
Yudha mencari keberadaan Alvino. Ia menuju ruko milik Ajeng karena siapa tau bertemu Alvino lagi disana.
Tiba disana. Yudha memarkirkan mobilnya tak jauh dari ruko. Lantas ia pun turun dan mengedarkan pandangan ke setiap arah.
Tiba-tiba ada seorang ibu lewat dan bertanya.
"Maaf, cari siapa ya pak?" tanya ibu itu membuat Yudha menoleh.
Kemudian Yudha memberitahukan ciri-cirinya.
"Ohhh kalau ciri-cirinya seperti itu, apa mungkin dia orangnya. Kebetulan tadi saya lihat dia disini. Kayaknya dia juga lagi cari seseorang kayaknya." ujar ibu itu. Ya karena Alvino juga sedang mencari Yudha.
"Lalu, kemana dia bu?" tanya Yudha.
"Kalau gak salah, ke arah sana deh. Coba saja bapak kesana." kata ibu itu sambil menunjuk kearah kanan.
"Baiklah, terimakasih banyak ya bu?"
"Iya, sama-sama."
Lantas Yudha pun naik kedalam mobil dan membawanya ke arah kanan. Ia terus menelusuri jalanan itu, hingga akhirnya Yudha menemukan sosok yang ia cari. Ya Alvino kebetulan sedang berdiri tak jauh dari mobilnya, ia berhenti karena ban-nya kempes.
Yudha pun turun dan mendekat kearah Alvino.
"Bisa kita bicara?" tanya Yudha tiba-tiba ketika sudah berdiri dibelakang Alvino. Membuat Alvino menoleh ke belakang.
"Kamu! Kebetulan aku cari kamu dari kemarin." ujar Alvino.
"Cari aku? Ada urusan apa mencariku?" tanya Yudha.
"Aku ingin bertemu dengan mantan istri kamu." kata Alvino.
"Ketemu Ajeng? Untuk apa?" tanya Yudha keheranan.
"Apa kebiasaan kamu suka ingin tahu urusan orang lain?" tanya Yudha tak suka.
"Baiklah. Tapi ... Bukannya kamu sudah mengunjunginya? Kita kemarin bicara tepat di depan ruko miliknya." papar Yudha serius.
"Apa? Jadi ruko itu milik Ajeng? Ya ampun... Tau gitu mah aku gak usah capek-capek cari kamu." keluh Alvino dan Yudha malah menggelengkan kepalanya.
"Sekarang, aku yang nanya, apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" ucap Alvino.
"Soal hubungan kamu sama Fiona." jawab Yudha langsung.
"Jadi yang kemarin belum jelas? Bahwa aku tidak ada hubungan sama sekali dengan dia." balas Alvino.
"Kamu bilang tidak ada hubungan? Lantas ... Kenapa kamu bilang kemarin kalau kamu pernah menyentuhnya." ucap Yudha tetap terlihat santai.
"Itu benar, bahkan kita sudah beberapa kali melakukannya." ungkap Alvino.
"Aku masih gak faham." timpal Yudha.
__ADS_1
"Dengar! Kita memang tidak ada hubungan sama sekali, soal ... Kenapa kami bisa melakukannya tak hanya satu kali? Ceritanya sangat panjang dan aku malas untuk menceritakannya." papar Alvino serius.
"Ada bukti?" tanya Yudha penasaran.
"Tentu saja, aku tak akan bicara sembarangan kalau tidak punya bukti." kata Alvino sambil mengambil ponselnya disaku celananya.
Ia mencari video saat bersama Fiona. Setelah ketemu, ia langsung memberikan ponselnya pada Yudha.
Dengan tak sabar, Yudha meraihnya dan langsung melihat video yang berdurasi sepuluh menit. Tiba-tiba napasnya sesak. Hidungnya kembang kempis, mukanya memerah dengan rahang mengeras serta tangan ia kepalkan kuat-kuat.
Benar saja, didalam video itu terlihat Fiona sedang dalam kungkungan Alvino. Dan terlihat sangat menikmatinya tanpa adanya penolakan.
"KURANGAJAR." umpat Yudha.
"Kamu berani menyentuh istriku?" teriak Yudha menatap nyalang pada Alvino.
"Hei, tenanglah! Coba cermati video tadi. Apa Fiona terlihat menolak atau ... Terpaksa? Tidak kan? Jadi jangan salahkan aku saja. Karena kita sama-sama menginginkannya." ujar Alvino tetap santai.
Bugh
Sebuah bogeman mentah tepat mengarah ke sisi kepala Alvino membuat dia limbung kebelakang.
"Kalian berdua sama-sama kurangajar." maki Yudha menatap tajam.
Tak ingin menambah masalah. Yudha kembali menaiki mobilnya dan menutup pintu dengan sangat keras.
"Sekarang aku tidak akan ragu lagi dengan keputusan aku Fiona. Semua bukti sudah aku dengar dan lihat. Tunggu aku kesana, kamu akan sangat terkejut nantinya." ucap Yudha dengan senyum sinis.
Cinta dan benci memang kini menyatu dalam dirinya. Tapi setelah tau semuanya, rasa cinta itu sendiri sedikit demi sedikit terkikis, hanya mungkin menyisakan sedikit saja. Mengingat Fiona yang katanya mantan terindahnya dulu.
Abian membuka kotak kecil itu, lalu manatap foto yang dimana Haris sedang memberikan sebuah tissu pada Ajeng yang sedang menutup mulut. Membuat Abian terkejut.
