Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
117. Apa Karma Itu Memang Ada?


__ADS_3

Sementara di tempat lain. Hasna sudah bangun lebih dulu dan berniat akan membangunkan Luthfan untuk sarapan pagi bersamanya, ia sendiri membuatkan roti tawar yang diolesi selai coklat, serta air susu hangat.


Namun, seketika matanya terbelalak melihat pemandangan saat ia membuka pintu itu. Napasnya tiba-tiba sesak. Sampai lidah pun tak mampu berucap, hanya airmata yang bisa keluar dengan tangis yang tak mampu ia tahan.


Hasna pun beranjak dari kamar itu, sampai lupa menutup pintunya kembali. Ia membawa kursi roda yang ia duduki masuk kedalam kamarnya.


"Luthfan, kamu tega, kamu tega." teriaknya dengan isakan.


Hasna menggelengkan kepalanya, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Dimana Luthfan sedang tertidur dalam satu selimut bersama perempuan yang dulunya sangat ia benci.


Namun, seketika. Bayangannya teringat dimana ia dulu juga pernah berbuat demikian, demi lelaki yang dia cinta jatuh kedalam pelukannya. Ia rela merendahkan dirinya sendiri. Yang sayangnya tetap tak berhasil.


"Apa ini yang dirasakan Ajeng, saat aku juga berhasil menjebak suaminya, lalu mengirim foto-foto itu padanya. Allah.... Ternyata ... Sakit sekali. Apalagi aku yang harus melihatnya langsung."


Tangisan Hasna pun semakin pecah. Tubuhnya berguncang merasakan perih yang teramat dalam. Saat lelaki yang ia cintai tidur bersama perempuan lain. Meksi tak tau akan kebenarannya, bisa saja itu ulah Fiona. Tapi tetap saja, keadaan tersebut berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Sementara, dikamar sebelah. Luthfan juga terkejut dengan adanya Fiona yang masih tertidur pulas disampingnya. Pun dres yang ia kenakan sedikit terbuka dibagian atas.


"Fiona. Kamu. Ngapain kamu ada di sini?" Luthfan panik. Lalu menunduk menatap kaosnya juga yang sudah terangkat sebagian. Kemudian segera membenarkannya.


Sementara, Fiona malah menggeliat dengan suara manjanya.


"Sudah bangun?" tanyanya sambil tersenyum.


"Tidak! Tidak mungkin." gumam Luthfan dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Apanya yang tidak mungkin?" kedua alis Fiona tertaut. "kita sudah melakukannya semalam."


"Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak merasakan apa pun. Jadi jangan coba-coba kamu membohongiku." elak Luthfan yang masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.


Dengan santai. Fiona pun duduk dan membenarkan pakaian dan juga rambutnya yang ia sendiri yang mengacaknya.


"Terserah, jika kamu tetap tak percaya. Tapi ... Memang itulah kenyataannya, Luthfan."


Fiona tersenyum dengan puas. Lantas ia pun turun. Dan memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Wajah panikmu, justru semakin aku suka Luthfan." gumam Fiona dengan seulas senyuman terbit di bibirnya. Lalu mulai mandi. Yang padahal sama sekali Fiona tak melakukan semua itu. Ia hanya mengambil sebuah kesempatan dalam kesempitan, tentunya demi uang. Dan kalau bisa, ia juga ingin diperistri Luthfan agar bisa menggunakan hartanya dengan sesuka hati.


"Aarrgghhh. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur sekamar dengan dia." umpat Luthfan yang kebingungan sambil membuang napas kasar.


Seketika Luthfan teringat pada Hasna.


"Hasna. Semoga kamu tidak melihat semua ini." gumamnya dengan mata terpejam.


Setelah usai. Fiona pun keluar dengan handuk yang melekat dikepalanya.


"Sekarang, giliran kamu, mandi lah." titahnya.


"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan semua ini Fiona? Aku yakin, ini hanya jebakan kamu, dan kenapa kamu bisa ada di apartemenku?" tanya Luthfan menatap tajam.


