Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Prasangka Alvino


__ADS_3

Hasna menaikkan lagi satu kakinya. Lalu menatap kebawah yang dimana dibawah jembatan tersebut terdapat arus sungai yang sangat deras.


Perlahan, ia memejamkan mata. Lalu satu kakinya ia naikkan lagi ke pembatas jalan yang paling atas.


"Selamat tinggal sayang, aku tunggu kamu dialam yang berbeda." gumam Hasna sambil membayangkan wajah Abian saat baru pertama kali bertemu.


Perlahan tubuhnya ia bungkukkan dan disaat hampir saja terjatuh. Ada tangan yang menahannya dan memeluknya dari belakang.


"Apa-apaan kamu Hasna? Apa yang sedang kamu lakukan? Mau bunuh diri? Iya?" teriak Luthfan, lalu menarik tubuh Hasna dan Hasna pun berdiri di depan Luthfan.


"Kenapa kamu menyelamatkan aku? Biarkan saja aku mati." teriak Hasna dengan isakan yang memilukan.


"Kenapa pikiranmu pendek sekali? Istighfar. Apa yang kamu lakukan itu sangat berdosa." kata Luthfan sambil membuang napas kasar.


"Untuk apa aku hidup, sementara tidak ada satupun yang menyayangi aku, yang peduli sama aku." Hasna berteriak, hidungnya kembang kempis karena amarahnya semakin memuncak.


"Kata siapa tidak ada? Ada! Akulah orangnya. Aku sangat sayang dan peduli sama kamu." kata Luthfan sambil mengontrol napasnya.


"Itu karena kamu kasihan kan sama aku? Terutama karena ada anak kamu didalam perut aku, kalau tidak! Lain lagi ceritanya. Aku yakin kamu akan beda lagi memperlakukan aku." sangka Hasna. Seketika Luthfan pun terdiam.


"Benarkan? Ternyata kamu sama saja." timpal Hasna. Lalu melangkah menjauhi Luthfan.


"Mau kemana kamu Hasna?" panggil Luthfan. Dan Hasna pun menoleh ke belakang.


"Bukan urusanmu! Kamu sudah menggagalkan aksiku." sentak Hasna. Dan kembali melanjutkan langkahnya.


Kali ini Luthfan akan membiarkan Hasna pergi, karena sudah lelah mencarinya kesana kemari.


***


Alvino tiba didepan rumah Abian, rumah yang pernah ia datangi saat mengantarkan Ajeng. Namun dilihat dari luar seperti tak berpenghuni.


Ia mau berpamitan pada suami istri itu sebelum kembali ke singapore.


Kemudian Alvino bertanya pada tetangga sekitar. Dan tetangga itu bilang kalau Abian bersama istrinya sudah tidak tinggal dirumah itu lagi.


"Mereka pindah kemana ya bu?" tanya Alvino.


"Maaf pak, saya juga tidak tahu." jawab tetangga tersebut.


Lantas Alvino kembali menatap rumah tersebut. Lalu melangkah dan naik kedalam mobil.


"Kemana ya mereka?" gumamnya.


Sepanjang perjalanan, ia memikirkan harus kemana lagi mencari keberadaan mereka berdua, padahal Abian pernah memberi kartu namanya dan disitu jelas tertulis ada nomor ponselnya. Tapi mungkin Alvino sudah lupa.


"Kenapa aku gak nanya ya tadi sama Yudha."


Disaat itu juga, Alvino justru melihat Hasna yang sedang berjalan kaki sendirian.


Ia mendekatkan mobilnya lalu berhenti tepat disamping Hasna, kaca mobilpun ia buka, membuat Hasna menoleh, tapi Hasna segera melanjutkan langkahnya dengan sedikit tergesa, setelah tau siapa pemilik mobil tersebut.


Alvino kembali melajukan mobilnya mengejar Hasna dan kini mobilnya pun sudah menghadang Hasna dari depan, sehingga Hasna pun mau tak mau berhenti.


Alvino turun dan langsung mendekat.


"Mau apa kamu." bentak Hasna.


"Hei tenanglah! Aku sudah bukan Alvino yang dulu lagi. Jadi kamu gak usah takut." ucap Alvino santai.


"Omong kosong, buktinya kamu kemarin maksa aku untuk ikut sama kamu, beruntung aku bisa menghindar." kata Hasna menatap tajam.


"Itu cuma bercanda." kekeh Alvino.


"Bercanda macam apa itu." umpat Hasna. "Sekarang juga minggir, aku mau lewat."


Alvino malah diam saja menatap Hasna yang sedikit berbeda, perempuan yang kini ada dihadapannya wajahnya terlihat pucat pasi.


Lalu disaat Hasna hendak melangkah...


Hoekk


Hoekk


Hasna seketika merasakan mual yang tak bisa ditahan lagi.


