
Suara tepuk tangan dari belakang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Hasna Diannova. Apakah begini kelakuan orang yang berpendidikan!" sindir Alvino. "Lalu. Dimana gelar itu sekarang. Setelah kebohongan demi kebohongan kamu perlihatkan. Dan ... Setelah ini, apa kamu akan tetap melanjutkan sandiwaramu. Hemm?" kekehnya berdiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Apa maksud kamu? Jangan ikut campur." tekan Hasna manatap tajam.
"Ayolah... Jujur saja. Jangan berkelit!" kata Alvino mendekat. "aku sebenarnya dari tadi ingin menertawakan kamu, kok sampai segitunya kamu ini demi ambisimu agar bisa dapatkan suami orang." Alvino menatap remeh dengan menarik satu sudut bibirnya kesamping.
"Tutup mulut kamu! Aku bilang jangan ikut campur." Hasna semakin meradang.
Alvino menatap Hasna dari atas lalu ke bawah sambil mengusap hidungnya yang tak gatal.
"Bisa kalian perhatikan? Bentuk tubuh perempuan yang pintar berakting ini?" kata Alvino serius. "lihatlah! Dan cermati pada bagian perut, Ada sedikit perubahan bukan? Dan lihat tubuhnya pun juga sedikit berisi." ucap Alvino tak mau kalah.
"Iya, karena dia tengah hamil." teriak seorang ibu dari arah belakang.
"Ya, benar! Dia tengah hamil. Tapi ... Apa kalian percaya kalau anak itu anaknya Abian? Lelaki yang sekarang berdiri ditempat pelaminan? Coba kalian pikir sekali lagi." Alvino menghela napas. "saat kejadian berlangsung, di CCTV terlihat tanggal dan waktu kejadian. Jika benar anak itu anak Abian! Mana mungkin dia hamil secepat itu." ucap Alvino membuat semua orang saling menoleh lalu mengangguk.
"Diam kamu Alvino. Siapa yang mengundang kamu kesini. Hah?" teriak Hasna dengan amarah yang gak bisa ia tahan lagi.
"Aku yang mengundangnya. Apa aku salah?" ujar Ajeng. Dan Hasna menoleh.
"Kamu." tunjuk Hasna pada Ajeng dengan menatap tajam.
"Cukup Hasna!." bentak Alvino. "percuma saja kamu terus mengelak. Karena bukti-bukti pun sudah sangat kuat. Bahwa kamu memang bersalah karena telah memfitnah Abian. Agar anak itu di akui olehnya. Padahal Abian sendiri hanyalah korban kejahatan kamu. Sementara saat kejadian itu, kamu pun tengah hamil." tekan Alvino sedikit mengeraskan suaranya.
"Kamu ingat? Bagaimana pertemuan kita yang tak sengaja hari itu? Kamu sendiri sudah merasakan mual. Dan aku sudah bisa menebaknya kalau kamu tengah hamil. Tapi ... Lagi dan lagi, kamu gak mau mengakuinya." Alvino terus mencecar Hasna menuturkan apa yang dia tau dan dia ingat. Membuat Hasna menatap tak percaya, karena lelaki yang juga pernah meruda paksa dirinya, tengah mempermalukannya dihadapan banyak orang.
"Sekarang yang jadi pertanyaanku! Siapa sebenarnya lelaki yang telah menghamili kamu? Apa dia itu adalah ... " Alvino menoleh pada Luthfan yang tengah menatapnya. Lantas Alvino pun mendekat ke arah Luthfan. "Tindakanmu sudah benar! Aku salut sama kamu sudah berani bertanggungjawab." ucap Alvino menepuk pundaknya pelan.
"Terimakasih." jawab Luthfan tersenyum. Dan Hasna semakin tak bisa berkutik. Ia terus dipeluk sang ibu yang menangis sedari tadi. Sementara Ferdy hanya bisa diam. Ia sendiri begitu shock melihat bukti-bukti dan mendengar pengakuan demi pengakuan. Dirinya merasa tengah gagal mendidik sang anak.