"Ahhh sudahlah... Itu gak penting, ayo cepat sana mandi. Nanti keburu Hasna kesini, gak mau kan?" kekeh Fiona mengalihkan pertanyaan. "lagian ... Kalian itu kan suami istri. Masa tidur terpisah sih?"

__ADS_1


"Kamu mengalihkan pertanyaanku karena kamu pun tak bisa menjawabnya. Dan itu jelas membuatku sangat yakin, kalau semua ini memang jebakan kamu. Dasar perempuan licik. Pantas saja semua orang tak menyukai kamu. Hanya si Yudha yang mungkin sudah buta karena telah menikahi perempuan selicik kamu." umpatnya membuat Fiona meradang. Lalu tangannya terkepal.


"Apa kamu bilang? Jangan sembarangan ya kalau ngomong. Apa kamu lupa? Siapa yang telah menyelamatkan istri kamu?" balas Fiona menatap tajam.


"Bukannya sudah deal karena kamu pun mendapatkan uang yang kamu mau? Jadi gak perlu kamu ungkit." timpal Luthfan.


"Kamu benar! Tapi ... Kalau saja kamu tak menghinaku. Aku pun pasti tidak akan mengungkitnya."


"Kalau begitu sekarang juga kamu keluar dari sini. KELUAAARRR." teriak Luthfan dan teriakan itu terdengar pada telinga Hasna yang masih didalam kamar.


"Luthfan. Kamu usir Fiona? Lalu ... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Fiona bisa ada di kamar kamu." ucap Hasna dengan airmata yang masih basah. Lantas, ia pun memilih keluar.


"Oke, baiklah. Aku akan pulang. Tapi ingat. Jangan lupakan kejadian semalam, karena aku pun akan meminta pertanggungjawaban kamu." Fiona pun melangkah keluar, namun seketika berhenti. Karena Hasna sudah berada di depan pintu.


Sontak, membuat Luthfan melebarkan matanya menatap Hasna.


"Ha... Hasna." Luthfan mendadak gugup. Namun tatapannya langsung tertuju pada mata Hasna yang sedikit sembab dengan mata memerah.


"Aku ... Sudah tau semuanya." ucap Hasna berusaha tegar dihadapan mereka.


***


Tiba di depan rumah, Abian pun turun dan berlari kemudian masuk. Langkahnya hendak menaiki tangga.


"Maaf Tuan. Nyonya tidak ada di sini. Nyonya sedang dibawa kerumah sakit oleh Heru dan Marni." ujar Marno.


Langkah Abian pun terhenti, tatkala mendengar penuturan Marno. Lalu menoleh.


"Sabar Pak. Mungkin mereka lupa." ucap Ezhar dengan mengusap bahunya.


"Kalian ini." Abian menggelengkan kepala lantaran emosi pada pekerja yang ada di rumahnya.


"Kita kerumah sakit sekarang." titahnya pada Ezhar.


"Katakan, kerumah sakit mana mereka membawa istriku." Abian menatap Marno yang menunduk.


"Mereka bilang, akan membawa Nyonya kerumah sakit terdekat." jawab Marno yang tak berani mengangkat wajah.


"Cepat Ezhar, kita kesana sekarang."


Abian semakin merasa bersalah. Apa lagi setelah tau, sang istri sampai dibawa kerumah sakit. Ia yakin, ini semua karena kesalahannya yang pergi meninggalkannya begitu saja.


"Ezhar. Lebih cepat lagi." titah Abian kembali saat dalam perjalanan. Karena mobilnya itu terasa melambat. Padahal, Ezhar sudah sangat cepat mengendarainya.


"Aku gak akan memaafkan diriku sendiri. Jika terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita." gumamnya, yang akhirnya isakan pun terdengar.


Ezhar menatap atasannya dengan iba, dari kaca spion yang berada diatasnya. Ia tau tak mudah jadi Ajeng. Yang sudah ditinggalkan kedua orangtuanya, lalu rumahtangganya hancur karena orang ketiga. Dan kini setelah menikah lagi, suaminya pun telah melakukan kesalahan padanya. Namun, tak mungkin ia turut campur. Tak mungkin juga ia terus menyalahkan atasannya.


