
Sementara yang dirindukan. Ia sedang berbicara dengan suaminya didalam kamar.
"Aku habis bertemu dengannya. Dan ternyata aku sudah dijodohkan oleh dia." kata Abian kesal. Ketika ditanya kenapa dia sudah pulang, padahal masih siang. Terlebih karena Abian terlihat kesal.
"Dia?" tanya Ajeng heran.
"Ya, siapa lagi kalau bukan Renata." jawabnya malas.
"Mas, dia itu Mama kamu. Jadi tolong! Panggilah Mama dengan yang semestinya. Biar bagaimanapun dialah yang telah mengandung dan melahirkan kamu." ujarnya yang tak tau harus seperti apa menghadapi sikap suaminya.
Meski Ajeng tak menampik. Sakit memang jika ditinggalkan orang yang kita sayangi semenjak kita masih kecil. Tapi biar bagaimanapun, Renata sudah kembali dan minta maaf, pun sudah mengakui kesalahannya.
"Tolong! Jangan paksa aku untuk menerimanya kembali. Itu sangat sulit." tekan Abian.
"Aku tau Mas! Aku tau. Tapi maaf, Aku meminta kamu untuk menyebutnya dengan sebutan Mama, bukan memaksa kamu menerimanya kembali, itu hak kamu." balas Ajeng yang tiba-tiba sesak. "maaf juga jika aku memang pemaksa." lirihnya yang hendak bangkit. Namun tangannya dicekal.
"Sayang. Bukan itu maksud aku." balas Abian.
"Sudahlah Mas, sembuhkan dulu hatimu. Supaya kamu tidak melampiaskan amarahmu padaku, pada orang lain." Ajeng pun melepaskan cekalan tangan itu, lalu memilih keluar menemui putrinya didalam kamar.
"Bunda belum tidur? Ini sudah jam berapa? Tumben malam-malam kesini." ujar Qeera sambil menoleh pada jam dinding yang sudah menujukkan pukul setengah sebelas malam. Dirinya pun sama, gak bisa tidur.
"Bunda kangen aja tidur sama Qeera. Boleh?" tanyanya.
"Boleh dong Bun. Ayo kita baca do'a dulu." kata Qeera.
Sementara, pengasuh pun keluar, karena sudah ada majikannya disana.
"Sus, apa Ibu ada didalam?" tanya Abian yang sudah berdiri dihadapan pintu kamar tersebut.
"Ada Pak didalam sama Qeera. Katanya rindu pengen tidur bareng." jawabnya.
"Ohh yasudah, tapi jangan dikunci ya?"
"Sepertinya sudah dikunci dari dalam deh Pak."
Abian meluruhkan bahunya lalu membuang napas kasar. Lantas ia pun kembali ke dalam kamar.
Matanya tertuju pada ponsel milik Ajeng yang terlihat berkerlip tanda ada panggilan masuk, karena ponsel tersebut berada dalam mode silent.
__ADS_1
Abian mendekat lalu meraih ponsel itu. Matanya terbelalak. Saat tertera nama Yudha yang menghubungi istrinya. Terlebih panggilan tersebut lewat video call.
"Shiitt. Ada apa lagi dia malam-malam telepon istriku." umpatnya dengan penuh kekesalan.
Abian pun tetap membiarkannya, hingga telepon pun mati. Namun, detik berikutnya, ponsel tersebut kembali menyala. Dan masih dengan orang yang sama. Namun kali ini bukan video call lagi, melainkan panggilan biasa.
"Oke baiklah! Mau main-main sekarang denganku?" kata Abian geram.
Lantas ia pun menggeser tombol warna hijau, seperti biasa Abian akan diam dulu, membiarkan yang menelepon bicara duluan.
"Hallo Ajeng. Akhirnya kamu angkat teleponku juga. Dari tadi aku video call kamu, kamu gak angkat, tapi telepon biasa kamu angkat. Okeee aku ngerti, karena ada suami kamu kan? Naahhh aku percaya kalau sekarang kamu lagi jauh dengan suami kamu. Makanya kamu angkat teleponku." ujar Yudha panjang lebar. Tak tau yang menerima telepon, justru hidungnya kembang kempis, serta mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Hallo Ajeng, kenapa kamu diam saja? Bicaralah! Aku kangen dengan suara kamu." kata Yudha.
"Apa mau kamu telepon malam-malam istri orang? Hah?" cetus Abian membuat Yudha terdiam.
"Jawab." teriak Abian.
"Ka... Ka-" Yudha mendadak gugup.
"Ya apa? Ini aku Abian suaminya Ajeng, yang sedang mengangkat telepon darimu." balas Abian penuh kesal.
"Apa? Maksud apa? Apa kamu lupa saat kamu ketahuan telepon istriku, lalu yang angkat saat itu, aku juga? Hah? Apa kamu lupa?" kembali Abian membentak karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap mantan suami dari istrinya.