"Sekarang sudah jelas, kan? Siapa disini yang pintar memutar balikan fakta? Aku sudah sangat baik bukan? Tidak menuntut kamu ke jalur hukum" ujar Abian menatap Hasna yang didekap Widya. Membuat semua para tamu mengangguk dan merasa bersalah karena sempat percaya pada Hasna.
"Nah... Sekarang. Kalian pun sudah SAH menjadi pasangan suami istri. Aku ucapkan selamat untuk kalian bardua." tambah Abian. Dan Ajeng mendongakkan kepala menatap sang suami yang menoleh padanya.
"Kenapa?" bisik suaminya.
__ADS_1
"Aku lemas." bisik Ajeng.
"Kamu duduk ya kalau begitu." kata Abian.
Ajeng mengangguk dan dipapah sang suami untuk duduk di sofa yang ada dibelakangnya.
"Satu lagi! Aku juga mau mengumumkan pada kalian semua." kata Abian menghela napas. "Alhamdulillaahh... Mungkin ini yang dinamakan setiap ujian pasti ada hikmahnya. Karena dibalik ujian yang kami hadapi saat ini. Allah tengah menganugerahkan sosok malaikat kecil dirahim istriku. Ya, istriku sedang hamil." papar Abian menggunakan mikrofon dengan binar bahagia.
"Apa itu benar Nak?" tanya Retno berdiri dan menyeka sudut matanya.
"InsyaAllah benar bu. Kita belum cek ke dokter sih! Tapi aku yakin dengan hasil tespek tadi malam dan hasilnya jelas garis dua." jawab Abian tersenyum.
"Alhamdulillaahh..." ucap para tamu.
Sementara itu, penghulu pun meminta ijin untuk pamit undur diri karena tugas pun sudah selesai. Dan Retno melangkah mendekati Ajeng dengan sedikit tergesa. "Sayang! Alhamdulillaahh... Selamat Nak." ucap Retno memeluk Ajeng.
"Terimakasih bu." jawab Ajeng membalas pelukan Retno.
"Huhhh dasar perempuan berjiwa pelakor. Apa saja dilakuin demi ambisinya." celetuk seseibu yang ada di pojokan.
"Tau nih. Gak tau malu banget. Tapi emang pelakor itu gak punya malu dan muka sih ya." kata si ibu yang berada tak jauh dari ibu tadi.
Cercaan demi cercaan mereka lontarkan. Membuat Hasna menutup telinganya.
"Cukuuuuppp." Hasna berteriak seperti kesetanan.
"Tenang Nak, kendalikan dirimu." kata Widya di tengah isakannya.
"Tidak Ma, mereka sudah sangat jahat sama aku. Mereka semua jahat." teriak Hasna lalu menoleh pada Ajeng.
"Kamu!" tunjuknya pada Ajeng. "Ini semua gara-gara kamu. Kamu telah mengambil semua yang aku inginkan. Kamu jahat Ajeng. Kamu jahat." Hasna terus berteriak dengan deraian airmata.
Luthfan mencoba mendekatinya, namun dicegah oleh Ferdy. "Biarkan dia bersama ibunya dulu."
"Maaf Pa. Semua gara-gara aku." ucap Luthfan menunduk. "aku hanya ingin bertanggungjawab pada Hasna. Karena Hasna selalu menolak jika aku mengajaknya menikah. Sementara Hasna tengah mengandung anakku" kata Luthfan yang sudah mulai memanggilnya 'papa' karena sudah menjadi menantunya.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Mungkin saya juga yang salah dan gagal mendidiknya." balas Ferdy yang belum mau memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'papa' didepan sang menantu. Karena sedikit memendam kekecewaan pada Luthfan atas idenya itu. Karena akhirnya sang anak harus merasakan malu.
__ADS_1
"Papa marah, sama aku?" tanya Luthfan mendongakkan kepalanya.
