
Setelah semuanya membaik. Lantas, Ajeng dan Abian pun pamit untuk pulang.
"Mas. Kayaknya enak sore-sore gini makan rujak buah." ucap Ajeng saat dalam perjalanan.
"Rujak buah itu pasti pedes sayang. Gak boleh makan yang pedes-pedes. Kan lagi hamil." tegur sang suami.
"Yaudah seblak aja." tambah Ajeng.
"Sayang... Itu kan juga pedes." tolak suaminya lagi.
"Tapi aku pengennya makan itu." Ajeng memanyunkan bibirnya.
"Makan yang lain aja ya?" tanya Abian menoleh.
"Gak mau."cetus Ajeng.
"Sayang."
"Huaaaaa."
"Ehh kok malah nangis sih?" Abian panik karena sang istri tiba-tiba menangis.
Akhirnya mau tak mau. Abian menuruti keinginan sang istri.
Mereka berdua kini berhenti di kedai yang menyediakan beberapa macam rujak. Ada rujak buah. Rujak cingur dan beberapa macam rujak lainnya. Namun yang jadi incaran Ajeng adalah rujak lotis.
Ibu hamil tersebut langsung memesannya dengan porsi yang lumayan banyak. Setelah beberapa menit, akhirnya rujak pun sudah dihidangkan di atas meja.
Abian terbelalak menatap hidangan dihadapannya. "Sayang. Banyak bangeeett. Apa kamu bakal makan sebanyak ini?" tanya Abian yang menggelengkan kepalanya.
"Ya nggak lah! Kamu juga harus makan Mas." kata Ajeng.
"Apa?" Abian terkejut. Pasalnya ia tidak menyukai rujak lotis, ataupun macam rujak lainnya.
"Ini, makanlah!" titah Ajeng sambil tangannya ingin menyuapi suaminya.
"Tapi sayang... Aku gak suka makan ginian." keluh Abian.
"Mas." Ajeng menatap sendu. Membuat Abian tak tega. Akhirnya untuk ke sekian kalinya ia pun menuruti keinginannya itu.
Dengan terpaksa, Abian pun membuka mulut. Dan masuklah satu potong buah pepaya yang sudah di celup kedalam bumbu kacang pedas manis. Mati-matian ia menelannya, karena memang ia tidak suka sedikitpun dengan yang namanya rujak.
"Gimana? Enak kan?" tanya Ajeng sambil mengunyah rujak tersebut dengan sangat menikmatinya.
"En... Enak banget kok sayang." balas Abian sambil menelan paksa potongan pepaya tersebut. Tapi justru sang istri yang malah dengan lahapnya memakan rujak tersebut.
Dengan terpaksa, Abian kembali membuka mulutnya yang entah kali ke berapa. Sampai ia sendiri tak sadar, sudah makan berapa potong.
Hingga tak terasa, rujak itu pun habis tak bersisa. Membuat Abian merasa lega sambil mengusap dadanya dan membuang napas panjang.
Setelah membayarnya. Lalu mereka berdua keluar dan naik kedalam mobil. Kemudian meninggalkan tempat itu.
"Sayang. Kayaknya aku juga kepengen makan seblak deh." ucap Ajeng. Membuat Abian tercekat.
"Hah? Seblak? Rujak yang tadi kan juga udah pedes." kata Abian lirih.
"Jadi. Gak mau turutin aku nih?" Ajeng kembali memasang wajah cemberut sambil mendekap kedua tangannya di atas dada.
"Yang lain saja ya?" pinta Abian. Sambil sesekali menoleh karena sedang berkendara.
"Tuuuhh kan. Kamu jahat Mas. Mana yang katanya ingin memenuhi semua keinginan aku. Kamu jahat." tiba-tiba Ajeng terisak.
"Ya Allah ... Apa ini yang disebut ngidam?"
__ADS_1
Karena tak ingin melihat sang istri menangis. Kembali Abian menuruti kemauannya.
