
Keesokan paginya, suami istri itu terlihat biasa saja, seolah mengesampingkan perasaan satu sama lain. Dimana Abian dengan rasa bersalahnya dan Ajeng dengan rasa penasarannya. Meski mulut mengatakan akan selalu percaya , tapi hatinya tak bisa dibohongi, lama kelamaan Ajeng pun penasaran akan apa yang tengah menimpa suaminya. Apalagi ada kaitannya dengan Hasna. Karena semalam Ajeng meyakini kalau bau parfum ditubuh suaminya itu adalah parfum yang biasa dipakai oleh Hasna.
Ketika sarapan, seperti biasa Ajeng mengambil makanan untuk suaminya serta segelas air susu hangat.
Abian mendongakkan kepalanya menatap wajah Ajeng saat Ajeng sedang meletakkan makanan dihadapannya. Lalu sang istri melangkah dan duduk di sisi putrinya, sementara Abian sendiri duduk di tengah karena dirinya merupakan kepala keluarga dirumah itu.
Saat sedang sarapan, terdengar bunyi ponsel sesaat, menandakan ada sebuah notifikasi pesan. Abian pun meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja.
"[Kalau kamu tetap ingin merahasiakannya dari Ajeng, datanglah hari ini juga tepat jam delapan pagi. Nanti aku kasih tau lokasinya]" sebuah pesan dari Hasna saat Abian membukanya karena ia sudah tak memblokir nomornya lagi. Takut ancamannya kali ini tidak main-main.
Abian terhenyak saat membaca pesan tersebut membuat Ajeng yang menatapnya sedikit demi sedikit dilanda api cemburu. Karena suaminya kini lebih fokus pada benda pipih ditangannya ketimbang istri dan anaknya. Hal yang tentu banyak sekali perubahan pada diri suaminya.
"[Apa yang akan kamu kasih tau pada istriku jika aku tak menuruti keinginanmu? Dengar perempuan licik. Aku sama sekali tak melakukan itu, apalagi sama perempuan sepertimu. Aku yakin itu bahkan sangat yakin!]" balasan pesan dari Abian. Lalu membuang napas kasar. Ajeng semakin penasaran dan pandangan matanya sama sekali tak berpaling dan terus menatap ekspresi wajah suaminya.
"Mas, aku tau pesan itu pasti dari Hasna. Ada masalah apa diantara kalian berdua Mas? Apa kamu akan tetap merahasiakannya dari aku? Istrimu?"
"[jadi kamu sama sekali tak takut dengan ancamanku? Baiklah, aku akan perlihatkan beberapa foto saat kita berdua]"
Selang dua menit foto itu pun sudah masuk ke ponsel Abian. Ia sangat terkejut saat melihat ada tiga foto dirinya dan Hasna sedang berpelukan didalam mobil dengan Abian yang sudah tak mengenakan baju dan Hasna yang bajunya hampir lepas. Hasna memotretnya dari arah punggung Abian dan juga dari arah depan, dan wajah Abian terhalang oleh kepala Hasna yang terlihat seperti tengah berciuman, pun Hasna melingkarkan tangan Abian ke tubuhnya. Yang sungguh jelas siapapun yang melihatnya pasti akan mengira atas dasar suka sama suka. Padahal Abian masih tak sadarkan diri dan Hasna yang memanfaatkan hal tersebut.
Sontak Abian pun menggenggam erat kuat-kuat ponsel miliknya lalu meletakkannya diatas meja dengan sangat kasar hingga sampai mengeluarkan bunyi antara ponsel dan meja yang saling bersentuhan. Rahangnya tiba-tiba mengeras, napasnya menggebu menahan gejolak amarah yang begitu memuncak. Tatapannya berubah nyalang. Ia tak ingat kalau didepannya ada sang istri yang sedang menatapnya dalam keheranan sekaligus ketakutan dalam satu waktu.
Beruntung Qeera tak melihat hal itu, karena anak itu sudah pamit untuk pergi ke sekolah tanpa ijin papanya karena atas dasar permintaan Ajeng agar tidak mengganggunya yang sedang fokus pada ponsel. Ajeng melarangnya ijin bukan tanpa alasan. Ia ingin mengetes apakah suaminya akan terus mengabaikan mereka atau sebaliknya. Tapi ternyata Abian tak sekalipun melirik pada mereka membuat hati Ajeng merasa sesak dan tak terasa lelehan bening itupun menggenang dimatanya.
