
"Tunggu." ucap Alvino membuat Yudha menoleh ke arah kedatangannya.
"Kamu Yudha kan?" tanya Alvino.
Yudha menyipitkan matanya sambil mengingat-ngingat. Karena ia sendiri sudah lupa siapa lelaki yang tengah berdiri dihadapannya.
"Senang kita bisa bertemu lagi disini, terakhir kapan ya? Aku lupa." kekeh Alvino.
Sementara Yudha menautkan kadua alisnya dan tetap diam membisu.
"Bagaimana kabarmu? Aku dengar ... Kalian sudah berpisah! Apa itu benar? Tapi ... yang aku sangat sayangkan ... Soal alasan perpisahan kalian, sungguh kamu tidak pantas untuk menjadi seorang suami." celetuk Alvino, membuat Yudha seketika meradang dan menatap tajam.
"Siapa kamu sebenarnya? Beraninya mencampuri urusanku." balas Yudha kesal.
"Masih gak kenal juga? Siapa aku? Tapi, ya ... Kita memang gak kenal dekat sih, cuma sekedar tau saja." balas Alvino.
"Dengar! Kita kenal ataupun tidak, itu semua gak penting, paham? Dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi. Cam kan itu!" tekan Yudha sambil menunjuk tepat didepan wajah Alvino.
"Turunkan telunjukmu, aku paling gak suka." balas Alvino sambil menurunkan telunjuk Yudha.
"Sebenarnya apa mau kamu?" tanya Yudha yang sudah geram.
Namun bunyi ponsel milik Yudha berbunyi, lekas ia pun mengambilnya di dalam saku celananya, dan disaat bersamaan, sebuah foto pun ikut terjatuh.
Yudha menyingkir untuk menerima telepon itu, sementara Alvino menatap foto itu dan mengambilnya.
"Fiona?" gumamnya pelan.
Setelah usai bicara di telepon, Yudha menoleh ke arah Alvino yang sedang menatap foto itu, ia teringat pada foto Fiona yang ia simpan di dalam saku celananya, lantas mengambilnya dan ternyata sudah tidak ada.
Dengan langkah cepat, ia kembali menghampiri Alvino dan merebut foto itu dengan kasar.
"Siapa perempuan yang ada didalam foto itu? Kalian ada hubungan?" tanya Alvino penasaran.
"Bukan urusanmu." umpat Yudha lalu balik badan dan melangkah hendak meninggalkan Alvino.
"Tunggu!" ucap Alvino dan Yudha menghentikan langkahnya.
"Aku hanya ingin tau, siapa perempuan yang ada didalam foto itu." tambahnya. Membuat Yudha menoleh lagi.
"Baik kalau kamu memaksa. Dia Fiona, istriku." jawab Yudha tegas.
"Apa? Bagaimana bisa?" Alvino terkejut.
"Kenapa memangnya? Kalian kenal?" tanya Yudha yang heran melihat ekspresi Alvino setelah tau siapa Fiona.
"Ya kita saling kenal, bahkan ... Aku pun sudah menyicipi tubuhnya." balas Alvino dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa? Kurang ajar."
Bugghh
Sebuah pukulan tepat mengenai wajah Alvino membuat ia limbung ke belakang.
Yudha mendekat sambil meraih kerah baju Alvino.
"Katakan! Siapa kamu sebenarnya? Dan ada hubungan apa kamu dengan istriku." teriak Yudha sambil mengangkat kerah baju Alvino dan keduanya bertatapan dengan sengit.
"Kita tidak ada hubungan sama sekali. Tapi ... Aku mencintainya." jawab Alvino serius.
__ADS_1
Bugghh
Pukulan kali kedua yang Alvino rasakan, sehingga satu sudut bibirnya kini meneteskan darah.
Yudha mendorong tubuh Alvino membuat lelaki itu terjengkang ke belakang.
"Sekali lagi kamu mengganggu istriku, kamu akan tau sendiri akibatnya." tunjuk Yudha ke arah wajah Alvino. Lalu ia pun hengkang dari hadapan Alvino yang meringis merasakan nyeri sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
Kemudian ada satu polisi yang menghampiri Yudha.
"Dengan pak Yudha kan? Kebetulan kita bertemu disini." ucap polisi tersebut.
