Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Menahan Malu


__ADS_3

Malam ini, malam yang sangat ditunggu-tunggu bagi para designer untuk memamerkan hasil rancangan mereka di ajang fashion show nanti, dengan para model wanita yang tentunya sudah dipilih


Luthfan mempersiapkan dirinya, dengan mengenakan kemeja berwarna putih dipadu padankan jas berwarna silver terang.


Tak lupa memakai parfum dan sedikit pelembab di wajahnya. Wajah yang dimana Luthfan memiliki hidung mancung, mata sipit dan kulit sedikit kecokltan, menambah kesan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.


Begitu juga Ajeng, perempuan single parents, hidung mancung, kulit putih dan berparas cantik itu sudah bersiap untuk pergi. Ia mengenakan gamis berwarna merah maroon dan kerudung berwarna senada. Siapapun yang melihatnya pasti terpesona.


Apalagi kini, ia seorang janda yang tentu sekarang sudah lumayan rajin untuk perawatan. Dan itu membuat kedua lelaki yang berada di sekitarnya memperebutkannya untuk menjadi bagian dari hidup mereka.


Luthfan sangat antusias menghadiri acara itu, ia segera menaiki mobilnya untuk menjemput wanita pujaannya. Ia tak peduli meski Ajeng yang kata Abian sudah dalam lamarannya.


Baginya, sebelum janur kuning melengkung masih banyak waktu untuk bisa meyakinkan Ajeng, bahwa dirinyalah yang terbaik untuknya.


Saat tiba didepan rumah Ajeng, ia segera turun dan masuk melalu pintu pagar. Lalu mengetuk pintu.


"Silakan masuk Pak." ujar pengasuh dengan sopan saat pintu ia buka. "Saya panggilkan ibu dulu."


Luthfan segera masuk dan duduk menunggu Ajeng diruang tamu.


Ajeng melangkah keruang tamu, dan didapati Luthfan sedang menatapnya tanpa berkedip.


Namun, muncul lah dibelakang Ajeng seorang lelaki memakai kemeja putih serta jas berwarna hitam. Lalaki berparas tampan dan berkulit putih itu sedang menatap sinis pada Luthfan. Membuat Luthfan berdiri dan membelalakan matanya, melihat siapa yang berada dibelakang Ajeng.


"Sudah lama menunggu?" tanya Ajeng sopan.


"Baru saja tiba." jawab Luthfan sambil melihat jam ditangannya. "Sudah ayo berangkat. Nanti kita telat." katanya meraih tangan Ajeng, namun Abian melerai tangan itu lalu berdiri didepan Ajeng sambil menatap tajam pada Luthfan.


"Kamu lupa? Siapa Ajeng?" tanya Abian sinis.


"Ckck cuma pacar doang, belum nikah kan?" tanya Luthfan terkekeh.


"Setidaknya dia sudah menerima lamaranku." balas Abian puas.


"Oh ya? Tapi sampai sekarang, aku masih gak yakin, Ajeng mencintai kamu." cetus Luthfan.


"Abian, Luthfan. Udah. Kalian berdua memperebutkan aku? Apa sih yang diperebutkan dariku? Aku ini hanya seorang janda beranak satu. Masih banyak diluar sana yang lebih baik dari aku." ucap Ajeng menoleh pada mereka berdua.


"Abian, aku mau bicara serius sama kamu." kata Ajeng tegas. Ia melangkah ke belakang lalu di ikuti Abian dibelakangnya.


Ajeng berhenti didekat dapur begitu juga Abian.


"Apa yang mau dibicarakan sayang?" tanya Abian tersenyum.


Namun lidah Ajeng tiba-tiba sangat kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Sayang, kamu gak papa kan?" tanya Abian sambil menyentuh pundaknya.


Ajeng mengangkat wajahnya menatap manik mata itu, mata yang memang tersirat sebuah ketulusan cinta untuknya.

__ADS_1


Namun wajah mereka semakin dekat, dan dekat hingga berjarak sepuluh centi.


Sampai akhirnya Ajeng reflek memejamkan matanya dan ...


"Aku gak akan melakukan itu, sampai kamu halal untuk ku sentuh." kata Abian mengulum senyum.


Mata Ajeng seketika terbuka sempurna, pipinya merah padam. Malu, sangat malu ia rasakan. Sampai tak berani menatap lagi, ia pun memalingkan wajahnya.


Abian menahan tawa namun mati-matian ia bersikap biasa saja dihadapan Ajeng.


"Maaf, aku harus segera pergi, nanti telat." kata Ajeng salah tingkah, dan hendak melangkah namun Abian sigap dan berdiri dihadapannya.


"Aku gak akan tenang kamu pergi berduaan saja dengannya." kata Abian.


"Om baik?" Qeera pun muncul. "Kapan kesini? Kok aku gak tau?" tanyanya.


"Om kesini mau pergi sama bunda." jawab Abian.


"Jadi gak kangen aku nih?" tanya Qeera dengan memasang wajah cemberut sambil mendekap tangannya diatas dada.


Abian menoleh pada Ajeng lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lantas Abian pun mendekat.


