Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Fakta yang Baru Diketahui Yudha


__ADS_3

Hasna menatap nanar pada seseorang yang barusan menamparnya.


"Sekali lagi tangan kotormu menyentuh istriku lagi, aku tidak akan segan kasih kamu pelajaran yang lebih sakit dari ini." teriak Abian dengan tatapan nyalang. Napasnya pun sedikit cepat. Emosinya begitu meledak pada perempuan yang terus menatapnya itu. Kalau saja Hasna bukan seorang perempuan, ia pasti akan menghajarnya tanpa ampun, tak peduli jika orang itu kenal sekalipun.


Lalu Abian menoleh dan mendekat pada Ajeng. "Sayang, kamu gak papa kan? Mana yang sakit?" tanya Abian yang sangat cemas akan keadaan sang istri. Dia usap pipinya dan terdapat luka lebam disana. Segera Abian memeluk Ajeng dengan erat, nampak lelehan bening yang keluar dari matanya. Ada rasa bersalah karena tak bisa menjaga sang istri dengan baik.


Disaat itu juga, Hasna membuang pandangannya tak ingin melihat bagaimana cara Abian memperlakukan Ajeng dengan sangat lembut.


Abian melerai pelukannya, dan menoleh ke belakang. Melihat Hasna yang masih mematung ditempat.


"Untuk apa kamu ada disini? Sekarang juga kamu KELUAAARRR." teriaknya dengan suara menggelegar sambil tangannya menunjuk kearah pintu. Membuat tiga karyawannya terperanjat karena mendengar teriakannya, ketiganya pun sampai meringis ketakutan.


"Ternyata Pak Abian kalau sedang marah serem juga ya." ucap Zia.


"Iya ya, kasihan sama Ibu." kata Yumna.


"Ehh beda lagi pasti kalau sama Ibu mah, jangan di sama-in. Aku yakin! Pak Abian kalaupun marah gak akan setega itu." balas Riana.


Hasna pun keluar dengan sedikit berlari sambil memegang pipinya melewati mereka bertiga yang sedang asik berbincang. Ketiganya menatap kepergian Hasna.


Luthfan pun tiba lalu turun dari mobil. Tatapannya langsung tertuju pada Hasna yang sedang membuka pintu untuk keluar. Luthfan mendekat. Namun ia sedikit kaget karena Hasna terlihat menangis.


"Hasna? Kamu nangis?" tanya Luthfan dan Hasna pun berhenti.


"Ohhh kebetulan kamu ada disini." ucap Abian yang sudah berdiri di ambang pintu. "Cepat bawa dia pergi jauh dari sini, dan jangan pernah membiarkan dia menginjakkan kaki lagi ke tempat ini. Termasuk kamu." titahnya dengan penuh penekanan.


"Abian, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luthfan berusaha tak terpancing karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kembali dengan sosok Luthfan yang baik seperti dulu. Ia benar-benar sudah mengakui kesalahannya.


"Tanyakan saja pada perempuan tak tau diri yang ada dihadapanmu." timpal Abian.


"Hasna, kamu mau kemana?" tanya Luthfan saat melihat Hasna melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Bingung, itu yang Luthfan rasakan, karena satu sisi ia ingin masuk dan minta maaf pada Ajeng, namun di sisi lain, ia tak tega pada Hasna yang pergi sendirian. Apalagi ia juga terus merasa bersalah padanya karena pernah menyentuhnya.


Hatinya meminta kalau ia harus mengikuti Hasna. Pun jika memilih masuk saat itu juga, pasti tak akan di ijinkan oleh Abian, karena lelaki itu masih menaruh kebencian terhadapnya.


Maka, Luthfan pun mengikuti Hasna dari belakang. "Hasna tunggu." panggilnya dan sedikit berlari.


"Aku antar ya? Nanti mobil kamu biar sopir yang jemput." tawar Luthfan menatap Hasna yang menyeka sudut matanya dengan kasar. Tak ada jawaban dari bibirnya, ia hanya menatap kosong.


Tak butuh jawaban, Luthfan pun meraih tangannya dan membawanya masuk kedalam mobil. Setelah itu mereka pergi.


Begitu juga Abian, ia membawa sang istri untuk pulang, padahal niat Ajeng setelah dari sana, ia akan mengunjungi bangunan yang baru saja jadi, tujuannya soal bangunan itu ia ingin membuka butik, namun tak ada yang tau masalah kapan datang, akhirnya ia pun berniat besok saja kesana.


***


"Apa ini?" ucap Yudha ketika menemukan selembar kertas putih yang tengah tergeletak diatas lantai. Ia baca tulisan yang ada dikertas putih itu, hatinya seketika merasa tak baik-baik saja, ia merasa kecewa setelah tau semuanya. Kecewa pada Fiona dan ibunya yang tidak ada satupun yang mau memberitahukannya perihal masalah rahim Fiona.


Retno pun mendekat sambil membawa cemilan kesukaan Yudha. Pisang goreng. Lalu menaruhnya diatas meja.