"Saya hanya sedikit kecewa. Itu saja." balas Ferdy. Membuat Luthfan memejamkan matanya
"Baiklah para hadirin sekalian! Semua sudah clear kan? Dan Kami mau mengucapkan terimakasih banyak atas kehadiran bapak dan ibu sekalian. Dan kami juga mau minta maaf, karena bapak dan ibu harus menyaksikan pertunjukan tadi yang mungkin membuat ibu dan bapak tidak nyaman. Sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya." kata Ezhar dengan mengambil napas. "dan sekarang nikmatilah hidangan yang sudah kami sediakan. Semoga suka." tambahnya.
Situasi dan kondisi kembali kondusif dan para tamu pun menikmati makanan dan minuman dengan tenang dan nyaman.
Namun tidak bagi Hasna. Ia masih tak terima karena sudah dipermalukan sedemikian rupa.
"Aku gak terima dipermalukan seperti ini, aku gak terimaaa. Kalian semua jahat." teriak Hasna. dan berlari kearah Ajeng. Lalu naik keatas pelaminan. Dan tak disangka tangannya hendak menarik kerudung yang dipakai Ajeng namun Abian berhasil mencekal tangannya.
"Apa-apaan kamu! Sudah berani memfitnahku, sekarang kamu ingin menyakiti istriku? Apa kamu gak puas. Hah? Keluar kamu dari sini. KELUAAARRR." teriak Abian menggelegar seluruh isi ruangan membuat semua orang terkejut melihat kemarahan lelaki yang dianggap sangat baik itu. Namun sekalinya marah ternyata sangat menakutkan. Abian pun menghempaskan tangan Hasna.
"Nak. Hentikan sayang! Kamu gak boleh seperti ini." kata Widya yang juga ikutan naik lalu merangkul sang anak.
"Mama gak ngerti perasaan aku. Mama gak pernah ngerti dari dulu. Kalian semua jahat." Hasna pun turun dan mengangkat gaun pengantin yang ia pakai. Lalu berlari menuju pintu keluar lalu menabrak tubuh Fiona membuat Fiona sedikit limbung. Luthfan pun langsung mengejar Hasna begitu juga kedua orangtuanya ikut memgejarnya.
Sementara itu. Mata Yudha mengikuti kemana larinya mereka. Ia pun sedikit terkejut karena ada Fiona disana. Sementara Fiona sendiri belum menyadari kalau disana juga ada Yudha, karena ia hanya fokus menyaksikan tontonan yang menurutnya sangat seru.
"Mas, apa kita sudah keterlaluan sama Hasna?" tanya Ajeng menoleh.
"Sayang, tindakan kita sudah benar. Karena berkat kita juga akhirnya Luthfan bisa menikahi Hasna."
"Iya sih." kata Ajeng.
Sementara itu. Hasna terus berlari menelusuri jalanan komplek yang entah akan kemana. Ia tarus berlari hingga tak terasa sudah sedikit jauh dari tempat tadi.
Seperti tak kenal lelah. Luthfan terus mengejarnya sambil berteriak memanggil istrinya. Sementara kedua orangtuanya masih tertinggal jauh.
Hasna tak peduli akan teriakan Luthfan. Ia terus berlari meski sedikit susah karena sambil memegang gaun pengantinnya. Ia hanya ingin menghindar dari semua orang, dan tak akan ada satu orang pun yang boleh mengetahui keberadaannya.
Hasna tak menyadari kalau ia sekarang ada dijalan raya. Lantaran tatapannya terus fokus ke depan dengan deraian airmata dan sesak yang tiada terkira. Bayangannya selalu tertuju bagaimana ia dipermalukan oleh banyak orang.
Semua orang menatapnya dengan keheranan lantaran Hasna berlari di jalanan dengan memakai pakaian pengantin. Hingga tanpa disadari Hasna sudah berada ditengah jalan, namun Luthfan melihat dari kejauhan ada mobil berwarna hitam yang berlawanan arah sedang melaju kearah istrinya dengan kecepatan tinggi. Hingga sebuah teriakan dari bibir Luthfan pun terdengar.
"HASNAAAA."
__ADS_1
Ya istrinya kini tengah mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil hitam itu membuat Hasna terpental cukup jauh. Dan jalanan pun mendadak macet akibat kecelakaan tersebut.
Hasna langsung tak sadarkan diri, seketika darah pun mengalir dari balik gaun pengantinnya.