
Abian pun turun, lalu di susul oleh Ezhar. Kemudian...
Bugh
Sebuah bogem mentah mengenai sudut bibir Abian membuat ia limbung ke belakang. Sontak Ajeng berteriak memanggil nama suaminya, lalu ia pun turun. Begitu juga Ezhar, ia memegang bahu Yudha agar tak melakukan kekerasan lagi pada majikannya.
"Apa-apaan kamu Yudha?" teriak Ajeng tak terima suaminya dipukul. Lalu ia mendekat pada sang suami. "Sayang! Kamu gak papa kan? Mana yang sakit?" isak tangis mulai keluar dari bibir Ajeng. Lalu ia balik badan. Dan...
Plakkk
Ajeng melayangkan tamparan pada pipi Yudha dengan begitu keras. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tiba-tiba memukul suamiku? Hah?" teriak Ajeng dengan napas menggebu, muka memerah serta tatapan yang begitu tajam.
Seketika, hal itu mengingatkan Yudha kala ia membela Fiona, kemudian dengan emosinya ia pun menampar Ajeng.
"Kamu masih mau dengan lelaki ini? Padahal kamu tau sendiri dia itu mau menikah lagi dengan sahabat kamu Ajeng." tutur Yudha. Dan Abian pun bangkit lalu berdiri dibelakang istrinya.
"Tapi gak seharusnya kamu mukul suamiku tanpa tau kebenarannya seperti apa! Kamu telah mencoreng nama baikmu sendiri di hadapanku Yudha, dari kejadian ini aku sadar! Ternyata kamu sama sekali tidak bisa berubah. Kamu tetap Yudha yang selalu main kekerasan." bentak Ajeng menatap nyalang. Dan mundur mendekati suaminya.
"Aku lakukan ini karena dia pantas di hajar, dia telah berani menduakan kamu." balas Yudha.
"Lalu kamu? Apa kamu gak pantas untuk dihajar? Apa kamu selama ini merasa benar dengan kelakuan kamu yang diam-diam menikahi perempuan lain? Hah? Aku masih ingat Yudha, masih ingat! Saat kamu lebih membela perempuan itu dari pada aku." teriak Ajeng yang masih tersulut emosi. Sementara Abian hanya menyimak pertengkaran mantan suami istri tersebut.
"Dengar tuan Yudha Mahardika yang terhormat! Jika sekali lagi kamu menyentuh suamiku. Aku tak akan segan untuk membalasmu lebih dari ini. Cam kan itu!" tunjuk Ajeng didepan wajah Yudha.
Lantas ia mulai meraih tangan suaminya mengajaknya untuk naik kembali kedalam mobil. Pun Ezhar mengikuti perintah Ajeng. Ia pun juga naik kedalam mobil. Lalu mobil pun mulai melaju meninggalkan Yudha yang terus menatap kepergian mereka.
"Aarrgghhh." teriak Yudha mengacak rambutnya dengan kasar. Ajeng benar! Dirinya selalu main kekerasan tanpa tau kebenarannya seperti apa. Tapi ia masih tak habis pikir, kenapa Ajeng masih mau mempertahankan suaminya. Lantaran saat bersamanya dulu Ajeng langsung meminta pisah.
"Kamu gak papa kan Mas?" Ajeng mendekatkan tubuhnya mendekap suaminya dengan nyaman.
"Gak papa sayang! Wajar dia memukulku, karena yang dia tau akulah yang akan menikah dengan Hasna." kata Abian yang membalas dekapan sang istri.
Tiba dikantor. Abian pun turun, begitu juga Ajeng ia memilih untuk menemani suaminya disana.
Dengan langkah beriringan juga tangan yang saling tertaut. Mereka pun langsung menuju dimana ruangan Abian berada.
Namun pada saat melewati para karyawan, semua menatap iba pada Ajeng karena mereka pikir, perempuan itu harus merasakan kembali pahitnya kehadiran seorang madu.
