Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Rencana Berikutnya


__ADS_3

Kabar akan menikahnya Abian dan Hasna sontak terdengar di beberapa warga masyarakat juga kalangan teman-teman mereka. Pun para karyawan Ajeng termasuk mantan suaminya Yudha. Juga Alvino dan Ezhar selaku asistennya. Kecuali sus Rini, dia belum tau karena jarang membuka aplikasi-aplikasi sosial media, ia lebih cenderung ke tik-tok yang sangat digandrungi kaum muda saat ini.


Bagaimana tidak! Berita itu tersebar karena Hasna sendiri tengah membuat status di sosial media instagram miliknya. Ia mengupload foto dirinya dengan di belakangnya ada Abian yang sedang memunggunginya yang ia ambil secara diam-diam semalam. Dengan caption bahwa sebentar lagi dirinya akan dipersunting seorang lelaki pengusaha sukses. Yang tak lain dan tak bukan adalah Abian Qadafi suami dari Ajeng Shafanina.


Kabar tersebut tentu membuat siapapun yang mengenal mereka begitu shock. Apalagi yang sudah tau akan hubungan mereka yang begitu romantis seperti tidak bisa di pisahkan.


"Kasihan ya ibunya s Qeera, nasibnya gitu terus, dulu diselingkuhin, sekarang terang-terangan suaminya mau nikah lagi." ucap seseibu yang merupakan orangtua temannya Qeera.


"Mungkin sudah takdirnya kali harus punya madu, buktinya kemarin minta pisah, lalu nikah lagi, eehhh suami yang sekarang juga mau nikah lagi." ujar ibu yang satunya.


"Yang terpenting bukan kita yang mengalami nasib seperti itu." kata ibu di belakang mereka.


"Tapi siapa sih perempuan yang mau dinikahi suaminya, pasti lebih cantik dari si Ajeng. Makanya suaminya mendua." timpal ibu itu yang pertama.


"Sudah sudaaaahhh, ngapain pada ngegosip, kayak hidup kalian pada bener aja." tegur ibu satunya dan akhirnya semuanya pada diam.


Begitulah kalangan masyarakat berkomentar. Begitu juga Riana, Yumna dan Zia. Mereka bertiga sangat menyangkan prihal kabar tersebut.


"Duuhhh gak jadi ah mau punya suami kayak pak Abian. Ternyata sama saja sama pak Yudha." celetuk Yumna. Tapi tidak ada yang menanggapi ucapannya karena Riana dan Zia masih begitu shock.


Pun Yudha, ia kepalkan tangannya kuat-kuat, mukanya memerah serta tatapannya begitu tajam, napasnya lebih cepat dari biasanya.


"Aku pikir kamu suami terbaik untuk Ajeng, tapi ternyata kamu juga sama saja, malah lebih kejam dari aku, karena kamu secara terang-terangan mengumumkannya." umpat Yudha.


Ia pun tidak bisa tinggal diam dan akan menemui Abian hari itu juga.


Tapi Alvino, justru ia malah curiga kalau semuanya merupakan siasat Hasna, agar Abian lah yang harus bertanggungjawab atas kehamilannya, karena ia sendiri percaya pada lelaki itu, bahwa Abian gak mungkin mau menikahi Hasna begitu saja. Pasti ada hal lain dibalik semuanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke negri singa itu. Ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


Ezhar pun sudah kembali ke rumah majikannya karena sudah habis masa cutinya, pun sang ibu sudah kembali pulih.


"Mas, semua orang pasti sudah tau kabar menikahnya kamu sama Hasna." ucap Ajeng menghela napas berat. "Dia umumkan kabar tersebut di instagram miliknya." lanjutnya ketika mereka sedang diteras. Menunggu mobil yang sedang dipanaskan oleh Ezhar.


"Biarkan saja sayang! Yang penting kita fokus pada rencana kita, biarin orang lain mau bilang apa, gak usah di pikirin." ujar Abian. Dan tentu di dengar oleh Ezhar yang berada tak jauh dari mereka.


Setelah itu Abian pun pamit bersalaman lalu mengecup kening istrinya. Setelah itu naik kedalam mobil yang sudah ada Ezhar disana lalu mobil pun melaju menuju kantor.


"Gimana kabar ibu kamu? Sudah baikkan?" tanya Abian didalam perjalanan.


"Sudah pak, alhamdulillaahh." jawab Ezhar tersenyum sopan.


"Bapak benar mau-"


Namun ucapannya terhenti karena Abian ada yang menelepon.


"Hallo." sapa Abian menerima telepon tersebut.


"Abian, kita harus bergerak cepat, sebelum semuanya ketahuan oleh Hasna akan sandiwara kita." ucap Luthfan di seberang telepon.


"Dia curiga?" tanya Abian yang malah tetap santai.


"Sejauh ini aman sih? Tapi aku takut saja." keluh Luthfan.

__ADS_1


"Yaelaahhh kamu tenang saja, pasti semuanya baik-baik saja." kata Abian meyakinkan.


