
Abian menatap Ajeng dengan sedikit terkejut, terkejut bukan ketahuan berduaan dengan perempuan lain, melainkan karena istrinya tiba-tiba datang ke kantor, karena sebelumnya gak pernah sama sekali semenjak mereka menikah.
Perempuan itu sedikit menggeserkan tubuhnya lalu menatap penampilan Ajeng dari atas ke bawah yang menurutnya biasa saja, tidak modis, tidak ada menarik-menariknya sama sekali. Berbeda dengan dirinya yang merasa 'pede' dengan pakaian ketatnya, sedangkan Ajeng hanya memakai gamis dan kerudung yang dililitkan dileher. Perempuan itu menaikkan kedua alisnya sambil tangannya mengibas-ngibaskan pundak yang barusan Ajeng sentuh.
"Oooppss maaf, saya sudah lancang nyentuh kamu tanpa ijin." kata Ajeng menutup mulut dengan memasang wajah sendu.
"Oke saya maafkan, tapi lain kali kalau mau melamar kerja tolong menunggu diluar karena didalam sudah ada yang melamar pekerjaan juga, jadi ... Biasakan untuk hidup disiplin." balas perempuan tersebut membuat Ajeng melebarkan matanya, ia pun akhirnya tau kalau perempuan yang tengah berdiri dihadapannya tersebut ternyata sedang melamar pekerjaan. Dan dikira kalau dirinya juga mau melamarnya juga.
Abian sebenarnya ingin memperkenalkan Ajeng pada perempuan itu, namun ia urungkan karena ingin melihat bagaimana cara istrinya menghadapi perempuan tersebut.
"Yasudah, tunggu apalagi, kamu tunggu lah di luar, saya sedang menunggu keputusan akan diterima atau tidak. Lagipula kamu pasti tidak akan diterima karena penampilannya yang-" perempuan itu tak melanjutkan kata-katanya namun terus memindai penampilan Ajeng.
"Oohh. Tapi saya inginnya tetap disini, bagaimana?" tanya Ajeng.
"Kalau begitu kamu tidak ada sopan santunnya sama sekali." umpat perempuan itu.
Ajeng tak peduli dengan umpatannya. Lalu tanpa disuruh, ia pun merebut berkas CV milik perempuan tersebut yang ada ditangan suaminya. Namun sebelumnya ia manatap nama perempuan tersebut.
"Monalisa. Bagus juga namanya." gumamnya pelan.
"Baiklah Mona, tanpa menunggu pertimbangan lagi. Kamu tidak bisa diterima kerja disini." ucap Ajeng sambil menyerahkan berkas CV tersebut.
"Hah?" perempuan itu terkejut.
"Ya, kamu dengar kan? Apa perlu saya ulangi? kamu tidak diterima kerja disini." kata Ajeng tegas.
"Kenapa? Kaget? Lagipula belum diterima saja sudah berani, apalagi jika sudah diterima!" cetus Ajeng.
Abian mengulas senyum, karena tau sang istri tengah cemburu.
"Jadi sekarang, silakan kamu keluar." titah Ajeng.
"Tunggu! Memangnya siapa kamu?" tanya Mona penasaran.
"Perkenalkan! Saya Ajeng Shafanina istri dari Abian Qadafi, lelaki yang tengah duduk disamping saya. Dan lelaki yang terus kamu tatap sedari tadi." papar Ajeng tegas sambil mengulurkan tangannya, Membuat Mona ternganga dan melebarkan matanya. Ia menerima uluran tangan itu dengan sedikit salah tingkah, hingga akhirnya merekapun berjabat tangan.
Karena tujuannya ingin melamar kerja disana selain dapat gaji, tentu karena ingin tebar pesona pada sang CEO.
"Maaf." lirihnya. Dengan amat sangat terpaksa, akhirnya Mona pun keluar dari ruangan itu. Dan kini tinggal lah mereka berdua.