"Ada apa ya pak?" tanya Yudha.
"Saya mau kasihkan ini dari bu Fiona, dia meminta anda untuk menyimpannya." jawabnya sambil menyerahkan kartu ATM milik Fiona dan juga secarik kertas.
Diraihnya kertas dan ATM itu sambil mengucapkan banyak terimakasih pada polisi tersebut, lalu mereka berdua barpamitan. Dan itu tak luput dari pandangan Alvino yang masih mendengar percakapan mereka meski tidak begitu jelas.
Yudha kembali menaiki mobilnya, lalu menetralkan napasnya yang tiba-tiba sesak setelah mendengar pengakuan Alvino.
"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan lelaki tadi Fiona, kenapa lelaki tadi bilang kalau dia sudah menyentuhmu." gumamnya sambil membuang napas kasar.
"Aarrgghhh." teriak Yudha dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa disaat aku mau menerima kamu kembali, ada saja masalah yang datang menghampiri." ucapnya lagi dengan perasaan tak menentu, antara masih cinta dan benci terhadap perempuan yang mungkin sekarang sedang meratapi nasibnya dibalik jeruji besi.
Sementara itu, Alvino mengejar polisi tersebut. "Pak polisi, tunggu." panggilnya membuat polisi itu pun menoleh.
"Maaf pak, saya cuma ingin tau dimana Fiona berada, karena saya tadi dengar anda menyebut namanya." ujar Alvino dan polisi tersebut malah menautkan kedua alisnya.
"Saya temannya Fiona, sudah sebulan ini saya mencari keberadaannya, tapi tak juga menemukannya." tambah Alvino.
"Apa?"
"Ya, beliau dilaporkan karena kasus penganiayaan terhadap ibu mertuanya sendiri."
Alvino sangat terkejut dan tak menyangka.
"Kalau begitu makasih ya pak atas informasinya. Maaf sudah ganggu waktu kerja bapak." ucap Alvino menunduk sopan.
"Baiklah, sama-sama. Permisi." kata polisi tersebut dan meninggalkan Alvino.
Ada sejuta harapan untuk hidup berumahtangga bersama dengan Fiona, tapi itu kemarin saat mereka masih bersama, tapi tidak untuk sekarang! Semua perasaannya berubah menjadi ilfil. Ya, Alvino ilfil jika harus berhubungan dengan perempuan yang pernah menyicipi sel dibalik tahanan.
"Ternyata selama ini kamu berada didalam penjara, pantesan aku cari kamu tak menemukan dimanapun. tapi ... Satu hal yang membuatku sangat terkejut, ternyata kamu lah perusak rumahtangga Ajeng dengan suaminya." gumamnya sambil membuang napas kasar.
Dengan harapan yang telah pupus, lelaki itu pun tak akan melanjutkan lagi niatnya untuk bertemu dengan Fiona, apalagi menjadikannya sebagai istri, pantang baginya berhubungan dengan perempuan narapidana.
Ingin kembali menemui Hasna, tapi untuk apa? karena ia tak pernah ada rasa pada perempuan itu sampai sekarang. Kalau ada, mungkin Alvino akan terus mengejarnya sampai dapat.
Dengan langkah pelan, Alvino pun kembali menaiki mobilnya. Tujuannya kali ini ingin kembali ke singapore dan melupakan semuanya.
Tapi sebelum pergi, ia ingin bertemu dengan Ajeng untuk berpamitan.
***
Dikeheningan malam. Untuk pertama kali suami istri itu tidur terpisah. Karena Ajeng tetap dengan niatnya ingin memberikan pelajaran untuk suaminya, agar tak begitu mudahnya tergoda saat didekati seorang perempuan.
Hingga pukul satu malam, lelaki itu masih terjaga diatas sofa yang berada tepat didepan kamarnya. Ia tidak bisa tidur jika berjauhan dengan sang istri.
__ADS_1
Terdengar suara derit pintu kamar dibuka. Lalu keluarlah seorang perempuan di kegelapan malam. Karena lampunya biasa dimatikan saat sudah malam. Hanya menyisakan lampu-lampu tidur yang berada diatas meja.
Perempuan itu keluar dengan memakai pakaian yang selama ini tak pernah Abian melihatnya.