Abian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia baru ingat kalau istrinya masih menemaninya disana. Lantas Abian pun menoleh pada sang istri dengan tatapan yang semakin merasa bersalah.
Akan tetapi, ibu satu anak itu malah bangkit lalu berlari menaiki anak tangga satu persatu dan masuk kedalam kamar tanpa menguncinya, sengaja apakah suaminya mengejarnya atau tidak.
Dan benar, Abian kini sudah berada dibelakangnya dan menghambur memeluknya dari belakang.
"Sayang, maafin aku." ucap Abian yang akhirnya terisak didekat istrinya. "Aku tau, kamu pasti tengah mencurigaiku. Tapi ... Kamu memilih diam karena menjaga keutuhan rumahtangga kita agar tak terjadi salahpaham lagi." kata Abian dengan menghela napas. "Aku pun demikian sayang, aku takut jika jujur nanti akan menimbulkan masalah lain, aku takut kamu tidak akan mempercayaiku lagi. Lalu meninggalkan aku." lirihnya sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Bukankah kita sudah berjanji akan selalu saling percaya apapun yang terjadi. Tapi ... Buatku kejujuran juga hal yang sangat penting Mas." balas Ajeng sambil menyeka sudut matanya. "Iya memang semalam aku tak mempermasalahkan soal kenapa kamu gak mau jujur sama aku, makanya aku memilih diam demi kebaikan kita. Tapi ... Hatiku tidak bisa berbohong Mas, lama kelamaan aku sangat penasaran akan masalah yang sedang menimpa kamu. Sehingga membuat kamu berubah, kamu mengabaikan kita, padahal tadi Qeera ingin pamitan sama papanya saat akan pergi ke sekolah, tapi ... Aku melarangnya karena papanya terus saja fokus pada ponsel yang ada dihadapannya." lanjut Ajeng lagi dengan menatap lurus.
"Astaghfirullaahh... Maafkan aku sayang, maafkan papa Nak." isak Abian.
"Aku tak akan memaksa kamu untuk bicara jujur. Tapi ternyata hatiku sakit saat kejujuran itu tak lagi ada diantara kita." kata Ajeng melerai pelukan suaminya dan hendak melangkah, namun tangannya ditahan lalu ditarik dan kini Ajeng tengah dalam pelukan suaminya lagi.
Ajeng memejamkan mata saat mencium aroma yang ada di baju suaminya, aroma yang sudah tak lagi aroma perempuan lain. Kembali berganti aroma yang biasa suaminya pakai.
"Aku akan bicara jujur sama kamu. Tapi kamu harus janji gak akan meninggalkan aku setelah tau semuanya." lirih Abian.
Ajeng mendongakkan kepalanya. "Atas dasar apa aku harus meninggalkan suamiku, sedangkan suamiku sendiri pasti tidak menginginkan masalah yang ia hadapi, bukan karena selingkuh dibelakangku." ucap Ajeng menatap manik mata suaminya.
"Kamu sudah tau semuanya?" tanya Abian.
"Aku hanya menebaknya, filling seorang istri itu sangat kuat Mas, dan aku juga tau siapa orang yang telah menjebakmu, dia adalah seorang perempuan yang sangat aku kenal bahkan dulu sempat dekat." tambahnya lagi.
"Ya kamu benar! Dia adalah Hasna, dia yang telah menjebakku." balas Abian membuang napas kasar.
"Sudah ku duga. Semalam aku mencium aroma parfum dia ditubuh kamu. Saat itu juga aku sangat cemburu Mas, hatiku sesak. Tapi ... Aku mencoba untuk tetap waras, bahwa suamiku gak mungkin ada main dibelakang aku." kata Ajeng tegas.
Pada akhirnya Ajeng pun menangis tersedu, tubuhnya berguncang, sesak memang, meski tau itu hanya ulah Hasna. Bukan atas dasar suka sama suka.
"Sayang. Sekali lagi maafkan aku. Aku berani bersumpah dihadapan kamu, aku sama sekali tidak melakukan hal yang diluar batas dengan dia. Tolong kamu percaya sama aku." isak Abian.
