
Keesokan harinya. Ajeng sudah memegang kertas rekam medis itu, setelah sebelumnya ia menceritakan pada Retno perihal masalah yang dihadapi Hasna dan Luthfan.
Begitu juga Luthfan dan Hasna. Mereka sudah memegang rekaman CCTV yang diambil dari CCTV yang berada di teras, dimana Fiona tengah turun dari mobil milik Luthfan, kemudian masuk kedalam apartemen setelah Luthfan lebih dulu masuk, hanya jeda waktu sekitar lima belas menit saat itu
Karena penasaran, kenapa Fiona bisa ikutan naik padahal Luhtfan hanya sendirian. Maka mereka pun langsung menyelidiki semuanya, dari mulai mendatangi tempat terakhir kali Luthfan berkunjung, yang dimana Luthfan malam itu sedang berhenti di tengah jalan, lantaran haus. Maka ia pun turun untuk membeli air minum. Dan saat itu lah Fiona masuk.
Beruntung ada seorang bapak-bapak yang memberitahu pada mereka, karena ia sendiri melihat Fiona di kejar-kejar seorang pria, lalu masuk ke dalam mobil Luthfan untuk bersembunyi.
"Terimakasih Pak atas infonya." ucap Luthfan pada bapak itu. Dan rekaman atas pengakuan bapak tersebut sudah ia pegang juga.
Juga ada lagi satu orang saksi yang merupakan bukti cukup kuat untuk membongkar kebusukan Fiona. Dan akan mereka munculkan jika sudah saatnya.
Tak sampai disitu. Setelah mendengar pengakuan bapak tersebut, Luthfan jadi curiga, kenapa Fiona bisa sampai dikejar-kejar oleh seorang pria disaat malam hari. Maka Luthfan pun akhirnya menyuruh orang untuk mencari tau dimana Fiona tinggal dan seperti apa kehidupannya.
Setelah didapat, orang suruhannya pun kembali disuruh berpura-pura untuk menjadi pelanggannya, dengan membuat Fiona mabuk parah terlebih dahulu. Setelah itu barulah orang suruhannya itu melaksanakan apa yang sudah diperintah oleh Luthfan. Dan berhasil. Itu semua tentu tidak gratis. Karena keberhasilannya, orang suruhannya itu pun diberi upah yang cukup besar, sesuai perjanjian diawal.
Akhirnya semua bukti kini tengah mereka pegang. Dan sekarang hanya perlu menjebak Fiona masuk ke dalam perangkap mereka.
"Ternyata kehidupanmu sangatlah miris Fiona, bukannya sadar atas kesalahan yang kamu perbuat, malah sekarang, kamu memilih hidup menjadi wanita malam." gumam Luthfan.
"Semoga setelah ini, siapa pun itu, tidak ada lagi perusak rumah tangga kita." tambahnya membuat Hasna menoleh padanya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Luthfan karena ditatap sedemikian rupa.
Hasna pun memalingkan wajahnya kembali, kemudian menarik napas dalam.
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu berdo'a seperti itu. Bukankah kita sepakat akan berpisah setelah kaki ku benar-benar sembuh." katanya dengan menatap lurus. "jadi, do'a seperti apa pun rasanya percuma. Karena ada pengganggu atau pun tidak. Ada masalah atau pun tidak. Maka kita tetap akan berpisah."
"Bagaimana kalau aku berubah pikiran?" balas Luthfan.
"Maksud kamu?" Hasna menoleh.
"Bagaimana kalau aku mau ... Kita tetap bersama, jangan ada kata pisah." jawabnya serius, sambil menatap Hasna dengan dalam.
Perempuan itu mengerjap, lalu menatap manik mata lelaki yang ada dihadapannya, ingin tau apakah yang lelaki itu katakan adalah sebuah kejujuran atau hanya ... Ingin membesarkan hatinya saja? Namun, ia tidak melihat hal itu, yang ia lihat, lelaki itu memang terlihat serius dan tengah jujur.
"Tapi ... Aku tidak mau hidup dengan lelaki yang tidak memiliki rasa sama sekali pada istrinya, lebih baik kita pisah, karena aku sudah merasakannya berkali-kali, bagaimana mencintai lelaki yang tidak pernah bisa membalas cintaku. Itu rasanya sakit sekali." tanpa terasa airmata pun menetes di pipinya.
Dengan sigap, Luthfan pun menghapus airmata di kedua pipi itu.
"Jangan menangis lagi, karena setelah ini akan aku pastikan, airmata itu tidak akan terjatuh lagi." ucapnya tersenyum.
"Luthfan." Hasna menggeleng dengan mata berembun.
"Ya, aku ... aku sudah mulai ada rasa sama kamu. Entah kapan rasa itu hadir, aku tak tau, karena setiap aku melihat kamu bersedih, aku pun juga ikutan sedih. Tak tega. Terlebih saat kamu bertemu Abian kemarin. Hatiku merasa ada yang berbeda. Perih. Aku ... Cemburu." katanya serius.