Ya karena Ajeng kini tengah mengenakan pakaian yang sangat seksi. Ia mengenakan lingerie yang sangat pendek berwarna merah menyala. Juga rambut sebatas punggung yang dibiarkan menjuntai kebawah. Menambah kesan siapapun yang memandangnya pasti akan terbius oleh pesonanya. Apalagi kini yang ada dihadapannya telah halal untuknya.
Abian bangkit. Seketika detak jantungnya tidak beraturan, napasnya sangat cepat karena menahan debaran saat melihat sang istri berpakaian seperti itu.
Langkah Ajeng memasuki dapur lalu mengambil minuman yang ada dilemari pendingin.
Abian mengikutinya dari belakang dan memeluknya langsung dari belakang.
"Kenapa berpakaian seperti ini? Disini bukan hanya ada kita berdua, tapi ada Ezhar juga, nanti dia lihat, dan aku gak mau kamu di lihat orang lain seperti ini, cukup aku saja suamimu." bisiknya tepat ditelinga sang istri. Napasnya pun semakin berat sambil mengeratkan pelukannya.
Tak ada jawaban apapun dari istrinya, karena dirinya juga merasakan kenyamanan saat berada didekapan suaminya.
Tanpa menunggu waktu lama, Abian membopong tubuh Ajeng dan membawanya masuk kedalam kamar.
Direbahkannya tubuh sang istri diatas kasur dan Abian pun berada diatasnya.
"Jangan siksa aku lagi, aku gak sanggup." lirihnya dengan tatapan seperti pemburu yang sangat kehausan saat melihat mangsanya. "Maafin aku, aku janji gak akan mengulanginya lagi." bisik Abian.
Kini tangan itu pun bergerak ke setiap inci tubuh yang sudah halal menjadi miliknya.
Cumbuan demi cumbuan membuat Ajeng tak bisa melanjutkan lagi niatannya.
Namun saat akan ke masuk ke inti, Ajeng memintanya untuk berhenti.
"Stop Mas." ucapnya pelan.
"Kenapa?" tanya Abian dengan lirih.
"Aku sedang haid." jawab Ajeng tegas.
"Apa? Ya ampuuuunn kenapa gak bilang dari tadi sih." keluh Abian, ia pun bangkit dengan sedikit kesal.
"Kamunya yang salah, kenapa buru-buru banget gak tanya aku dulu." timpal Ajeng dan duduk.
"Kamu yang salah, kenapa mancing aku dengan berpakaian seperti itu."
"Jadi Mas nyalahin aku? Bukannya Mas suka lihat perempuan berpakaian seperti ini?" tanya Ajeng sambil berdecih mambuat Abian takut melihat raut kekesalan yang istrinya perlihatkan.
Seketika Abian merangkulnya sambil mengecup pipinya. "Maafkan aku sayang, aku gak bermaksud nyalahin kamu." bisiknya pelan.
Ajeng malah terisak di dekapan suaminya.
"Kok malah nangis? Maaf jika itu melukai perasaan kamu. Maaf sayang, maaf." kata Abian sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu tau gak sih! Aku tuh cemburu saat lihat kamu berduaan dengan perempuan lain." ucap Ajeng di tengah isakannya.
"Iya, aku salah, aku minta maaf."
Lalu mereka berdua pun saling berpelukan dengan rasa saling memaafkan satu sama lain.
Adakalanya masalah memang harus diselesaikan secepat mungkin, karena jika di biarkan, takut masalah semakin besar dan melebar kemana-mana.
Begitu juga untuk pasangan suami istri, jika yang satu marah, yang satunya gak boleh ikutan marah atau malah mendiamkannya. Yang lebih parah lagi menjauhinya. Itu tidak baik! Karena justru akan memicu perselisihan dan masalah bukannya selesai justru malah semakin runyam.
Maka jalan satu-satunya tentu harus ada yang mengalah. Perlu kita ingat! Mengalah itu bukan berarti kalah, terkadang sikap mengalah menjadi solusi untuk meredam dan mengakhiri sebuah konflik, juga jalan terbaik dalam penyelesaian masalah.
__ADS_1
Itulah indahnya sebuah pernikahan. Jika sama-sama mengesampingkan ego.