Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
112. Alur Kehidupan yang Berbeda


__ADS_3

Tanpa terasa, dua bulan sudah. Hasna menjalani kehidupannya yang hanya duduk di kursi roda. Jika ingin berbaring atau pun yang lainnya. Tentu dirinya akan meminta bantuan Luthfan. Karena lelaki itu menolak jika menyewa jasa orang lain.


Pun saat akan ganti baju, sebisa mungkin Hasna melakukannya sendiri, karena soal urusan satu itu, ia tak mau Luthfan yang melakukannya. Meskipun Luhtfan suaminya, tapi Hasna masih canggung dan tak mau tubuhnya dilihat dengan jelas. Maka supaya mudah. Dirinya hanya memakai pakaian terusan yang longgar. Seperti daster dan dres yang lumayan panjang dan menutupi lutut. Tidak lagi dengan celana ataupun yang lainnya yang biasa ia pakai.


Juga, setelah melakukan fisioterapi pada kakinya, entah yang ke berapa kali, kakinya sudah mulai ada sedikit perubahan. Hasna sudah mulai bisa menggerakkan jari-jari kakinya. Dan menaikkannya meski tak seberapa. Namun, hal tersebut sudah membuat Hasna bahagia.


Pun Luthfan sendiri, tak ada paksaan dalam hatinya saat merawat Hasna. Dirinya berharap, Hasna akan segera sembuh dan bisa kembali melakukan aktifitas dengan normal.


Namun, tanpa terasa, lambat laun. Perempuan itu merasakan sedikit getaran, saat tangan lelaki itu dengan telaten dan hati-hati saat dimintai bantuan.


Seperti sekarang ini. Hasna menunduk menatap wajah itu, serta tangannya yang sedang menggunting kuku-kuku dikakinya. Setelah usai. Kini berpindah ke tangan. Namun, tak sengaja alat itu malah mengenai jari tangannya membuat Hasna mengaduh sakit.


"Awww." pekiknya dengan menarik tangannya. Membuat Luthfan panik.


"Maaf, aku gak sengaja. Mana luka itu? Biar aku obati." katanya sambil meraih jari itu. Dengan spontan jari itu ia masukkan kedalam mulut dan menghisapnya pelan, setelah itu Luthfan lari ke kamar mandi untuk membuang yang ada didalam mulutnya.


Perlakuan tersebut, tentu membuat Hasna ada sedikit getaran. Perlakuan suaminya yang lembut dan hati-hati dari saat awal merawatnya hingga sekarang, membuat Hasna sudah mulai ada sedikit rasa pada lelaki itu.


Tapi Luthfan. Dirinya masih biasa saja, tak merasakan getaran apapun. Juga dirinya melakukan semua itu, hanya karena rasa tanggungjawab. Gak lebih! Namun, Hasna sudah lain lagi.


Tak lupa. Ferdy dan Widya sesekali mengunjungi anak dan menantunya. Karena mereka berdua pun sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Saat tau sudah mulai ada perubahan pada Hasna. Ferdy dan Widya langsung mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa. Pun Ferdy sudah mulai menerima Luthfan sebagai menantunya. Setelah kegigihan dan kesabaran Luthfan selama merawat Hasna.


***


Selama itu pula, Renata tetap menemui Abian di kantor, meski tak setiap hari. Kadang tiga kali, dua kali, bahkan satu kali dalam seminggu. Ia masih menjaga perasaan Abian. Maka dari itu, Renata pun pernah tak mengunjunginya selama satu minggu penuh.


Renata tak peduli dengan sambutan sang anak yang belum mau memaafkannya. Pun, Ajeng tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia juga tidak mau memaksa suaminya agar mau memaafkan Renata.


Ajeng percaya, lambat laun suaminya akan luluh. Dan mau memaafkannya. Meski tak tau kapan. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Tak lupa, Renata juga selalu membawa buah-buahan, susu ibu hamil, roti biskuit juga makanan yang lainnya yang aman untuk ibu hamil. Karena ia sudah tau, menantunya tengah hamil. Sempat tak sengaja mendengar obrolan anak dan menantunya kala ia akan masuk.


Sebenarnya. Renata pernah berkunjung ke rumah yang dulu ia tempati bersama Rasyid. Sengaja, hanya ingin bertemu dengan sang anak lelakinya. Hanya saja Renata tidak tau. Kalau rumah itu sudah kosong lumayan lama. Maka dari itu, Renata hanya bisa menemuinya di kantor.