Ajeng pun tak mempedulikan tatapan mereka kepadanya. Ia lebih mengkhawatirkan suaminya.
Tiba di depan pintu, mereka pun masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Mas." isak Ajeng mengusap pipi suaminya bekas pukulan tadi yang meninggalkan luka lebam.
"Aku gak papa sayang." bisiknya.
"Tapi ini sakit sayang." lirih Ajeng mengusap luka lebam itu.
"Gak papa, malah ini anugrah buatku." kata Abian tersenyum.
"Anugrah?" Ajeng menyipitkan mata.
"Iya, karena dengan luka ini aku bisa mendengar panggilan sayang lagi dari bibir istriku. Sudah lama aku gak mendengar kata itu." canda sang suami.
__ADS_1
"Masa sih?" Ajeng menautkan alis.
"Coba sayang ingat-ingat! Kapan terakhir kali bilang sayang sama suami sendiri? Hemm?" goda Abian tersenyum penuh bahagia.
"Au ah, yang penting kan bukti." kekeh Ajeng merona.
***
"Ahhh sudah gak sabar jadi nyonya Abian. Gimana ya nanti pas malam pertama." gumam Hasna sambil merebahkan diri diatas kasur dengan nyaman. Dengan irama jantung tak seperti biasanya karena sambil membayangkannya.
Tangannya meraih ponsel, lalu membaca chat dari Abian. Hasna menyipitkan mata lalu membalas chat itu.
"[Kirain mau besok]" balas Hasna. Kebetulan langsung contreng biru yang ternyata ponselnya ada ditangan Ajeng. Karena diantara mereka ponsel pun bukan hal pribadi lagi. Jadi tentu boleh memakainya satu sama lain kapanpun mereka mau.
"[Gak bisa, mau adain pesta juga. Sekalian pestanya pernikahan aku sama Ajeng]" balas Abian. Padahal Ajeng lah yang membalas chat tersebut.
Hasna yang membacanya membuat ia mengulum senyum. "[Oke! Terserah kamu. I love you yang sebentar lagi jadi my suami]" tutup Hasna. Namun tak ada balasan lagi.
Kalimat tersebut membuat Ajeng melemparkan ponsel milik suaminya ke atas sofa. Lalu ia pun duduk dengan kasar sambil melipatkan kedua tangan diatas dada dengan memasang wajah cemberut.
"Kenapa sih? Kok dibanting?" tanya Abian menoleh yang sedang duduk diatas kursi singgasananya.
"Tau ah. Aku mau pulang aja." sentak Ajeng. Membuat Abian menautkan kedua alisnya lalu bangkit dari duduk dan mendekati sang istri dan duduk disampingnya.
Abian meraih ponsel miliknya. Lalu terkekeh saat membaca chat tersebut.
"Cemburu tandanya suka. Makasih sayang." Abian tersenyum lalu mendekapnya erat.
"Hasna." panggil Widya saat memasuki kamar sang anak. Ia sudah dirumah Hasna sejak tadi pagi bersama suaminya. Ferdy.
Widya mendekat dan duduk disamping Hasna.
"Aku bahagia sekali Mama." kata Hasna tersenyum dan duduk lalu menatap wajah ibunya. Tapi justru Widya meneteskan airmata. Ya airmata kesedihan karena Hasna tengah masuk perangkapnya sendiri alias terjebak akibat kesalahannya sendiri.
"Mama kenapa nangis? Harusnya mama bahagia karena anaknya mau menikah dengan orang yang aku cintai." ucap Hasna menyeka sudut mata sang ibu. Ferdy yang berdiri di ambang pintu pun hanya menatap dengan kesedihan.
"Mama menangis karena mama bahagia Nak! Bahagia sekali." kata Widya berbohong dengan merangkul Hasna dengan isak tangis yang ia tahan.