Lantas, mereka berdua pun kembali berhenti di sebuah kedai yang menyediakan berbagai macam seblak. Ajeng segera memesannya. Tapi hanya satu porsi. Karena Abian juga tidak suka dengan makanan khas bandung tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit. Seblak pun sudah dihidangkan di atas meja. Tapi, bukannya Ajeng memakannya. Ia sendiri malah terus menatapnya.
"Sayang. Ayo makan. Katanya mau seblak. Itu sudah ada kan dihadapan kamu." titah Abian pada istrinya.
"Tadi sih suka Mas. Tapi ... Entah kenapa, lidah ini ... Tiba-tiba menolaknya. Jadi ... Buat Mas aja deh." ucap Ajeng dengan tanpa rasa bersalahnya.
"Apa? Aku?" Abian membelalakan matanya.
"Iya sayang. Mau ya? Mubadzir itu kalau gak dimakan." pinta Ajeng.
"Ya Allah ... Tolonglah hambamu ini, dari ngidamnya sang istri."
Abian memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing.
***
Sementara itu, ditempat lain. Yudha masih bersama Qeera. Mereka kini sedang berada di sebuah tempat perbelanjaan.
"Ayah. Aku mau pulang." ucap Qeera.
"Sayang capek?" tanya Yudha mengusap puncak kepalanya. Tapi Qeera menggeleng.
"Kata Bunda. Gak boleh pergi lama-lama."
"Yasudah ayo kita pulang sekarang." ajak Yudha. "Tapi, kita kerumah Ayah dulu ya? Ada Nenek juga disana, katanya pengen ketemu."
"Nenek? Mau mau mau." Qeera sangat antusias.
Akhirnya mereka berdua pun keluar dari tempat itu. Dan naik kedalam mobil. Lalu pulang menuju rumah Yudha.
***
"Karena Papa mu, tidak mengijinkan Luthfan untuk menemui kamu." jawab Widya pelan.
"Apa alasan Papa melarangnya?" tanya Hasna menyipitkan mata.
"Nanti kamu juga tau sendiri." ucap sang ibu. "sekarang yang mau Mama tanyakan sama kamu. Bagaimana perasaan kamu sendiri terhadap Luthfan? Ini penting Nak. Karena dia sekarang sudah menjadi suami kamu." tanya Widya menatap Hasna yang menundukkan kepalanya.
Dengan mengambil napas perlahan sambil memejamkan matanya. Hasna kemudian berpikir. Ia yang kini sedang dalam keadaan gak bisa berjalan. Gak mungkin ada laki-laki yang benar-benar mau menerima dengan keadaan dirinya yang seperti itu. Bahkan ia juga berpikir, bahwa Luthfan akan langsung menceraikannya.
"Hasna." panggil sang ibu karena dari tadi diam saja. Membuat Hasna mengangkat wajahnya.
"Aku ikhlas Ma, jika Luthfan mau menceraikan aku. Kasihan dia yang harus beristrikan perempuan sepertiku yang bahkan hanya akan membuatnya kesusahan karena harus mengurus aku yang lumpuh ini." ucap Hasna menatap kosong. "lagi pula ... Cinta pun belum hadir diantara kita. Jadi ... Untuk apa bertahan." Hasna mulai pesimis.
"Nak. Pikirkan sekali lagi, jangan mengambil keputusan sendirian." Widya menggelengkan kepalanya. "Mama, akan bicara sama Papa dan juga Luthfan."
Widya yang sedang duduk pun langsung bangkit dari hadapan Hasna. Setelah itu ia pun keluar dengan tergesa. Mencari suaminya dan juga Luthfan. Bukan apa-apa. Karena Widya sendiri yakin. Luthfan lelaki yang baik, terlepas dari itu. Dia juga mau bertanggungjawab dan dengan setianya menunggu Hasna di rumah sakit. Meski Ferdy selalu menentangnya.