"Hasna, kamu gak papa?" tanya Alvino memegang bahu Hasna namun di tepis.

__ADS_1


"Lepasin." sentak Hasna sambil menutup mulutnya.


Hoekk


Kembali Hasna merasakan mual. Tapi Alvino justru curiga, karena ada yang tidak biasa pada diri Hasna.


"Kamu hamil?" tanya Alvino spontan membuat Hasna tercekat.


"Kamu hamil kan? Tapi sama siapa? Gak mungkin itu anakku, karena kita melakukan itu hanya sekali bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Kecuali ... " alvino menjeda ucapannya sambil menarik alis satunya.


"Diam kamu! Ini bukan urusanmu! Aku hanya masuk angin. Bukan hamil." bentak Hasna menatap tajam.


"Sudah lah ngaku saja. Aku bisa diam kok." kekeh Alvino.


"Kamu! Percuma bicara sama kamu." umpat Hasna menatap tajam. Lalu balik badan, melangkah dengan cepat dan meninggalkan Alvino yang diam saja menatap kepergiannya.


"Aku yakin kamu itu hamil Hasna. Tapi ... Siapa lelaki yang sudah menghamili kamu." gumam Alvino penasaran. Menatap punggung yang semakin menjauh.


"Kayaknya menarik kalau aku cari tahu siapa lelaki itu." Alvino mengulas senyum. "Tapi ... Apa ini penting?" katanya mengendikkan bahu.


***


Menjelang maghrib. pasangan suami istri itu sedang berbincang didalam kamar. Sambil rebahan diatas kasur.


"Aku masih gak nyangka kita bakalan bersama seperti ini." ucap Abian sambil menatap langit-langit kamar dengan tangan yang saling tertaut.


"Aku pun juga gak nyangka, kita akan menjadi pasangan suami istri. Ternyata takdir memang tidak ada yang tau." kata Ajeng menoleh dan tersenyum menatap wajah sang suami yang begitu tampan dan manis meski dilihat dari samping. Abian pun sadar, dirinya sedang ditatap sedemikian rupa oleh istrinya. Lalu menoleh.


"Kenapa dengan wajahku? Tampan? Oh ya jelas. Putih? Manis? Tentu saja." kata Abian dengan pecaya dirinya.


Mendengar pengakuan suaminya.


"Hahaha." Seketika Ajeng tertawa lepas, hal itu tentu membuat suaminya mengembangkan senyuman dan terus menatap wajah yang enggan untuknya berpaling.


"Maaf Mas, aku malah ketawa, habisnya tingkat percaya diri kamu ternyata sangat tinggi." kata Ajeng yang tawanya sudah mereda.


"Tapi benarkan?" kekeh Abian tersenyum.


"Iya harus aku akui memang!" kekeh Ajeng. "Tapi ... Bukan soal fisik yang pertama aku suka dari kamu. Aku menyukaimu karena pertama kamu terlihat sangat menyayangi anakku Qeera padahal dia bukan anak kandung kamu." papar Ajeng serius.


"Kedua ... Karena kamu terlihat sangat dewasa dan bertanggungjawab, terutama kamu lelaki yang sangat baik yang pernah aku kenal." lanjut Ajeng.


"Ketiga?" tanya Abian lagi.


"Ketiga, semua kata-kata positif ada di kamu karena aku mencintai kamu." jawab Ajeng tersenyum.


"Ke empat?" tanya Abian semakin serius.


"Iihh gak ada nomor ke empat, udah sampai tiga aja." rengek Ajeng dengan manja lalu memeluk suaminya.


"Kalau meluk gini ... Berarti udah lampu hijau dong." Abian menggodanya sambil membalas pelukannya.


"Emang kalau lampu merah. Gak meluk? Nggak kan? Tetep kamu aku peluk." kata Ajeng membenamkan diri diketiak suaminya, hal yang selalu Ajeng sukai saat bersama dengan suaminya.


"Tapi sekarang udah ganti ke hijau kan?"


Ajeng mengangkat wajahnya lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Yess." ucap Abian senang.


Ajeng malah menggelengkan kepalanya lalu membenamkan diri lagi diketiak suaminya.


"Kamu suka banget kepalanya disitu. Apa gak bau, dengan ketiakku?" tanya Abian.


"Nggak, justru ini ciri khas bau suami." kata Ajeng.


"Termasuk Yudha dulu?" tanya Abian.


"Jangan bertanya sesuatu yang buat kamu cemburu." balas Ajeng.


"Siapa yang cemburu. Nggak kok." elak Abian.


"Masih gak mau ngaku juga?" tanya Ajeng mengerlingkan mata.


"Iya deh aku cemburu." kata Abian yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Oh iya" ucap Abian, dan Ajeng menatapnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ajeng.


"Nanti malam, aku di undang ke pesta ulang tahun temanku. Kamu ikut ya?"


"Yang diundang kan kamu." kata Ajeng.