Hasna hanya tersenyum menanggapinya. Padahal ia sendiri biasa saja saat berhadapan dengan suami sahabatnya.
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti aku sudah jujur sama kamu."
Luthfan menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"Sekarang kita bahas soal rencana kita untuk menjebak Fiona." ujarnya.
"Apa kita ... Harus mengikuti rencana kalian saat kalian bertiga menjebakku saat itu? Dan kita juga ikuti saja maunya Fiona. Kalian kan kemarin juga gitu." ujar Hasna.
__ADS_1
Luthfan malah terkekeh mendengarnya.
"Kalau di pikir-pikir, aku tega sekali ya sama kamu saat itu, tapi ... Aku tidak akan menyesalinya. Karena akhirnya aku pun bisa menikahi kamu, perempuan yang sudah mengusik hatiku." kekeh Luthfan.
"Sudahlah, aku gak butuh rayuan gombalmu."
"Oke baiklah. Apa kita harus minta bantuan mereka lagi?" tanya Luthfan.
"Kurasa gak perlu. Biarlah kita berdua saja yang menghadapinya."
***
Sementara itu. Abian sedang di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Namun lagi-lagi ia tak fokus. Pikirannya selalu tertuju dengan apa yang telah ia impikan semalam.
Di mimpi itu. Renata mendatanginya dengan memakai gaun berwarna putih. Tak bicara sepatah kata pun. Renata hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, setelah itu pergi menghilang entah kemana. Membuat Abian terbangun ditengah malam dengan kebingungan juga merasa kalau itu merupakan sebuah firasat buruk. Tapi Abian sendiri tak tau itu apa.
Ajeng pun tidak tau mengenai mimpi tersebut. Karena ia tidak tau saat suaminya tiba-tiba terbangun. Ajeng sendiri semalam sangat lelap dengan tidurnya. Juga Abian sendiri belum cerita.
"Axel." panggilnya pada sekretarisnya lewat telepon. "Tolong kamu ke ruangan saya."
Tak menunggu waktu lama. Axel pun masuk.
"Iya Pak, ada apa?" tanyanya.
"Tolong kamu handle semua pekerjaan saya. Setelah selesai, beritahu saya. Nanti saya kasih bonus."
"Baik Pak." jawabnya dengan mengangguk sopan.
"Yasudah, kamu bawa berkas-berkas ini. Kerjakan di ruangan kamu."
"Di suruh handle lagi?" tanya Ezhar yang selalu menunggu atasannya diluar.
"Iya." jawab Axel dengan lemah.
Pasalnya kerap kali atasannya selalu memerintahnya untuk mengerjakan apa pun itu. Padahal pernah sekali ia pun tidak bisa mengerjakannya. Namun berkat bantuan Ezhar, ia pun akhirnya bisa menyelesaikan semuanya. Tapi ... Tidak masalah bukan? Jika Abian selalu meminta bantuannya? Karena Axel memang sekretarisnya. Jadi harus siap dengan segala perintah atasannya.
"Sabar ya, bos kita kalau sedang ada sedikit masalah saja, pasti minta di handle." kekeh Ezhar. Ia sudah bisa menebak, atasannya pasti sedang ada masalah lagi.
"Iya, nanti tolongin aku lagiiii."
"Iya, kamu tenang saja." jawab Ezhar sambil menepuk pundaknya pelan.
Gadis itu pun kembali melangkah, lalu masuk kedalam ruangannya.
"Ezhar antar aku-" ucapan Abian terhenti kala melihat sang istri sedang berjalan kearahnya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya kamu datang juga sayang." ucapnya tersenyum.
"Ada apa sih?" tanya Ajeng menyipitkan mata.
"Masuk dulu. Ada sesuatu yang aku harus kasih tau."
Abian meraih tangan Ajeng, menariknya untuk masuk.
"Ada apa Mas? Kenapa hatiku mendadak gak enak gini." tanya Ajeng, saat mereka sudah duduk.
__ADS_1
"Itu lah yang sedang aku rasakan juga sayang." kata Abian.
"Mas?"
"Sayang. Aku semalam bermimpi. Renata mendatangiku-"
"Mas. Tolonglah! Untuk biasakan memanggil dengan sebutan Mama. Aku mohon." potong Ajeng dengan lirih.
Abian menarik napas dalam.
"Baiklah, demi kamu." ujarnya.
"Aku semalam bermimpi, Mama mendatangiku dengan gaun berwarna putih. Mama juga tidak mengajakku bicara sama sekali. Ia hanya melambaikan tangan, setelah itu pergi menghilang entah kemana." papar Abian menjelaskan.