"Papa." panggilnya membuat Ferdy yang sedang mengetik di laptop pun menoleh.
"Ada apa Ma? Papa sedang mengecek pekerjaan." ucap Ferdy yang kemudian menutup laptop tersebut.
"Cobalah Papa restui pernikahan mereka. Kasihan mereka Pa. Terutama Hasna." mohon Widya to the poin.
"Ada apa Ma? Kenapa Mama tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Ferdy heran.
"Karena Hasna-" kata Widya menjeda. "udahlah Pa. Penuhi permintaan Mama."
"Karena Hasna lumpuh? Makanya Mama menyebutnya kasihan? Karena yang ada dipikiran Mama. Anak kita gak mungkin ada yang mau lagi kan mengingat keadaannya?" tanya Ferdy menatap Widya.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud Mama Pa."
"Lalu apa lagi? Dengar Ma! Papa lebih kasihan lagi jika Hasna memiliki suami yang sama sekali gak mencintai dia Ma. Coba Mama pikirkan sekali lagi." tekan Ferdy.
"Tapi Mama yakin Pa. Cinta pun akan hadir diantara mereka berdua. Asalkan mereka tidak Papa pisahkan." lirih Widya.
"Apa setelah kebersamaan itu, nantinya akan menjamin? Bahwa bukan tak mungkin mereka akan memiliki perasaan yang sama? Bagaimana jika rasa itu tak kunjung hadir?" kembali Ferdy menekan Widya dengan nasihat yang sama sekali bagi Widya tak ada artinya dengan semua nasihat yang suaminya ucapkan.
"Papa gak ngerti perasaan Mama." sungut Widya yang kemudian pergi dari hadapan suaminya. Ia ingin menemui Luthfan. Berharap lelaki itu tidak akan menceraikan Hasna. Dengan segera Widya pun menghubungi Luthfan, menanyakan keberadaannya.
"Aku sedang di apartemen Ma." jawab Luthfan dari seberang telepon.
"Tolong nanti kesini. Mama ingin bicara serius sama kamu. Tapi ... Jangan sampai Papa Hasna tau." kata Widya.
"Baiklah. Sebentar lagi aku akan kesana." balas Luthfan. Dan telepon pun terputus.
"Ada apa sebenarnya? Apa ... Hasna benar-benar akan minta pisah?" gumam Luthfan menerka-nerka.
Lain lagi dengan pasangan suami istri yang sedang dalam fase bucin. Dan ngidamnya sang istri yang membuat Abian sedikit pusing menghadapinya.
Setelah drama rujak dan seblak. Akhirnya mereka pun pulang yang sebelumnya sudah melaksanakan sholat maghrib di sana. Dan kebetulan waktu juga sudah mulai mendekati isya. Abian lega karena sang istri tidak meminta yang lain lagi. Namun, sepanjang perjalanan. Tak ada obrolan dari keduanya karena ternyata Ajeng tengah tertidur pulas.
Setelah tiba di depan gerbang. Abian menekan klakson. Lalu gerbang pun dibuka oleh Heru. Dan mobil pun memasuki halaman yang cukup luas dan dipenuhi beberapa tanaman hijau. Mereka juga sudah punya pekerja tukang bersih-bersih kebun. Yang kebetulan bernama Marno. Lantaran ART mereka juga bernama Marni.
Setelah berhenti. Abian pun turun. Dengan segera ia membukakan pintu mobil. Lalu membopong sang istri yang masih dalam keadaan tidur.
Mereka dibukakan pintu oleh Bik Marni. Lantas Abian pun masuk. Dan langkahnya langsung menaiki anak tangga satu persatu. Kemudian masuk kedalam kamar.
Dengan perlahan. Abian merebahkan sang istri di atas kasur dengan nyaman. Kemudian menyelimutinya.
Ia sendiri duduk di samping, sambil menatap wajah yang dalam keadaan polos.
