Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Tak Mau Egois


__ADS_3

Tepat hari ini. Fiona dibolehkan untuk pulang. Ia sendiri akan dijemput temannya bernama Clara dan Siska. Dan kini mereka bertiga pun sudah berada di dalam mobil. Fiona dan Clara duduk di depan. Sedangkan Siska di belakang.


"Ya ampun Fi. Kamu kenapa lagi sih? Kemarin kita jenguk di kantor polisi. Sekarang di rumah sakit." ujar Clara sambil menyetir.


"Aku lakuin ini karena butuh duit." ucap Fiona.


"Maksud kamu? Emang apa yang kamu lakukan?" tanya Clara sesekali menoleh.


"Aku habis mendonorkan darah."


"Hah? Serius? Sama siapa?" ucap Clara dan Siska, kompak.


"Namanya Hasna. Sebenarnya sih sempat benci juga sama tu cewek, tapi yaaa mau gimana lagi." balas Fiona.


"Hasna? Bukannya dia yang tadinya mau nikah sama laki-laki yang bernama Abian? Tapi nikahnya sama laki-laki lain? Aku tau ini dari media sosial. Ada satu tamu disana memvideo bagaimana kejadian dipesta itu. Gak lama sih. Cuma sepuluh menit mungkin." ujar Clara.


"Iya, dia nikahnya sama laki-laki bernama Luthfan. Tapi bagiku itu gak penting. Yang terpenting sekarang aku udah dapat yang aku mau. Nih lihat! Udah dapet transferan kan dari orangtuanya." kata Fiona sambil memperlihatkan bukti diponselnya. Tertera nominal satu milyar rupiah.


Clara dan Siska terbelalak melihat nominal tersebut.


"Sumpah banyak banget. Jadi kaya mendadak dong sekarang." kata Clara.


"Nanti deh aku traktir kalian berdua, tinggal bilang aja mau apa." ucap Fiona yang kembali menyimpan ponselnya kedalam tas.


"Oke deh! Terus rencananya, Mau di apakan tu duit?" tanya Clara. Sementara Siska hanya menyimak.


"Mungkin aku belikan rumah dulu deh, kecil juga gak papa. Asal bisa berteduh. Kan gak punya tempat tinggal sekarang."


"Masa sih? Bukannya kamu tinggal sama suami kamu? Siapa tuh namanya? lupa." kata Clara.


"Mas Yudha sudah gak mau lagi sama aku. Dia tuh udah talak aku. Talak tiga langsung malahan." balas Fiona.


"Hidup kamu perasaan mendrama terus sih? Lagian kamu mau aja jadi istri kedua. Gini kan akhirnya Kamu di cerai juga." timpal Clara.


"Naahh bener tuh apa kata Clara." ujar Siska yang akhirnya mau bersuara.


"Sudah lah. Aku gak mau mikirin hal itu lagi. Aku mau fokus dengan tujuanku." kata Fiona yang tak mau ambil pusing.


"Memang apa tujuannya?" tanya Siska.


"Aku mau deketin bapaknya si Hasna. Buat dapetin Hartanya. Baru deh Aku tinggalin dia." ucap Fiona serius.


"Sebentar. Sebentar!" ucap Clara yang memilih menepikan mobil kemudian berhenti.


"Maksud kamu? Kamu mau jadi istri kedua ibunya si Hasna gitu?" tanya Clara sedikit terkejut.


"Jadi istri simpanan boleh laaah." kekeh Fiona.

__ADS_1


"Fionaaaa. Kirain setelah ini kamu bakalan insyaf. Ternyata sama saja." sungut Clara.


"Hidup itu hanya sekali. Jadi harus dinikmati." kembali Fiona terkekeh.


"Terserah kamu dah. Kamu itu dari dulu susah kalau dibilangin." Clara seakan menyerah dengan tingkah laku Fiona.


"Tapi menurutku ... Apa mendingan sama si Luthfan aja. Dia kan lebih muda, lumayan cakep juga kok! Udah gitu ... Designer ternama pula. Aku lumayan kenal juga sama dia. Daripada sama siapa tadi? Bapaknya si Hasna? Dia pasti udah tua kan?" kata Siska mengemukakan pendapatnya.


"Siska. Kok kamu jadi ngomporin gitu sih?" omel Clara.


"Ya maaf. Aku cuma ngasih tau aja apa yang ada dipikiranku sekarang." jawab Siska dengan mengangkat kadua bahunya tanpa merasa bersalah.


Hal itu, tentu membuat tujuan Fiona sedikit goyah.


"Udah Fi. Jangan dengerin apa kata dia." ucap Clara. Namun Fiona hanya diam saja. Tak mengindahkan ucapan tersebut.


Clara kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka sekarang menuju restoran untuk makan.


***


Qeera sudah pulang dari sekolahnya bersama Sus Rini. Mereka berdua diantar oleh Yudha. Ya, karena Qeera menginap dirumah ayahnya. Qeera pun berangkat ke sekolah dari rumah Yudha. Sementara Sus Rini langsung ke tempat sekolahan dan bertemu dengan Qeera disana.


"Makasih ayah." ucap Qeera ketika mereka bertiga sudah turun.


Pintu gerbang pun dibuka oleh Heru.


"Bunda ada?" tanya Qeera pada Heru.


"Ada Non didalam." jawab Heru sopan.


"Ayah, Qeera masuk ya." ijinnya pada sang ayah. Lantas ia pun lari, kemudian masuk kedalam rumah.


Sementara Yudha hendak melangkah untuk masuk. Namun dicegah oleh Heru.