"Aku rasa, sudahi amarah dan bencimu terhadap Mama. Tidak baik menaruh dendam begitu lama, itu hanya akan membuat kamu tidak tenang dalam menjalani hidup. Bayangkan saja. Kita melangkah kemana pun sambil membawa amarah, benci serta dendam. Apa itu enak? Tidak kan? Lagian, Mama juga sudah minta maaf dan mengakui segala kesalahannya sama kamu Mas. Kurang apa lagi? Mama tak pernah lelah menunjukkan rasa sayangnya sama kamu, bahkan sama aku juga merasa demikian. Mama juga tak pernah membalasnya meskipun kamu selalu bersikap tak baik padanya." kata Ajeng dengan menghela napas panjang. "semoga tidak ada penyesalan nantinya. Jika salah satu umur kita, tidak ada yang panjang. Bisa saja besok aku tiada, atau kamu, bahkan Mama. Tapi ... Semoga saja itu hanya bunga tidur. Kita hanya perlu, terus berpikiran positif."
Abian sendiri kini sudah mulai tersentuh mendengar penuturan istrinya. Apa yang dikatakan istrinya, semuanya memang ada benarnya.
"Kamu benar sayang, terimakasih, kamu tak pernah lelah mengingatkanku apa pun itu. Maafkan aku." lirih Abian dengan menundukkan kepala.
"Lalu, apa yang akan Mas lakukan setelah ini?" tanya Ajeng.
"Aku akan meminta maaf terlebih dahulu pada Mama. Setelah itu, aku ingin Mama tinggal bersama kita. Boleh kan?" tanyanya.
"Tentu saja Mas. Dia Mamaku juga."
"Makasih sayang." balas Abian sambil mengecup pipinya.
"Oh iya Mas. Sebentar lagi aku akan meresmikan butik baru di sebuah tempat bangunan yang selama ini Haris tangani. Setelah bangunan itu jadi, saat itu juga aku diam-diam menyewa beberapa teman untuk kelangsungan butik itu." ujar Ajeng dengan serius.
Ya, Ajeng sudah mempersiapkan semuanya. Dari mulai membeli alat-alat yang dibutuhkan, seperti patung-patung untuk memamerkan baju hasil rancangannya, mencari supplier bahan yang tepat, menentukan harga produk sesuai pasaran dan yang banyak diminati semua orang, mempromosikannya lewat akun sosial media dan masih banyak yang lainnya semuanya sudah siap.
Ajeng pun membuka butik itu tidak hanya untuk kalangan atas, kalangan menengah sampai kebawah pun juga ada. Pun tidak hanya untuk orang dewasa. Anak-anak dan remaja pun semua ada. Semua sudah Ajeng persiapkan matang-matang, termasuk target bisnis yang sudah ia pikirkan.
Dan pastinya sudah bekerja sama dengan designer handal yaitu Pak Hartoyo. Bukan tak mungkin juga, Ajeng akan berkolaborasi lagi dengan Luthfan. Tapi itu belum ia bicarakan pada suami sahabatnya tersebut.
"Oh iya Mas, aku juga akan mempekerjakan teman-teman yang telah aku perintahkan, termasuk juga Riana, Yumna dan Zia. Mereka akan aku pindahkan kesana. Mungkin ruko itu akan aku kosongkan. Entah buat apa nantinya. Mungkin akan aku sewakan saja." papar Ajeng.
"Kenapa baru bilang? Pantesan, kadang kamu dirumah juga sibuk dengan ponsel dan laptop. Ku pikir kamu sedang mengamati ruko itu saja." kata Abian.
"Iya Mas, maaf ya. Aku melakukan semua itu karena ingin memberikan surprise untuk kamu dan juga Qeera. Juga akan aku persembahkan untuk anniversary pernikahan kita yang pertama." kata Ajeng tersenyum.
"Anniversary pernikahan kita? Kenapa aku sendiri malah lupa? Mungkin karena saking bahagianya hidup bersama kamu." kekeh suaminya dengan menjawil hidung sang istri. "gak kerasa ya kita udah satu tahun aja menikah, perasaan baru kemarin deh kayaknya.
"Aku malah kerasa banget Mas. Apa lagi setelah suamiku marah. Dan saat itu juga aku langsung berpikiran negatif. Apakah pernikahanku akan kandas untuk yang kedua kali." canda Ajeng.
"Sayang. Kok bisa sih kamu berpikir kearah sana? Itu gak mungkin terjadi. Dan gak akan pernah terjadi." Abian menarik tubuh Ajeng kedalam dekapannya. "sekali lagi, maafkan aku sayang. Karena sudah membuatmu berpikir kearah sana."
Suami istri itu pun, kemudian saling berpelukan, menumpahkan rasa yang ada dalam diri masing-masing.
***
"[Fiona, tolong kamu datang ke tempat ini besok. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai permintaan kamu]"
Sebuah pesan yang Luthfan kirim untuk Fiona. Membuat perempuan itu menyunggingkan senyumannya setelah membaca pesan tersebut.
__ADS_1
"[Oke, dengan senang hati aku akan datang]" balasan dari Fiona.