Beruntung Ferdy dan Widya tidak menyalahkan tindakan Abian, Ajeng dan juga Luthfan. Mereka harus akui kalau anaknya memang bersalah, lantaran Hasna lah yang memulai dari awal, yang selalu ingin ia miliki apapun itu dan bagaimanapun caranya. Tak peduli orang lain sakit hati karenanya.
***
Keesokan paginya. Ezhar sudah mulai disibukkan dengan persiapan pesta pernikahan sang majikan. Dari mulai dekorasi ruangan yang harus serba putih lantaran atas permintaan Ajeng dan Abian. Juga membuat kartu undangan hanya untuk seratus lima puluh orang. Ajeng sendiri meminta acaranya gak harus mewah, yang penting nyaman. Mengingat dirinya hanyalah seorang janda beranak satu yang kebetulan dipersunting lelaki yang masih single.
Tak lupa Ezhar pun sudah mendatangi kediaman pak penghulu memberitahukannya soal acara tersebut yang akan dilaksanakan besok sekitar jam delapan pagi, dan sudah menentukan siapa yang akan menjadi MC dan siapa yang akan menjadi fotografer. Dan juga Diana selaku pihak resepsionis diperusahaan, ia ditugaskan untuk menjadi penerima tamu bersama Axel sekretaris Abian.
Satu lagi! Ezhar akan mendatangi restoran yang biasa menerima katering makanan dan minuman untuk acara pernikahan. Semuanya ia lakukan sendirian.
Retno juga sudah dikasih tahu oleh Yudha mengenai kabar tersebut. Retno sangat shock dan mencoba tak percaya akan kabar tersebut.
Begitu juga ditempat yang sama. Ajeng, Abian dan Hasna. Mereka tengah memilih gaun berwarna putih, pun Abian memilih jas serta bawahan berwarna putih juga.
Mereka kesana tentu tidak satu mobil. Melainkan dua mobil. Hasna yang sendirian! Dan tentu Ajeng dan Abian dalam satu mobil. Sedangkan Luthfan memilih tempat yang berbeda dan designer yang berbeda juga, agar tidak ketahuan.
__ADS_1
"Mas? Ini cocok tidak?" tanya Ajeng pada suaminya saat keluar dari ruang ganti dan sudah memakai gaun yang ia pilih.
Belum juga Abian menjawab. Hasna pun keluar dari ruang ganti sebelahnya dan sudah memakai gaun yang ia pilih juga.
"Gimana? Cocok tidak?" tanya Hasna tersenyum.
Sang designer itupun manyaksikan bagaimana mereka berdua agar bisa mendapatkan perhatian dari satu lelaki, yaitu Abian. Ya designer itu sendiri adalah pak Hartoyo rekan kerjasama Ajeng. Ia sendiri sudah tau akan desas desus soal berita kemarin yang viral sampai hari ini. Beruntung disana ada lima gaun untuk perempuan dan dua lagi untuk laki-laki yang kesemuanya berwarna putih. Yang ke lima gaun tersebut ada dua gaun yang sangat pas dibadan Ajeng dan Hasna. Dan satu jas serta bawahan yang sangat pas juga dibadan Abian. Karena acaranya sangat mendadak. Jadi gak bisa melakukan fitting baju pengantin.
"Sayang! Cantik banget istriku ini. Masyaallah..." puji Abian mendekat. Membuat Hasna mendengus kesal karena tak dipuji seperti Ajeng, apalagi dikomentari.
"Awas saja nanti! Aku akan meminta suamimu lebih lama saat bersamaku. Kamu hanya akan kebagian sisanya yaitu dua hari saja, karena Abian pasti lebih memilih daun muda ketimbang daun yang sudah tua."
Sore hari ....
Semua kartu undangan sudah disebar oleh orang suruhan Ezhar. Dan kemudian diberi upah setelahnya.