"Kamu ... Kelihatan lelah sekali." gumamnya pelan sambil melepaskan kerudung yang dipakai sang istri. Setelah itu kerudungnya ia simpan. Lalu kembali menatap wajah polos itu.
"Tidurlah sayang. I love you." bisiknya tepat didekat telinga. Kemudian mengecupnya.
Setelah itu Abian bangkit dari duduknya dan berpindah ke atas sofa sambil mengecek pekerjaan di kantor melalui laptop.
Namun, ia baru ingat. Kalau Qeera belum juga pulang.
Dan disaat itu juga, terdengar bunyi ponsel milik Ajeng. Abian pun bangkit untuk mengambilnya.
Abian menatap dalam pada ponsel itu. Karena tertera nama Yudha yang menghubungi Ajeng. Tanpa menunggu waktu lagi. Abian pun mengangkatnya.
"Hallo Ajeng. Pasti cemas ya mikirin anak kita? Tapi maaf. Mungkin malam ini anak kita akan menginap di rumahku. Kamu tenang saja. Di sini juga ada Neneknya kok. Boleh kan?" ucap Yudha dari seberang telepon.
Entah kenapa, perasaan cemburu tiba-tiba hadir dalam hati Abian. Lantaran Yudha berulangkali menyebut Qeera dengan sebutan 'anak kita' karena menurutnya kurang pantas didengar.
Sampai tak ada jawaban dari mulut Abian. Ia menjadi sedikit kesal pada Yudha.
"Hallo Ajeng. Kamu kenapa diam saja? Boleh kan?" kembali Yudha bersuara. "oh aku paham, kamu pasti sedang bersama suami kamu. Iya kan? Ajeng. Aku ... Sebenarnya masih ada rasa sama kamu. Tapi ... Yasudahlah. Karena gak mungkin juga kita akan kembali bersama. Biarlah rasa ini aku pendam sendiri. Semoga kebahagiaan selalu menghiasimu."
Sebuah kalimat ungkapan dari mulut Yudha yang tentu membuat Abian semakin meradang dan membuang napasnya dengan kasar.
"Sudah cukup?" sentak Abian yang akhirnya mulai bersuara.
"A... Abian." Yudha mendadak gugup.
"Kenapa? Kaget? Kamu kira istriku, yang mengangkat telepon kamu? Hhhh dengar ya! Meskipun kamu masih ada rasa dengan istriku. Tapi tak seharusnya kamu lancang mengungkapkan isi hati kamu sendiri. Cukup kamu pendam. Tak boleh ada satupun yang tau. Apalagi secara terang-terangan berniat agar Ajeng sendiri tau mengenai perasaan kamu. Apa tujuanmu melakukan semua itu? Ingat! Ajeng itu sudah punya suami. Kamu itu punya pikiran apa tidak sih? Sudah dewasa kan?" umpatan demi umpatan keluar dari mulut Abian. Benar-benar emosi sedang menguasainya saat ini.
"Iya, aku salah. Aku minta maaf sama kamu. Tolong maafkan aku kembali. Aku janji gak akan mengulanginya lagi." lirih Yudha.
"Oke, aku maafkan kali ini. Tapi ... Jika kembali terulang. Pintu maaf mungkin sudah sulit." kata Abian tegas. "dan mengenai Qeera. Aku ijinkan. Nanti aku sampaikan juga pada istriku. Terimakasih."
__ADS_1
Abian segera memutuskan sambungan telepon itu. Ia meremas dengan kuat ponsel milik sang istri. Lalu duduk di atas sofa dengan kasar. Ia sendiri mendadak malas untuk berkutat kembali dengan laptopnya. Sehingga memilih untuk mendekati istrinya yang masih tertidur.
"Aku tak akan membiarkan siapapun, mengusik kebahagiaan kita. Kamu istriku, selamanya akan menjadi istriku."