"Kita ketemuan di tempat yang orang lain pun gak akan tau, termasuk Hasna, biar nanti aku kasih tau alamatnya, gimana?" tawar Luthfan.


"Baiklah, aku akan bawa istriku juga biar dia tau rencana kita selanjutnya." balas Abian.


"Oke, setelah jam makan siang." ujar Luthfan.


Kemudian telepon pun terputus. Ezhar manatap wajah majikannya dari kaca spion yang ada diatas kepala, tapi seperti tidak ada masalah dari mimik wajahnya, Ingin bertanya kembali tapi ia urungkan. Lalu memilih untuk diam saja.


Tiba dikantor, semua karyawan disana pura-pura cuek dan tak tau soal kabar tersebut. Sehingga semuanya memilih diam saat atasannya melangkah melewati mereka, karena jika membicarakan sang atasan apalagi bertanya langsung takut atasannya tersinggung.


Abian pun masuk dan langsung membaca berkas-berkas yang harus dia pelajari. Hari itu tak ada meeting ataupun pekerjaan lainnya yang menguras waktu, sehingga ia pun santai saja.


Tak terasa, sudah waktunya makan siang. Lantas Abian pun akan mejemput Ajeng di ruko untuk ikut dengannya yang sebelumnya sudah diberi tau kalau Luthfan mengajak mereka ketemuan


Tiba di ruko. Abian gegas masuk tanpa pedulikan tiga karyawan disana yang terus menatap kedatangannya.


Tak lama, suami istri itu pun keluar dan langsung naik kedalam mobil.


"Ezhar. Kita ke restoran untuk makan siang dulu, setelah itu kita ke alamat ini. Kamu tau kan ini dimana?" tanya Abian sambil menyerahkan alamat tersebut.


"Baik pak." jawab Ezhar setelah membaca alamatnya.


Lantas mobil pun kembali melaju menuju tempat restoran. Setelah usai makan siang, perjalananpun dilanjut menuju alamat yang Luthfan berikan.


"Sebenarnya ada apa sih? Kok si ibu malah kelihatannya nyantai saja tau suaminya mau nikah lagi. Gak terlihat habis nangis seperti sama pak Yudha dulu." ucap Zia.


Tiba di tempat yang dituju. Mereka pun turun lalu menatap setiap rumah yang ada disana. Suasananya terlihat sangat sejuk dan nyaman. Rumah-rumah yang tidak terlalu besar namun mampu membuat mereka suka jika lama-lama berada disana. Apalagi rata-rata warga disana sangat ramah.


Luthfan kasih tau kalau tempat yang mereka akan datangi yaitu yang cat rumahnya berwarna hijau berikut nomor rumah tersebut.


Setelah ketemu. Ezhar pun membukakan pagar dan masuk, kemudian mengetuk pintu. Ezhar dibolehkan untuk ikut karena dia harus tau, karena dia sendiri akan ditugaskan dalam rencana mereka.


Pintu pun dibuka, lalu mereka pun masuk dan dipersilakan untuk duduk.


"Ini rumah mendiang nenekku, sengaja aku bawa kalian kesini agar tidak ada yang tau kita ketemuan, termasuk Hasna, aku takut ada yang melihat kita siapapun itu, lalu semuanya kacau." kata Luthfan serius. Ia pun sudah tau siapa Ezhar. Dan sudah biasa saja saat berhadapan dengan Ajeng. Yang ada hanyalah penyesalan atas kejahatannya kemarin.


"Baiklah, langsung saja kita bahas, tapi sebelumnya aku ingin minta maaf sama kalian berdua terutama kamu Ajeng, dan aku lakukan ini juga semata ingin menyelamatkan rumahtangga kamu dari gangguan Hasna. Aku ingin menebus semua kesalahanku sama kamu." lanjut Luthfan menghela napas.


Ajeng menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku sudah maafkan kamu. Yang terpenting jangan diulangi lagi, tetaplah jadi Luthfan yang aku kenal baik."


"Terimakasih." balas Luthfan tersenyum. "Sekarang baru kita bahas."


"Abian. Hasna barusan chat kamu kan? Dia bilang kalau pernikahannya minta di percepat, kalau bisa besok saja, katanya lebih cepat lebih baik. Aku bisa tau karena aku telah menyadap ponsel miliknya." ujar Luthfan. Membuat Abian terbelalak.


"Hah? Gila tu orang, dia kira dia siapa?" Abian terperanjat lalu mengambil ponsel dan membuka pesan tersebut. Dan benar! Hasna minta dipercepat.


"Mas, memangnya kenapa sih? Katanya tinggal hadirkan wali nikah dan para saksi, kemudian pak penghulu, gampang kan? Kenapa kamu seperti tak suka? Apa jangan-jangan ... Mau adain pesta?" tanya Ajeng heran.


"Kamu benar sayang! Setelah aku pikir-pikir ... Aku inginnya mengadakan pesta, tapi pesta untuk pernikahan kita. Karena kita kan dulu cuma ijab qabul. Gak ada pesta-pestaan." papar Abian tegas.