__ADS_1


Selama dua bulan juga. Abian dan Ajeng pun menjalani kehidupan mereka dengan normal. Pun dengan kehamilan Ajeng yang sudah memasuki trimester kedua, Perutnya pun sudah mulai terlihat buncit. Juga sudah mulai merasakan gerakan sang anak yang ada didalam perut. Dan badannya juga sudah mulai berisi. Karena perubahan pola makan yang Ajeng alami, dan sudah lama tidak merasakan mual ataupun pusing.


"Mas. Aku gendut ya?" tanya Ajeng menatap tubuhnya di cermin.


Abian terkekeh dengan pertanyaan tersebut.


"Kok malah ketawa sih? Jadi beneran, kalau aku itu gendut?" Ajeng memanyunkan bibirnya.


Abian pun mendekat dan merangkulnya. Yang kini mereka berdua sama-sama berada didepan cermin.


"Sayang, apa pentingnya sih bertanya seperti itu? Dengar! Mau kamu gendut ataupun tidak. Itu tidak akan mengurangi rasa cintaku sama kamu sayang. Yang ada malah makin bertambah." kata Abian dengan memegang kedua bahu Ajeng.


"Gombal." balas Ajeng.


"Kok gombal sih?" Abian mengernyit.


"Bilang saja kalau aku gendut. Iya kan?" tanya Ajeng kembali.


"Jujur saja sih Mas."


"Iya iya, kamu gendut." jawab Abian dengan mengambil napas panjang.


"Tuh kan." Ajeng mendekap kedua tangannya dengan wajah jutek.


"Iya tapi kan-"


"Stop, Mas." potong Ajeng.


Abian memejamkan mata, lalu membuang napas kasar.


"Memangnya, waktu hamil Qeera gimana sih sayang? Gak ada perubahan sama sekali kah dengan badan kamu dulu?" tanya Abian.


"Uuppss, aku lupa Mas. Aku pernah hamil sebelum ini. Iya sih, saat itu aku juga gendut." Ajeng terkekeh, sementara Abian menepuk keningnya.

__ADS_1


"Nah kan."


"Udahlah Mas, jangan bahas itu lagi." Mimik wajah Ajeng kembali tak ramah.


Abian memijat-mijat pelipisnya yang sudah mulai dipusingkan lagi oleh istrinya.


***


Sementara Yudha. Ia sampai sekarang masih menjadi driver taksi online. Sempat melamar kerja di salah satu kantor. Namun di tolak. Pindah ke tempat lain pun tetap di tolak. Lalu ke perusahaan lainnya lagi, masih saja ditolak. Yudha pun putus asa, yang akhirnya tetap dengan pekerjaan sebelumnya.


Yudha tak tau saja, berita itu sudah tersebar dimana-mana. Berita dirinya yang sempat menjadi keruptor dan sudah merasakan pahitnya hidup dibalik sel jeruji besi. Membuat perusahaan manapun, enggan menerimanya untuk bekerja di kantor mereka.


Lain lagi dengan kehidupan Fiona, yang memilih jalur pintas hanya untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak dalam sekali jentikan jari. Fiona rela menjadi wanita malam disebuah club malam. Dengan melayani para pria hidung belang. Dirinya mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan sangat cepat.


Membuat perekonomiannya berubah drastis. Ia yang dulu sangat kesusahan. Kini ia bisa membeli apapun yang ia mau.


Pernah bertemu dengan Siska. Tapi gadis itu sudah tidak mau berteman dengannya lagi. Karena tau dengan jalan yang Fiona pilih, sungguh diluar dugaannya.


Sekarang, Clara dan Siska sudah tidak peduli lagi dengan Fiona.


"Dasar munafik." umpat Fiona kala itu.


***


Disebuah restoran. Abian sedang makan siang disana bersama Ezhar. Hari ini, Ajeng sengaja tidak datang ke kantor untuk membawakan makan siang seperti biasanya. Lantaran Qeera meminta Ibundanya untuk menemaninya bermain.


Abian pergi ke toilet sebentar. Namun, pada saat akan kembali ke tempat tadi. Ia dikejutkan dengan kehadiran sosok yang ia kenali sekaligus benci.


Ya, Renata juga sedang makan siang disana seorang diri. Hingga selang beberapa menit. Datanglah seorang perempuan menghampiri Renata.


"Tante, Tante disini juga?" tanya perempuan itu. Yang kemudian duduk dihadapan Renata.


Abian memilih bersembunyi dibalik tembok, mengintip mereka berdua. Entah kenapa dirinya menjadi sangat penasaran akan dua perempuan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2