
Disebuah rumah sakit. Diruangan ICU, saat inilah Hasna sekarang berada, ia tengah terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dan masih tak sadarkan diri. Ditubuhnya juga telah dipasang beberapa alat medis. Juga di hidungnya sudah terpasang ventilator atau selang oksigen . Tak lupa selang infus ditangan kiri.
Selain itu, pasien juga akan selalu berada dalam pengawasan selama dua puluh empat jam penuh selama pasien berada diruangan ICU.
Ya, kondisi Hasna saat ini belum dinyatakan baik-baik saja, Apalagi ada noda darah yang begitu banyak dibalik gaunnya. Dan dokterpun segera melakukan pemeriksaan rahim melalui USG 4D. Disana ada satu dokter lagi, dan satu perawat yang sudah kompeten.
Dua dokter itu pun terus mengamati hasil dilayar USG tersebut. Lalu keduanya saling menoleh kemudian mengangguk.
Diluar ruangan, Luthfan dan kedua orangtua Hasna sedang menunggu. Widya tak hentinya menangis dipelukan suaminya. Juga Luthfan yang masih shock, apalagi ia menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan itu terjadi.
"Pa, Hasna pa. Mama takut Hasna kenapa-napa." isak Widya dengan suara serak lantaran ia terus menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
"Kita hanya bisa berdo'a supaya Hasna baik-baik saja" balas Ferdy berusaha kuat. Meski hatinya sama, rapuh, melihat sang anak terbaring lemah dirumah sakit.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Dua dokter itu pun keluar. Sementara perawat masih didalam menunggu kondisi pasien.
Kedua orangtua Hasna dan juga Luthfan segera mendekat.
"Bagaimana anak saya Dok, dia baik-baik saja kan?" tanya Widya ditengah isakannya.
"Anda bisa ikut keruangan saya? Dan juga disini apa ada suaminya?" tanya Dokter itu bernama Faraz.
"Saya suaminya, Dok." jawab Luthfan.
"Baiklah, kalian bertiga mari ikut keruangan saya." kata Dokter Faraz.
Mereka pun mengikuti Dokter Faraz dari belakang. Sementara dokter satunya melangkah ke tempat lain.
Setelah tiba diruangan, mereka pun dipersilakan untuk duduk, sementara Luthfan memilih untuk tetap berdiri lantaran disana cuma ada dua kursi untuk tamu.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Widya kembali dengan kecemasan luar biasa dihatinya.
Dokter Faraz memejamkan mata lalu mengambil napas terlebih dahulu dan membuangnya dengan perlahan.
"Boleh saya tau, nama suami pasien?" tanya Dokter Faraz menatap Luthfan.
"Nama saya Luthfan, Dok." jawab Luthfan mengangguk sopan.
"Apa anda tau kronologi kecelakaan istri anda?" tanya Dokter Faraz.
"Saat itu ... Saya melihat istri saya dari kejauhan." kata Luthfan menghela napas sambil menatap kosong. "lalu ... Istri saya mungkin tak sadar, dirinya sudah berada ditengah jalan, dan saat itu juga ... Terlihat mobil berwarna hitam dari berlawanan arah, lalu ... Hasna tertabrak mobil itu, lalu dia terpental cukup jauh." Luthfan menundukkan kepalanya. Sementara Ferdy yang mendengarnya memalingkan pandangan dan menyeka sudut matanya. Dan tangisan Widya semakin pecah.
"Mungkin itu yang menyebabkan istri anda mengeluarkan banyak darah." ucap Dokter Faraz. "dengan berat hati saya juga harus mengatakan ini pada kalian semua." ucap Dokter Faraz.
"Maksud dokter? Hasna baik-baik saja kan Dok? Dia sudah sadar kan?" Widya terus melontarkan pertanyaan.
"Ya, Pasien mengalami keguguran, mungkin akibat benturan yang cukup keras, karena seperti yang Pak Luthfan bilang kalau pasien terpental cukup jauh, sehingga terjadilah pendarahan dari area jalan lahir. Jadi kami harus segera melakukan kuretasi, jika ditunda, saya takut mempengaruhi kondisi pasien. Apalagi pasien saat ini masih tak sadarkan diri." papar Dokter Faraz dengan serius.
Karena tak bisa menahan kepedihannya lagi, akhirnya Widya pun pingsan diruangan itu.
"Wid, Widya." Ferdy menepuk pipinya pelan agar istrinya bangun. Namun tetap saja mata Widya tak mau membuka.