"Dari mana ibu dapatkan ini?" tanya Yudha menoleh sambil memperlihatkan kertas itu.


"Apa sih?" Retno meraihnya lalu membacanya.


"Kenapa ibu gak cerita sama aku?" tanya Yudha lagi.


Retno meletakkan kertas itu diatas meja, dengan mengambil napas perlahan. "Maafin ibu Nak, ibu tidak pernah cerita sama kamu." jawab Retno. "Kertas itu ibu temukan saat ibu masih tinggal dirumah kamu yang dijual Fiona saat kamu masih dipenjara." tambahnya.


"Lalu. Apa alasan ibu? Tidak mau kasih tau aku?" tanya Yudha penasaran.


"Sekarang ibu mau tanya sama kamu! Setelah kamu tau kekurangan Fiona, lantas apa yang akan kamu perbuat padanya? Bertahan? Atau malah ... Sebaliknya?" tanya Retno menatap wajah putranya.


"Aku memilih pisah, untuk apa aku mempertahankan perempuan yang sama sekali tidak akan bisa memberikan aku keturunan." jawab Yudha lantang dengan membuang napas kasar.

__ADS_1


Ya, kertas itu adalah hasil rekam medis milik Fiona. Yang sengaja Fiona sembunyikan darinya, namun Fiona lupa mengambilnya saat kabur dari rumah lalu ditemukanlah oleh Retno.


"Itulah alasan ibu tidak mau kasih tau kamu. Karena ibu gak mau kamu gagal lagi dalam berumahtangga. Cukup satu kali kamu gagal Nak, ibu gak mau itu terulang kembali."


Mendengar penuturan ibunya, membuat Yudha mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi, apa ibu mau? Jika aku gak bisa memberikan keturunan dari Fiona?" tanya Yudha.


"Awalnya ibu juga tidak terima, tapi ... Setelah di pikir-pikir, mungkin ini sudah jalan takdirmu memiliki istri yang sulit untuk hamil, maka tugas kamu ialah, kamu tetap harus bertanggungjawab, mendampingi dia dan menerima segala kekurangan yang ada padanya. Dan kalau soal anak ... Kamu juga sudah memberikan cucu untuk ibu dari Ajeng." papar Retno serius. Ia sekarang sudah ikhlas jika harus memiliki menantu seperti Fiona dan berusaha untuk menerima segala kekurangannya, berharap Fiona juga sadar setelah diberi pelajaran atas perbuatannya. Bukan tanpa alasan Retno mau berubah. Tentu Karena tak ingin sang anak di cap kawin cerai oleh orang-orang.


"Tapi bu, aku gak mau punya istri yang mandul." balas Yudha sedikit kesal.


"Nak, jaga ucapan kamu." kata Retno dengan lembut. "Fiona itu bukan mandul, tapi dia itu hanya sulit untuk hamil, ingat Nak! Ketentuan Allah tidak ada yang tau, bisa saja Fiona nanti bisa hamil, bahkan orang yang di vonis mandul pun jika Allah sudah berkehendak, maka dia pun bisa hamil, tak ada yang tidak mungkin didunia ini, semua atas kehendaknya." ujar Retno mengingatkan Yudha untuk tak lagi bicara sembarangan.


"Aku akan ke jakarta sekarang juga." kata Yudha tiba-tiba.


"Tapi, untuk apa Nak? Kenapa tiba-tiba sekali? Kamu tinggalah disini sama ibu." pinta Retno.


"Aku ingin menemui Ajeng."


"Tidak Nak, jangan! Dia itu sudah menikah, sudah memiliki suami, jangan ganggu mereka."


"Ibu tenang saja, aku gak mungkin menyakitinya lagi." balas Yudha lalu mencium tangan Retno, setelah itu ia pun masuk ke kamar untuk pamit pada ayahnya, namun sang ayah sedang tidur, Yudha tak tega jika dibangunkan. Ia pun kembali ke tempat tadi.


"Bu, ayah sedang tidur, aku gak tega bangunkan, aku mau minta tolong sama ibu, katakan sama ayah bahwa aku pergi ke jakarta dan mungkin dalam waktu yang lama." kata Yudha. "Ibu jangan khawatir, aku pun akan mencari pekerjaan disana, semoga dapat. Do'akan selalu aku bu."


Lantas Yudha pun pamit tanpa bisa di cegah lagi oleh ibunya. Cemilan kesukaannya pun ia biarkan saja, karena sudah tak berselera setelah tau semuanya.


***


"Dimana kamu Fiona? Kenapa sulit sekali aku temukan." gumam Alvino yang sedang duduk didalam mobil.

__ADS_1


Karena memang tujuan Alvino datang ke indonesia tentu karena ingin mencari Fiona. Hatinya sudah mulai ada rasa pada perempuan yang mungkin sekarang sudah mendekam dipenjara. Tapi Alvino sendiri tidak tahu menahu soal siapa Fiona.


__ADS_2