Ajeng menatap wajah Abian dengan tatapan sinis, lalu diletakkannya rantang yang ia bawa diatas meja dengan kasar, membuat Abian tersentak karena sampai mengeluarkan bunyi.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Ajeng kemudian duduk diatas sofa dengan kasar sambil melipatkan tangannya diatas dada dan Abian mengikutinya dari belakang. Lalu ia pun duduk disampingnya.
"Sayang." ucap Abian yang hendak merangkul, namun ditepis.
"Apa sih! Jangan dekat-dekat." tegurnya. Sambil menjauhkan tangan suaminya.
"Sekarang aku tanya sama kamu ya Mas! Kenapa kamu diam saja dari tadi. Apa kamu senang? Dekat dengan ... Siapa tadi namanya? Ahh... Ya Mona. Kamu suka kan sama dia? Lihat penampilannya yang seperti itu? Yang ... Aduuuhhh aku saja malah malu melihatnya." papar Ajeng panjang lebar dengan membuang napas kasar.
Abian hendak membuka mulutnya ingin menjawab namun mulutnya kembali bungkam karena sang istri terus meracau kembali.
"Aku tuh heran sama kamu ya Mas, harusnya tanpa mengecek CV nya pun, kamu langsung menolaknya. Ingat! Meski CV nya bagus tapi atittude dan penampilan masih seperti tadi. Kamu tak perlu mempertimbangkannya lagi. Cepat tolak dia" ucap Ajeng dengan kesal.
"Kamu cemburu?" tanya Abian.
"Nggak." jawab Ajeng ketus.
"Itu." balas Abian.
Tak ada jawaban lagi dari istrinya, yang ada malah membuang pandangannya.
Abian merapatkan tubuhnya serapat-rapatnya. "Sayang udah dong marahnya, aku takut lihatnya." lirihnya sambil mendekap Ajeng dengan erat.
"Tidak akan!"
"Aku mau pulang." kata Ajeng yang masih kesal. Sambil melepaskan dekapan suaminya. Lalu ia bangkit dan melangkah mendekati pintu.
Abian menoleh pada rantang yang berada diatas meja, lalu mendekat. "Apa ini sayang? Kamu bawakan aku makanan untuk makan siang?" tanyanya tersenyum. "Waahhh pasti enak banget, masakan istriku memang tak pernah diragukan lagi, semuanya enak-enak." pujinya dengan tersenyum manis sambil melirik pada sang istri. Membuat Ajeng menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Malam ini tidak ada namanya jatah, dan tidur diluar." ucapnya tegas lalu kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan itu.
"Haduuuhhh kenapa jadi kayak gini sih." keluh Abian sambil meluruhkan bahunya.
Niat hati ingin menyusul sang istri, namun tak bisa, karena ia dapat telepon dari Axel kalau ada beberapa berkas yang harus ditandatangani sekarang juga.
Abian kembali duduk lalu meraih beberapa berkas yang harus ia tandatangani.
Satu-satunya cara ialah mengirim pesan pada istrinya.
"[Sayang, maaf, aku gak nyusul kamu, Axel barusan telepon ngasih tau kalau aku harus menandatangani beberapa berkas ini. Jangan marah lagi ya? Aku gak kuat kalau harus jauhan sama kamu. I love you]" sebuah pesan yang Abian kirim untuk sang istri tercinta dengan disertai emotikon love.
Ada seutas senyuman ketika Ajeng membacanya. "Kamu harus aku kasih pelajaran Mas, supaya paham menghadapi bibit pelakor, karena aku gak mau gagal untuk yang kedua kali. Apalagi ... Aku sangat mencintai kamu, cintaku sama kamu berbeda dengan Mas Yudha saat dulu." gumamnya pelan ketika sudah berada didalam mobil.