Ajeng memejamkan mata dan membukanya perlahan. Lalu ia melangkah dengan gontai sambil memegang dadanya dan duduk ditepi kasur.
Sebuah pemandangan yang dramatis, dimana lelaki itu juga ikutan menangis dengan terus memeluk sang istri dengan erat. Kedua suami istri itu pun saling berpelukan dalam tangis.
Tak ada rona kemarahan dalam diri Ajeng pada sang suami. Ia selalu menerapkan kalau dirinya akan selalu mempercayai suaminya.
"Kita harus mencari bukti Mas, jangan diam saja! Karena aku yakin, Hasna pasti akan meneror kamu dengan foto-foto itu agar kamu mau menikahi dia." desis Ajeng ditengah isakannya.
__ADS_1
"Kamu gak marah sama aku?" tanya Abian yang melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi Ajeng.
"Aku gak mungkin marah sama kamu Mas, karena aku percaya sama kamu." balas Ajeng tersenyum.
"Terimakasih sayang. Kamu benar! Dan kita harus hadapi sama-sama. Tapi ... Kemana kita harus cari bukti itu kalau aku memang dijebak." Abian benar-benar bingung.
"Kita harus datang ke lokasi kejadian. Mengecek CCTV. Itu yang akan menjadi bukti untuk kita." kata Ajeng.
"Kamu sangat pintar sayang, istriku sangat hebat! Aku sama sekali tidak kepikiran ke arah sana." puji Abian yang akhirnya kembali tersenyum.
"Karena sampai kapanpun, aku gak mau berbagi suamiku lagi pada perempuan manapun." kata Ajeng menundukkan kepalanya.
"Dan itu tidak akan pernah terjadi sayang, kalau kamu masih di sisiku, masih menjadi istriku."
Keduanya kembali saling memeluk dengan erat.
***
Di suatu tempat. Hasna sedang menunggu kedatangan Abian. Yang sudah hampir setengah jam belum datang juga, membuatnya kesal sendiri.
"Sepuluh menit lagi kamu gak datang juga. Aku akan langsung mengirim foto-foto tadi pada istri kamu." ucap Hasna mendengus kesal.
Sementara itu dari kejauhan, Luthfan pun sedang menatap ke arah Hasna sambil bersembunyi dibalik pohon besar. Ia semalam masuk ke kamar Hasna saat Hasna sudah tertidur lelap. Ia ingin tau apa yang sedang Hasna rencanakan. Hingga matanya menangkap ponsel yang ada didekat kepalanya.
Dengan perlahan Luthfan mengambilnya. Ia pun langsung membuka ponsel itu namun sayang terkunci. Dengan susah payah Luthfan memasukkan password, dimulai dengan pola dan angka tanggal lahir yang ia tau dari buku hamil milik Hasna, serta nomor handphone milik Hasna sendiri ia masukkan meski hanya enam angka.
Namun semuanya gagal, sempat membuat Luthfan putus asa. Hingga ia pun menoleh pada buku kecil diatas meja. Ia ambil lalu baca apa yang ada dibuku tersebut.
Ia baca tulisan saat pertemuan pertama kali Hasna dengan Abian termasuk tanggalnya pun disematkan. Dengan segera Luthfan mencoba memasukkan nomor tanggal pertemuan mereka dan akhirnya ponsel itu berhasil dibuka. Jari Luthfan langsung tertuju pada aplikasi berwarna hijau. tak ada chat semalam dengan Abian. Masih kosong. Lantas ia pun menyadap ponsel milik Hasna.
Dan saat sedang berolah raga, Luthfan meraih ponsel miliknya. Ingin tau apakah sudah ada chat diantara mereka berdua.
__ADS_1
Dan ternyata sudah ada, sampai akhirnya Luthfan tercengang sekaligus terkejut saat melihat foto-foto itu yang dikirimkan oleh Hasna pada Abian, sampai Luthfan pun menggelengkan kepalanya. Tapi ... Ia pun harus berpikir logis, bahwa tak mungkin Abian berselingkuh dari Ajeng. Karena ia tau sendiri lelaki itu sangat mencintai istrinya, pun Hasna dengan segala kelicikannya.
Maka dari itu. Luthfan bisa tau kemana Hasna mengajak Abian ketemuan.