"Bagaimana? Apa kalian bersedia tanda tangan hari ini juga, agar kami bisa melakukan tindakan itu sekarang? Apa Pak Luthfan setuju?" tanya Dokter Faraz.
"Saya menyetujuinya Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak mau anak saya kenapa-napa." ucap Ferdy.
Padahal Luthfan baru saja membuka mulut ingin memberikan jawaban yang sama. Sehingga Luthfan kembali menunduk. Sadar diri, karena semua berawal dari ide nya. Mungkin itu yang membuat Ferdy tak butuh persetujuannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Pak Luthfan sendiri, apakah setuju?" tanya Dokter Faraz menatap Luthfan.
"Saya serahkan semuanya sama Dokter, jika itu yang terbaik untuk istri saya." jawab Luthfan.
"Baiklah. Silakan untuk tanda tangan disini." titah Dokter Faraz sambil memberikan selembar kertas untuk di tandatangani saat itu juga agar segera melakukan tindakan kuretasi terhadap pasien.
Ferdy segera meraih pulpen, lalu menandatangani kertas tersebut.
Setelah usai, Ferdy dan Luthfan pamit keluar.
"Maafkan saya pa, ini semua gara-gara saya." ucap Luthfan ketika sudah berada diluar.
"Tolong! Untuk saat ini jangan bicara apapun lagi, pikiran saya sedang kacau. Maaf." balas Ferdy kemudian melangkah meninggalkan Luthfan seorang diri.
Luthfan pun tak ingin menambah masalah lagi, ia memilih mengalah, lalu melangkah keluar dan duduk di taman yang ada dirumah sakit. Ia meraih ponselnya dan memberitahukan Abian, kalau Hasna kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit.
Sementara itu, yang diberi tahu sedang membantu membereskan sisa-sisa acara tadi pagi. Ya, semua tamu undangan kini sudah pada pulang sambil membawa souvenir satu-satu yang sudah disiapkan.
Sementara Retno, Yudha dan Alvino masih disana membantu membereskannya juga. Sedangkan Ajeng istirahat didalam kamar lantaran karena ngantuk, dan juga dirinya merasa lemas dan pusing.
"Abian, aku mau minta maaf sama kamu, karena kemarin aku sudah ... "
"Gak papa, mungkin jika aku yang ada di posisi kamu, aku pun pasti melakukan hal yang sama." potong Abian sambil merapikan kursi.
Retno mendekat lantaran mendengar ucapan mereka.
"Ada apa sih memangnya?" tanya Retno.
"Aku kemarin habis ... Menghajar Abian." jawab Yudha menunduk.
"Apa? Ya ampun Yudha. Padahal ibu sudah berapa kali menasehati kamu, jangan mengusik kehidupan mereka lagi" geram Retno.
"Tapi tak seharusnya kamu melakukan kekerasan, kamu mau, Abian memasukkan kamu ke dalam penjara lagi karena kasus penganiayaan?" sentak Retno.
"Iya, maaf."
Sementara Abian menggelengkan kepalanya, lalu beranjak dari hadapan mereka.
"Aku gak melihat Ajeng dari tadi." kata Alvino menghampiri Abian yang sedang duduk sambil meneguk minuman.
"Dia lagi istirahat didalam kamar, katanya ngantuk, pusing dan lemas. Mungkin karena efek kehamilannya." jawab Abian menoleh. Dan Alvino duduk di hadapannya.
"Kenapa kamu gak nemenin dia?" Alvino menyipitkan mata.
"Tadi udah kesana. Tapi dia bilang bantu-bantu dulu rapi-in. Kasian katanya." balas Abian.
"Dia memang baik ya. Kamu beruntung punya istri seperti Ajeng." kata Alvino sambil melirik ke arah Yudha yang dimana dia juga mendengar ucapannya membuat Yudha pun menoleh.
"Baik! Baik banget malah." balas Abian tersenyum.
"Makanya itu saat dengar kabar kamu mau nikah lagi, aku sama sekali gak percaya dengan semua berita itu. Apalagi perempuan yang mau dinikahi itu ... Hasna. Hhhh malah buat aku semakin gak percaya, yang ada hanya rasa curiga sama dia. Eehh ternyata benar! Dia itu memang licik. Tapi ... Aku suka ide kalian bertiga, bisa membuat pelakor tak bisa berkutik lagi." kekeh Alvino.
