa sih kamu selama ini? Atau jangan-jangan ... Kamu obral duluan, makanya-"


"Jaga mulut kamu." potong Ajeng yang akhirnya buka suara, sambil melangkah melintasi suaminya dan kini Ajeng dan Fiona saling berhadapan.


"Kamu sadar gak? Dengan omongan kamu barusan. Hah? Kamu seperti menggali lobang untuk kamu sendiri. Padahal ... Aku sempat berubah pikiran, ingin mencabut laporan untuk kamu, tapi ... Setelah melihat kamu seperti ini ... Aku urungkan dan tetap akan dilanjut." kata Ajeng serius.


"Dasar perempuan licik." umpat Fiona.


"Kita lihat, siapa disini yang mendapat balasan atas semua perbuatan. Ternyata tanpa campur tanganku sekalipun, kamu sudah mendapat balasannya Fiona." kekeh Ajeng sambil menarik sudut bibirnya kesamping.


"Kurang ajar kamu Ajeng. Aku tidak terima aku di gini-in." umpat Fiona dengan geram.


"Kamu memang pantasnya disini. Seorang pelakor tidak pantas berkeliaran bebas, takut ada korban lainnya." sindir Ajeng dengan tatapan tajam.


"Aku sangat muak melihat muka kamu Ajeng." teriak Fiona.


"Pak, tahan perempuan ini, jangan biarkan dia lepas dari sini." titah Ajeng pada polisi yang mendampingi mereka.


"Kamu perempuan licik yang pernah aku temui, kamu keterlaluan." umpatan demi umpatan Fiona layangkan untuk Ajeng, sambil dirinya digiring paksa oleh polisi.


"Mas Yudha, tolong aku...... MAS." teriak Fiona diakhir kalimat


Namun, Yudha tak bertindak apapun, karena dirinya juga belum memaafkan Fiona.


Ajeng menoleh pada suaminya. "Kita pulang saja Mas, sudah selesai kan?" tanyanya.


Abian menganggukkan kepalanya, dan segera menggandengnya untuk keluar. Begitu juga Retno, Yudha dan Herman, mereka mengikutinya dari belakang. Sementara Ezhar tidak ikut, karena diperintah majikannya untuk datang kekantor mengambil berkas-berkas.

__ADS_1


"Ajeng, bisa kita bicara berdua saja?" tanya Yudha ketika mantan istrinya itu hendak memasuki mobil. Membuat Abian menoleh dangan tatapan tajam.


__ADS_2