"Oke aku tau, kamu selalu dihantui rasa penyesalan karena sudah menyia-nyiakan Ajeng. Tapi ingat! Dia itu sudah menikah, sudah punya suami dan itu aku. Dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia itu hidup dan matiku. Camkan itu!" papar Abian dengan tegas.
"Seperti kataku saat itu, jika terulang kembali, tak ada kata maaf lagi untukmu, semua sudah ku tutup, karena ulah kamu sendiri." tambahnya, kemudian menutup telepon itu begitu saja.
"Aaarrrggghhhh." Yudha pun berteriak dengan sangat kencang membuat Retno panik, lalu menghampirinya kedalam kamar.
"Yudha, kamu kenapa? Ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Retno dengan beberapa pertanyaan.
"Ibu. Apa aku salah sudah menelepon mantan istriku? Apa aku salah Bu?" lirihnya yang tiba-tiba sesak. Sesak karena sesal yang selalu ia rasakan. Andaikan waktu bisa diulang kembali. Mungkin, ia tidak akan melakukan kesalahan yang fatal. Dan sampai sekarang pasti masih bersama dengan yang di cinta. Ajeng Shafanina. Perempuan yang selalu mengusik hatinya semenjak dahulu.
"Telepon? Kamu malam-malam begini telepon Ajeng?" tanya Retno dan Yudha mengangguk.
"Tapi untuk apa? Ini kan sudah malam."
"Aku ... Hanya ingin mendengar suaranya Bu, itu saja." ucap Yudha menunduk.
__ADS_1
"Nak, jelas. Itu salah. Gak baik telepon malam-malam. Dia sudah punya suami." Retno masih tak percaya, kenapa Yudha bisa nekad seperti itu. Padahal dirinya selalu mengingatkan putranya supaya tidak mengulang hal yang sama.
"Tapi aku kangen Bu." lirihnya lagi sambil mengangkat wajahnya.
"Nak, tolong jangan seperti ini, itu artinya kamu mau merusak kebahagiaannya lagi? Iya?" tanya Retno menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Yudha terdiam. Dan tak bisa menjawab apapun.
"Mungkin, aku akan menemuinya esok. Saat suaminya sudah berangkat ke kantor. Dengan alasan ingin ketemu anakku. Maafkan aku Bu, kali ini aku gak nurut. Aku hanya rindu, rindu ingin bertemu dengannya."
***
Sementara itu di tempat lain, Fiona pun lari dengan tunggang langgang. Karena dikejar oleh salah satu pria hidung belang yang menjadi teman kencannya malam ini.
Namun, Fiona tak mau melayani pria itu, lantaran pria tersebut tidak mau membayar uangnya di muka. Alhasil, Fiona memilih kabur. Karena ia sudah tak percaya lagi dengan hal yang seperti itu. Karena yang sudah-sudah, jika tidak dibayar dimuka. Maka ia sendiri tidak mendapatkan bayaran apapun setelahnya.
Fiona sendiri lari dalam keadaan mabuk, sehingga larinya pun tidak begitu cepat. Tapi si pria itu pun juga sama. Dia mengejar Fiona dalam keadaan mabuk juga.
Namun, saat tiba di suatu tempat, ada satu mobil yang sedang terparkir di sisi jalan. Lantas, Fiona masuk kedalam mobil tersebut. Dan bersembunyi disana sambil berbaring agar tidak kelihatan dari luar kaca.
Benar saja, pria tersebut berhenti tepat di samping mobil itu. Dan matanya menatap lurus kearah kaca yang dibaliknya ada Fiona disana. Pria itu pun mendekat, dan lebih dekat lagi. Hingga ada satu kucing yang tiba-tiba muncul dan mengaum dari kolong mobil tersebut dan mengenai kaki si pria, membuat pria tersebut terperanjat kemudian mundur.
"Kucing sialan." umpatnya.
Lantas, ia pun berlalu dari sana, memilih mencari Fiona ke tempat lain.
Mungkin malam ini malam keberuntungan bagi Fiona karena bisa lepas dan tak bisa ditemukan. Fiona pun bangun, napasnya terengah-engah. Hingga akhirnya Fiona kembali berbaring dan menutup mata, ia tertidur, mungkin karena efek dari minuman memabukkan yang ia konsumsi.
Beberapa menit kemudian, pemilik mobil itu pun masuk. Lalu memakai sabuk pengaman. Lantas mobil itu pun melesat jauh.
"Hallo Bi? Apa Hasna sudah tidur?" tanya Luthfan dari seberang telepon pada ART yang bekerja di apartemennya. ART tersebut baru tiba sore tadi.
"Kayaknya sudah, Tuan." jawab ART tersebut
Namun Luthfan tidak menyadari, bahwa ada seseorang di belakangnya yang sedang tertidur pulas.
Ya. Karena Fiona sendiri duduk di bagian kursi paling belakang. Sementara dibagian tengah malah kosong.
"Baiklah Bi, jika ada apa-apa tolong hubungi saya. Saya juga lagi dijalan mau pulang."
__ADS_1
Telepon pun dimatikan. Dan Luthfan kembali fokus menyetir.