"Ajeng? Gak mungkin kamu ada main dibelakangku. Aku sangat percaya sama kamu. Tapi ... Siapa yang telah mengirim foto ini? Dia pasti ingin menghancurkan rumahtanggaku bersama Ajeng." ucap Abian yang terus menatap foto itu.
Ada rasa nyeri dan cemburu, tapi buru-buru ia tepis, ia tidak mau terjadi salah paham lagi dengan istrinya.
Lalu ia memotret foto itu dan langsung mengirim pada Ajeng saat itu juga, tapi malah contreng satu. Dan terlihat dua puluh menit yang lalu Ajeng membuka whatsapp.
Tak sabar. Abian pun teringat kata-kata Ajeng, kalau dia akan pergi ditemani Zia. Tak menunggu waktu lama, ia pun menghubungi Zia, baruntung sudah punya nomornya.
Dan telepon tersambung.
"Hallo pak?" ucap Zia diseberang telepon.
"Zia, kamu lagi bersama istriku kan?" tanya Abian sedikit panik.
"Iya pak, kita lagi di kaffe, ada pak Haris juga disini." jawab Zia menoleh pada Ajeng yang sedang bicara serius dengan Haris.
"Siapa?" tanya Ajeng pelan.
"Bapak." bisik Zia sambil menjauhkan ponselnya agar tak terdengar oleh Abian.
__ADS_1
"Sudah ku duga," ucap Ajeng dalam hati sambil menepuk keningnya.
"Kamu saja yang bicara, dan bicara yang jujur." bisik Ajeng.
"Ada apa sih?" tanya Haris.
"Sssttt." Ajeng menaruh jari telunjuknya di depan bibir agar diam.
Haris pun paham, pasti karena ulah kejadian tadi, dan suami Ajeng meminta penjelasan.
"Zia, kamu masih disana kan?" tanya Abian.
"Iya pak, ibu juga ada disini kok." kata Zia berusaha tetap santai. Dan panggilan pun terpaksa di loudspeaker agar Ajeng bisa dengar.
"Kamu tau? Tadi Ajeng kenapa sampai tutup mulut dan terlihat menahan sesuatu, terus ... Ada lelaki yang memberikan tissu padanya." tanya Abian dengan penasaran berlebih.
Ajeng membisikkan sesuatu pada Zia, agar bisa menjawabnya, karena saat itu Zia lagi pergi ke toilet.
"Ohhh itu, ibu lagi minum, terus tersedak dan mungkin pak Haris kasihan, lalu pak Haris kasih tissu." jawab Zia jujur.
"Jadi yang ada difoto ini, dia adalah Haris?" tanya Abian.
"Apa pak? Foto?" tanya Zia yang disuruh Ajeng untuk bertanya seperti itu.
"Ya, tadi ada seorang anak kecil yang memberikan kotak kecil pada satpam disini, katanya untuk saya, dan saya buka, tapi didalam fotonyq cuma ada Ajeng dan Haris sedang berduaan, makanya saya tau kalau Haris akan memberikan tissu. Tapi ... Difotonya, kamu tidak ada disana Zia. Lalu kemana kamu? Tolong bicara yang jujur." tekan Abian serius.
"Gimana ini bu?" bisik Zia yang tiba-tiba takut.
"Biar saya yang bicara." pinta Ajeng. Dan panggilanpun kembali ke mode normal.
"Hallo Mas, udah ah, kasihan Zia. Kamu terlalu lama mengintrogasinya. Intinya yang Zia katakan benar, soal gak ada Zia difoto itu, karena Zia sedang berada di dalam toilet, dia ijin ke toilet saat lagi menunggu kedatangan pak Haris, lalu pak Haris pun muncul, dan aku minum dan tersedak, Haris kasihan mungkin makanya dia ambilkan tissu. tak lama Hasna nyamperin kita. Yaaa mungkin yang ngirim foto itu Hasna. Mas tau sendiri kan gimana dia?" papar Ajeng menjelaskan.
"Tapi kamu gak ada mainkan sama Haris?" tanya Abian memastikan.
"Ya ampun Mas, sudah berapa kali aku bilang, aku hanya cintanya sama kamu, sampai kapanpun aku akan membersamaimu dan hanya maut yang memisahkan.
"Syukurlah. Maaf jika aku terlalu overprotektif. Karena aku takut sekali kehilangan istriku."
"Iya Mas, udah dulu ya, kita juga udah selesai ini dan sebentar lagi pulang." kata Ajeng bernapas lega.
"Iya sayang. I love you."
"I love you too Mas."
Panggilanpun berakhir.
"Maaf pak Haris, jika sedikit kurang nyaman." kata Ajeng menunduk sopan.
"Tidak apa-apa bu Ajeng, saya pun paham jika saya yang ada di posisi suami anda." balas Haris tersenyum.
Mereka pun selesai melakukan transaksi. Setelah itu berpamitan dan keluar dari kaffe.
__ADS_1
"Sudah ku duga, kalau ini ulahnya dia." gumam Abian yang terlihat emosi. "Mau dia apa sih? Apa masih dengan tujuan yang sama, ingin memilikiku? Apa dia gak sadar justru dengan kelakuannya yang seperti itu, malah semua orang pasti akan membenci dan menjauhinya."
Akhirnya satu masalah pun usai. Karena janji mereka, jika ada suatu masalah harus dibicarakan secepat mungkin. Dan jangan mendengarkan dari satu pihak saja, semua harus di selidiki terlebih dahulu. Benar apa tidak. Agar tidak semakin runyam.