"Ezhar. Cepat."


"Perasaan.Ini sudah cepat Pak."

__ADS_1


"Ajeng sayang. Semoga kalian baik-baik saja."


***


Dirumah sakit. Ajeng yang sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit pun, akhirnya ia sudah mau membuka matanya dengan perlahan.


"Alhamdulillaahh. Nyonya sudah sadar." ucap Marni dengan tersenyum.


"Nyonya. Apa Nyonya Haus? Saya ambilkan minum ya?" tanya Heru yang dibalas gelengan kepala oleh majikannya.


"Kalian yang membawa saya kesini?" tanya Ajeng dengan lemah.


"Ia Nyonya. Maaf, kami harus mendobrak pintu kamar Nyonya, karena Nyonya tak kunjung keluar. Kami khawatir sekali, lalu saat kami berhasil membukanya. Nyonya sudah tergelatak pingsan di atas lantai." papar Marni. "Kami juga sudah menghubungi Tuan. Tapi tidak aktif."


"Iya, makasih atas semuanya." jawab Ajeng tersenyum.


Sementara Heru, masih begitu iba saat menatap wajah majikannya, ia tau, majikannya pasti masih sakit hati Karena perlakuan suaminya. Namun, Ajeng tetap berusaha tersenyum dihadapan mereka. Tak ingin menampilkan kesedihannya.


Dokter pun memasuki ruangan itu.


"Alhamdulillaah... Ibu sudah sadar?" tanya Dokter Ina, sambil memeriksanya kembali. Ia sendiri merupakan dokter kandungan langganannya saat memeriksakan kandungan.


"Alhamdulillaahh Dok." jawab Ajeng.


"Suaminya belum datang ya? Saya harus menyampaikan ini padanya." kata Dokter Ina menatap Ajeng yang terlihat tersenyum, namun menahan tangis.


Dokter Ina sendiri paham, apa yang dirasakan Ajeng, apa lagi saat diberi tahu oleh Heru, awal mula masalahnya, kenapa Ajeng bisa sampai pingsan.


"Baik. Kalau begitu, saya pamit dulu. Dan, jika suami Ibu sudah datang. Tolong untuk menemui saya di ruangan saya." kata Dokter Ina.


"Iya Dok. Terimakasih." balas Ajeng.


***


"Yudha. Kenapa wajah kamu? Kok babak belur gitu?" tanya sang ibu yang baru melihat wajah Yudha. Yudha sendiri lupa tidak memakai masker. Karena sejak pemukulan itu. Yudha terus memakai masker demi menutupi lukanya agar tidak diketahui ibunya. Dengan berdalih kalau ia sedang flu. Takut menular.


"Ini ... Hanya jatuh kok Bu." jawab Yudha beralasan lain.


"Jatuh? Kenapa bisa separah itu? Ibu yakin. Kalau itu bekas pukulan. Iya kan?" tanya Retno hendak menyentuh luka itu, namun di tepis.


"Gak papa kok Bu. Cuma luka segini doang."


"Yudha. Ibu paling gak suka berbohong." tekan Retno menatap tajam.


Yudha membuang napas kasar. "Baiklah. Aku akan jujur. Ibu benar! Ini bekas pukulan. Abian telah memukulku berkali-kali, karena-"


"Sudah Ibu duga." potong Retno. "tak mungkin Abian memukulmu tanpa alasan. Yudha. Ibu gak tau harus mendidik kamu dengan cara apa lagi. Ibu sudah lelah. Ibu capek." ucap Retno bangkit.


"Ibu. Jangan pergi." Lirih Yudha bangkit dan memegang tangan sang Ibu.


"Lepasin Yudha. Ibu capek. Rasanya nasihat ibu sia-sia saja, tak kamu dengarkan."

__ADS_1


Retno pun melangkah masuk kedalam kamar, meninggalkan putranya yang masih berdiri mematung.


__ADS_2