"Dan aku juga mau mengucapkan terimakasih sama kamu, berkat kamu juga aku bisa terlepas dari tuduhan semua orang." ucap Abian menepuk pundak Alvino. "tapi ... Kenapa kamu sebegitunya mau membelaku?"
"Aku kasihan saja sama kamu." kata Alvino.
"Bukan sama Ajengnya?" Abian menyipitkan mata.
__ADS_1
"Hahaha." Alvino malah tertawa.
"Apa ada yang lucu?" tanya Abian heran.
"Lucu aja kalau lihat orang sedang cemburu. Kamu ngapain sih cemburu sama laki-laki kayak aku?" kekeh Alvino.
"Ya takut saja." kata Abian sekenanya.
"Abian. Ingat ya, aku sama sekali gak ada rasa sama istri kamu. Aku tadinya mau minta ijin sama kalian berdua. Aku mau balik ke singapur besok." kata Alvino.
"Biar nanti aku sampaikan." kata Abian.
"Hhhh kamu ini gak percaya sama aku? Yasudah. Titip salam untuk semuanya ya, kalau titip salam untuk Ajeng doang takut di cemburuin lagi." canda Alvino.
Abian tersenyum lalu menepuk pundak Alvino dengan pelan.
Lantas mereka pun berpelukan, lalu Alvino pun pamit pada semua orang yang berada disana.
Setelah semuanya beres. Retno dan Yudha pun pamit untuk pulang. Sementara Abian kembali kedalam kamar dimana sang istri sedang menunggunya.
"Gak tidur? Katanya tadi ngantuk." tanya Abian saat masuk, lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Aku nunggu suamiku." lirih Ajeng menyandar dengan dialasi bantal. Sambil melihat suaminya mengganti pakaian dihadapannya. Setelah itu Abian pun mendekat dan duduk di sisinya sambil menyandar juga.
"Istriku lagi kangen kah. Hemm?" goda Abian sambil menarik dagu sang istri menggunakan jari telunjuk, lalu mengecup bibirnya dengan pelan.
"Aku ngantuk tapi gak bisa tidur."
"Kenapa? Masih pusing?"
Ajeng mengangguk. "Padahal saat hamil Qeera perasaan gak gini deh, biasa aja." kata Ajeng memeluk suaminya.
"Mungkin kondisi hamil memang beda-beda sayang. Kita ke dokter sekarang ya. Mumpung masih jam dua siang." kata Abian membalas pelukannya.
"Besok saja gak papa kan? Aku ingin begini terus sama kamu."
"Baiklah. Terserah kamu saja, tapi kalau ada apa-apa bilang ya, biar kita langsung kerumah sakit."
Ajeng pun menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya saling berpelukan.
Namun Abian belum membaca pesan dari Luthfan, karena dari tadi, dirinya sangat sibuk dan tak sempat memegang ponsel. Meski sekarang Abian sudah gak sibuk lagi, tapi ia lebih memilih untuk memanjakan sang istri. Sehingga kabar Hasna kecelakaan pun mereka belum tau.
***
"Yudha tunggu." panggil Fiona saat melihat Yudha yang hendak naik kedalam mobil. Fiona balik lagi kesana karena ada yang ketinggalan. Yaitu tas miliknya. Namun kebetulan dirinya melihat Yudha dan Retno disana yang kebetulan juga baru mau pulang.
Yudha dan Rento pun menoleh ke arah sumber suara.
"Fiona?" Retno sedikit terkejut menatap Fiona yang sedang mendekat ke arahnya.
"Iya bu, ini aku, Fiona." katanya tersenyum. "Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillahh baik." jawab Retno tersenyum lalu melirik pada Yudha yang memalingkan pandangannya. Ia sama sekali tidak terkejut saat melihat Fiona.
"Kamu sudah keluar dari penjara?" tanya Retno menatap Fiona, tapi Fiona sendiri sedang menatap ke arah Yudha. Lalu menoleh pada Retno.
"Iya bu, baru kemarin aku keluar. Kebetulan aku lagi lewat sini. Tapi aku malah melihat kalian berdua disini." jawab Fiona yang justru tatapannya selalu pada Yudha.
__ADS_1
"Bu, apa aku boleh bicara sama Yudha?" tanya Fiona menatap Retno, berharap di ijinkan.
"Tentu saja, Yudha itu kan suami kamu." ucap Retno membuat Fiona dan Yudha tersentak, ternyata Retno belum tau prihal antara Fiona dengan sang anak.