__ADS_1


"Maksudnya Mas?" tanya Ajeng menyipitkan mata.


"Gini ya! Kita adain pesta dan aku inginnya dirumah mendiang ayah. Begitu juga Luthfan dan Hasna, mereka pun akan melangsungkan ijab qabul disana. Intinya barengan sama kita." papar Abian serius. Sementara Ezhar benar-benar belum mengerti arah pembicaraan mereka, ia pun hanya menyimak saja.


"Lalu? Soal undangannya? Disana akan tertulis juga pernikahannya kamu sama Hasna?" tanya Ajeng.


"Soal itu, biar kita buat satu saja tulisan yang kamu maksud, lalu diberikan pada Hasna biar dia percaya. Tapi yang lainnya beda lagi yaitu merayakan pernikahan kita." lanjut Abian.


Luthfan mencerna pemaparan Abian lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku setuju!" ujar Luthfan. "tapi ... Kalau soal undangan yang kamu minta, aku kurang setuju. Buatku itu malah memicu kecurigaan, Karena bisa saja Hasna membaca undangan yang lainnya." tambah Luthfan.


"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Abian menoleh.


"Menurutku ... Didalam tulisannya tertera nama kamu, Ajeng dan juga Hasna dibawahnya, sementara aku sendiri gak papa tidak dicantumkan. Biarkan orang lain bicara apa, karena mereka akan tau juga kebenarannya nanti." papar Luthfan.


"Boleh juga." kekeh Abian. "Tapi gimana soal orangtua Hasna?"


"Soal itu kamu gak usah khawatir. Mereka sudah aku ceritakan semuanya termasuk kejahatan dia pada kalian berdua terutama Ajeng. Juga sandiwara kita pun mereka sudah tau." kata Luthfan menghela napas.


"Tapi tetap saja aku takut, kalau tante Widya dan om Ferdy akan marah sama kita setelahnya." keluh Ajeng. Widya dan Ferdy nama kedua orangtua Hasna.


"Aku rasa gak mungkin mereka akan marah. Karena sepertinya mereka itu pemaaf dan bukan tipe orang yang mudah marah. Apalagi kamu Ajeng, kalian berdua kan sempat sahabatan. Pasti kenal dekat dengan mereka." kata Luthfan.


"Iya sih." balas Ajeng. "Terus gimana? Apa akan tetap diadakan besok acaranya? Lalu orangtua kamu sendiri. Apa sudah tau?"


"Orangtuaku sangat cuek, mereka seolah gak peduli akan kehidupanku, mereka sibuk dengan pasangan mereka masing-masing, karena semenjak perpisahan mereka. Aku seolah dianggap tidak ada, aku yang saat itu berusia tujuh belas tahun harus hidup hanya bersama nenekku disini. Aku berjuang sendirian hingga aku bisa menggapai mimpiku. Tapi setelah itu nenekku meninggal." ujar Luthfan mengisahkan tentang kehidupannya. Tak terasa airmatapun menggenang. Lalu ia pejamkan mata dan airmata itu pun akhirnya terjatuh. Dan Luthfan langsung menyeka sudut matanya.


Ajeng dan Abian pun terenyuh dan merasa iba, baru tau akan kehidupannya yang ternyata sangat pedih karena tak mendapatkan kasih sayang lagi dari kedua orangtuanya.


"Kita turut prihatin dengarnya! Semoga kamu selalu sabar dan hidupmu selalu bahagia." kata Abian.


"Iya terimakasih." balas Luthfan.


"Soal acaranya gimana Mas, mau besok?" kembali Ajeng bertanya.


"Soal itu, nanti aku balas chat dia kalau acaranya esok lusa, mana bisa mempersiapkan semuanya hari ini juga." kata Abian. "Dan Ezhar! Tolong kamu persiapkan semuanya bila perlu minta bantuan yang lain. Termasuk undangan pesta pernikahan yang tadi kita bicarakan." titahnya.


"Siap pak." ucap Ezhar mengangguk sopan. Yang sudah mulai sedikit mengerti.


Setelah dirasa cukup. Merekapun berpamitan dan keluar lalu kembali naik kedalam mobil dan kembali ke tempat kerja masing-masing. Namun saat diperjalanan, mobilnya tiba-tiba dihadang oleh mobil milik Yudha. Membuat Ezhar nge-rem mendadak.


"Astaghfirullaahh..." gumam Ajeng sambil mengelus dada "Siapa sih?"


"Itu mobil mantan suami kamu." kata Abian. Dan Ajeng baru menatap pada mobil itu. Benar! Mobil itu milik Yudha.


"Mau apa sih dia?" keluh Ajeng tak suka.


"Mau ketemu istriku kali." canda Abian.


"Isshhh. Gak mungkin." timpal Ajeng.

__ADS_1


"Keluar kamu Abian." teriak Yudha yang sudah berdiri disamping mobil mereka.


__ADS_2