"Om kangen, kangen banget malah." kata Abian duduk mensejajarkan tinggi anak itu.


"Yasudah, malam ini temenin aku, jangan sama bunda." pintanya.


Abian menoleh pada Ajeng yang masih tak berani menatap wajahnya. " Yasudah, bunda pergi dulu ya, Qeera sama Om Abian dulu dirumah, nanti bunda bawakan sesuatu untuk Qeera." kata Ajeng.


"Aku pergi dulu sebentar, tolong jaga Qeera." titah Ajeng pada Abian yang meluruhkan bahunya karena tidak bisa ikut dengannya yang terpaksa harus memenuhi keinginan putrinya.


Niat hati ingin bicara jujur pada Abian, tapi malah ia mendapatkan malu karena ulahnya tadi.


Ajeng merutuki dirinya sendiri kenapa sampai bertindak demikian.


Lantas, Ajeng dan Luthfan pun keluar dan naik kedalam mobil lalu melesat meninggalkan rumah itu.


***


Hasna berencana akan kerumah Ajeng malam ini, ingin menjenguk Qeera, ia pun tiba didepan rumah itu. Lalu turun dan masuk melewati pagar rumah.


Lantas ia membuka pintu dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Namun ia tercengang dengan kehadiran Abian disana yang sedang bermain dengan Qeera.


Abian dan Qeera menoleh karena terdengar pintu ada yang membukanya.


"Tante Hasna." sapa Qeera tersenyum.


Hasna juga tersenyum menatap putri sahabatnya. Lalu pandangannya tertuju pada Abian.

__ADS_1


"Ajeng mana?" tanya Hasna karena ia tidak melihat Ajeng disana.


"Dia sedang menghadiri acara fashion show." jawab Abian.


"Terus, kamu ngapain ada disini?" tanya Hasna penuh selidik.


"Aku disini disuruh nemenin Qeera." balas Abian sekenanya.


"Dan kamu mau?" tanya Hasna lagi.


"Tentu saja! Atas alasan apa aku harus menolaknya. Karena Qeera sebentar lagi akan menjadi anakku juga." papar Abian.


Dan itu membuat Hasna kembali shock. Tubuhnya lemas seketika, hampir tak berdaya. Namun ia tetap harus berdiri tegak dan jangan terlihat lemah didepan Abian, karena ia tidak ingin Abian tau, bahwa ia juga mencintainya.


"Jadi ... "


"Ya, aku dan Ajeng sudah resmi berpacaran, dia menerima cincin pemberianku yang kamu pilihkan waktu itu." potong Abian. Lalu ia berdiri. "Dan aku mau ucapkan terimakasih banyak sama kamu, karena sudah bantu aku memilihkan cincin itu." katanya sambil menyentuh pundak Hasna.


Hasna tersenyum kecut melihat tangan itu yang berada diatas pundaknya. Hingga akhirnya matanya seketika berembun. Meski mati-matian ia tahan.


"Hasna, kamu kenapa?" tanya Abian heran.


Hasna tersenyum. "Maaf, nanti saja kalau ada Ajeng, aku pamit." katanya lalu berlalu dari rumah itu.


"Tante Hasna kenapa?" tanya Qeera.


"Om juga gak tau." jawab Abian mengangkat kedua bahunya.


Retno masih berada didalam mobil yang terparkir didepan rumah Ajeng. Lalu ia melihat Hasna keluar dari rumah itu sambil menangis.


"Hasna? Kenapa lagi dia?" gumam Retno. Ia terus menatap Hasna sampai Hasna masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Ajeng.


Retno ingin tau kenapa Hasna menangis saat keluar dari rumah Ajeng. Lantas, ia pun berinisitatif untuk mengikutinya dari belakang.


***


Yudha merasa kesepian, hidupnya merasa tidak berarti lagi, membuatnya memukul jeruji besi itu berkali-kali, tak peduli rasa sakit yang ia rasakan, padahal sampai mengeluarkan darah dari tangannya.


"Yudha, apa yang kamu lakukan?" tegur Herman.


"Untuk apa aku hidup, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi." katanya dengan isakan.


"Kata siapa? Kamu masih punya orangtua, anak kamu! Kamu masih punya tanggungjawab untuk membahagiakan mereka." kata Herman tegas.


"Lalu istri? Bahkan Fiona pun sudah tidak peduli lagi sama aku." keluhnya.


"Kalau begitu, kamu harus bisa meyakinkan Ajeng untuk mau kembali lagi sama kamu." kata Herman.


"Dan itu gak mungkin, gak mungkin Ajeng mau menerimaku lagi atas semua kesalahan yang aku lakukan padanya." Yudha putus asa.

__ADS_1


"Lalu, mana Yudha yang aku kenal? Yudha yang selalu memperjuangkan apa yang dia mau. Kamu lupa? Bahwa hidup didunia ini, tak ada yang tidak mungkin." papar Herman membuat Yudha menoleh.


"Kamu benar, didunia ini tak ada yang tidak mungkin." kata Yudha tersenyum sambil menyentuh pundak Herman.


__ADS_2