Semua sudah mendapatkan undangan tersebut, dari mulai teman-teman Ajeng dan Abian. Sedangkan teman-teman Hasna dan Luthfan hanya beberapa saja, lantaran acara itu bukan acara mereka sendiri. Berikut tiga karyawan Ajeng. Serta seorang arsitek yaitu Haris. Lalu sang designer itu sendiri. Pak Hartoyo. Juga Dewi sang mantan sekretarisnya dulu, pun tak lupa karyawan-karyawan Abian diperusahaan, dan beberapa kolega bisnisnya.
Termasuk Alvino yang kini sedang mambaca kartu undangan tersebut yang ia dapatkan dari karyawan Ajeng saat dirinya berkunjung ke ruko untuk menemui Ajeng, namun sayang Ajeng tidak ada disana.
Begitu juga Yudha. Ia pun manatap kartu undangan itu dan satu lagi untuk ibunya yang sedang dalam perjalanan menuju jakarta.
Meski kemarin sempat bersiteru, namun sengaja Yudha tetap diundang untuk menghormatinya karena biar bagaimanapun dirinya ayah kandung Qeera. Pun agar Yudha tau yang sebenarnya.
Sus Rini baru mengetahui hal tersebut, seketika shock dan iba pada majikannya, namun Ajeng segera memberitahukan hal sebenarnya sehingga sus Rini kembali bernapas lega dan di minta untuk tetap diam jangan bocor pada siapapun.
Qeera, anak itu pun sudah tau dan sangat antusias akan pesta pernikahan kedua orangtuanya.
Malam selepas sholat isya. Tiba-tiba Ajeng merasakan mual. Lantas ia pun langsung lari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan semua makanan yang tadi ia makan. Kepalanya juga sedikit pusing membuat Abian begitu panik dan langsung menyusul sang istri ke dalam kamar mandi.
"Sayang muntah? Apanya yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang ya?" ajak sang suami dengan raut wajah begitu khawatir.
Tapi Ajeng menggelengkan kepalanya. Ia hanya minta diambilkan tespek yang ada didalam laci kamar rias. Karena ia sendiri dalam beberapa hari terakhir merasa ada yang berbeda dengan perubahan moodnya yang biasanya suka minum susu, tapi tiba-tiba jadi tak suka. Serta makanan pedas lainnya, lidahnya pun kini menolak. Gegas Abian pun mengambilnya dan kembali lalu memberikan tespek itu.
Karena disuruh keluar oleh sang istri. Abian pun keluar dan menunggu didepan pintu sambil mondar mandir kesana kemari dengan kecemasan yang amat sangat, takut istrinya kenapa-napa.
Setelah beberapa menit, Ajeng pun keluar dengan rona wajah sangat bahagia.
Abian menatapnya dengan keheranan. "Mas, tutup mata kamu." titah Ajeng.
"Tutup mata? Untuk apa?" tanya sang suami.
"Udah nurut aja! Aku punya sesuatu untuk kamu." tutur Ajeng tersenyum dengan manis.
"Ahh baiklah." mata Abian pun menutup dengan rapat.
"Sekarang buka." titah Ajeng. Sambil mengeluarkan tespek lalu diperlihatkan langsung dihadapan wajah suaminya.
Kembali mata Abian pun mulai membukanya dengan perlahan. Lalu ia pun menatap alat yang tadi ia ambil.
"Apa garis dua ini artinya kamu hamil?" tanya Abian tersenyum haru. Dan Ajeng menganggukkan kepala.
"Kamu hamil sayang? Aku akan jadi seorang ayah? Masyaallah..." seketika Abian memeluk sang istri dengan rona bahagianya yang tak bisa di lukiskan.
__ADS_1
Sungguh hatinya begitu sangat bahagia. Puji syukur tak lupa ia panjatkan pada Yang Maha Kuasa. Karena apa yang ia inginkan selama ini, akhirnya Allah mengabulkannya juga.
"Besok aku akan umumkan kehamilan kamu, di acara pernikahan kita." bisiknya sambil mengecup pipi sang istri.