__ADS_1
***
Yudha kini sudah mendapat pekerjaan sebagai driver taxsi online, karena beberapa kali ia melamar pekerjaan dikantor, tak ada satupun yang membutuhkan karyawan baru. Ingin kembali lagi pada perusahaan milik Abian, merasa tak percaya diri karena pasti akan ditolak mentah-mentah.
Dan pada saat melintasi ruko milik sang mantan istri, ia pun memilih berhenti dari kejauhan. Lalu tiba-tiba datanglah sebuah mobil dan berhenti tepat didepan ruko itu.
Pemilik mobil itupun turun, lalu melangkah dengan sangat anggun, dan berhenti karena ada panggilan masuk. Dan langsung menerimanya saat itu juga sambil berdiri dengan pandangan mengarah ke arah dimana yang kini ada Yudha didalam mobil yang sedang memandangnya tanpa berkedip. Rasa decak kagum pun hadir di hati Yudha saat memandangnya, karena yang turun dari mobil ialah sang mantan istri.
"Kamu sangat berubah Ajeng, kamu semakin cantik. Kamu perempuan paling baik dan tegar. Aku menyesal telah melepaskan kamu, sungguh menyesal, andai .. Waktu bisa diputar kembali, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi." gumamnya pelan sambil terus menatap perempuan yang masih bertahta dihatinya.
Tanpa menunggu waktu lama, Yudha pun turun, lalu berjalan mendekati Ajeng.
"Ajeng." ucapnya, membuat Ajeng yang sedang menerima telepon pun menoleh, dirinya tidak tau sama sekali saat Yudha berjalan ke arahnya karena sedang fokus berbicara di telepon. Namun Ajeng kembali fokus berbicara lagi ditelepon dan tak memperdulikan Yudha.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Yudha. Membuat Ajeng kembali menoleh sambil menyipitkan matanya. Lalu kembali berbicara ditelepon untuk mengakihiri panggilannya.
Setelah itu, Ajeng menaruh ponselnya kedalam tas.
"Ajeng, bisa kita bicara berdua?" Yudha mengulang lagi permintaannya.
"Maaf, kalau tidak ada kepentingan aku gak bisa." jawab Ajeng serius, lalu membalikkan badannya dan melangkah.
"Aku ingin bertemu dengan anakku." balas Yudha membuat Ajeng menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke belakang.
"Ini alamat rumah kami sekarang!" kata Ajeng mendekat sambil menyerahkan kertas yang sudah tertulis alamat rumahnya. "Aku tidak pernah melarang kamu untuk menemui Qeera, kapanpun kamu mau bertemu dengannya silakan saja. Kecuali saat malam, karena waktu malam waktu saat aku bersama suamiku." tambahnya. Dan Yudha menerima alamat itu.
Bukan tanpa alasan, Ajeng hanya ingin menghargai perasaan suaminya karena itu ia melarang Yudha untuk datang saat malam hari.
Namun tidak bagi Yudha, ada sedikit sesak saat mendengar Ajeng mengatakan itu, tapi, apa boleh buat karena Abian memang suaminya.
Lantas, Ajeng pun melangkah masuk meninggalkan Yudha seorang diri.
"Abian. Kamu sangat beruntung memilikinya. tapi kamu memang pantas mendapatkannya." gumamnya sambil menatap kepergian Ajeng.
Ia sendiri sudah sadar akan kesalahannya dulu pada Ajeng. Padahal sebelumnya berniat ingin merebut Ajeng kembali, tapi ia urungkan. Dan tentu semua itu ada andil dari usaha Retno yang terus menasehatinya untuk tak melakukan kesalahan lagi.
Dengan langkah pelan, Yudha kembali ke dekat mobil taxsi-nya, karena ia habis mengantar customernya, dan disaat itu juga. Alvino melihat Yudha dari kejauhan.
"Yudha! Itu Yudha kan?" ucapnya pelan sambil mempertajam penglihatannya.
Dengan segera, Alvino pun turun lalu mendekat ke arah dimana Yudha berada.
__ADS_1