"Maaf Pak. Kata Tuan. Selagi Tuan gak ada dirumah. Anda tidak diperbolehkan untuk masuk." ucap Heru mengangguk sopan.


Yudha pun mengambil napas kasar.


"Baiklah. Terimakasih." ucapnya pada Heru.


Dengan langkah pelan. Yudha sendiri naik kedalam mobil. Setelah itu kembali dengan pekerjaannya yaitu mencari customer.


"Bunda." pekik sang anak memeluk Ajeng.


"Sayang. Gimana semalam nginap sama Nenek? Nenek sehat kan?" tanya Ajeng membawa Qeera untuk duduk disofa.


"Sehat kok Bun. Nenek juga bacain dongeng sebelum aku tidur. Terus ayah ... Kok banyak melamun sih, padahal ada aku disana." coleteh anak itu.

__ADS_1


"Oh ya? Ayah lagi ada banyak kerjaan mungkin." kata Ajeng tak peduli dan tak mau ikut campur.


"Tapi semalam. Ayah sempat telepon nomor Bunda, mau minta ijin, boleh gak aku nginap sama ayah. Tapi setelah telepon itu mati. Ayah jadi melamun terus." ucap Qeera dengan polosnya.


Ajeng seketika teringat pada perubahan suaminya saat dirinya bangun dimalam hari. Suaminya berpesan untuk jangan terlalu manis didepan laki-laki manapun. Apalagi Yudha. Padahal Ajeng sendiri merasa dirinya bersikap biasa saja dihadapan semua orang. Apalagi laki-laki. Tapi mungkin karena Abian tengah dilanda api camburu, membuat ia berpesan seperti itu.


Ajeng mengambil napasnya perlahan. Ia pun berencana akan ke kantor sang suami nanti siang, seperti biasa membawakan makan siang untuk suaminya.


***


"Kamu kenapa baru datang?" tanya Widya menatap kedatangan Luthfan.


Widya sendiri meminta bertemu diteras paling ujung, yang kebetulan suasananya sepi. Tidak begitu banyak pengunjung. Sementara Ferdy sendiri diminta untuk menemani Hasna. Dengan alasan Widya akan mengurus administrasi selama Hasna dirumah sakit.


"Maaf Ma. Semalam kepalaku tiba-tiba sakit." jawab Luthfan. Yang mencoba terbiasa memanggilnya dengan sebutan Mama. Karena Widya sudah menjadi ibu mertuanya.


"Ada apa Mama memanggilku? Tapi ... Gak dipanggilpun, aku akan tetap datang kesini."


"Itulah alasan Mama ingin kalian tetap bertahan." kata Widya spontan.


"Maksud Mama?"


"Mama ingin, kalian berdua tetap bertahan dengan status kalian sebagai pasangan suami istri. Karena Mama yakin! Kamu itu orangnya baik dan sangat bertangung jawab." kata Widya menatap Luthfan.


"Kenapa Mama bisa punya pikiran seperti itu? Bagaimana kalau aku tidak benar-benar baik. Sedangkan aku sendiri sudah begitu banyak melakukan kesalahan dan menyakiti hati seorang perempuan." ujar Luthfan menatap Widya juga.


"Asalkan mau berubah. Mama tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena Mama yakin! Itu hanya bagian dari masa lalu kamu." kata Widya dengan yakin.


"Apa Mama serius?"


"Ya. Mama serius. Tapi ... Kembali ke diri kamu sendiri. Mama tidak akan memaksa kamu. Karena ... Mama juga tau diri, punya anak seorang perempuan. Tapi ... Dia sekarang tidak bisa berjalan seperti dulu. Dan itu ... Tentu membuat kamu akan kerepotan jika beristrikan seperti Hasna. Belum lagi mengurusnya. Apalagi soal ... Kebutuhan biologismu. Karena itu merupakan salah satu bagian terpenting jika sudah berumahtangga. Mama juga tak mau egois. Karena kamu laki-laki normal." papar Widya tegas, yang kemudian menundukkan kepalanya. Namun tak terasa airmatanya terjatuh juga. Membuat Widya menyeka sudut matanya.


"Ya, aku paham apa maksud Mama. Tapi ... Aku pun sudah berkali-kali bilang sama Papa. Bahwa aku tidak akan menceraikan Hasna. Jika bukan Hasna sendiri yang meminta." kata Luthfan tegas.


"Bagaimana kalau Hasna sungguhan minta pisah? Apa kamu tetap dengan keputusan kamu?" tanya Widya mengangkat wajah.


"Apa Mama memanggilku karena hal itu? Karena Hasna sudah mengatakan pada Mama. Kalau Hasna sendiri meminta aku untuk menceraikannya?"


Widya sendiri tercekat mendengar pertanyaan Menantunya. Lagi dan lagi Luthfan bisa membaca pikirannya. Yang akhirnya Widya pun mengangguk dengan lemah.


Luthfan memejamkan mata. Sambil mengambil napas panjang.


"Tolong, biarkan aku menemui Hasna sekali saja. Aku akan bicarakan ini hanya berdua saja dengannya." pinta Luthfan.


"Mama tidak pernah melarang kamu untuk menemuinya. Tapi suamiku. Kamu juga tau itu." ucap Widya menatap Luthfan yang malah membuang pandangan. "tapi ... Mama akan usahakan. Agar kalian bisa bicara berdua."


Luthfan pun menoleh. "Makasih Ma. Bila perlu hari ini juga."

__ADS_1


"Baiklah." kata Widya.


__ADS_2