"Gak papa ikut saja, mau ya?"


"Nggak ah dirumah saja." tolak Ajeng


"Sayang please."


"Baiklah, demi suamiku apa sih yang nggak." kekeh Ajeng tersenyum.


"Termasuk nanti sesudah pulang dari pesta?" goda Abian.


"Ishh apaan coba!" kekeh Ajeng dengan rona malunya.


"Pura-pura polos, padahal sudah mahir." ledek Abian.


Seketika pinggang Abian terkena cubitan tangan istrinya.


"Awas ya nanti sudah main cubit sama suami sendiri."


Mereka terus melayangkan candaan dengan di iringi gelak tawa yang mereka ciptakan bersama.


***


"Aku harus menemui lelaki itu! Ingin tau lebih jelas, ada hubungan apa sebenarnya antara dia dengan Fiona, apalagi ... Kalau benar dia sempat menyentuhnya." kata Yudha dengan napas berat dan panjang. "Agar ... Aku bisa memutuskan langkah apa yang harus aku ambil dengan pernikahanku bersama Fiona." lanjutnya.


Yudha tiba-tiba sangat penasaran akan hubungan Fiona dengan Alvino. Maka ia pun berencana untuk mencari Alvino.


***


Disebuah pesta ulang tahun. Abian dan Ajeng pun hadir. Mereka melangkah memasuki area yang sudah banyak sekali orang-orang didalam sana.


Ajeng yang memakai gamis berwarna navy serta kerudung berwarna senada yang ada sedikit bunga. Menambah kesan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.


Ya, Ajeng sangat menyukai warna itu, makanya rata-rata pakaian yang ia miliki kebanyakan warna navy dengan model yang berbeda-beda. Dari mulai yang polos, lalu ada yang ditambah bunga-bunga. Ada juga seperti burkat baju pengantin. Semua dia punya. Pun Abian. Ia yang mengenakan kemeja berwarna putih, jas berwarna navy serta dasi berwarna navy. Lalu dengan bawahan berwarna sama. Sangat cocok dan serasi. Sengaja memakai warna yang sama dengan sang istri.


Pasangan suami istri itu melangkah tersenyum sambil tangan Ajeng melingkar di lengan suaminya.


"Pak Abian?" panggil seseorang membuat langkah mereka pun berhenti lalu menoleh ke arah sumber suara.


Abian mengembangkan senyumannya dan membawa sang istri untuk mendekati seseorang yang telah memanggilnya. Orang itu tak hanya sendiri, tapi ada tiga orang lainnya. Mereka adalah kolega bisnisnya.


"Senang bertemu dengan anda. Apa kabar pak Abian?" kata seseorang itu bernama David sambil mengulurkan tangan.


"Alhamdulillaahh... Baik pak David." jawab Abian menerima uluran tangan itu, lalu berpindah ke tangan tiga orang lainnya. Dan mereka semua berjabat tangan secara bergantian.


"Istri?" tanya David menoleh pada Ajeng.


"Ahh ya. Kenalkan dia istriku, namanya Ajeng." ucap Abian tersenyum.


"Saya sepertinya kenal dengan anda bu Ajeng." ujar teman satunya bernama Beni.


"Ya, anda pak Beni kan?" tanya Ajeng tersenyum sopan.


"Anda benar." jawab Beni.


"Waahhh gak nyangka ya kalian bisa bersama. Lalu bagaimana keadaan pak Yudha sendiri?" tanya yang satunya lagi bernama Harry.


"Saya tidak tau pak, karena saya selalu bersama suamiku." balas Ajeng sambil melirik ke arah Abian yang hanya mengulum senyum.


"Luar biasa!" puji David. "Tapi kapan kalian nikah? Kenapa kita-kita gak diundang?"


"Sudah mau sebulan lebih. Saat ayahku akan menghembuskan napas terkhirnya disaat itu juga akad nikah dilangsungkan. Jadi tidak ada pesta sama sekali. Tapi ... Itu yang selalu aku pikirkan sampai sekarang. Aku ingin merayakan pesta pernikahan kami. Tapi ... Belum menemukan waktu yang tepat." papar Abian menjelaskan.


"Waahh selamat untuk kalian berdua! Semoga langgeng terus." ucap mereka kompak.


"Sama-sama, terimakasih." balas Abian tersenyum.


Sedang asik berbincang. Lalu tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang sangat cantik. Memiliki rambut pirang sebahu dengan mengenakan dress sepaha serta sapatu hak tinggi yang kesemuanya berwara merah.


"Abian? Akhirnya kita bertemu juga disini. Kemana aja kamu selama ini? Aku kira kamu masih di amrik." tanya gadis itu bernama Eleena.


Sementara Ajeng terus menatap wajah gadis itu. Yang memang tak kalah cantik dengannya. Seketika Ajeng semakin erat melingkarkan tangannya di lengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2